NovelToon NovelToon
Usia 40+, Rayuan Sang Mafia

Usia 40+, Rayuan Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Mafia / CEO
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vlaucia Campos

Di usia empat puluh, Antonella pikir hidupnya sudah selesai dikhianati—sampai ia memergoki suaminya sendiri bersama sang sekretaris. Perceraian mengubahnya: dari istri yang patah hati menjadi wanita baru yang tajam, berani, dan tak takut pada siapa pun.
Termasuk pada Don Enrico Costello—mafioso paling ditakuti di seluruh Italia.

Ketika utang judi sang mantan suami membuat putri semata wayangnya terancam, Antonella melakukan hal yang tak pernah berani dilakukan siapa pun: ia menatap langsung mata sang Don dan menawarkan dirinya sebagai gantinya. Seorang guru berusia empat puluh tahun, di tengah dunia penuh darah, senjata, dan kuasa.

Enrico terbiasa ditakuti. Ia tak pernah mencintai, tak pernah tertawa, tak pernah mengizinkan seorang wanita pun terlalu dekat. Tapi wanita satu ini menolak gemetar di hadapannya—malah membuatnya ingin membunuh sekaligus tertawa di saat yang sama. Dan untuk pertama kalinya, es di hati sang Don mulai retak.

Di antara dua bocah lelaki yang haus kasih sayang, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan gairah yang membakar setiap malam, Antonella menemukan bahwa "dibawa oleh seorang mafioso" mungkin justru awal dari hidup yang selalu ia impikan—dan pertaruhan paling berbahaya yang pernah ia ambil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Aku yang Boleh!

Antonella

Kami tiba di mansionnya—yah, kurasa memang miliknya—dan wow! Apa ini!

Kau tahu mansion-mansion mewah yang muncul di majalah orang-orang terkenal? Nah, di sebelah punya Enrico, semua itu kelihatan mungil.

Pertama, dari luar sama sekali tak terlihat apa-apa. Temboknya tinggi sekali, sampai superhero pun tak akan sanggup melompatinya. Setelah gerbang raksasa, kami masuk menyusuri jalan kecil berjajar pohon kelapa dan banyak tanaman, lalu setelah beberapa meter barulah mansionnya mulai muncul.

Ada taman yang luas sekali! Aku suka! Bunga, pohon, tanaman, dan di mana-mana berdiri lelaki-lelaki bertubuh kekar, sampai aku merasa seperti berada di markas tentara—semuanya membawa senjata. Atau mungkin lebih mirip Meksiko, dengan para penyelundup itu. Yah, memang aku sedang bersama mafioso, tapi jujur saja aku malah menikmatinya.

Kami turun dari mobil. Kurasa orang-orang ini tak punya gigi, sebab senyum tipis pun tak pernah mereka tunjukkan.

Saat Enrico turun, rasanya seperti sang raja baru saja tiba. Kuperhatikan mereka bahkan tak berani menatap matanya. Tak sopan sekali, batinku...

Aku mengikuti mereka, entah menuju ke mana. Yah, setidaknya kami sudah sampai di tempat yang kuyakini rumahnya. Kurasa aku akan mengurus anak-anaknya. Yah, kalau dia mau, sekalian saja kurus dia juga...

Kami masuk ke mansion, dan astaga, semua di sini besar, megah, dan indah. Persis seperti dirinya...

"Kemari, Antonella. Akan kukenalkan kau pada Anastácia," kata Enrico.

Aku hanya mengangguk lalu mengikutinya. Ia melewati berbagai bagian rumah. Aku sudah pasti tersesat kalau ditinggal sendirian di sini—rasanya butuh berjam-jam untuk menemukan jalan keluar.

Ia masuk melalui sebuah pintu besar.

Kami sampai di dapur—dan dapur macam apa ini! Astaga, lebih mirip restoran. Segala yang bisa kubayangkan ada di sini...

Wow! Sebuah mesin kopi paling modern, yang benar-benar kelas kafe, bukan jenis yang biasa kita beli di toko. Ada beberapa kulkas dan freezer, ada meja panjang yang muat untuk satu batalion—ya jelas, sebanyak itu orang di sini. Bayangkan seberapa besar rumah ini, pasti punya banyak, banyak sekali pegawai. Belum lagi pasukan yang ada di luar, dan dari ukuran tubuh para lelaki itu, pasti makan mereka banyak sekali!

Ya ampun, betapa miskinnya aku—atau dulu miskin, sebelum dirampok, diculik, dijual...

Ya Tuhan, apa aku benar-benar sudah dijual?

Aku belum pernah memikirkannya begitu. Yah, sekarang aku sudah di sini, dan lihat kompor-kompor ini! Kompor industri yang selama ini kuimpikan, dan mesin cuci piring itu—

Enrico

Kulihat ia memandang kagum ke tiap sudut yang kami lewati, dan entah kenapa aku memperlambat langkah, berjalan lebih pelan. Ini gila.

Kami tiba di dapur dan kulihat betapa ia terpukau. Aku sampai memaksa diri menunggu beberapa detik sampai ia kembali ke kesadarannya.

Aku hendak bicara, tapi—

"Ya Tuhan, lihat kompor-kompor ini dan mesin cuci piring ini," seru Antonella. "Punyaku dulu, ya ampun, kelewat kecil—benar-benar siksaan! Sering rusak, dan tentu saja bukan si keparat Fillipo yang mencuci piring di musim dingin. Dan mesin kopi ini? Wow, astaga, boleh aku tinggal saja di dapur?"

