NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inspeksi Mendadak dan Sandiwara Pagi yang Membara

Pagi itu, apartemen Arga masih berbau samar seperti sate wagyu gagal. Arga baru saja selesai mandi masih dengan rambut basah yang menutupi dahinya, sementara Nara sedang berjuang keras menggosok noda hitam di kompor induksi dengan perasaan menyesal yang mendalam.

"Ga, ini kompornya kalau nggak bisa balik kinclong lagi, aku cicil ganti ruginya pakai uang jajan ya?" gumam Nara lemas.

Arga yang sedang merapikan jam tangannya melirik datar.

"Secara depresiasi aset, kompor itu sudah kehilangan nilai estetikanya. Tapi secara fungsional, saya lebih khawatir pada kesehatan paru-paru kamu daripada selembar kaca tempered."

Nara tertegun.

Mau muji ganteng banget nggak jadi , kalimat Arga terlalu ngeselin dan matahin kegantengan yang nempel di dirinya.

Baru saja ia hendak membalas dengan kalimat sarkas, bel pintu apartemen berbunyi dengan brutal. Bukan sekali, tapi berkali-kali seperti sedang ada penggerebekan bandar narkoba.

"Siapa pagi-pagi begini? Ibu Widya mau nagih ganti rugi polusi asap?" Nara panik.

Arga mengintip layar interkom dan seketika tubuhnya menegang sesaat.

"Ini lebih berbahaya dari Ibu Widya. Orang tua kita."

Pintu terbuka, dan masuklah rombongan "Tim Penyelamat" yang terdiri dari Mama Arga yang membawa tas berisi berbagai macam herbal, dan Ibu Nara yang membawa rantang susun tiga. Ayah Nara dan Papa Arga mengekor di belakang dengan wajah cemas yang dibuat-buat.

"NARA! ARGA! Kalian nggak apa-apa?" teriak Ibu Nara sambil langsung memegang pipi Nara.

"Tadi malam Mama lihat di grup WA penghuni, ada foto truk pemadam kebakaran di depan gedung ini! Mama pikir kalian keracunan gas!"

Mama Arga langsung mendekati Arga, memeriksa dahi putranya seolah sedang mengecek suhu mesin mobil.

"Arga, kamu sesak napas? Mama bawa inhaler sama minyak kayu putih cap elang. Apartemen kamu baunya kok kayak tukang nasi goreng pinggir jalan?"

Nara dan Arga saling lirik. Grup WA penghuni adalah musuh nyata.

"Mah, Bu... itu cuma... anu," Nara mencoba mencari alasan logis.

Arga dengan sigap melingkarkan tangannya di bahu Nara, menarik istrinya merapat ke tubuhnya yang masih harum sabun.

 "Itu bukan kecelakaan, Ma. Itu cuma... eksperimen cinta yang sedikit terlalu bersemangat."

Nara melongo.

Eksperimen cinta? Sejak kapan Arga belajar kosa kata begini?

"Eksperimen cinta gimana maksudnya, Ga?" tanya Ayah Nara sambil menyipitkan mata.

Arga berdehem kaku, namun tangannya malah turun ke pinggang Nara, memeluknya posesif.

"Nara mau buatkan saya makan malam spesial. Kami terlalu asyik... berdiskusi di dapur, sampai lupa mematikan api. Ya kan, Sayang?"

Arga menatap Nara dengan tatapan yang sangat intens dan tatapan yang seolah mengatakan, Ikuti skenario saya atau kita tamat.

"I-iya! Betul!" Nara langsung memasang wajah tersipu yang sangat meyakinkan.

Ia menyandarkan kepalanya di dada Arga, menghirup aroma maskulin yang entah kenapa mendadak bikin otaknya agak blank.

"Mas Arga itu kalau lagi manja suka nggak tahu tempat, Bu. Pas aku lagi numis daging, dia malah meluk-meluk dari belakang. Katanya nggak bisa jauh-jauh. Namanya juga pengantin baru, ya kan?"

Mama Arga menutup mulutnya dengan tangan, terharu.

"Aduh, Arga... Mama nggak nyangka kamu se-agresif itu. Biasanya kan kamu kaku kayak kanebo kering."

"Demi Nara, Ma, saya rela jadi kanebo basah," sahut Arga lempeng, membuat Nara hampir tersedak ludahnya sendiri.

Mereka semua duduk di ruang tamu. Ibu Nara mulai membuka rantang susunnya.

