NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman Psikologis

Aku tidak bisa bergerak.

Kakiku seperti membeku di lantai. Punggung masih menempel di dinding. Mata ku terpaku pada Leonardo yang berdiri di depan pintu tertutup.

Dia tidak bergerak. Hanya menatapku dengan tatapan yang... aneh. Bukan marah. Bukan kecewa. Bahkan bukan dingin seperti biasanya.

Dia terlihat... tenang. Terlalu tenang.

Dan itu yang paling menakutkan.

"Kau... kau harusnya di Milan," bisikku akhirnya. Suaraku gemetar parah. "Kau bilang seminggu..."

"Rencana berubah," jawabnya simpel. Dia melangkah masuk, menutup jarak antara kami dengan langkah yang sangat pelan. Seperti predator yang mendekati mangsa yang sudah terpojok. "Andrey mengirim notifikasi padaku sekitar sepuluh menit lalu. Bilang ada yang mengakses tabletnya tanpa izin. Aku langsung putar balik."

Sepuluh menit. Berarti dia ada di perjalanan dari Milan tapi masih dekat. Atau... atau dia memang belum benar-benar pergi jauh?

"Aku... aku bisa jelaskan..." kata-kata bodoh keluar dari mulutku.

Leonardo tertawa pelan. Tawa yang terdengar... geli? "Jelaskan apa, sayang? Bahwa kau mencuri tablet Andrey? Bahwa kau membaca file rahasia tentangku? Bahwa kau sekarang tahu persis siapa aku dan apa yang kulakukan?"

Setiap pertanyaan itu seperti tamparan. Aku tidak bisa jawab apa-apa.

Leonardo sudah sampai tepat di depanku. Tingginya membuat aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Dan jarak sedekat ini, aku bisa melihat detail yang biasanya tidak terlihat. Ada garis halus di sudut matanya. Tanda dia lelah. Tapi matanya tetap tajam. Sangat tajam.

"Kau tahu yang lucu?" dia bertanya dengan nada seperti orang yang ngobrol santai. "Aku sudah memperkirakan kau akan melakukan ini cepat atau lambat. Rasa penasaranmu terlalu besar untuk ditahan. Jadi aku sengaja minta Andrey meninggalkan tabletnya di tempat yang mudah dijangkau. Sengaja pakai password yang mudah ditebak."

Apa?

Ini... ini jebakan?

"Kau... kau sengaja?" aku menatapnya tidak percaya.

"Tentu saja." Leonardo tersenyum. Senyum yang membuat perutku mual. "Karena aku ingin kau tahu. Ingin kau lihat sendiri siapa aku sebenarnya. Bukan dari kata-kata orang lain. Bukan dari rumor. Tapi dari data. Dari fakta. Dari catatan pembunuhan yang kulakukan dengan tanganku sendiri."

Tangannya terangkat. Aku refleks mengerut, tapi dia hanya menyentuh pipiku. Mengusapnya pelan dengan ibu jarinya.

"Sekarang kau tahu. Aku kepala RED ASHES. Aku menguasai perdagangan senjata, narkoba, bahkan manusia di setengah dunia. Aku sudah membunuh lebih dari lima puluh orang dengan tanganku sendiri. Dan ratusan lagi dengan perintahku." Suaranya sangat tenang. Seperti orang yang sedang membacakan resep masakan. "Aku psikopat. Aku tidak punya empati. Aku tidak merasa bersalah. Dan aku tidak akan pernah berhenti melakukan apa yang kulakukan."

Air mataku jatuh. Aku bahkan tidak sadar kapan mulai menangis.

"Tapi kau tahu apa yang paling menarik, Nadira?" Dia mendekatkan wajahnya. Sangat dekat. Sampai aku bisa merasakan napasnya di wajahku. "Dari semua orang yang pernah kutemui, dari semua orang yang pernah kutahan, kau satu-satunya yang aku tidak akan pernah bunuh. Bahkan kalau kau mengkhianatiku. Bahkan kalau kau mencoba kabur. Bahkan kalau kau membocorkan semua rahasiaku ke polisi."

"Kenapa?" bisikku. "Kenapa saya?"

"Karena kau terlalu berharga." Jawabnya simpel. "Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku yang penuh darah ini, aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Obsesi, mungkin. Atau mungkin sesuatu yang lebih gelap dari itu. Dan aku tidak akan membiarkan perasaan itu hilang."

