NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: tamat
Genre:Pusaka Ajaib / Raja Tentara/Dewa Perang / Kebangkitan pecundang / Reinkarnasi / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LATIHAN PERTAMA

"Cepat, siapkan pasukan ksatria terbaik kita dan kirim ke Northumbria sekarang juga! Temukan Putra Mahkota dan bawa dia pulang hidup-hidup ke istana!" perintah Raja Valerius dengan nada final yang tak terbantahkan.

Di tempat yang berbeda, di sebuah penginapan mewah yang menjadi tempat persembunyian sementara, Cedric—tangan kanan Lady Elara—tersenyum penuh kekaguman.

Ada rona kepuasan yang terpancar di wajahnya yang licik. Ia meletakkan kembali teko perak kecil itu ke atas nampan bulat di atas meja kayu ek yang dipoles mengkilap.

Ia mengangkat cangkir porselen yang sudah terisi teh melati yang harum, lalu menyodorkannya dengan takzim kepada Lady Elara, wanita yang telah ia layani dengan setia selama bertahun-tahun dalam kegelapan.

"Rencana Anda sungguh sempurna, My Lady," bisik Cedric dengan suara rendah yang penuh sanjungan.

"Begitu pasukan elit kerajaan itu pergi meninggalkan ibu kota demi mengejar pangeran palsu di Utara, pertahanan Istana Valerius akan melemah. Itulah saat yang paling tepat bagi kita untuk menyusup dan mengambil alih segalanya dari dalam."

Lady Elara menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan sembari menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan pegunungan yang tertutup salju.

"Raja tua itu terlalu mencintai putranya yang tidak berguna, dan cinta itulah yang akan menjadi jerat leher bagi takhtanya. Biarkan mereka mengejar bayangan di Utara, sementara kita akan menjadi tuan baru di istana ini."

"Semuanya akan menjadi lebih mudah. Biarkan Archduke Valerius mengibarkan bendera perang lebih dulu. Kita cukup duduk manis di sini dan menyaksikan pertunjukan agungnya," ucap Lady Elara dengan sangat anggun sembari meletakkan kembali cangkir porselennya ke tangan Cedric.

"Anda tidak berniat memberi kabar tentang kekacauan yang mulai memanas ini, My Lady?" tanya Cedric penuh selidik.

"Tentu saja. Valerius harus menyiapkan 'jamuan' istimewa untuk menyambut para ksatria yang datang itu. Cedric, siapkan tinta dan perkamen sekarang," perintahnya dengan sorot mata yang berkilat tajam.

Cedric tersenyum licik sembari membungkuk rendah. "Sesuai perintah Anda, My Lady."

Sementara itu, di halaman pondok batu yang dingin, tiga lelaki berdiri tegak menatap tumpukan kayu ek yang berjajar acak di atas tanah yang beku. Vion berkali-kali menggaruk bagian belakang kepalanya, wajahnya menunjukkan kebingungan yang nyata.

Ia sama sekali tidak mengerti, latihan macam apa lagi yang akan diberikan oleh Master Hephaestus hari ini. Setelah kemarin punggungnya nyaris patah karena memanggul kayu-kayu itu, sekarang apa?

"Aku hanya akan menunjukkan teknik ini sekali padamu, jadi pasang matamu baik-baik dan berlatihlah dengan serius," ucap Master Hephaestus dengan nada yang dalam dan mengancam.

"Ingat, Archduke Valerius memiliki kekuatan sihir gelap yang paling dahsyat di antara semua ksatria di kerajaan ini. Jika kau ingin hidup, kau harus lebih lincah, lebih teliti, dan jauh lebih waspada."

Hephaestus kembali mengingatkan apa yang pernah ia katakan sebelumnya tentang bahaya sang penguasa Utara itu.

Dengan gerakan yang sangat santai—kontras dengan tubuhnya yang tampak tua—Hephaestus tiba-tiba melompat. Ia melangkah ringan, menginjak ujung-ujung batang kayu ek yang tertancap tidak stabil di tanah.

Ia berdiri tegak dengan satu kaki di atas sebuah tiang kayu yang sangat kecil, menyeimbangkan tubuhnya seolah gravitasi tidak berlaku baginya.

Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang luar biasa, sebelum akhirnya ia melompat turun dengan anggun. Dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata, ia berlari mengitari sela-sela tumpukan kayu itu dengan pola yang rumit dan presisi.

Vion yang menyaksikannya hanya bisa ternganga. Baginya, pola lari itu sangat mirip dengan ujian sirkuit mengemudi yang pernah ia ikuti di dunianya dulu—rumit, penuh rintangan, dan butuh keseimbangan tinggi.

