Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Yang Mengubah Segalanya
Ketenangan di ruang rawat Ria hancur seketika saat pintu digebrak dengan kasar. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal namun wajah yang menunjukkan jejak kehidupan yang kelam melangkah masuk. Ia adalah Suno, ayah kandung Ria—pria yang selama ini menganggap putrinya tak lebih dari sekadar komoditas dagang.
"Wah, wah... lihatlah putriku yang beruntung ini," ujar Suno dengan nada sinis yang memuakkan. Ia tidak menatap wajah Ria yang pucat, melainkan berkeliling ruangan, menilai fasilitas VIP yang sedang dinikmati putrinya. "Bertahan hidup dari maut hanya untuk menghabiskan uang suaminya, ya?"
Ria gemetar. Tubuhnya secara refleks menciut di balik selimut. Kenangan tentang tamparan, makian, dan rasa lapar di masa kecilnya seolah berputar kembali seperti kaset rusak.
Arya, yang sedang membantu Ria meminum air, perlahan meletakkan gelas itu. Ia berdiri, menghalangi pandangan Suno terhadap Ria. Tubuh Arya yang kini lebih kurus namun tetap tegap menjadi perisai yang kokoh bagi istrinya.
"Keluar dari sini, Pak Suno," suara Arya rendah, namun mengandung ancaman yang mematikan.
"Oh, Arya... menantuku yang baik," Suno tertawa remeh. "Aku dengar operasi ini menghabiskan biaya yang luar biasa. Sebagai ayahnya, aku punya hak untuk memastikan dia dirawat dengan benar. Dan tentu saja, sebagai kompensasi atas kekhawatiranku selama berminggu-minggu ini, aku butuh sedikit 'suntikan' untuk bisnisku yang sedang lesu."
Suno melangkah maju, mencoba mengintip Ria dari balik bahu Arya. "Ria, katakan pada suamimu. Tanpa izin dariku, dia tidak akan pernah bisa memilikimu dulu. Sekarang kau sudah sehat, bayarlah hutang budimu pada ayahmu ini."
Ria ingin bicara, ingin berteriak bahwa ia tidak berhutang apa pun, namun suaranya tercekat. Namun, ia tidak perlu bicara.
Arya mencengkeram kerah baju Suno dan menyeretnya keluar ke koridor rumah sakit dengan satu sentakan kuat. Di luar, Arya menghempaskan pria itu ke dinding.
"Dengar baik-baik, pria tua yang malang," desis Arya tepat di depan wajah Suno. "Aku sudah memegang semua bukti penggelapan pajak mu dan bukti kekerasan domestik yang kau lakukan pada Ria di masa lalu. Satu langkah lagi kau mendekati kamar ini, atau satu kata lagi kau ucapkan untuk menyakiti hatinya, aku pastikan kau akan menghabiskan sisa hidupmu di sel yang paling dingin."
Suno membelalak, wajahnya memucat. "Kau... kau tidak akan berani. Itu akan merusak reputasi mu juga!"
"Aku tidak peduli pada reputasi," jawab Arya dingin. "Aku sudah kehilangan segalanya saat Ria hampir mati. Aku tidak punya beban lagi untuk menghancurkan mu. Pergi, dan jangan pernah muncul lagi, atau kau akan tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam semalam."
Suno lari tunggang langgang, ketakutan melihat kilat kegilaan dan kesungguhan di mata Arya. Arya mengatur napasnya, merapikan jasnya, lalu kembali masuk ke kamar dengan wajah yang mendadak lembut.
Ia menemukan Ria sedang terisak, menutupi telinganya. Arya segera duduk di tepi ranjang dan menarik Ria ke dalam pelukannya. Kali ini, Ria tidak menolak. Ia membenamkan wajahnya di dada Arya, menangis mengeluarkan semua sisa ketakutan masa kecilnya.
"Sstt... dia sudah pergi. Dia tidak akan pernah kembali lagi, Ria. Aku janji," bisik Arya sambil mengelus kepala Ria yang terbungkus turban sutra. "Tidak ada lagi yang bisa menyakitimu. Kau bukan anak pembawa sial, kau bukan pajangan. Kau adalah duniamu sendiri, dan aku hanyalah orang yang beruntung bisa menjagamu."
Ria mencengkeram kemeja Arya erat-erat, merasakan detak jantung suaminya yang stabil. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ria merasa benar-benar aman. Bukan karena uang, bukan karena kemewahan, tapi karena ada seseorang yang bersedia menjadi monster demi melindunginya dari monster yang sesungguhnya.