Dia melepaskan sentuhan di pipiku. Berjalan ke meja, mengambil tablet yang tergeletak di lantai. Menekan beberapa tombol.

Lalu membalikkan layarnya ke arahku.

Aku melihat video. Video langsung. Dari rumahku di Jakarta.

Ibu sedang menyapu halaman. Ayah duduk di teras membaca koran. Seperti biasa. Seperti hari-hari normal mereka.

Tapi ada yang berbeda.

Ada pria-pria berjas hitam di sekitar rumah. Di luar pagar. Di ujung jalan. Bahkan ada yang duduk di warung seberang jalan, berpura-pura makan tapi matanya terus menatap ke arah rumahku.

"Sejak kau di sini, aku meningkatkan pengawalan untuk orangtuamu," jelas Leonardo. "Awalnya hanya kamera dan dua orang jaga. Sekarang ada sepuluh orang. Bergantian dua puluh empat jam. Untuk melindungi mereka, tentu saja."

Melindungi. Atau menjaga agar mereka tidak kemana-mana.

"Tapi pengawalan bisa berubah fungsi dengan sangat cepat, Nadira." Suaranya turun sedikit. Lebih gelap. "Dari pelindung jadi... algojo. Hanya butuh satu perintah dariku. Satu panggilan telepon. Dan dalam hitungan menit, orangtuamu akan..."

"JANGAN!" aku berteriak. Tidak peduli lagi dengan ketakutan. Tidak peduli lagi kalau Leonardo bisa membunuhku sekarang juga. "Jangan sentuh mereka! Apa pun yang kau mau lakukan padaku, lakukan saja! Tapi jangan sentuh Ayah dan Ibu ku!"

Leonardo menatapku lama. Lalu dia tersenyum lagi. Senyum yang kali ini terlihat... puas?

"Bagus. Itu reaksi yang kuharapkan." Dia mematikan video, meletakkan tablet di meja. "Aku tidak akan menyentuh mereka selama kau patuh. Tapi kalau kau melanggar aturan lagi, kalau kau mencoba hal bodoh lain..."

Dia tidak perlu melanjutkan. Ancamannya sudah sangat jelas.

"Sekarang, tentang hukumanmu." Leonardo berjalan ke pintu. "Kau sudah membaca file rahasia. Kau sudah tahu terlalu banyak. Dan walau aku bilang aku tidak akan membunuhmu, bukan berarti tidak ada konsekuensi."

Hukuman. Jantungku berdegup cepat lagi.

"Kau akan dikunci di kamar ini selama tiga hari. Tidak ada kontak dengan siapa pun. Tidak ada Sofia. Tidak ada pelayan. Tidak ada aku. Hanya kau dan pikiranmu sendiri." Dia membuka pintu. "Makanan akan diantarkan tiga kali sehari lewat slot khusus di pintu. Tapi tidak akan ada yang bicara padamu. Tidak akan ada yang merespon apapun yang kau katakan."

"Tiga hari?" suaraku nyaris hilang. "Sendirian? Total?"

"Ya. Itu pelajaran untukmu. Agar kau mengerti bahwa rasa penasaran punya harga. Dan harganya adalah kesendirian." Leonardo melangkah keluar. "Gunakan waktu itu untuk berpikir. Tentang siapa aku. Tentang posisimu. Dan tentang apa yang akan kau lakukan selanjutnya."

"Leonardo, tolong... jangan tinggalkan saya sendirian... saya... saya tidak kuat..."

"Kau lebih kuat dari yang kau kira, Nadira." Dia menatapku untuk terakhir kali sebelum menutup pintu. "Tiga hari. Kalau kau bisa melewatinya tanpa kehilangan akal, mungkin kau memang cocok jadi istriku."

Pintu tertutup.

Bunyi klik dari kunci digital terdengar. Lebih keras dari biasanya. Lebih... final.

Aku berlari ke pintu. Menggedor dengan keras.

"LEONARDO! BUKA PINTUNYA! TOLONG! JANGAN TINGGALKAN SAYA!"

Tidak ada jawaban.

"LEONARDO!"

Hanya keheningan.

Aku merosot ke lantai, punggung bersandar di pintu. Tanganku masih menggedor. Tapi semakin lama semakin lemah.

