“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tiara berdiri di depan cermin, memandangi pantulan dirinya sendiri.
Hari ini, ia sengaja memilih sebuah dress sederhana berwarna lembut yang selama ini tersimpan rapi di dalam lemari. Modelnya tidak berlebihan, tetapi potongannya membuat tubuh Tiara terlihat anggun. Rambutnya ditata sederhana, wajahnya hanya dipoles dengan riasan tipis, dan sebuah tas kecil menggantung di lengannya.
Ia tidak memakai pakaian yang dibelikan Haikal kemarin.
Pakaian itu memang baru, tetapi Tiara tahu betul harganya murah. Lebih dari itu, pakaian tersebut dipilih Haikal bukan karena ingin membuatnya terlihat cantik, melainkan sekadar agar Tiara memiliki sesuatu untuk dikenakan ke acara keluarga Permana.
Tiara menarik napas panjang.
Hari ini ia tidak ingin terlihat seperti perempuan yang tidak berharga.
Ketika keluar dari kamar, langkah Tiara terhenti.
Haikal yang sedang duduk di ruang tengah menoleh.
Untuk beberapa detik, pria itu hanya diam.
Matanya terpaku pada Tiara.
Ada kekaguman yang tidak sempat disembunyikannya.
Tiara menangkap tatapan tersebut.
"Kenapa, Mas?" tanyanya.
Haikal seperti tersadar. Namun sebelum menjawab, ponselnya berdering.
Nama Intan muncul di layar.
Seketika ekspresi Haikal berubah.
Ia mengangkat telepon.
"Halo, Tan?"
Tiara hanya bisa menggeleng pelan.
Beberapa detik kemudian Haikal menutup telepon.
"Tiara, kamu ke rumah Pak Permana naik taksi saja, ya. Aku sama Ibu mau jemput Intan."
Tiara mengernyitkan kening.
"Mas, aku istrimu."
Haikal menatapnya.
"Terus?"
"Harusnya dia yang kamu suruh naik taksi. Kenapa justru aku yang harus pergi sendiri?"
"Jangan banyak protes, Tiara. Intan sedang kurang sehat."
Tiara terkekeh hambar.
"Belum resmi menikah dengannya saja kamu sudah tidak bisa bersikap adil, Mas."
Haikal menghela napas.
"Jangan mulai lagi."
"Kau lebih condong ke Intan daripada aku."
Sebelum Haikal menjawab, Arumi yang sejak tadi duduk di sofa langsung menyela.
"Berhenti protes, Tiara!"
Tiara menoleh.
Arumi menatapnya dengan wajah sinis.
"Kalau kau mau suamimu lebih perhatian padamu, berikan dia anak."
Ruangan mendadak hening.
Arumi tersenyum mengejek.
"Ups, Ibu lupa. Kau kan mandul."
Dada Tiara terasa sesak.
Tangannya mengepal.
Kalimat itu kembali menusuk luka yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
Namun kali ini Tiara tidak ingin menangis.
Ia justru menatap Arumi dengan mata berapi-api.
"Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit bersama, Mas."
Haikal mengerutkan kening.
"Ke rumah sakit?"
"Iya."
Tiara berdiri tegak.
"Kita program kehamilan. Kita periksa lagi. Siapa tahu masih ada jalan keluar lain."
Arumi mencibir.
"Jalan keluar?"
"Iya."
"Jangan bilang kau mau bayi tabung?"
Tiara mengangguk.
"Kalau itu salah satu cara agar kami bisa memiliki anak, kenapa tidak?"
Arumi tertawa kecil.
"Bayi tabung itu buang-buang uang."
Tiara menatapnya tajam.
Arumi melanjutkan dengan santai.
"Lebih praktis dan efisien kalau anakku menikah lagi dengan Intan."
Jantung Tiara seperti diremas.
Sementara Haikal memejamkan mata.
"Berhenti bertengkar!"
Suara Haikal terdengar keras.
Ia memijat pelipisnya.
"Kepalaku pusing setiap hari melihat kalian bertengkar."
Kemudian ia mengambil kunci mobil.
"Ayo, Ibu. Kita berangkat."
Arumi segera bangkit.
Sebelum keluar, Haikal menoleh kepada Tiara.
"Tiara, jangan lupa kunci pintu dan jendela rumah."
Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan apakah Tiara akan baik-baik saja.
Tidak ada tawaran untuk mengantarnya.
Tidak ada ucapan agar Tiara berhati-hati.
