Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah yang Tidak Peduli
Hari ketiga setelah melahirkan, Nayara pulang ke rumah. Bu Sari yang antar karena Gilang bilang dia ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan. Rapat. Selalu ada rapat. Selalu ada alasan.
Nayara duduk di jok belakang mobil Bu Sari, memeluk Reynaldi yang tidur pulas di gendongannya. Bayi mungil ini beratnya cuma tiga kilo lima ratus gram. Kecil. Rapuh. Butuh perlindungan.
"Kamu yakin bisa ngurus sendiri, Nak? Masa suamimu tidak cuti kerja dulu?" Bu Sari nanya sambil nyetir perlahan, khawatir.
Nayara tersenyum lemah. Senyum palsu yang sudah jadi kebiasaan. "Tidak apa-apa, Bu. Aku bisa kok."
Bohong. Nayara tidak yakin dia bisa. Jahitan di jalan lahirnya masih sakit kalau buat jalan. Punggungnya pegal luar biasa. Payudaranya bengkak karena ASI yang penuh. Tubuhnya remuk total. Tapi dia harus bilang bisa. Harus pura-pura kuat.
Sampai di rumah, Bu Sari bantu angkatkan tas dan perlengkapan bayi. "Ibu pulang dulu ya, Nak. Kalau ada apa-apa langsung telepon Ibu. Jangan ragu."
"Iya, Bu. Terima kasih banyak." Nayara peluk Bu Sari sebentar. Wanita yang bahkan bukan keluarganya ini lebih peduli daripada suaminya sendiri.
Begitu Bu Sari pergi, rumah besar itu terasa sangat sepi. Nayara berdiri di tengah ruang tamu sambil menggendong Aldi. Menatap sekeliling. Tidak ada yang berubah. Rumah tetap rapi, dingin, kosong.
Nayara naik ke kamar dengan susah payah. Setiap anak tangga terasa berat. Jahitannya ngilu setiap kali melangkah. Tapi dia tahan. Aldi butuh tempat tidur yang nyaman.
Di kamar, Nayara sudah siapkan box bayi seminggu sebelum melahirkan. Box kayu putih dengan sprei bergambar beruang lucu. Nayara taruh Aldi di sana dengan hati-hati. Bayi mungil itu meringkuk, tangannya mengepal kecil di samping kepala.
"Tidur yang nyenyak ya, sayang. Nanti kalau bangun Mama kasih ASI lagi." Nayara bisik sambil mengelus pipi Aldi yang lembut kayak sutra.
Nayara duduk di tepi ranjang. Tubuhnya lemes banget. Pengen tidur. Tapi dia harus siap-siap kalau Aldi tiba-tiba nangis. Bayi baru lahir kan suka bangun tiap dua jam buat nyusu.
Jam enam sore, Gilang pulang. Nayara dengar suara pintu terbuka dari kamar. Dia turun dengan perlahan, pegangan erat di pegangan tangga.
"Mas, sudah pulang?" Nayara sapa dari tangga.
Gilang lagi buka sepatu di pintu, tidak ngangkat muka. "Iya."
"Aldi lagi tidur di atas. Mau lihat dia tidak?" Nayara tanya dengan harap-harap cemas. Mungkin kalau lihat anaknya tidur lucu, Gilang bisa luluh.
"Enggak. Gua capek. Mau mandi dulu." Gilang naik tangga, nyalip Nayara tanpa ngelirik sedikitpun.
Nayara berdiri di tengah tangga, tangan masih pegangan di pegangan. Dadanya sesak lagi. Udah biasa sih. Tapi tetap sakit.
Malam itu Nayara masak seadanya. Cuma tumis kangkung sama telur dadar. Perutnya masih sakit, berdiri lama-lama di dapur bikin jahitannya ngilu. Tapi Gilang harus makan. Dia kan kerja seharian.
Gilang makan sambil main ponsel. Nayara duduk di seberang, makan sedikit karena nafsu makannya hilang.
"Mas," panggil Nayara pelan.
Gilang tidak jawab. Matanya tetep nempel di layar ponsel. Entah baca apa yang bikin dia senyum-senyum sendiri.