Pagi itu, aroma bunga mawar tidak lagi bercampur dengan bau obat-obatan yang tajam. Setelah perjuangan panjang yang menguras air mata dan nyawa, dr. Gunawan akhirnya menandatangani surat kepulangan Ria. Meskipun masih harus menggunakan kursi roda untuk jarak jauh dan memiliki jadwal kontrol yang ketat setiap minggunya, Ria dinyatakan cukup stabil untuk melanjutkan pemulihan di rumah.
Arya tidak membiarkan satu orang pelayan pun menyentuh barang-barang Ria. Ia sendiri yang mengemas pakaian, buku, dan turban-turban sutra milik istrinya ke dalam koper.
"Sudah siap?" tanya Arya sambil berdiri di samping ranjang.
Ria mengangguk pelan. Ia merasa sedikit gugup. Kembali ke rumah itu berarti kembali ke tempat di mana ia pernah merasa sangat kesepian. Namun, saat ia menatap Arya—yang kini tampil dengan rambut sangat pendek namun terlihat sangat tampan dan segar—ia tahu atmosfer rumah itu tidak akan pernah sama lagi.
Saat mereka sampai di lobi rumah sakit, Arya dengan sigap membuka pintu mobil. Bukannya membiarkan supir membantu Ria, Arya justru membungkuk, menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Ria.
"Mas, aku bisa jalan pelan-pelan..." protes Ria, pipinya mendadak merona merah.
"Simpan tenagamu untuk pemulihan, Sayang," jawab Arya santai sambil mengangkat tubuh ringan Ria ke dalam gendongannya.
Ria mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik sebelum kemudian berpacu dua kali lebih cepat. Sayang? Pria yang biasanya memanggil namanya dengan nada datar, atau bahkan tanpa panggilan sama sekali jika sedang marah, baru saja mengucapkan kata itu dengan begitu alami.
Ria memilih untuk diam dan membuang muka ke arah jendela mobil, mencoba menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Ia pikir itu hanya ketidaksengajaan.
Sesampainya di rumah, kejutan lain menanti. Tidak ada lagi suasana kaku. Seluruh pelayan berbaris rapi memberikan salam hangat, dan rumah itu dipenuhi dengan cahaya matahari karena semua gorden dibuka lebar—persis seperti keinginan Ria.
Arya membawa Ria langsung ke kamar utama. Di sana, sudah tersedia kursi santai yang sangat empuk di dekat jendela yang menghadap ke taman.
"Kau duduk di sini dulu sementara aku merapikan obat-obatan mu, Sayang," ucap Arya lagi sambil mengusap lembut kepala Ria yang tertutup turban biru.
Ria berdehem keras, mencoba menetralkan suasana hatinya yang kacau. "Mas... kenapa panggilannya berubah?" tanya Ria akhirnya, suaranya sangat kecil.
Arya menghentikan aktivitasnya menata botol obat. Ia berjalan mendekat, berlutut di depan kursi Ria sehingga mata mereka sejajar. Ia meraih tangan Ria dan mencium punggung tangannya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Arya balik dengan nada menggoda. "Aku baru menyadari bahwa selama dua tahun ini, aku terlalu bodoh karena tidak memanggilmu dengan sebutan yang pantas untuk wanita yang sangat kucintai. Mulai sekarang, kau harus terbiasa. Karena setiap kali aku memanggilmu 'Sayang', itu adalah pengingat bagiku bahwa aku hampir kehilangan hal paling berharga dalam hidupku."
Ria menggigit bibir bawahnya, benar-benar salah tingkah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya aneh, manis, namun sekaligus membuatnya ingin bersembunyi di balik bantal.
"Mas, jangan terus-terusan begitu... aku... aku belum terbiasa," gumam Ria malu-malu.
Arya terkekeh, suara tawa yang sangat renyah dan jujur. "Lalu, kapan kau akan mulai membalasnya? Aku juga ingin dipanggil dengan sebutan yang manis, bukan hanya 'Mas' yang terdengar formal."
Ria menatap Arya dengan mata membulat. "Itu... itu nanti saja! Aku mau istirahat!"
Arya tertawa lagi dan mengecup kening Ria singkat. "Baiklah. Tidurlah, Sayang. Aku akan menjagamu di sini."
Di tengah kamar yang dulu terasa seperti penjara, Ria kini merasakan kehangatan yang nyata. Panggilan sederhana itu ternyata memiliki kekuatan luar biasa untuk menyembuhkan luka-luka yang selama ini tak terlihat.