Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.
Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.
Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.
Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang tak terkendali
Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, menciptakan garis cahaya yang memanjang di atas kap mobil sedan mewah itu. Di dalam kabin yang kedap suara, kesunyian terasa begitu menyesakkan. Carmen tetap pada posisinya; menyamping, menatap kaca jendela dengan pandangan kosong. Baginya, kemewahan mobil ini tak ubahnya jeruji besi yang bergerak.
Samudera melirik dari sudut matanya. Rahangnya masih mengeras, namun sorot matanya yang tajam perlahan meredup setiap kali ia melihat bahu Carmen yang sedikit bergetar.
"Aku melakukan ini demi keselamatanmu, Carmen," ucap Samudera memecah keheningan dengan nada yang berat. "Dunia luar tidak seaman yang kau bayangkan. Kau tahu itu."
Carmen tidak bergeming. Ia hanya bisa mengenang masa-masa tiga tahun di asrama putri, masa di mana ia harus mengikuti jadwal ketat tanpa celah, seolah-olah ia sedang menjalani hukuman atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Kini, setelah mereka menikah secara rahasia pun, kebebasan itu tetap menjadi barang mahal.
Sesampainya di rumah, Carmen turun tanpa menunggu dibukakan pintu. Ia melangkah cepat menaiki tangga, mengabaikan sapaan para pelayan, dan langsung mengunci diri di kamar.
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang luas, namun terasa hampa. Tangannya yang gemetar perlahan turun, mengusap perutnya yang masih rata dengan gerakan penuh kasih. Ada kehidupan kecil di sana, rahasia yang belum berani ia ungkapkan sepenuhnya ke dunia luar, hanya orang-orang tertentu saja yang tahu soal kehamilannya, ia sendiri takut jika nanti anak ini pun akan tumbuh dalam 'sangkar emas' yang sama.
"Nak, kenapa sikap Papahmu itu akhir-akhir ini selalu menjengkelkan?" gumam Carmen lirih, air matanya menetes di atas bantal. "Terkadang Mamah mu ini tidak sanggup jika hidup terkurung seperti ini. Mamah butuh napas, butuh kebebasan. Selama ini hidupku serasa di penjara."
Di luar kamar, Samudera berdiri mematung. Tangannya sudah berada di gagang pintu, berniat untuk masuk dan memberikan ceramah panjang tentang kedisiplinan. Namun, gumaman pilu Carmen dari dalam ruangan menghentikan gerakannya.
Setiap kata "penjara" yang diucapkan Carmen bagaikan hantaman godam di dadanya. Samudera mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih.
'Apakah aku sehina itu di matamu, Carmen?' batinnya bergejolak.
Ia mencintai dan menyayangi wanita itu dengan cara yang salah, sebuah cinta yang lahir dari rasa trauma kehilangan di masa lalu. Baginya, mencintai berarti memiliki dan mengawasi. Ia takut jika ia melonggarkan genggamannya sedikit saja, Carmen akan bernasib sama dengan orang tuanya sepuluh tahun yang lalu.
Samudera menyandarkan kepalanya di daun pintu, mendengarkan isak tangis Carmen yang perlahan mereda menjadi helaan napas lelah.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Carmen. Walaupun kau membenciku, setidaknya kau tetap hidup dan berada di bawah jangkauanku," bisiknya pelan, hampir tak terdengar oleh siapapun kecuali kegelapan koridor.
Ia menarik kembali tangannya dari gagang pintu. Samudera memutuskan untuk memberikan ruang, meski hatinya sendiri tercabik melihat wanita yang ia sayangi menderita karena perbuatannya. Ia berjalan menjauh menuju ruang kerjanya, membiarkan Carmen bergulat dengan emosinya sendiri, dimana wanita yang disebut 'aset' itu kini tengah mengandung darah dagingnya.
.
.
Pagi itu, suasana di kediaman mewah Samudera terasa mencekam. Carmen yang sudah siap dengan tas kampusnya harus menelan pil pahit saat Samudera mencegatnya di ruang makan.
"Selama seminggu ke depan, kau tidak perlu ke kampus. Aku sudah menghubungi pihak dekanat, kau akan mengikuti kuliah melalui Zoom dari rumah," ucap Samudera tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya.
"Tapi Om! Minggu ini ada presentasi penting!" protes Carmen dengan suara bergetar.
"Keputusanku sudah bulat, Carmenita. Jangan membantah jika kau tidak ingin fasilitas komunikasi mu aku cabut sepenuhnya," balas Samudera dingin. Carmen hanya bisa terduduk lemas, menyadari bahwa ia benar-benar telah kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Di kampus, Farrel tampak gelisah. Ia terus mencari sosok Carmen hingga akhirnya bertemu dengan Dara, sahabat Carmen.