Hephaestus berhenti tepat di depan Vion, lalu meneguk anggurnya dengan santai.

"Sekarang, giliranmu. Cobalah," perintahnya sembari menatap tajam ke arah Vion.

Vion mengerjap beberapa kali, menelan ludah melihat barisan kayu yang tampak mustahil untuk dipijak itu. Ia menoleh ke arah Von Gardo yang berdiri tegak bersedekap di sampingnya dengan zirah perak yang berkilau.

"Von Gardo, kawan... kau duluan saja, beri aku contoh," bisik Vion sambil menyikut lengan sang ksatria.

Von Gardo menunjuk d**anya sendiri dengan ekspresi bingung. "Aku? Tapi Tuan, ini adalah ujian untuk Anda, bukan untuk pengawal seperti saya."

PLUUK!

"Aawwh!" teriak Vion spontan. Ia mengelus bagian belakang kepalanya yang baru saja dihantam pelan namun telak oleh tongkat kayu ek yang entah sejak kapan sudah berada di tangan Master Hephaestus.

"Cepat naik!" gertak Hephaestus, wajahnya tidak lagi menunjukkan keramahan.

"Waktumu tidak banyak. Setiap detik yang kau buang untuk mengeluh adalah satu detik lebih dekat bagi Archduke Valerius untuk menghancurkan apa yang tersisa dari kerajaanmu!"

Vion jatuh tersungkur untuk kesekian kalinya. Kedua kakinya kini dipenuhi luka lecet dan memar karena terus-menerus terbentur tepian kayu ek yang keras. Master Hephaestus melatihnya dengan sangat kejam; ia tahu betul bahwa kekuatan sihir gelap yang dimiliki Archduke Valerius tidak akan memberikan ampun sedikit pun.

Di pinggir halaman, Von Gardo mencengkeram hulu pedangnya dengan sangat erat. Rahangnya mengeras, menahan emosi setiap kali melihat tuannya terjatuh dengan bunyi debum yang menyakitkan, hanya untuk kemudian dipaksa bangkit dan memulai semuanya dari awal lagi.

"Pak Tua!" panggil Vion parau.

Ia berdiri sembari berkacak pinggang, napasnya memburu dan peluh bercucuran. Matahari kini tepat berada di atas kepala, menyengat kulitnya.

"Ini sudah tengah hari! Bukankah sudah waktunya kita makan dan beristirahat sejenak? Kakiku rasanya mau copot!"

Master Hephaestus hanya mendengus. Dengan santai, ia mengangkat kaki dan menyandarkannya di atas meja kerja kayu yang kasar, lalu meneguk anggur dari botol kulit yang tak pernah lepas darinya.

"Seorang ksatria tidak akan sempat memikirkan urusan perut saat berada di tengah medan perang," sahut Hephaestus tanpa menoleh.

"Karena menjaga kepalamu tetap menempel di leher jauh lebih penting daripada mengisi lambungmu."

Ia bangkit berdiri dengan gerakan yang tiba-tiba sigap. "Von Gardo, ikut aku ke sungai di bawah lembah. Bantu aku menangkap beberapa ekor ikan untuk persediaan."

"Hey... Von Gardo! Von Gardo! Hey, Hephaestus! Pak Tua sialan!" teriak Vion sekuat tenaga, namun suaranya hanya memantul di dinding-dinding tebing. Tak ada jawaban, tak ada yang menghiraukan.

Karena frustrasi, ia menendang asal salah satu tiang kayu ek di depannya.

DUG!

"Aakh! Sialan!" Vion memegangi jempol kakinya, melompat-lompat kecil menahan nyeri yang menusuk.

"Gila, kayu ini keras sekali! Apa ini terbuat dari baja?!" Ia memukul batang kayu setinggi dua meter itu dengan tangan kosong, yang tentu saja hanya menambah rasa sakit di jemarinya.

Vion terduduk lesu di tanah, tangannya mengelus perut yang mulai terasa perih karena lapar. Jika saat ini ia masih berada di rumahnya yang nyaman di dunia modern, ibunya pasti sudah berteriak kencang dari lantai bawah, menyuruhnya segera turun untuk makan.

Ibunya takkan lelah mengguncang-guncang tubuhnya atau menarik selimutnya hanya agar Vion bangun dan mengisi perut.

Tapi di sini? Di dunia antah berantah yang dingin ini? Hanya ada dia, tumpukan kayu sialan, dan pedang hitam yang tampak haus darah.

1
Gesty Lestari
mn sambungany
risn_16: nanti saya buat seri ke 2 nya ya kak 🙏. follow ya kak biar nanti dapet pemberitahuan updatenya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!