*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].
SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.
[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]
⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.
*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*
✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Kontradiktif Despotisme Dan Teokrasi. (Part 2.)
Tak bisa dilepas, relasi rakyat dan pemimpinnya. Implikasi kenikmatan dan cara mendapatkannya. Atau relasi jutaan pribadi antara kepentingan keluarga dengan kepentingan individualistis.
Perasaan itu lalu dikembangkan lagi oleh keyakinan setiap lini masyarakat. Keyakinan yang membentuk pola pikir serta sisi psikologis.
Membentuk pula fakta serta interpretasi sebagai jalan keputusan, kemudian berakhir menjadi suatu kekuatan masyarakat untuk menilai baik buruknya suatu kehidupan.
Inilah era estetik, sekaligus era fanatik. Zaman keragu-raguan, juga zaman keyakinan. Era perjuangan, sekaligus era kepasrahan.
Periode keputusasaan juga periode harapan. Di lain sisi berbondong-bondong bangga, di sisi lainnya, berduyun-duyun kecewa.
Do'a jadi obat, atau kematian jadi penawar. Meski terbentang kehampaan, tetap saja melawan dengan keberanian.
Masyarakat yang budiman cukup ampuh menjustifikasi masa ini sebagai peradaban terakhir. Masa di mana akan menyaksikan dunia menanggung kehancuran masal. Sekaligus masa di mana kemerdekaan hendak dicapai.
Pihak yang baik-baik saja akan ditetapkan bersalah. Dan itu hanya karena berbedanya pemahaman. Atau pihak yang bengis akan divonis tidak masalah. Dan itu hanya karena klaim sempurnanya pemahaman.
Tak ada yang mau disalahkan, tetapi juga butuh objek salah untuk dicap dalam sisi yang benar.
Bukan masa revolusi, bukan pula masa reformasi. Dikeadaan seperti ini, para pemimpin meyakini bahwasanya semuanya akan baik-baik saja.
Bangsa Barat telah dipimpin oleh Raja Azer yang gegabah, romannya memesona dengan watak licik nan naif, yang bercita-cita mempersembahkan keyajaan pada bangsanya sendiri dan Ratu Arenda yang berwajah manis nan berkepribadian tegas telah tewas, dalam pembuktian pengorbanan jiwa untuk bangsanya sendiri.
Bangsa Timur dipimpin oleh raja berparas jelek, yang bercita-cita menegakkan kebenaran dan ratu bertabiat bongak nan kejam, yang hidup untuk keluarganya sendiri.
Dalam ke dua bangsa itu, para kaum penguasa adalah pihak yang selalu menang, tetapi mereka pula selalu dirundung bersalah.
Masa ini sangat marak memberitakan wangsit perihal ramalan bangkitnya kejayaan ras Peri dan itu ditandai oleh bergelegarnya perang dunia antar alam.
Nyatanya, Survei perihal perang dunia ke-18 pada periode ini kembali dilakukan oleh salah satu organisasi terbesar di dunia.
Telah diketahui bila 25% rakyat tak setuju dengan adanya perang dunia dan itu dengan berbagai macam alasan.
Sedangkan 70% lainnya setuju bila perang dunia ini terus terjadi hingga seluruh ras rela mengikuti ras Peri. Survei itu akan memungkinkan untuk terus berubah seiring ambisi dan waktu pada ras Peri berlanjut.
Sisanya 5% tak menjawab. Selain dari katanya mereka netral, mereka kebanyakan abstain.
Informasi tersebut lebih menghebohkan yang digandrungi kawula muda hingga para orang tua. Pesan wangsit gaibnya atau pun informasinya, begitu diprioritaskan. Entah demi menghibur diri, atau demi menghiasi keyakinan.
Bangsa Timur yang selalu menjunjung kanun mereka, yang begitu mengkultuskan para ahli kitab serta keluarga kerajaan. Tak segan memenggal kepala siapapun yang berani mengkritik, atau menghina para ahli kitab dan menghina keluarga kerajaan. Ideologi teokrasi mereka sangat terpimpin, juga despotik.
Dalam bimbingan kaum puritan, secara frontal mereka berani memotong lidah, membakar hidup-hidup atau memenggal kepala siapapun yang membangkang terhadap kebenaran perang dunia ini.
Di muka publik, eksekusi diberikan panggung tontonan, setiap rentang usia dapat melihat bagaimana tubuh indah para penentang dipotong-potong jadi empat, atau dipertontonkan perut mereka yang disobek, lalu bola mata dicongkel oleh sendok emas. Dilakukan demi preseden; kebenaran tidak boleh dibangkang.
Sebagian kawula muda, sekaligus makhluk bernyawa lanjut usia, selalu hidup dalam loyalitas, serta keadaannya damai, kebanyakan mereka penganut paham teosentrisme dan teonomi.
Kendati elok disaksikan, beban terhadap kebenaran yang diyakini terus menggerogoti mental mereka. Pertentangan batin antara kebenaran para ahli dengan kebenaran pribadi, berkecamuk dalam segala aspek tuntutan dunia.
