Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Keputusan
Flash Back Irina
⸻
Memori adalah labirin yang sering kali menjebak kita pada sudut-sudut yang ingin kita lupakan, namun bagi seorang eksorsis sepertiku, memori adalah catatan sejarah yang harus dibaca dengan kepala dingin, meski hati terasa tersayat. Aku duduk di ruangan ini, di kursi yang sama, menghirup aroma teh yang sama, namun beban di pundakku terasa berkali-kali lipat lebih berat. Keputusanku bertahun-tahun lalu adalah sebuah orkestra egoisme yang aku susun demi keselamatan dunia, namun aku tidak menyangka bahwa harmoni yang tercipta justru dibangun di atas reruntuhan tiga jiwa yang paling dekat denganku.
Aku menutup mata dan seketika bayangan itu muncul. Hari pertama mereka bertiga berdiri di hadapanku sebagai satu kesatuan . Nivera baru saja kembali dari misi panjang di perbatasan alam roh. Ia masuk ke ruangan ini tanpa suara, seperti kabut yang menyelinap di bawah pintu. Rambut putihnya yang panjang jatuh menjuntai seperti salju abadi yang belum ternoda, membingkai wajahnya yang pucat namun memancarkan ketenangan surgawi. Matanya yang biru lembut adalah kontras dari mataku yang biru tajam, biru miliknya adalah telaga kedamaian, sementara biruku adalah badai yang tertahan.
Saat itu, aku mengamati sesuatu yang luput dari perhatian sejarah. Semua orang mengira Jover akan menjadi sosok yang paling terpesona, namun nyatanya, mataku justru tertuju pada Calona. Tatapan Calona pada Nivera saat itu mengandung sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persaingan antar-iblis. Itu adalah ketertarikan yang kompleks, campuran antara kekaguman, rasa iri, dan obsesi. Calona mulai membayangi Nivera, ia mengikutinya ke taman, ke perpustakaan bawah tanah, bahkan ke ruang arsip yang paling berdebu. Nivera, dengan kepolosan yang hampir menyakitkan, hanya membalas semua itu dengan senyum kecil yang tulus.
Namun, di balik keanggunan itu, aku menyadari Nivera mulai memudar. Cahaya Sang Penjaga Jiwa yang mengelilinginya menipis seperti kain tua yang sudah lapuk. Luka lama dari perjalanannya menggiring jiwa-jiwa melintasi jurang antara surga dan neraka tidak pernah benar-benar sembuh. Ia sedang sekarat secara perlahan, dan itu adalah bencana bagi tatanan dunia roh. Jika seorang Hellhound Putih mati tanpa meninggalkan penerus, jalur-jalur spiritual yang ia jaga akan runtuh. Surga akan mengunci pintunya rapat-rapat, dan jiwa-jiwa yang tersesat akan membanjiri neraka hingga meluap ke dunia manusia. Kehancuran alam roh adalah sesuatu yang tidak bisa kutoleransi sebagai seorang penjaga keseimbangan.
Suatu malam, aku melihat Jover berdiri di balkon, menatap kegelapan dengan pandangan yang serupa denganku. Kami tidak bicara, namun ada kesadaran kolektif yang menyakitkan, kita butuh penerus darah Nivera. Maka, aku mengambil keputusan paling beresiko dalam hidupku. Aku memerintahkan Jover untuk menikahi Nivera. Bukan karena cinta, bukan karena nafsu, melainkan demi "keamanan jalur para jiwa" yang hanya bisa dipertahankan jika garis keturunan Nivera terus berlanjut.
