“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
"Om? Ponsel saya ketinggalan di—"
Kalimat Cahaya terputus di ambang pintu ruang kerja yang setengah terbuka. Suasana di dalam ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu meja yang berpendar kekuningan.
Jeremy tidak menyadari kehadirannya. Pria itu duduk membungkuk, menatap sebuah bingkai foto perak di atas meja besarnya.
Cahaya tertegun. Bahu Jeremy yang biasanya tegak dan kaku, kini tampak bergetar hebat. Suara isakan rendah yang sangat pilu memenuhi ruangan, menghancurkan citra Monster Milan yang selama ini Jeremy tunjukkan pada dunia.
"Stella, aku harus bagaimana?" bisiknya parau.
"Dia sangat mirip dengamu saat tertawa. Caranya memeluk Elio... itu membuatku takut. Aku takut aku mulai mengkhianati kenangan kita."
Cahaya mematung di tempatnya. Hatinya mencelos mendengar kejujuran pria itu pada foto mendiang istrinya. Ternyata, di balik semua sikap menyebalkannya hari ini, ada luka yang belum benar-benar kering.
Jeremy bukan sedang mengerjainya karena benci, tapi karena dia sedang berperang dengan rasa bersalah di dalam dadanya.
Tanpa sadar, kaki Cahaya melangkah masuk. Rasa iba mengalahkan harga dirinya.
"Om..." panggil Cahaya dengan sangat lembut.
Jeremy tersentak, ia buru-buru menghapus air matanya dengan kasar dan mencoba menegakkan punggung, namun Cahaya sudah berdiri di sampingnya.
Sebelum Jeremy sempat mengeluarkan kata-kata pedas untuk mengusirnya, Cahaya sudah terlebih dahulu melingkarkan lengannya ke pundak Jeremy, menarik kepala pria itu ke dalam pelukannya.
"Menangis saja, Om. Jangan ditahan terus. Nanti hatinya makin berkerak," bisik Cahaya pelan sambil mengusap rambut Jeremy.
Jeremy membeku. Tubuhnya menegang, jantungnya berdegup kencang karena kedekatan yang tidak terduga ini. Aroma stroberi dari rambut Cahaya menyerbu indra penciumannya.
Harusnya ia marah. Harusnya ia mengusir gadis ini karena telah lancang melihat sisi lemahnya.
Namun, kehangatan pelukan Cahaya terasa seperti oase di tengah padang pasir yang selama ini ia tinggali.
"Lepaskan, Cahaya... ini tidak benar," gumam Jeremy, meski tangannya justru mencengkeram ujung baju Cahaya dengan erat.
"Biarkan begini sebentar saja. Anggap saya cuma sandaran kursi," sahut Cahaya, air matanya sendiri mulai menetes melihat betapa rapuhnya pria yang selalu terlihat sombong ini.
"Om tahu, mencintai seseorang yang baru bukan berarti Om mengkhianati Kak Stella. Kak Stella pasti sedih lihat Om menyiksa diri sendiri begini."
"Kau tidak mengerti..." Jeremy terisak lagi, wajahnya terbenam di perut Cahaya. "Setiap kali aku melihatmu tersenyum, aku merasa berdosa karena aku mulai melupakan rasa sakit itu. Aku takut jika aku bahagia, ingatan tentangnya akan memudar."
Cahaya merunduk, menatap foto Stella yang cantik.
"Ayah saya selalu bilang, cinta itu bukan seperti air di dalam gelas yang kalau ditambah bakal tumpah. Cinta itu seperti cahaya, Om. Semakin banyak lilin yang dinyalakan, ruangan makin terang, tapi lilin yang lama tidak akan pernah padam sinarnya. Kak Stella akan tetap jadi lilin pertama di hati Om, selamanya."
Jeremy terdiam lama dalam dekapan Cahaya. Ia merasakan kedamaian yang sudah bertahun-tahun hilang. Napasnya mulai teratur, dan rasa sesak di dadanya perlahan melonggar.
Kesadaran tiba-tiba menghantamnya. Ini terlalu berbahaya. Rasa nyaman ini bisa membuatnya kehilangan kendali atas kontrak yang ia buat sendiri.
Jeremy memegang kedua bahu Cahaya dan mendorongnya pelan, melepaskan pelukan itu. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata Cahaya yang masih basah.
"Sudah... cukup," ucap Jeremy dengan suara yang berusaha dikeraskan. "Kembalilah ke kamarmu. Aku hanya sedang lelah."
Cahaya menghela napas, ia tahu Jeremy sedang membangun kembali bentengnya. "Ponsel saya, Om."
Jeremy meraih ponsel di atas meja dan menyodorkannya tanpa melihat Cahaya.
"Ambil ini. Dan tolong... lupakan apa yang kau lihat malam ini. Jangan pernah bahas ini lagi."
Cahaya menerima ponselnya, ia menatap Jeremy dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Saya bukan tipe orang yang suka mengumbar aib orang lain, Om. Tapi ingat janji kelingking kita. Kalau Om butuh teman bicara, saya masih punya kelingking satunya lagi buat dengar cerita Om dan tidak akan membocorkannya."
Cahaya berjalan keluar ruang kerja dengan langkah tenang. Setelah pintu tertutup, Jeremy kembali menatap foto Stella.
Anehnya, kali ini ia tidak merasa sesedih tadi. Sentuhan Cahaya seolah meninggalkan jejak hangat yang tidak bisa ia usir.
"Stella... maafkan aku," bisik Jeremy pada foto itu. "Tapi dia benar. Ruangan ini... sepertinya memang butuh sedikit cahaya lagi."
Sepertinya malam ini Jeremy bisa memejamkan mata tanpa perlu meminum obat tidur.
Sementara di kamarnya, Cahaya menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Ia baru saja menyadari bahwa misinya bukan hanya menyelamatkan Elio, tapi juga menyelamatkan seorang pria yang jiwanya sudah terlalu lama membeku.
"Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku memeluknya tadi? Aku tidak sedang terbentur kan? Begini nih kalau punya hati nggak enakan. Melihat orang sedih langsung main nyamperin," gumamnya.
semangat 💪 untuk cerita yg lain Thor 👍 salam sukses selalu ya ❤️🙂 trimakasih 🙏
aku masih berharap 🤭
pantas kemarin aku merasakan detik detik ending dan ternyata memang selesai
terimakasih kak sudah membuat cerita ini dengan sangat baik ,sudah menghibur pembaca sepertiku🙏