Mengharuskan mereka bungkam, manggut-manggut sepakat, tetapi membangkang sembunyi-sembunyi.
Nasib dan takdir hampir tiada bedanya. Yang dihadapi bukanlah sebatas perang secara fisik, lebih buruk dari itu; perang secara mental dan prinsip.
Secara spesifik, bangsa Timur banyak berdusta dan melakukan segalanya karena paksaan dan demi mengikuti para ahli kitab. Singkat kata, mereka takut divonis sesat dan takut pada penguasa.
Agak berlainan dengan bangsa Barat, —walau nyaris menuliskan sejarah sepersis mungkin dengan bangsa Timur— bangsa Barat memiliki ideologi teokrasi, yang berbau demokrasi dan dibumbui monarki kunstitusional. Terdengar membingungkan, tetapi jauh lebih membingungkan ketika ditambahi dengan absolutisme.
Bangsa Barat bagaikan nelayan yang tersesat di lautan samudra, mereka sadar kebingungan, sadar bila berada di lautan luas, namun terus mendayung kuat-kuat seakan sanggup kembali pulang.
Dengan kata lain, bangsa Barat hidup dalam tekad nan berdikari, hanya saja tujuan yang mustahil tercapai.
Sempat terjadi saling serang antara aparatur negara dengan satu organisasi terkemuka. Korban jiwa, atau korban luka-luka berjatuhan. Para abdi negara berjuang demi bangsanya dan para anggota organisasi berusaha demi menegakkan kebenaran. 300 tahun habis dalam kerusuhan.
Para pendekar, para kesatria, atau para petualang, bertarung di beberapa kota. Bertempur sesama profesi atau bertarung dengan aparat bangsa Barat. 500 tahun habis dalam pergulatan.
Rakyat jelata dan warga sipil pun tak terelakan saling baku hantam. Atau para penyihir serta para tentara militer terpaksa saling berkelahi. 1000 tahun terlintasi dalam kegetiran. Dan segala yang terjadi bahwasanya demi mengabdi pada kebenaran serta negara.
Setiap kelompok didesak untuk bubar, sekte, hingga organisasi, dibubarkan demi membentuk persatuan atau bila tidak, segera dihukum mati.
Segelintir anggota kemiliteran, para ahli kitab, para pejabat, hingga para pribadi sejenisnya, dihukum mati gegara membelot terhadap kebenaran perang dunia ke-18 ini.
Bunusnya adalah rakyat jelata yang dieksekusi mati karena memilih menentang kebenaran perang dunia, atau divonis menyebarkan kalimat adu domba dan fitnah.
Singkatnya, siapa pun itu, tak peduli statusnya, wajib mengklaim perang dunia zaman ini adalah kewajiban yang segera menghantarkan umat pada surga. Selain daripada itu, bersiaplah dicap sebagai iblis dan nyawa segera dilenyapkan.
Semua peristiwa serta persepsi itu dianggap lazim. Para hakim sibuk setiap harinya, juga para algojo tak pernah libur.
Hakim dengan kinerja yang payah, tak sukar memvonis para pembelot adalah iblis yang wajib mati.
Algojo yang pendiam dengan kinerja bobroknya, tak malu membunuh dengan sukacita.
Hari-hari, berminggu-minggu hingga berabad-abad lamanya, ditengah mencekamnya suasana itu, berita terus menyiarkan pihak-pihak pembelot. Pencari berita terus berjibaku merenggut info-info akurat demi disuguhkan pada masyarakat, dengan harapan supaya masyarakat jadi sedikit lebih pintar, atau mungkin malah terancam jadi gila.
Sejak sejarah itu terbentuk, segala media penyampai berita sekaligus media hiburan dipecut mendoktrin warga negaranya agar tunduk pada kebenaran perang dunia ini.
Bocah cilik, sampai para pribadi lansia, setiap harinya dididik oleh doktrin untuk memuja kebenaran serta mengkultuskan rasnya sendiri.
Banyak yang dibungkam, hingga diancam. Akan tetapi, mengingat ini bagian dari keyakinan serta prinsip, segala insiden hanyalah kausal yang wajar dan mayoritas masyarakat menikmatinya sebagai jalan keselamatan menuju Surga.
Ratusan insiden, atau ribuan peristiwa, berlangsung beribu tahun secara eksklusif dan istimewa. Dalam siklus tersebut, maut serta takdir berkolaborasi secara estetika tanpa dipedulikan.
Raja bangsa Barat, yang memesona nan gegabah, serta raja bangsa Timur, yang berparas jelek nan berambisi, mereka memimpin penuh kebanggaan, menikmati kuasa ilahiahnya secara mutlak. Atau ratu bangsa Timur yang bertahan hidup untuk kehormatannya sendiri.
Mereka semua percaya diri mengatur sistem dalam masyarakat. Dan demikianlah raja atau ratu, juga para figur lainnya, yang melahirkan sejarah baru demi mengimplementasikan identitas mereka sebagai penanggung jawab yang paling bermoral.
__________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)