Bagian yang paling ironis adalah reaksi Calona. Dia, sang Ratu Hellhound yang sombong, sebenarnya memiliki hak mutlak untuk menolak. Dia adalah kekasih pertama Jover. Namun, saat aku menyampaikan rencana itu, dia hanya mengangguk. Dia diam dalam ketenangan yang mematikan, seolah-olah ia merasa bahwa dengan membiarkan Nivera masuk ke dalam lingkaran domestik mereka, ia bisa memiliki Nivera lebih utuh atau mungkin, ia merasa kemenangan sejatinya adalah melihat Nivera terjebak dalam kehidupan yang tidak ia inginkan.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam. Jover, yang awalnya mendekati Nivera dengan kekakuan seorang prajurit yang menjalankan perintah, perlahan-lahan mulai luluh. Dia jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta pada ketenangan Nivera yang mempesona. Namun di saat yang sama, dia tidak bisa melepaskan keterikatannya yang gelap dan membara pada Calona. Cintanya bercabang, menciptakan duri yang menusuk ketiga sisi hubungan tersebut.
Dalam hierarki rumah tangga yang aneh itu, peran-peran mulai terbalik. Nivera, yang dianggap banyak orang sebagai "alat" atau gundik, justru adalah istri yang mendapatkan penghormatan penuh dari Jover. Nivera bahkan memberikan izin bagi Jover untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan Calona secara resmi. Maka, secara teknis dan emosional, Calona justru berada di posisi kedua, seorang istri kedua yang terjebak dalam rasa cemburu yang ia ciptakan sendiri.
Tragedi tidak berhenti di sana. Tubuh Nivera yang rapuh tidak mampu menahan beban penciptaan kehidupan dengan mudah. Ia keguguran berkali-kali. Setiap kali rahimnya gagal, aku melihat Nivera tersenyum tipis sambil mengusap perutnya yang kosong, tanpa pernah menyalahkan diriku atau menuntut Jover. Itulah alasan mengapa Calix jauh lebih tua, ia adalah putra dari rahim Calona yang kuat. Sementara Cloudet, dia adalah keajaiban yang lahir setelah rentetan kegagalan yang memilukan.
Ketika Cloudet akhirnya lahir, Nivera tidak lagi memiliki sisa energi untuk bertahan. Ia memberikan seluruh sisa percikan jiwanya untuk menyeimbangkan darah hitam dan putih yang bergejolak di tubuh bayinya. Ia mati untuk sebuah keseimbangan yang bahkan tidak pernah memberikan ia waktu untuk beristirahat.
"Cukup untuk malam ini, Calona," ucapku, memecah kesunyian di ruang kerja. Suaraku membawa ketegasan yang menyadarkan Calona dari lamunannya yang gelap.
Calona tidak berani mengangkat kepala. Bayangan dosa masa lalu seolah membebani lehernya. Ia hanya berdiri, mengangguk pelan, dan melangkah keluar dari ruangan dengan keanggunan yang tampak rapuh. Ia pergi menuju kegelapan luar mansion untuk menemani Jover yang berjaga di balik bayang-bayang.
Aku berdiri perlahan, merasakan beban anak di rahimku yang mulai menendang pelan. Aku berjalan menyusuri lorong mansion yang sepi hingga tiba di sebuah kamar yang terkunci. Kamar itu adalah museum pribadiku, kamar orang tuaku duly. Di sana, di atas meja mahoni tua, tergantung sebuah foto masa kecilku. Aku berdiri di sana, menatap Irina kecil yang memeluk seekor anjing putih besar yang legendaris, Nivera.
Jemariku menyentuh permukaan foto yang dingin. Air mata yang selama ini kutahan hampir jatuh. "Harusnya kau bilang jika luka itu begitu menyakitkan, Nivera. Harusnya kau tidak perlu memikul semuanya sendirian hanya untuk memenuhi kehendak yang ku buat."
Aku mengelus perutku sendiri, merasakan denyut kehidupan yang akan segera hadir ke dunia. Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang. Cloudet dan anakku akan tumbuh di dunia yang sama. Aku tidak akan membiarkan mereka menjadi pion dalam permainan keseimbangan yang berdarah.
"Kali ini," gumamku pada kesunyian kamar yang dingin, "aku tidak akan terlambat. Aku akan menjadi perisai yang tidak pernah kau dapatkan."
Di luar, angin malam dunia manusia berhembus tenang, membawa aroma hujan yang akan datang, menyapu sisa-sisa abu dari neraka yang masih mencoba menempel tubuh kami.
Bersambung