"Karena Mama tahu Nara nggak becus masak, ini Mama bawain gudeg sama ayam opor. Ayo makan, Mama mau lihat kalian mesra-mesraan di depan Mama."

Nara duduk di sebelah Arga, sofa itu mendadak terasa sempit karena Arga tidak mau melepaskan tangannya dari bahu Nara.

"Sini, Sayang biar aku yang suapin," ujar Nara dengan nada yang sengaja dibuat manis hingga level diabetes.

Ia mengambil sepotong ayam dan mengarahkannya ke mulut Arga.

Arga menatap ayam itu seolah itu adalah objek yang harus diaudit. Namun, melihat empat pasang mata orang tua mereka yang menunggu, Arga membuka mulutnya.

"Enak?" tanya Nara, sambil diam-diam mencubit pinggang Arga di bawah meja.

"Sangat enak," jawab Arga sambil menahan nyeri akibat cubitan Nara.

Ia kemudian mengambil sendok, mengambil sedikit nasi, lalu mengarahkannya ke Nara.

"Buka mulutmu, Cantik. Kamu harus makan banyak supaya punya tenaga untuk... 'masak' lagi nanti malam."

Nara mematung.

Cantik? Dia panggil aku Cantik? Di depan orang tua?

Nara mengunyah nasi itu dengan jantung yang berdegup seperti drum band. Kemesraan pura-pura ini mulai terasa terlalu nyata. Wangi parfum Arga, sentuhan tangannya yang hangat di pinggang, dan tatapan matanya yang fokus membuat Nara lupa bahwa ini semua hanya demi keamanan status kontrak mereka.

"Wah, kamarnya kok rapi banget? Guling pembatasnya mana?" tanya Mama Arga tiba-tiba sambil melongok ke arah kamar utama yang pintunya terbuka sedikit.

Nara hampir loncat dari kursinya.

"Guling? Oh, itu... sudah dipensiunkan, Tante... eh, Mama! Kami rasa... bantal guling itu hanya menghalangi sirkulasi kasih sayang."

Arga mengangguk mantap.

"Betul, Ma. Kami lebih suka berbagi satu selimut untuk efisiensi suhu tubuh."

Ibu Nara dan Mama Arga saling berpandangan lalu tertawa cekikikan.

"Tuh kan, bener kata Mama. Mereka ini sebenarnya sudah baper, cuma gengsi aja awalnya."

Setelah dua jam penuh inspeksi dan interogasi romantis yang melelahkan, para orang tua akhirnya pamit pulang dengan perasaan tenang (dan perut kenyang).

Begitu pintu tertutup, Nara langsung ambruk di sofa.

"Hah... gila. Ga, kamu tadi hampir bikin aku kena serangan jantung. 'Kanebo basah'? Serius?!"

Arga melepas dasinya, duduk di sebelah Nara. Ia menatap langit-langit apartemen sejenak sebelum menoleh ke arah istrinya. Telinganya masih sedikit merah.

"Secara fungsional, itu adalah alibi paling efektif untuk menutupi fakta bahwa kamu hampir membakar gedung ini," ujar Arga kembali ke mode robotnya.

Nara mencibir, tapi kemudian ia mendekat, menatap Arga dengan jahil.

"Tapi tadi pas suapin aku... kamu kok kayak tulus banget manggil 'Cantik'? Jangan-jangan... kamu beneran baper ya?"

Arga terdiam. Ia menatap Nara lama sekali, membuat suasana di ruang tamu itu mendadak kembali intim dan sunyi. Ia memajukan wajahnya, membuat Nara refleks mundur sedikit.

"Nara," bisik Arga.

"Dalam dunia audit, ada yang namanya subsequent events, kejadian setelah periode pelaporan yang bisa mengubah seluruh isi laporan. Mungkin... akting tadi adalah subsequent event untuk hati saya."

Nara terpaku.

"Maksudnya?"

"Maksudnya, cepat bersihkan kompor itu. Saya mau kerja," Arga bangkit berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya, meninggalkan Nara yang memegang dadanya sambil mengumpat pelan.

"Dasar robot PHP! Bikin deg-degan doang tapi nggak dikasih kepastian!" teriak Nara, namun wajahnya tidak bisa berhenti tersenyum.

Mungkin, dapur yang gosong semalam adalah harga yang sepadan untuk melihat sisi "kanebo basah" seorang Arga Wiratama

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!