"Tolong... jangan tinggalkan saya sendirian... tolong..." bisikku. Air mata mengalir deras. "Saya janji tidak akan ngulangi lagi... saya janji akan dengar kata-kata kamu... tolong..."

Tapi tidak ada yang menjawab.

Keheningan mencekam menyelimuti kamar.

Aku menatap sekeliling. Kamar yang indah ini tiba-tiba terasa seperti peti mati. Dinding putih yang biasanya terlihat elegan sekarang terlihat seperti dinding rumah sakit jiwa. Jendela besar yang biasanya menunjukkan pemandangan danau sekarang hanya menunjukkan kekosongan.

Tiga hari.

Tiga hari tanpa bicara dengan siapa pun.

Tiga hari hanya dengan pikiranku sendiri.

Pikiran yang penuh dengan gambar pembunuhan. Dengan daftar nama korban. Dengan kenyataan bahwa aku menikah dengan monster yang sudah membunuh ratusan orang.

Aku merangkak ke tempat tidur. Memeluk bantal. Mencoba bernapas tapi dadaku terasa sesak.

Ini baru beberapa menit. Baru beberapa menit dan aku sudah merasa seperti mau gila.

Bagaimana aku bisa bertahan tiga hari?

Jam di dinding berdetak pelan. Setiap detik terasa seperti jam.

Aku mencoba tidur. Memejamkan mata. Tapi setiap kali memejamkan mata, aku melihat wajah Riccardo. Mendengar suara tembakan. Melihat darah.

Aku buka mata lagi. Menatap langit-langit.

Tunggu. Kamera.

Ada empat kamera di kamar ini. Yang artinya... Leonardo bisa melihatku sekarang. Melihat aku hancur seperti ini. Melihat aku menangis. Melihat aku menderita.

Dan dia mungkin menikmatinya.

Pikiran itu membuat perutku bergejolak. Aku berlari ke kamar mandi, muntah di toilet. Tidak ada yang keluar kecuali cairan empedu karena aku belum makan sejak pagi.

Aku duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Memeluk lutut. Tubuhku gemetar tidak terkendali.

Ini hukuman. Hukuman psikologis. Leonardo tidak perlu memukul ku atau menyiksa ku secara fisik. Dia tahu cara yang lebih efektif.

Mengisolasiku. Membiarkan pikiranku sendiri yang menyiksaku.

Dan itu... itu jauh lebih menyakitkan dari luka fisik.

Karena luka fisik bisa sembuh. Tapi luka psikologis? Itu akan terus ada. Terus menghantui. Terus menggerogoti dari dalam.

Aku kembali ke kamar. Berbaring di tempat tidur. Menatap jam dinding.

Pukul lima sore.

Masih ada... berapa? Sekitar tujuh puluh jam lagi?

Tujuh puluh jam sendirian.

Tujuh puluh jam tanpa suara manusia.

Tujuh puluh jam hanya dengan monster-monster di kepalaku.

Air mataku mengalir lagi. Kali ini aku bahkan tidak mencoba menahannya.

Aku menangis sejadi-jadinya. Menangis untuk diriku. Untuk hidupku yang hancur. Untuk Ayah dan Ibu yang tidak tahu apa yang sedang kualami. Untuk Nadira yang dulu, yang sekarang sudah tidak ada lagi.

Dan yang paling menyakitkan... aku menangis karena aku tahu.

Aku tahu bahwa setelah tiga hari ini, aku tidak akan pernah sama lagi.

Kalau aku berhasil melewatinya tanpa kehilangan akal, aku akan keluar dari kamar ini sebagai orang yang berbeda.

Orang yang lebih patuh. Lebih takut. Lebih... rusak.

Dan kalau aku tidak berhasil melewatinya...

Mungkin aku akan benar-benar gila.

Dan Leonardo akan punya boneka yang sempurna. Boneka yang sudah tidak punya kehendak sendiri. Boneka yang hanya bisa mengangguk dan patuh pada semua perintahnya.

Entah mana yang lebih buruk.

Tapi aku tidak punya pilihan.

Yang bisa kulakukan hanya bertahan.

Bertahan selama tujuh puluh jam.

Dan berharap bahwa setelah ini semua berakhir, masih ada sisa dari Nadira yang dulu.

Walau aku tahu... harapan itu mungkin hanya ilusi.

Karena di dunia Leonardo, harapan adalah kemewahan yang tidak bisa aku miliki lagi.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!