Pernikahan Brian Zaymusi tetap hangat bersama Zaira Bastany walau mereka belum dikaruniai anak selama 7 tahun pernikahan.
Lalu suatu waktu, Brian diterpa dilema. Masa lalu yang sudah ia kubur harus tergali lantaran ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang semakin membuatnya berdebar.
Entah bagaimana, Cinta pertamanya, Rinnada, kembali hadir dengan cinta yang begitu besar menawarkan anak untuk mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Payung
"Jadilah pacarku. Aku menyukaimu dari pertama kau meminta tanda tanganku." Brian menatap lekat gadis di sebelahnya. "Biarkan kita saling mengenal melalui hubungan ini. Karena aku benar-benar menyukaimu, Rinnada."
Rinnada membeku. Hatinya berdebar. Matanya tidak lepas dari wajah Brian. Ia seperti sulit bernapas.
"Sedikit saja." Wajah Brian memelas. "Buka hatimu sedikit saja. Katakan, apa yang kau suka, apa yang tidak kau suka. Apa yang kau inginkan, apa yang kau rasakan. Aku akan coba pahami dan ikuti. Berikan aku kesempatan supaya aku bisa dekat denganmu."
Rinnada menahan napasnya. Ucapan lelaki di depannya ini terdengar tulus adanya. Matanya menyiratkan yang sebenarnya ada dalam hatinya.
"A..aku.." Lidah Rinnada kelu. Hatinya tersentuh mendengar ucapan yang keluar dari mulut lelaki ini.
"Pikirkanlah dulu. Aku menunggu jawabanmu besok. Pakailah sesuatu yang berwarna merah jambu jika kau menerimaku".
Rinnada tertunduk. Ia menghela napasnya yang sejak tadi tertahan.
"Baiklah". Ucapnya singkat yang tidak bisa di tebak Brian, apakah ia di terima atau tidak.
Mereka berdiam disana. Debaran dihati mereka membuat tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Sesekali Brian menyentuh sikunya yang di perban. mengucap syukur, pada akhirnya, dia bisa mendekati gadis yang menari-nari di pikirannya belakangan ini.
*****
Cuaca diluar sedang mendung. Awan hitam bergerak tidak tenang. Seperti menggambarkan perasaan Brian yang sedang mondar-mandir di dalam kelasnya. Perasaannya juga tidak tenang. Hatinya berdebar menanti jawaban lewat apa yang akan di pakai Rinnada hari ini.
"Pakai apa ya dia? Ah.. aku tak sabar". Rasanya ingin sekali dia mendatangi kelas Rinnada dan mengintip disana. Kira-kira pakaian apa yang hari ini dia pakai, ya. Membayangkannya saja, hatinya sudah berdegup kencang.
Brian bergerak kesana kemari, tepat di depan papan tulis. Menghalangi orang-orang yang sedang mencatat apa yang terlulis disana.
"Hei, menyingkir sana!" Teriak salah satu teman wanitanya yang berkacamata. "Kau mengganggu sekali. Kami tidak bisa membaca tulisan di depan!" Protesnya keras.
"Ah kau ini, jangan mengganggu orang yang sedang berdebar!" Ucap Brian tak mau kalah.
"Hah, kenapa kami harus memaklumimu yang sedang gila itu!" Teriak Andre ke arahnya.
"Hei kau mau mati ya! Cepat menyingkir!" Yang berambut keriting juga ikut protes.
Andre membuang napasnya dengan kasar. Tak sabar melihat tingkah Brian. Dia beranjak dari duduknya menuju ke depan.
Dia menepuk-nepuk pelan pundak Brian. "Aku paham benar situasimu saat ini, Brian. Tapi..." Andre menarik napasnya. "Menyingkirlah dari siniiii!!" Suaranya menggema. Mengeluarkan sesuatu yang sudah ia tahan dari tadi.
"Apa-apaan kau!" Brian menyingkirkan kepala sambil menutup kupingnya yang pekak akibat teriakan Andre.
"Kau gila ya! Semua orang sedang mencatat hal penting. Kau malah sibuk dengan percintaanmu. Menulis, sana! Kau pikir gadis itu suka denganmu yang bodoh ini!" Andre berteriak di depan Brian. Sebagai komting kelas, ia ikut berpartisipasi atas protesnya teman-temannya.
"Apa kau bilang?!" Teriak Brian tak terima di bilang bodoh.
"Hoi kalian! Sana, berantam di luar. Jangan halangi papan tulis!" Protes yang lain.
"Dasar! Komting dan wakilnya sama saja!" Ujar temannya yang lain.
Mereka berdua pun duduk setelah disoraki teman-temannya.
"Kau ini, kacau sekali". Ujar Andre sambil mulai menulis lagi.
"Ah. Aku benar-benar tidak tenang, Ndre".
"Menulislah. Biar debaran sialanmu itu hilang". Andre berujar tanpa melihat Brian. Dia fokus menulis lagi.
