NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Hilman hanya bisa menunduk, telinganya memerah. "Ya... maaf. Namanya juga... pertama kali."

Nayla terkekeh, lalu ia bangkit dan mulai menjelajahi sudut kamar Hilman. Matanya tertuju pada sebuah lemari kecil yang terkunci rapat. "Ini isinya apa, Mas?"

"Hanya berkas-berkas lama, Nay," jawab Hilman.

Namun, rasa penasaran Nayla yang hyper tidak bisa dibendung. Ia melihat sebuah kunci tergantung di dekat bingkai foto. Dengan gerakan pelan (meski masih sedikit meringis), ia membuka lemari itu. Di dalamnya, ia menemukan sebuah album foto usang dan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam.

"Eh, apa ini?" Nayla membuka album foto itu. "Ya ampun! Mas Hilman?!"

Nayla tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang perih. Di dalam foto itu, terlihat Hilman kecil berusia sekitar 10 tahun dengan kepala gundul plontos, mengenakan sarung yang kedodoran sampai menutupi kakinya, dan kacamata bulat yang sangat tebal.

"Lucu banget! Ini Mas Hilman pas baru dikhitan ya? Kok mukanya melas banget begini, kayak belum makan tiga hari!" ejek Nayla sambil menunjukkan foto itu ke wajah Hilman.

Hilman langsung panik dan mencoba merebut album itu. "Nay! Jangan dilihat! Itu foto memalukan!"

"Enggak mau! Ini harta karun!" Nayla menghindar dengan lincah, melupakan rasa perih di kakinya sejenak. Ia kemudian membuka buku catatan hitam itu. "Lho, ini buku harian? Coba aku baca... 'Hari ini aku melihat seorang anak perempuan di pasar yang sangat berisik, dia menangis minta es krim tapi suaranya kencang sekali...'"

Nayla terdiam sejenak. Tanggal di catatan itu adalah tujuh tahun yang lalu. "Mas... ini jangan-jangan aku ya? Waktu aku masih SMP?"

Hilman terdiam, ia berhenti mencoba merebut buku itu. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat sulit diartikan—campuran antara malu dan rahasia yang akhirnya terbongkar.

"Ternyata Mas Hilman udah merhatiin aku dari dulu? Wah, Gus satu ini diem-diem pengamat rahasia ya?" goda Nayla dengan nada yang lebih lembut, ia mendekati Hilman dan merangkul leher suaminya dari belakang.

Hilman terdiam cukup lama, membiarkan keheningan menyelimuti kamar itu. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan menoleh menatap manik mata Nayla yang sedang menempel di punggungnya. Sifat kaku yang biasanya ia tunjukkan perlahan mencair, digantikan oleh sorot mata yang jujur dan dalam.

"Iya," jawab Hilman singkat, suaranya sangat rendah.

Nayla sedikit tersentak. "Iya apa, Mas?"

Hilman memutar tubuhnya hingga mereka kini duduk berhadapan di tepi ranjang. Ia mengambil buku catatan hitam itu dari tangan Nayla dan mengelusnya pelan. "Iya, itu kamu. Anak kecil yang menangis karena es krimnya jatuh di pasar tujuh tahun lalu. Sejak saat itu, entah kenapa bayangan anak nakal yang suaranya paling kencang itu nggak pernah hilang dari kepalaku."

Mata Nayla membulat. "Jadi... Mas Hilman sengaja minta jadi guru privat aku karena...?"

"Bukan sengaja meminta," potong Hilman cepat, wajahnya kembali merona. "Tapi saat Bapakmu meminta pesantren mengirim seseorang untuk membimbingmu, aku yang paling pertama mengajukan diri. Padahal saat itu Abah mau mengutus ustadz lain. Aku ingin memastikannya sendiri, apakah anak kecil yang berisik itu masih sama atau sudah berubah."

Nayla tertegun. Ia tak menyangka di balik sikap dingin, galak, dan kaku Hilman selama ini, tersimpan perasaan yang sudah tumbuh bertahun-tahun.

"Tapi Mas galak banget pas ngajar aku kemarin!" protes Nayla sambil mencubit lengan Hilman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!