NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTAHANAN KELUARGA

Setelah tiba di kampung, suasana segera kembali tenang namun dengan rasa waspada yang lebih tinggi.

Pak Bara segera memanggil beberapa anggota yang sudah lama bekerja bersama dia – mereka adalah orang-orang yang pernah berada di dunia yang sama dengan Pak Bara namun juga sudah keluar dan memilih hidup yang lebih baik.

“Kita tidak bisa berdiam diri dan menunggu mereka datang,” ujar Pak Bara saat mereka berkumpul di ruang tamu rumahnya. “Keluarga Wijaya adalah kelompok yang tidak mengenal kata ampun. Mereka akan terus mencari cara untuk menyakiti kita sampai mereka merasa puas.”

“Kita bisa melaporkan ke polisi, Pak,” sarankan salah satu orang yang bernama Pak Joko. “Sekarang sudah zaman yang berbeda, mereka tidak bisa terus melakukan kekerasan seperti dulu.”

“Mereka sudah terbiasa bekerja di bawah permukaan,” jawab Pak Bara dengan wajah serius. “Polisi mungkin tidak bisa melakukan banyak hal sebelum ada korban yang jatuh. Kita harus bisa melindungi diri sendiri dan satu sama lain.”

Sementara itu, Caca dan Rafi sedang duduk di halaman belakang bersama Dika, yang masih sedikit takut setelah kejadian di pantai.

Caca mencoba menghibur Dika dengan mengajaknya membuat mainan dari daun dan ranting yang mereka kumpulkan di sekitar rumah.

“Kamu tidak perlu takut, Dika,” ujar Caca dengan lembut. “Kita semua akan saling melindungi. Kan, Rafi?”

Rafi mengangguk dan mengusap kepala Dika. “Ya, aku akan selalu ada di sini untuk melindungi kamu dan Caca. Juga semua orang yang kita cintai.”

Pada malam hari, Pak Bara mengumumkan bahwa mereka akan melakukan latihan keamanan bersama seluruh keluarga dan teman-teman yang tinggal di sekitar kampung.

Mereka akan belajar cara mengantisipasi bahaya, cara berkomunikasi dengan cepat saat ada masalah, dan juga beberapa teknik dasar untuk melindungi diri.

“Kita tidak akan menyerang terlebih dahulu,” jelas Pak Bara saat memberikan arahan. “Namun jika mereka menyerang kita, kita tidak akan tinggal diam. Kita akan bertahan dengan cara yang benar dan sesuai dengan hukum.”

Beberapa hari kemudian, tepat saat mereka sedang melakukan latihan pertama di lapangan kosong dekat kampung, tiga mobil hitam tiba-tiba masuk ke kampung dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka berkumpul.

Dari dalam mobil itu keluar beberapa pria dengan wajah marah, di antaranya adalah pria yang pernah bertemu mereka di pantai.

“Bara Pratama!” teriak seorang pria yang tampak sebagai pemimpin mereka dengan suara yang keras dan menggelegar. “Kamu berpikir kamu bisa lari dari masa lalu kamu? Kamu telah merusak keluarga kita dan sekarang kamu harus membayar mahal!”

Pak Bara maju ke depan dengan tenang, diikuti oleh Rafi dan beberapa orang lain yang sudah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Caca segera membawa Dika dan beberapa anak kecil lainnya ke tempat yang aman di belakang rumah warga.

“Saya sudah tidak berada di dunia itu lagi, Wijaya,” ujar Pak Bara dengan suara yang tegas namun tetap tenang. “Saya sudah membayar segala sesuatu yang harus saya bayar. Sekarang saya hanya ingin hidup damai bersama keluarga dan teman-teman saya.”

“Kamu tidak bisa hanya pergi dan meninggalkan segala sesuatu seperti itu!” jawab Wijaya dengan marah. “Keluarga kita kehilangan banyak hal karena kamu. Uang, kekuasaan, bahkan anggota keluarga yang kita cintai!”

Sebelum situasi menjadi lebih memanas, suara sirene polisi terdengar dari kejauhan. Ternyata salah satu warga yang melihat mobil-mobil asing masuk ke kampung sudah cepat melaporkan ke polisi.

Ketika para pria dari keluarga Wijaya mendengar sirene, mereka segera menjadi gelisah.

“Kita belum selesai, Bara Pratama!” teriak Wijaya sebelum dia dan pengikutnya segera masuk ke mobil dan pergi dengan cepat.

Polisi datang dan melakukan pemeriksaan, mereka juga memberikan beberapa saran tentang cara meningkatkan keamanan di kampung.

Mereka juga menyatakan bahwa mereka akan terus memantau aktivitas keluarga Wijaya dan akan mengambil tindakan jika ada bukti bahwa mereka merencanakan kekerasan.

Setelah polisi pergi, seluruh keluarga dan teman-teman berkumpul kembali. Meskipun situasi masih tegang, mereka merasa lebih kuat karena mereka saling mendukung dan bekerja sama.

“Kita telah menunjukkan bahwa kita tidak akan mudah dikalahkan,” ujar Pak Bara dengan senyum hangat. “Dan yang terpenting, kita telah menunjukkan bahwa kekerasan bukanlah jalan yang benar. Kita akan terus hidup dengan damai dan cinta, dan itu adalah kekuatan terbesar yang kita miliki.”

Caca mendekat ke Pak Bara dan memeluknya. “Terima kasih, Pak, karena selalu melindungi kita semua.”

“Kita adalah satu keluarga, Caca,” jawab Pak Bara dengan lembut. “Kita akan selalu saling melindungi, tidak peduli apa yang terjadi.”

Pada malam itu, mereka berkumpul untuk makan malam bersama di halaman rumah Pak Bara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!