"Mas," panggil Nayara lagi, sedikit lebih keras.
"Apa sih?" Gilang nengok dengan wajah kesel.
"Aku, aku mau tanya. Besok Mas bisa pulang lebih awal tidak? Biar bisa bantuin aku jagain Aldi sebentar. Aku masih belum kuat buat jalan ke sana kemari. Jahitanku masih sakit banget." Nayara nanya hati-hati.
Gilang ketawa. Ketawa pendek yang nada-nya ngejek banget. "Bantuin jagain? Lo serius?"
"Iya, Mas. Cuma sebentar aja. Biar aku bisa istirahat dikit."
"NAYARA, LO KAN IBUNYA! NGURUS ANAK ITU KEWAJIBAN LO! BUKAN KEWAJIBAN GUA!" Gilang bentak tiba-tiba.
Nayara kaget. Sendoknya jatuh ke piring, bunyi krincing pelan.
"Tapi, tapi Mas kan ayahnya. Harusnya Mas juga bantu." Nayara berusaha tetep bicara pelan walau hatinya udah pengen teriak.
"GUA UDAH BANTU DENGAN KASIH UANG! LO MAU APA LAGI?" Gilang berdiri, taruh piringnya kasar di meja. Sisa nasi sama sayur tumpah sedikit.
"Aku tidak minta uang! Aku cuma minta waktu Mas! Minta Mas ada buat kami!" Nayara juga berdiri, walau kakinya gemetar.
"WAKTU GUA ITU BERHARGA, NAYARA! GUA HARUS KERJA CARI DUIT BUAT LO SAMA ANAK LO! JANGAN EGOIS!" Gilang nunjuk muka Nayara dengan jari.
Anak lo. Lagi. Gilang selalu bilang anak lo. Bukan anak kita.
"Ini anak kita, Mas. Kita berdua." Nayara koreksi dengan air mata yang mulai ngumpul.
"TERSERAH! POKOKNYA NGURUS ANAK ITU URUSAN LO! JANGAN MINTA GUA BANTUIN!" Gilang ambil kunci mobil dari meja. "Gua keluar. Jangan tunggu."
"Mas mau kemana? Ini udah malem." Nayara tanya walau udah tau jawabannya.
"BUKAN URUSAN LO!" Gilang jalan ke pintu.
"GILANG! JANGAN PERGI TERUS! KAMU PUNYA ANAK SEKARANG! PUNYA TANGGUNG JAWAB!" Nayara teriak sekenceng-kencengnya walau tenggorokannya sakit.
Gilang berhenti di pintu. Berbalik dengan mata melotot. "LO MAU NGATUR-NGATUR GUA? SIAPA LO?"
"Aku istrimu!"
"ISTRI YANG NYEBELIN!" Gilang banting pintu.
BRAK!
Suara bantingan itu bikin Aldi kebangun. Nayara denger tangisan bayi dari atas. Tangisan keras yang bikin dadanya makin sesak.
Nayara naik ke kamar dengan buru-buru walau setiap langkah bikin jahitannya ngilu. Aldi nangis kenceng di box, muka merah, tangan kecilnya gerak-gerak.
"Iya sayang, Mama di sini. Jangan nangis." Nayara angkat Aldi dengan tangan gemetar. Peluk bayinya erat di dada. "Maafin Papa ya, Nak. Papa jahat sama kita."
Aldi tetep nangis. Pasti laper. Nayara duduk di tepi ranjang, buka baju, lalu memberi ASI pada Aldi. Mulut mungil itu langsung nyedot kuat. Ngilu. Puting Nayara masih lecet dari kemarin. Tapi dia tahan. Anaknya butuh makan.
Sambil nyusuin, Nayara nangis pelan. Air matanya jatuh di kepala Aldi yang botak. "Mama cuma punya kamu, sayang. Cuma kamu."
Gilang pulang jam tiga pagi. Nayara tau karena dia masih melek. Aldi baru tidur setengah jam yang lalu setelah nangis berjam-jam. Kolik katanya. Bayi baru lahir sering begitu. Perutnya sakit karena sistem pencernaan belum sempurna.
