NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Sore itu, suasana sekolah mulai melandai. Sisa-sisa kemeriahan ekspo kampus masih terasa dari stand-stand yang mulai dibongkar. Amara berjalan menuju parkiran siswa bersama Daffa. Gadis itu tertawa pelan, sesekali tangannya menepuk bahu Daffa karena cowok itu baru saja menceritakan kejadian lucu saat ia hampir salah masuk ke stand jurusan Kebidanan.

"Beneran, Ra! Kakak-kakaknya pada bingung liatin gue, gue kira itu stand Teknik Informatika karena warnanya biru juga," Daffa terbahak, membuat Amara ikut terkekeh geli.

"Makanya, kalau jalan tuh pakai mata, Daff, jangan pakai perasaan terus," goda Amara.

"Gue pakai perasaan juga cuma ke lo, Ra," balas Daffa dengan nada bercanda yang sedikit serius.

Amara hanya memutar bola matanya, namun suasana hatinya jauh lebih baik. Setidaknya, obrolan dengan Daffa membuatnya lupa sejenak tentang keberadaan Nicholas yang mengancam ketenangannya tadi siang. Sesampainya di samping motor matic milik Daffa, Amara sudah bersiap untuk naik. Ia baru saja hendak memegang pundak Daffa untuk menjaga keseimbangan saat sebuah tangan besar tiba-tiba menarik tas ranselnya dari belakang dengan sentakan pelan namun tegas.

"Aduh!" Amara terhuyung mundur.

"Gue bilang, lo balik sama gue."

Suara berat itu muncul lagi. Nicholas sudah berdiri di sana, tepat di antara motor Daffa dan jalur keluar parkiran. Ia masih memakai flanel biru yang sama, namun sorot matanya kini jauh lebih gelap dan tajam, terutama saat melihat tangan Amara yang tadi sempat menyentuh bahu Daffa.

Amara berbalik dengan napas memburu. "Mau apa lagi sih, Kak?! Aku udah bilang aku mau balik sama Daffa. Kakak jangan keterlaluan ya, ini masih di sekolah!"

"Gue nggak peduli ini di mana," balas Nick dingin. Ia melirik Daffa dengan tatapan meremehkan yang membuat cowok itu tersinggung. "Turunin dia sekarang, atau gue yang bakal nurunin dia secara paksa."

Daffa tidak tinggal diam. Ia turun dari motornya, berdiri sejajar dengan Nicholas meskipun tinggi badannya kalah beberapa sentimeter. "Bang, lo temennya Bang Ryan kan? Harusnya lo hargain keputusan Amara. Dia nggak mau balik sama lo."

Nicholas tertawa sinis. Ia melangkah maju, memperpendek jarak dengan Daffa hingga suasana parkiran yang tadinya biasa saja mendadak terasa mencekam. Beberapa siswa yang masih ada di sana mulai berbisik-bisik, menonton drama yang sedang berlangsung.

"Lo anak kecil nggak usah ikut campur urusan orang dewasa," desis Nick tepat di depan wajah Daffa. "Gue dapet mandat langsung dari Ryan buat bawa dia pulang. Lo mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama dia di jalan?"

"Gue bisa jagain Amara lebih baik daripada lo yang kerjanya cuma bikin dia takut!" balas Daffa berani.

Nick menyeringai, sebuah seringai yang terlihat sangat berbahaya. "Jagain? Lo bahkan nggak tahu apa-apa soal dia, Bocah."

Amara yang melihat situasi makin memanas segera menengahi. Ia berdiri di tengah-tengah mereka, mendorong pelan dada Nicholas agar menjauh dari Daffa. "Kak Nick, stop! Kakak kenapa sih hobi banget bikin keributan? Malu dilihatin orang!"

"Gue nggak bakal bikin keributan kalau lo nurut," ucap Nick, kini tatapannya melunak hanya saat menatap Amara, namun tangannya dengan cepat menarik pergelangan tangan Amara. "Ayo ikut gue."

"Nggak mau! Lepasin, Kak! Sakit!" rintih Amara sedikit berbohong agar Nick melepaskannya.

Mendengar kata 'sakit', pegangan tangan Nick langsung mengendur, namun ia tidak melepaskannya sepenuhnya. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Ia benci kenyataan bahwa Amara lebih memilih bersama Daffa daripada dirinya yang sudah menunggunya selama dua tahun.

"Ra, jangan mau ikut dia. Biar gue yang anter," Daffa mencoba menarik tangan Amara yang satunya.

Kini Amara merasa seperti barang rebutan. Nicholas di sisi kanan, Daffa di sisi kiri. Ia menatap Daffa, lalu beralih menatap Nicholas. Di mata Nicholas, ia melihat sesuatu yang berbeda—bukan sekadar kemarahan, tapi ada sebuah permohonan yang tersembunyi di balik sikap kasarnya. Memori tentang cokelat panas dan bagaimana Nick mengobati tangannya kemarin tiba-tiba melintas.

Amara menghela napas panjang. Ia tahu Nicholas tidak akan pergi jika ia tidak mengalah. Jika ia terus bersama Daffa, Nick mungkin benar-benar akan berbuat nekat yang bisa membahayakan Daffa.

"Daff... sori banget," bisik Amara pelan. "Mending lo balik duluan aja. Gue... gue balik sama Kak Nick. Nanti gue jelasin di WhatsApp, ya?"

Daffa tampak kecewa berat. "Tapi, Ra..."

"Gue nggak apa-apa, Daff. Beneran," Amara mencoba meyakinkan dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Nicholas memberikan tatapan penuh kemenangan pada Daffa. Ia menarik Amara dengan posesif menuju motor besarnya yang terparkir tak jauh dari sana. Sebelum pergi, Nick menyempatkan diri untuk berbisik di telinga Amara saat ia menyerahkan helm.

"Pilihan yang cerdas, Ifa. Setidaknya lo tahu siapa yang lebih punya otoritas atas diri lo," bisiknya.

Amara hanya bisa diam membisu saat ia kembali naik ke atas motor Nicholas. Di perjalanan pulang, tidak ada percakapan. Amara sengaja tidak memegang pinggang Nick, ia hanya berpegangan pada jok motor, menjaga jarak terjauh yang ia bisa.

Nick yang menyadari hal itu sengaja melakukan pengereman mendadak di lampu merah. Dug! Tubuh Amara terdorong ke depan, menghantam punggung keras Nick.

"Sengaja ya?!" teriak Amara kesal.

"Makanya pegangan yang bener," sahut Nick dari balik helm. "Gue bukan ojek yang bisa lo cuekin gitu aja. Lo berutang penjelasan sama gue kenapa lo bisa seakrab itu sama cowok modelan Daffa."

"Aku nggak utang apa-apa sama Kakak!"

Nick terdiam sejenak, lalu ia berkata dengan nada yang sangat pelan namun terdengar serius, "Mungkin sekarang belum. Tapi suatu saat, lo bakal sadar kalau lo udah berutang banyak hal sama gue sejak dua tahun lalu."

Amara mengernyit. "Dua tahun lalu? Maksud Kakak apa?"

Lampu berubah hijau. Nick tidak menjawab. Ia justru menarik gas dalam-dalam, memacu motornya membelah kemacetan Jakarta, membiarkan pertanyaannya menggantung di udara sementara Amara makin tenggelam dalam kebingungan tentang siapa sebenarnya Nicholas di masa lalunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!