Sekali lagi aku ingin tertawa. Tingkahnya lucu. Kulihat Ana pun memandanginya sambil tertawa kagum.

"Antonella, ini Anastácia. Ia akan membantumu di awal kalau kau perlu," kataku.

Antonella

Aku mendekatinya dan menyapanya dengan kecupan di pipi dan pelukan—memang begitulah aku... Aku bisa merasakan ia orang yang ramah, dan sepertinya sangat disayangi. Dan sejak kami masuk tadi, hanya dia satu-satunya yang berani menatap mata Enrico.

"Senang sekali berkenalan, Anastácia," kataku sambil tersenyum. "Namaku Antonella, dan aku sedang jatuh cinta pada dapur ini!"

"Senangnya aku, Antonella," balas Anastácia sambil tersenyum. "Panggil saja aku Ana."

Astaga, Anastácia menyukainya, batin Enrico. Ia hampir tak pernah mengizinkan siapa pun memanggilnya Ana.

"Aku suka! Ana, aku terpesona pada mansion ini," kataku.

Ana

Aku terus memperhatikan. Enrico pergi mengambil air minum, dan ia memandang wanita ini dengan cara yang berbeda, memperlakukannya berbeda. Belum pernah ia betah selama ini di sini setiap kali membawa seorang wanita. Dan yang paling mengejutkan, wanita ini menatap langsung ke mata Enrico—dan ia membiarkannya!

"Ana, ia akan membantu mengurus anak-anak," kata Enrico.

"Wah, bagus sekali!" seruku sambil tersenyum.

"Mana mereka?" tanya Antonella riang. "Aku penasaran sekali ingin bertemu."

"Sedang di sekolah. Pulangnya sore nanti," jawabku.

"Berapa umur mereka?"

"Empat tahun dan enam tahun."

"Ya Tuhan! Mereka masih bayi-bayi!"

"Iya," kataku sambil tertawa, "masih kecil-kecil."

"Hari ini kemungkinan kau tak akan melihat mereka," kata Enrico. "Kau akan keluar bersama Sofia."

Aku suka ini, batinku. Ia tak pernah menyuruh Sofia mendampingi siapa pun—dulu hanya untuk mendiang istrinya... Entah kenapa, tapi aku menyukai wanita ini.

"Ana, panggil Rosa dan kenalkan pada Antonella," kata Enrico.

"Baik, sekarang juga," jawabku. Aku memanggil, dan tak lama Rosa datang.

Antonella

Datang seorang perempuan yang tak begitu muda, mungkin sekitar dua puluh delapan tahun. Cantik, cantik sekali, tapi tampak murahan bagiku, wajahnya seperti orang yang tak tahu malu. Ia pun tak menatap mata Enrico, hanya menyapanya lalu mengusapkan tangan ke sekujur tubuhnya, jelas-jelas menggoda Enrico. Setelah itu ia memandangku dari ujung kaki sampai kepala, dengan raut yang bikin perasaanku tak enak. Wah! Bahkan lebih menyeramkan daripada si mafioso.

"Rosa, ini Antonella, ia akan membantu mengurus anak-anak," kata Ana.

"Aku tak butuh bantuan, Bu Anastácia," sahut Rosa.

"Perintah sang Don," balas Anastácia.

"Tentu saja!" kata Rosa dengan senyum palsu. "Pasti bagus sekali!"

Palsu sekali, batinku.

Aku menghampiri Enrico yang masih memegang gelas air sambil menatap ponselnya—sebenarnya sedang membalas sesuatu, dan sama sekali tak meminum airnya.

Aku menyandar ke lengannya.

"Enrico," panggilku.

"Don Enrico," ralatnya dengan nada tegas, tapi tak kasar.

"Terserah. Aku selalu lupa soal keharusan memanggilmu 'Yang Mahakuasa' itu."

Enrico

Aku menahan diri agar tak tertawa. Tak boleh kulakukan itu di depan para pegawaiku.

"Kau tahu, si Rosa itu membuatku ngeri," kata Antonella. "Ia menatapku seperti perempuan-perempuan paranoid, histeris, yang tergila-gila pada seorang pria—dalam hal ini kamu—dan kurasa ia ingin membunuhku."

Aku ingin tertawa, dan kali ini lolos juga sebuah senyum tipis. Kubetulkan posisiku, kuteguk air itu, lalu—

"Tak ada yang akan berani berbuat apa pun padamu," bisikku sangat dekat di telinganya, hanya untuk didengarnya sendiri. "HANYA AKU YANG BOLEH."

Aku pun beranjak pergi.

Antonella

Ish, seluruh tubuhku merinding... Ia menoleh dan memberiku tatapan yang seolah berkata, aku tahu aku baru saja membuatmu merinding.

Terkutuk, ia tahu betul dirinya menggoda.

Sebelum keluar dari dapur, Enrico berhenti di depan Ana.

"Ana, hari ini Antonella akan keluar bersama Sofia. Jadi mulai besok, Rosa libur dua hari. Dan tempatkan Antonella di kamar sebelah kamar anak-anak," kata Enrico.

"Setuju, dan menurutku kedua perintah itu bagus sekali," sahut Ana sambil tersenyum.

Ia pun pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!