Nayara udah gendong Aldi sambil jalan bolak-balik di kamar dari jam sebelas malem. Kakinya pegel luar biasa. Punggungnya kayak mau patah. Jahitannya ngilu tiap kali melangkah. Tapi Aldi terus nangis kalau diturunin. Jadi Nayara tetep gendong. Terus gendong sampai Aldi akhirnya ketiduran kelelahan.
Suara pintu kamar kebuka. Gilang masuk dengan langkah gontai. Bau alkohol nyium. Mata merah. Pasti abis dari bar atau klub.
Nayara duduk di sofa kecil di pojok kamar, masih gendong Aldi yang tidur pulas. Mata Nayara bengkak karena nangis terus dari tadi.
Gilang ngelirik sekilas. "Kenapa belum tidur?"
"Aldi baru tidur. Dia nangis terus dari tadi malem. Kolik." Nayara jawab dengan suara serak.
"Oh." Gilang cuma bilang oh doang. Terus langsung ke kamar mandi.
Nayara natap punggung Gilang yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Bau alkohol masih tersisa di udara. Astaga, suaminya abis minum-minum sementara dia di rumah sendirian jaga anak yang nangis berjam-jam.
Gilang keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian. Cuma pake boxer, rambut basah. Langsung naik ke ranjang, tarik selimut, tidur membelakangi Nayara.
Nayara masih duduk di sofa. Gendong Aldi yang tidur pulas di pelukannya. Badan remuk semua. Pengen tiduran di kasur yang empuk itu. Tapi kalau Aldi ditaro di box, nanti bangun lagi. Terus nangis lagi. Terus Gilang marah karena kebangun.
Jadi Nayara tetep duduk. Gendong anaknya. Menatap Gilang yang tidur pulas dengan dengkuran pelan.
Enak ya jadi Gilang. Bisa tidur nyenyak. Bisa keluar sesuka hati. Bisa minum-minum sama temen. Sementara Nayara? Dia terjebak di rumah. Terjebak sama bayi yang nangis terus. Terjebak sama badan yang sakit. Terjebak sama hati yang lebih sakit lagi.
Air mata Nayara jatuh lagi. Netes pelan di pipi Aldi yang mulus.
"Kenapa hidup Mama kayak gini, Nak?" bisik Nayara pelan banget supaya Gilang tidak kebangun. "Kenapa Mama harus sendirian? Kenapa Papa tidak sayang sama kita?"
Aldi tidur pulas. Napasnya teratur. Tidak tau ibunya lagi nangis sambil gendong dia. Tidak tau ayahnya tidur nyenyak tanpa peduli apa-apa.
Nayara peluk Aldi lebih erat. Cium puncak kepala bayinya berkali-kali. "Mama janji akan sayang banget sama kamu. Walau Papa tidak sayang, Mama akan sayang dua kali lipat. Mama janji."
Janji yang keluar dari hati yang udah hancur berkeping-keping.
Janji yang Nayara pegang walau dia sendiri tidak tau gimana caranya bertahan di pernikahan yang udah mati ini.
Tapi dia harus bertahan.
Untuk Aldi.
Cuma untuk Aldi.
Karena kalau bukan karena bayi mungil ini, Nayara mungkin udah menyerah sejak lama.
Nayara natap Gilang yang tidur dengan mulut sedikit terbuka, dengkuran halus keluar teratur. Tidur pulas. Tanpa beban. Tanpa mikirin apa-apa.
Sementara Nayara duduk di sofa keras. Gendong bayi yang beratnya bikin lengannya mati rasa. Badan sakit semua. Mata perih karena begadang. Hati hancur karena diabaikan.
"Tidak adil," bisik Nayara dengan suara pecah. "Ini tidak adil."
Tapi siapa yang peduli adil atau tidak?
Dunia tidak peduli Nayara sakit hati.
Dunia tidak peduli Nayara cape.
Dunia terus berputar walau Nayara rasanya mau mati setiap detik.
Dan Nayara harus tetep hidup. Tetep tersenyum. Tetep kuat.
Untuk Aldi.
Hanya untuk Aldi.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