Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Dentuman *bass* dari panggung utama seolah berlomba dengan detak jantung Keyra. Lapangan sekolah yang biasanya lengang kini berubah menjadi lautan manusia, dipenuhi stan makanan, lampu sorot warna-warni, dan riuh rendah siswa yang merayakan malam puncak festival tahunan. Di tengah euforia itu, Keyra berdiri tersembunyi di balik bayang-bayang stan *photobooth*, matanya tak lepas memindai kerumunan sambil sesekali melirik layar tablet kecil yang ia sembunyikan di balik jaket denimnya.
"Cek suara. Lo denger gue, Ka?" bisik Keyra ke arah mikrofon kecil di kerah bajunya.
"Jelas dan jernih, sayangnya," suara Raka terdengar di *earpiece* Keyra, diiringi dengungan mesin yang konstan. "Gue di ruang panel listrik belakang aula. Bau oli, panas, dan ada tikus segede kucing barusan lewat. Lo yakin Julian bakal berulah di sini?"
"Gue nggak yakin dia bakal berulah, tapi gue yakin 'benda' itu bereaksi sama keramaian listrik," balas Keyra cepat. Jarinya menari di atas layar tablet. Barisan kode biner yang sebelumnya ia lihat di koridor kini berubah pola. Ritmenya sinkron dengan fluktuasi tegangan listrik sekolah. "Sinyal dari *tracker* di saku Julian nunjukin interferensi gelombang yang aneh. Tiap kali dia lewatin kabel besar, grafiknya melonjak."
"Jadi teori lo adalah dia baterai berjalan?" tanya Raka sarkas.
"Teori gue adalah dia pemancar, dan koper di kamar lo itu penerimanya. Atau sebaliknya. Jarak nggak jadi masalah buat mereka, tapi malam ini, dengan konsumsi listrik festival yang gila-gilaan, gue curiga dia bakal manfaatin *grid* sekolah buat ngirim sinyal yang lebih kuat. Entah buat apa."
Keyra menahan napas saat sosok yang dicari akhirnya muncul. Julian berjalan membelah kerumunan di dekat pintu masuk utama. Dia mengenakan jaket *bomber* hitam dengan gaya santai yang menjengkelkan, tersenyum ramah pada setiap orang yang menyapanya. Di mata orang lain, dia adalah murid pindahan yang populer. Di mata Keyra, dia adalah bom waktu.
"Target terlihat," lapor Keyra, tubuhnya menegang. "Arah jam tiga dari panggung. Dia jalan ke arah tenda VIP."
"Diterima. Gue stand by di sakelar utama. Kalau dia macem-macem, gue bikin malam ini jadi gelap gulita," sahut Raka. Terdengar bunyi *klik* logam di seberang sana, tanda Raka membuka pengaman panel.
Keyra terus mengawasi. Julian tidak tampak mencurigakan. Dia berhenti di stan minuman, tertawa dengan beberapa anggota OSIS, lalu menerima segelas soda. Namun, layar tablet Keyra menceritakan kisah yang berbeda. Titik merah yang mewakili *tracker* itu tidak hanya berkedip; itu mulai memancarkan lingkaran gelombang digital yang meluas, menelan sinyal-sinyal lain di sekitarnya.
"Ka, liat voltmeter di panel. Ada lonjakan nggak?" tanya Keyra mendesak.
"Stabil di 220. Eh, tunggu..." Hening sejenak. "Naik dikit. 230. 240. Key, ini jarumnya goyang-goyang nggak wajar. Padahal beban pemakaian stabil."
"Dia mulai," desis Keyra. Matanya menangkap gerakan Julian yang aneh. Cowok itu meletakkan gelasnya, lalu menyentuh tiang besi penyangga tenda VIP yang dililiti kabel lampu hias. Sentuhan itu terlihat kasual, seolah dia hanya bersandar.
Seketika, tablet Keyra berbunyi nyaring—untungnya tertutup suara musik DJ dari panggung. Layar menunjukkan peringatan: *SIGNAL AMPLIFIED*.
"Raka! Dia nyambungin diri ke jaringan!" seru Keyra setengah berteriak. "Dia pake instalasi listrik festival buat *booster* sinyal ke koper itu!"
Di ruang panel yang sempit dan pengap, Raka melihat fenomena yang tidak masuk akal. Kabel-kabel besar yang terhubung ke gardu utama mulai bergetar. Bukan getaran mekanis, tapi seolah ada aliran energi yang terlalu padat memaksa lewat. Lampu neon di ruangan itu berkedip-kedip liar, dan jarum voltmeter kini melesat ke angka 300 volt lalu turun drastis ke 100, berulang-ulang dalam hitungan detik.
"Gila, ini bisa meledak, Key!" teriak Raka, suaranya mulai panik. "Kabelnya panas banget! Gue bisa cium bau karet kebakar!"
Di luar, efeknya mulai terasa. Musik dari *sound system* tiba-tiba terdistorsi, berubah menjadi suara dengung tinggi yang menyakitkan telinga. Lampu sorot panggung yang tadinya bergerak ritmis kini menyorot acak dengan intensitas yang menyilaukan, seakan kehilangan kendali. Kerumunan mulai gaduh, beberapa orang menutup telinga sambil melihat ke sekeliling dengan bingung.
Julian masih berdiri di sana, bersandar pada tiang besi. Wajahnya tenang, matanya terpejam seolah sedang menikmati musik yang sebenarnya sudah berubah menjadi kebisingan statis. Dia tidak tersengat listrik. Dia menyerapnya—atau mengendalikannya.
Keyra nekat keluar dari persembunyiannya. Dia harus melihat lebih dekat. Dia menerobos kerumunan yang mulai panik. Saat jaraknya tinggal sepuluh meter dari Julian, cowok itu tiba-tiba membuka mata. Tatapannya langsung terkunci pada Keyra. Tidak ada kebingungan di wajah itu, hanya seringai tipis yang mengerikan.
