"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Jarak yang Menulis Rindu
Sajak dari Seberang Lautan
Ada jarak yang membentang antara Nil dan dermaga,
Tempat di mana rindu tumbuh tanpa sempat kau jaga.
Dulu kau hanyalah mentari yang malu-malu fajar,
Kini kau cahaya yang berkelana untuk belajar.
Cadarmu adalah kabut yang mendekap rahasia,
Menyimpan kecantikanmu hanya untuk satu jiwa.
Meski pasir gurun kini membasuh langkahmu,
Ketahuilah, di kutub ini, aku tetap menunggumu.
Waktu seolah memiliki sayapnya sendiri. Tiga tahun telah berlalu sejak insiden "darah pertama" di serambi ndalem. Gadis kecil yang dulu berlari dengan seragam SMP penuh coretan warna-warni, kini telah bertransformasi menjadi seorang muslimah yang anggun.
Atas restu kedua orang tuanya dan dorongan dari Gus Zidan, Bungah memutuskan untuk terbang jauh ke Kairo, Mesir. Ia menyusul kakak laki-lakinya yang baru saja menyelesaikan gelar S3-nya di Al-Azhar. Bungah tidak ingin hanya menjadi "gadis pantai" yang polos; ia ingin menjadi wanita berilmu yang bisa berdiri tegak di samping seseorang yang hebat.
Di usianya yang kini genap 18 tahun, Bungah telah mengenakan cadar. Selembar kain tipis berwarna hitam kini menutupi wajah cantik jelitanya, hanya menyisakan sepasang mata bulat yang kini terlihat lebih tenang dan dalam. Ia ingin menjaga keindahan yang dulu dipuji "pesek namun manis" itu hanya untuk mahramnya kelak.
Kairo, Mesir
Bungah duduk di balkon apartemennya, menatap kerlip lampu kota Kairo dan aliran sungai Nil yang legendaris. Di tangannya, ada sebuah kitab kecil—pemberian Gus Zidan sebelum ia berangkat.
"Ternyata belajar kitab itu lebih berat kalau gurunya bukan Kak Zidan," gumam Bungah pelan. Suaranya masih selembut dulu, namun kini terdengar lebih matang.
Ia teringat momen perpisahan di bandara setahun yang lalu. Zidan tidak banyak bicara, ia hanya memberikan sebuah tasbih kayu zaitun dan berkata, "Carilah ilmu sampai ke ujung dunia, Bungah. Biar jarak ini yang mendewasakan doa-doa kita."
Bungah menyentuh cadarnya. Di Mesir yang panas, cadar ini adalah pelindungnya. Namun di hatinya, ada rasa rindu yang membara. Ia sering bertanya-tanya, apakah Gus Zidan masih menunggunya? Apakah "Kutub Utara" itu sudah mencair oleh wanita lain yang lebih hebat dan lebih alim darinya?
Pesantren, Jawa Timur
Sementara itu, di tanah air, Gus Zidan kini telah menjadi sosok Kyai muda yang semakin disegani. Wajahnya tetap tenang, namun setiap kali ia melewati pohon beringin tempat Bungah dulu memarkir sepedanya, langkahnya selalu melambat.
"Gus, ini ada surat dari Kairo untuk Umi," ucap Kang Adi suatu sore.
Zidan menerima surat itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Meskipun surat itu ditujukan untuk Uminya, ia tahu di dalamnya pasti ada satu atau dua baris salam untuknya.
Ia masuk ke kamar, duduk di tempat yang sama saat ia dulu mengajari Bungah. Zidan membuka ponselnya, melihat satu-satunya foto yang ia miliki: foto Bungah saat hari kelulusan SMA, sebelum ia memakai cadar.
"Kamu sudah 18 tahun, Bungah. Kamu sudah bukan mentari kecil lagi," bisik Zidan pada keheningan. "Cepatlah pulang. Kutub ini sudah terlalu lama merindukan hangatnya.
Umi Aisyah masuk ke ruang kerja Zidan, membawa sepiring kue yang aromanya sangat akrab di indra penciuman Zidan. Kue cucur buatan Ibu Bungah. Ternyata, meskipun anaknya berada di Mesir, silaturahmi antara keluarga Pak RT dan keluarga Pesantren tidak pernah putus.
"Bungah mengirim pesan lewat kakaknya," ucap Umi Aisyah sambil meletakkan kue itu. "Katanya, di sana dia sering menangis kalau belajar bahasa Arab yang sulit. Dia rindu diajari oleh gurunya yang 'galak tapi ganteng' katanya."
Zidan tersenyum simpul, mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Dia sudah dewasa, Umi. Sudah delapan belas tahun. Seharusnya dia sudah tidak boleh bicara sembarangan seperti itu."
"Tapi dia tetap Bungah-mu yang dulu, Zidan. Hanya saja sekarang bunganya sudah mekar dan tertutup rapat oleh cadarnya," Umi menatap putranya dalam-dalam. "Zidan, apa kamu tidak ingin menyusulnya? Atau setidaknya memberi kepastian? Abi sudah mulai ditanya oleh Kyai-Kyai lain tentang siapa yang akan menjadi pendampingmu."
Zidan menarik napas panjang. Ia mengambil secarik kertas dan pena. "Zidan tidak akan menyusul, Umi. Zidan akan menunggunya di sini, di dermaga tempat pertama kali kami bertemu. Biarlah dia menyelesaikan pengabdiannya pada ilmu."
Di Kairo, Bungah sedang berjalan menyusuri lorong-lorong tua di dekat Masjid Al-Azhar. Angin gurun yang kering menerpa cadarnya. Di balik kain hitam itu, bibirnya tak henti-hentinya bergumam menghafal bait-bait Alfiyah.
Tiba-tiba, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang ia simpan dengan nama "Kutub Utara".
Kutub Utara: "Assalamu'alaikum, Bungah. Bagaimana kabarmu di sana? Kabar dari Umi, kamu sering menangis karena pelajaran. Ingat, ilmu itu cahaya. Cahaya tidak akan masuk ke hati yang sering meragu. Sabarlah, Kairo akan memberimu banyak hal yang tidak ada di pantai kita."
Bungah berhenti melangkah. Ia menepi di bawah pilar masjid yang kokoh. Air matanya merebes membasahi bagian dalam cadarnya. Pesan itu singkat, dingin, namun baginya itu adalah pelukan paling hangat yang bisa ia rasakan dari jarak ribuan kilometer.
Ia segera mengetik balasan dengan jemari yang gemetar.
Bungah: "Wa'alaikumussalam, Ustadz Zidan. Bungah baik-baik saja. Bungah cuma rindu... rindu makan kue di serambi ndalem. Ustadz, apakah di sana saljunya sudah turun? Maksud Bungah, apakah Ustadz masih sedingin dulu?"
Zidan yang sedang membaca pesan itu di kamarnya tertawa kecil. Gadis ini, meski sudah bercadar dan berada di negeri para nabi, tetap saja punya cara untuk menjahilinya.
Kutub Utara: "Saljunya sudah mencair sejak tiga tahun lalu, Bungah. Sekarang di sini hanya ada penantian. Belajarlah yang rajin. Jangan pulang sebelum kamu benar-benar menjadi mentari yang bisa menyinari dunia, bukan hanya menyinari hatiku."
Bungah memeluk ponselnya di depan dadanya. Di tengah hiruk pikuk kota Kairo yang berdebu, ia merasa seolah-olah Zidan sedang berdiri di sampingnya, menjaganya dengan doa-doa yang melintasi benua.