Haikal pergi bersama Arumi.
Tiara berdiri sendirian di ruang tengah.
Senyumnya getir.
"Begitu mudahnya aku ditinggalkan."
Sebuah taksi berhenti di depan kediaman megah milik Permana.
Tiara turun perlahan.
Rumah itu terlihat jauh lebih ramai daripada biasanya. Beberapa mobil mewah terparkir di halaman. Para tamu berdatangan dengan pakaian terbaik mereka.
Tiara menarik napas.
Ia harus tetap tenang.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Haikal.
Pria itu baru saja turun dari mobil.
Di sampingnya berdiri Arumi.
Sementara Intan berjalan di sisi Haikal.
Bahkan tangan Haikal menggenggam tangan Intan seolah perempuan itu adalah seseorang yang harus selalu dijaganya.
Tiara menelan ludah.
Ia berjalan mendekat.
Tidak ada yang menyambutnya.
Tidak ada yang bertanya apakah perjalanan dengan taksi tadi baik-baik saja.
Tiara menggigit bibir.
"Mas."
Haikal menoleh.
"Oh, kau sudah sampai."
Tiara menatap tangan Haikal yang masih menggandeng Intan.
"Sudah."
Belum sempat mengatakan apa-apa, tiba-tiba Intan melangkah mundur.
"Aduh!"
Tubuhnya seperti kehilangan keseimbangan.
Gelas minuman yang dipegangnya bergoyang.
Cairan di dalamnya tumpah.
Brak!
Minuman itu mengenai bagian depan dress Tiara.
Tiara terkejut.
Ia menatap pakaiannya yang kini basah dan kotor.
Intan buru-buru menutup mulut.
"Maaf, Tiara. Aku tidak sengaja."
Tiara mengangkat wajah.
Tatapannya penuh kecurigaan.
Namun sebelum ia berkata apa pun, Haikal justru membentaknya.
"Tiara! Kau ceroboh sekali!"
Tiara membelalakkan mata.
"Apa?"
"Kenapa berdiri terlalu dekat?"
"Mas, dia yang—"
"Sudahlah!"
Haikal tidak memberinya kesempatan menjelaskan.
Arumi malah tertawa.
"Hahaha... lihat pakaianmu. Baru datang sudah membuat masalah."
Tiara mengepalkan tangan.
Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahannya.
Ia tidak mau menangis di depan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakang.
"Tiara?"
Semua orang menoleh.
Permana datang dari arah pintu utama.
Tatapan pria itu langsung tertuju pada pakaian Tiara yang basah.
Wajahnya berubah serius.
"Apa yang terjadi?"
Tidak ada yang menjawab.
Permana berjalan mendekat.
Kemudian tanpa ragu ia melepas jas yang dikenakannya.
Ia menyampirkannya di bahu Tiara.
"Kau tidak apa-apa?"
Tiara menggeleng.
"Tidak apa-apa, Pak."
"Jangan bilang tidak apa-apa kalau jelas-jelas pakaianmu kotor."
Permana kemudian menoleh kepada seorang perempuan yang baru keluar dari rumah.
"Raisa!"
Perempuan itu mendekat.
"Iya, Kak?"
"Antarkan Tiara ke dalam."
Permana menunjuk Tiara.
"Pinjami dia baju. Cari yang paling cocok untuknya."
Raisa mengangguk.
"Baik, Kak."
Tiara terdiam.
"Pak, sebenarnya tidak perlu merepotkan."
"Ini bukan merepotkan."
Permana menatapnya.
"Kau tamu di rumahku. Aku tidak mungkin membiarkanmu memakai pakaian kotor sepanjang acara."
Tiara akhirnya mengangguk.
"Terima kasih."
Ia kemudian mengikuti Raisa masuk ke dalam rumah.
Sementara Haikal berdiri membeku.
Tatapannya mengikuti punggung Tiara sampai perempuan itu menghilang di balik pintu.
Entah mengapa dadanya terasa sesak.
Tangannya mengepal.
Ia tidak menyukai pemandangan tadi.
Sama sekali tidak.
Bukan karena Tiara dipermalukan.
Bukan pula karena Permana membantu istrinya.
Melainkan karena cara Permana memandang Tiara.
Perhatian.
Tulus.
Tanpa menghakimi.
Haikal mengeraskan rahangnya.
'Kenapa Permana perhatian sekali pada Tiara? Jangan-jangan, Permana ...'
Bersambung....