Julian menggerakkan bibirnya tanpa suara. *Gotcha*.
Seketika, lampu-lampu hias di sekitar Keyra meletup pecah satu per satu, menghujani lantai dengan serpihan kaca. Orang-orang menjerit. Keyra melindungi wajahnya dengan lengan, tapi dia tidak mundur.
"RAKA! MATIIN SEKARANG!" teriak Keyra ke mikrofonnya.
"Tuasnya macet! Panas banget, sialan!" Raka terdengar mengerang kesakitan. Di ruang panel, Raka menggunakan jaket seragamnya untuk membungkus tangan, mencoba menarik tuas pemutus arus utama yang kini membara merah. Logam itu seolah dialiri magma. Panasnya menembus kain tebal jaket, membakar kulit telapak tangannya.
"Paksa, Raka! Atau satu sekolah ini kebakar!" Keyra melihat percikan api mulai muncul dari *speaker* utama di panggung.
Julian melepaskan tangannya dari tiang besi, dan distorsi suara semakin menjadi-jadi, menciptakan gelombang frekuensi rendah yang membuat dada sesak. Dia melangkah mendekati Keyra, mengabaikan kekacauan di sekitarnya. Seolah ada perisai tak terlihat yang memisahkan mereka berdua dari kerumunan yang berlarian.
"Kalian terlalu berisik," ucap Julian. Suaranya tidak keras, tapi terdengar jelas di telinga Keyra, mengatasi kebisingan *sound system* yang rusak. "Kucing kecil seharusnya tidak bermain dengan kabel tegangan tinggi."
Keyra mundur selangkah, tangannya merogoh saku, menggenggam *taser* modifikasi yang dia bawa. "Apa yang lo kirim ke koper itu? Data? Koordinat?"
Julian tertawa kecil. "Energi, Keyra. Koper itu lapar."
Di ujung komunikasi, Raka menggeram keras. Rasa sakit di tangannya sudah tidak dia pedulikan. Dengan sisa tenaga dan adrenalin yang memuncak, dia menendang panel besi itu sekuat tenaga untuk melonggarkan engselnya, lalu menarik tuas pemutus arus dengan sentakan kasar seluruh berat badannya.
*KLAK!*
Suara mekanis yang berat terdengar, diikuti oleh *zzzt* panjang saat arus terputus paksa.
Dalam sekejap, seluruh sekolah tenggelam dalam kegelapan total. Musik mati. Lampu sorot padam. Teriakan panik membahana di mana-mana, disinari hanya oleh ribuan layar ponsel yang menyala serentak seperti kunang-kunang yang ketakutan.
Keyra berdiri dalam gelap, napasnya memburu. Dia menyalakan senter ponselnya dan mengarahkannya ke tempat Julian berdiri tadi.
Kosong.
Julian menghilang secepat padamnya lampu. Hanya ada jejak hangus di tiang besi tempat dia bersandar tadi, logamnya meleleh membentuk pola spiral yang aneh.
"Raka? Lo masih di sana?" panggil Keyra, suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara statis di telinganya.
"Raka! Jawab gue!"
Keyra berbalik dan berlari, menabrak bahu-bahu siswa lain dalam kegelapan, mengabaikan seruan protes mereka. Kakinya membawanya secepat mungkin menuju gedung belakang, menuju ruang panel listrik. Rasa takut yang tadi dia rasakan saat berhadapan dengan Julian kini berganti menjadi teror jenis lain. Bayangan Raka yang sendirian menghadapi lonjakan energi abnormal itu menghantuinya.
Sesampainya di koridor belakang yang sepi dan gelap, Keyra melihat pintu ruang panel sedikit terbuka. Asap tipis berbau ozon dan karet terbakar mengepul keluar.
"Raka!"
Dia mendorong pintu. Cahaya senter ponselnya menyapu ruangan kecil itu. Panel listrik utama hangus menghitam. Dan di lantai, bersandar pada dinding dengan napas tersengal, Raka duduk sambil memegangi tangan kanannya. Wajahnya pucat, keringat membasahi rambutnya, tapi matanya masih menyala waspada saat sorot senter mengenai wajahnya.
"Gue..." Raka batuk, mengibaskan asap di depannya. "Gue berhasil matiin, kan?"
Keyra menjatuhkan diri berlutut di sampingnya, meraih tangan Raka. Telapak tangan cowok itu melepuh merah, luka bakar yang terlihat menyakitkan. Keyra meringis, matanya terasa panas.
"Lo gila," bisik Keyra, suaranya parau. Dia merobek sedikit ujung kemejanya untuk membalut tangan Raka sementara waktu. "Lo bisa mati kesetrum."
"Dan lo bisa mati keinjek-injek atau diledakin sama si psikopat itu," balas Raka, meringis saat kain menyentuh lukanya. Dia menatap Keyra tajam. "Dia ilang, kan?"
Keyra mengangguk. "Dia ilang pas lampu mati. Tapi dia ninggalin pesan. Dia bilang koper itu 'lapar'."
Raka menyandarkan kepalanya ke dinding, tertawa getir. "Bagus. Sekarang kita punya koper kanibal dan manusia listrik. *Best festival ever*."
Keyra tidak tertawa. Dia membantu Raka berdiri, memapahnya keluar dari ruang penuh asap itu. Di luar, sirine keamanan mulai meraung, dan cahaya senter dari petugas keamanan sekolah mulai terlihat mendekat. Malam ini baru saja dimulai, dan perang mereka melawan Julian—dan apapun yang ada di dalam koper itu—telah naik ke level yang jauh lebih berbahaya.