"Dara, Carmen mana? Kenapa ponselnya sulit dihubungi?" tanya Farrel cepat.
Dara menghela napas prihatin. "Carmen dihukum,Kak. Gara-gara kejadian kemarin, Om nya melarang dia ke kampus seminggu ini. Dia terpaksa kuliah online."
Mendengar hal itu, rasa bersalah menghujam jantung Farrel. Ia merasa menjadi penyebab penderitaan gadis yang disukainya. Dengan tekad bulat, ia berhasil mendapatkan alamat rumah Samudera dari arsip mahasiswa, sebuah tindakan nekat yang bisa mempertaruhkan beasiswanya.
Sore harinya, Samudera yang sedang melakukan meeting melalui laptopnya tiba-tiba teralihkan oleh monitor CCTV. Matanya menyipit, rahangnya mengeras saat melihat sosok pemuda berdiri di depan pagar rumahnya. Itu Farrel.
Samudera segera keluar, wajahnya memerah menahan amarah. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di sini! Pergi sebelum aku memanggil polisi!" bentak Samudera saat tiba di depan pagar.
"Saya hanya ingin meminta maaf, Pak! Tolong jangan hukum Carmen. Ini bukan salahnya, saya yang mengajaknya ke bengkel kemarin. Biarkan dia bebas kuliah seperti biasa!" seru Farrel dengan sisa keberaniannya.
Tiba-tiba, pintu utama terbuka. Carmen berlari keluar dengan rambut sedikit berantakan. "Om, hentikan! Jangan usir kak Farrel! Dia tidak salah!"
Samudera berbalik, matanya berkilat murka. "Masuk ke dalam, Carmen! Sekarang!"
"Tidak! Om terlalu egois! Kak Farrel hanya orang baik yang peduli padaku, tidak seperti Om yang hanya ingin mengurungku!" teriak Carmen membela pria itu.
Kalimat itu menjadi pemantik ledakan amarah Samudera. Dengan satu gerakan cepat, ia mengusir Farrel dengan kasar. "Pergi kau! Sekali lagi kau mencampuri urusan keluargaku, aku pastikan kau menyesal seumur hidup!"
Farrel yang terdesak hanya bisa mengepalkan tangan, menatap dari jauh saat Samudera tiba-tiba menyambar tubuh Carmen dan menggendongnya secara paksa.
"Pak Sam bertindak sudah seperti seorang suami terhadap istrinya, terlalu posesif, ck!" gumam Farrel dengan amarah yang tertahan, tak menyadari bahwa status "suami" itu memang nyata.
Di dalam rumah, Carmen meronta hebat dalam dekapan Samudera. "Lepaskan aku Om, aku benci Om Sam, aku benci!"
Samudera tak menjawab. Ia membanting pintu kamar dan menjatuhkan tubuh Carmen ke atas ranjang. Napas pria itu memburu, matanya yang biasa dingin kini dipenuhi api cemburu yang tak terkendali.
"Om jahat! Aku benci..."
Kalimat Carmen terputus. Samudera menerjangnya, melum*t bibir gadis itu dengan rakus dan penuh tuntutan. Ciuman itu bukan lagi tentang perlindungan, melainkan tentang penguasaan dan kecemburuan yang meledak. Carmen terbelalak, pasokan oksigennya menipis saat Samudera terus menekannya tanpa jeda.
'Kenapa dengan Om Samudera? Kenapa ia menciumku seperti ini?' batin Carmen berteriak dalam ketidakpercayaan.
Di balik ciuman kasar itu, ia merasakan detak jantung Samudera yang berpacu liar, sebuah pengakuan bisu bahwa pria itu telah kehilangan kewarasannya karena takut kehilangan dirinya.
Bersambung...
lagian kamu jangan ngehina Carmen y,,kamu belum tau y klo istri nya singa lg marah? 🙈
hati2 Saaam!! singa betina d samping mu siap menerkam klo kamu melenceng sedikit..🤭
awas lho Sam klo kamu sampe nyakitin Carmen,,dia udh menyerahkan seluruh hidup nya bwt kamu..jangan sampe kamu berpaling dr Carmen,,awas aj klo itu sampe terjadi!!!! 👊
maka nya Sam jangan bergelut dgn kerjaan aj atuuh,,peka dikit..kan skarang kamu udh punya istri, masih belia bgt lg 🤭..skali kali cari tau pergaulan anak remaja kaya gimana, biar kamu jg ikutan muda lg..biarpun yaaaa kamu jg masih keliatan muda sih dr usia kamu, tp kan klo kamu selalu update tentang kehidupan remaja jd nilai plus bwt kamu...secara istri kamu tuh 'putri kecil' mu yg naik tingkat 😁