Brian menarik dan membuang napasnya dalam-dalam. Mencoba menenangkan perasaannya. Keheningan kelas mulai tercipta.
"HAAAHHH! AKU TIDAK TENAAANGGG!!" Teriaknya yang tiba-tiba berdiri dan membuat satu kelas terkejut sampai pena temannya terlempar sakin kagetnya.
"Haaah sial!" Teriak salah satu temannya yang bukunya tercoret panjang.
Teman-temannya pun menyoraki dan melemparinya dengan buntalan kertas.
*****
Hujan deras mengguyur satu kota pada siang hari ini. Udara sejuk menyapa bulu kuduk yang terpaksa berdiri.
Kelas telah usai. Sebagian dari mereka pulang dengan payung yang selalu tersedia di dalam tas, sebagaian lagi memilih berteduh di dalam kelas sambil bercerita-cerita.
"Brrr.. dingin". Brian melipat tangannya. Sialnya, dia lupa membawa jeket.
Brian berdiri di teras kelas. Ia mengamati setiap tetesan air yang menyirami bunga-bunga taman. Sudah lama tidak turun hujan.
'Kau pasti merindukan itu, kan'. Ucapnya pada bunga. Mengibaratkan dirinya yang saat ini ingin melihat Rinnada.
Di seberang kelasnya, ada sebuah koridor menuju kelas-kelas mahasiswa baru. Brian menatap koridor, berharap Rinnada muncul. Namun gerombolan orang-orang disana membuatnya tak dapat melihat lebih jauh.
Andre datang dan berdiri di sampingnya. Ikut menatap ke depan dengan perasaan yang berbeda.
"Aku benar-benar prihatin dengan kondisimu ini. Terlihat sangat mengenaskan". Katanya menepuk pelan punggung teman dekatnya.
"Singkirkan tanganmu itu". Ucap Brian tanpa menoleh ke arah Andre.
"Kau bilang harusnya dia pakai baju apa?" Tanya Andre melihat ke seberang sana. Tangannya masih merangkul Brian.
"Merah jambu. Kenapa?"
"Pupus sudah harapanmu"
Mendengar itu, Brian menatap ke depan dan mencari-cari sosok Rinnada.
Gadis itu berdiri menghadap ke arahnya. Matanya sudah menangkap Brian yang berdiri bersama temannya.
Ah. Ada goresan kecewa di hatinya melihat gadis itu tak memakai sesuatu yang berwarna merah jambu.
Rinnada memakai blouse mustard, jeket putih dan rok jeans selutut.
'Sudahlah, mungkin aku yang terlalu tak sabar'. Batin Brian. Dia tertunduk, menatap sepatunya yang tersiram cipratan air hujan.
"Lihatlah dia sebelum dia pergi". Andre berujar pada Brian yang terlihat tak bersemangat. "Minimal tersenyum padanya, anggap saja senyuman terakhir. Cepat!" Andre menepuk-nepuk pundak Brian.
Brian melihat ke depan. Gadis itu masih berdiri disana, menatap ke arahnya. Lalu melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Brian. Ia berjalan sedikit kedepan, bersiap akan keluar dari kerumunan orang dan melangkah keluar.
Dia seperti mengambil sesuatu dalam ransel kecilnya. Mengeluarkan benda berwarna hitam. Rinnada menggenggam ujung yang terlihat seperti payung lipat. Ditariknya ke atas hingga sarungnya lepas dan membentang lebar payung miliknya. Ia mulai berjalan pelan dibawah derasnya hujan.
Mata Brian terbelalak melihat Rinnada menerobos hujan dengan payungnya yang berwarna merah jambu.
Sambil berjalan, Rinnada menoleh ke kiri, melihat Brian dan tersenyum. Ia menundukkan pelan kepalanya tanda ia menerima Brian. Lalu berjalan di tengah hujan.
Sampai sosoknya menghilang, Brian masih membeku. Perasaan apa ini. Dia memegang dada kirinya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
"Wah.. ada banyak bunga disini". Andre tersenyum melihat Brian yang membeku.
Brian mengambil tangan Andre dan meletakkannya di dada kirinya. Supaya Andre merasakan debaran jantungnya.
"Apa-apaan kau! Geli, tahu!" Andre langsung menarik tangannya dan langsung mengusap-usapnya ke bajunya.
"HAHAHAA.. Andre! Kau lihat itu!" Suara Brian meninggi, mengalahkan suara hujan. Membuat orang-orang di sekitarnya melihat.
"AKU DI TERIMA, NDRE..! KAU LIHAT ITU KANN!!" Kedua tangannya memegang kepala Andre dan mengguncang-guncangkannya. "AKU DITERIMAA!" Brian berteriak tidak percaya. Dia tadi bahkan sudah kecewa berat.
"Aaahh!" Andre melepas paksa tangan Brian. "Dasar gila!"
Makian Andre tidak terdengar lagi. Brian memeluk tiang penyangga koridor sambil tersenyum-senyum riang. Brian benar-benar seperti orang gila.
Bersambung....
cow gk tahu diuntung