Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Darah yang Menolak Mati
Darah asing memenuhi mulut Ervan.
Pahit.
Anyir.
Hangat—terlalu hangat, seperti sesuatu yang masih hidup dan menolak ditelan.
Refleks pertama tubuhnya adalah memuntahkannya.
Namun rahang BETA masih menancap di bahu kirinya, dan setiap kali makhluk itu menghela napas, gigi-giginya terbenam sedikit lebih dalam.
Ervan tidak berani melepaskan gigitan.
"𝘕𝘨𝘩𝘩—!" Erangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 teredam oleh daging yang terjepit di antara giginya sendiri.
Makhluk itu mengamuk.
Seluruh tubuhnya berputar, lalu membanting Ervan ke samping.
BRAK!
Punggung Ervan menghantam beton. Udara terpukul keluar dari paru-parunya, dan untuk sesaat dunia hanya berisi dengung panjang di telinga. Belum sempat ia menarik napas, cakar BETA sudah menyambar. Tiga garis panas terbuka di sisi lengannya.
Rasa sakit menyambar sampai ke ujung jari.
Tetapi gigi Ervan tetap tertanam pada leher makhluk itu.
Lepasin aku.
BETA mengguncang kepalanya, keras, berulang-ulang, seperti hendak mencabut bahu itu dari tubuh pemiliknya. Ervan ikut terseret. Tumitnya menggaruk lantai, mencari pijakan yang tidak ada, sementara rahang di bahunya menekan semakin dalam sampai ia merasakan sesuatu bergeser di dekat tulang.
Air mata keluar tanpa ia sadari.
LEPAS!
Ervan menggigit lebih keras. Rahangnya gemetar, gerahamnya ngilu, tetapi ia terus menekan sampai daging kasar itu akhirnya menyerah.
Robek.
Darah kembali menyembur, memenuhi mulutnya dalam satu denyut. Sebagian meluncur ke tenggorokan sebelum sempat ia keluarkan—kental, panas, meninggalkan jejak terbakar sampai ke dada.
Ervan tersedak.
Namun pada saat yang sama—
rahang BETA mengendur.
Sedikit.
Hanya sedikit.
Itu sudah cukup.
Ervan menyentakkan tubuhnya ke belakang dengan seluruh tenaga yang masih ia punya.
"𝘈𝘢𝘢𝘳𝘨𝘩—!" Jeritan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pecah di tengah, berubah menjadi suara yang tidak ia kenali sebagai miliknya.
Daging di bahu kirinya ikut terseret dari gigitan.
Penglihatannya memutih. Selama satu detak jantung ia tidak tahu mana atas dan mana bawah.
Tetapi ia berhasil lepas.
Ervan jatuh dengan lutut lebih dulu, lalu berguling menjauh sambil mencengkeram bahunya. Darah mengalir di sela jarinya, hangat dan terlalu banyak.
BETA mundur beberapa langkah.
Makhluk itu menggeram, tetapi suaranya kini basah dan tersendat. Lehernya berdarah deras; setiap tarikan napas membuat luka itu menganga lagi. Cakarnya bergeser di lantai, mencari keseimbangan yang sejak tadi tidak pernah perlu dicarinya.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, gerakannya terlihat tidak stabil.
Ervan meludah.
Cairan hitam kemerahan jatuh ke lantai. Ia meludah sekali lagi, dan rasa itu tetap tinggal.
"𝘏𝘩… 𝘩𝘩… 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘪𝘫𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯…" desis 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di sela napas, matanya tidak berani lepas dari makhluk itu. "𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘵… 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘮𝘱𝘶𝘳 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘪."
Ia bahkan tidak tahu berapa banyak darah yang tadi tertelan.
Tidak penting.
BETA masih hidup.
Dan selama makhluk itu masih bernapas, dirinya belum aman.
Ervan mencoba berdiri. Kaki kirinya gemetar. Lengan kirinya menggantung berat dan terlambat menuruti perintah, seakan sudah bukan sepenuhnya miliknya.
Di seberang sana, BETA kembali merendahkan badan.
Ervan menyapu sekeliling dengan pandangan yang masih berbayang.
Batang besi yang tadi digunakannya berada terlalu jauh.
Batu.
Pecahan beton.
Potongan kayu.
Tidak ada yang cukup dekat.
Kemudian matanya menangkap sesuatu.
Sepotong besi patah mencuat dari reruntuhan di sebelah kirinya. Ujungnya tidak runcing sempurna.
Namun cukup tajam.
Empat langkah. Mungkin lima.
BETA menerjang.
"𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪—𝘴𝘪𝘢𝘭, 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪…!" Suara 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tercekik oleh napasnya sendiri.
Ia memaksa kakinya bergerak.
Ia tidak mencoba memukul. Tidak mencoba menendang. Beberapa menit terakhir sudah mengajarinya, dengan harga yang mahal, bahwa itu hanya akan membuka pertahanannya lagi.
Maka ia melompat ke samping, ke arah besi itu.
Terlambat sedikit.
Cakar menyayat pinggangnya dan memutar tubuhnya setengah lingkaran.
"𝘒𝘩—!" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggigit sisa jeritannya sampai hanya desis yang lolos.
Namun kali ini ia tidak jatuh.
Ia terhuyung dua langkah, pinggulnya menabrak tumpukan puing, dan tangannya menemukan besi patah itu. Ervan mencabutnya. Tepi karatnya menggigit telapak tangan; ia justru menggenggam lebih erat.
Di belakangnya, cakar menggurat beton.
BETA berbalik.
Tidak ada stance.
Tidak ada teknik.
Ervan memegang besi itu dengan dua tangan di depan dada, seperti seseorang yang baru pertama kali memegang senjata. Karena memang begitulah adanya.
Makhluk tersebut melompat.
Ervan menusuk.
Meleset.
Ujung besi hanya menggores bahu makhluk itu, dan seluruh berat BETA menghantam dadanya.
Keduanya jatuh.
Besi terlepas dari genggamannya dan berdenting entah ke mana. Ketika pandangannya kembali utuh, rahang itu sudah turun ke arah wajahnya.
Ervan menyorongkan lengan kanan ke bawah rahang tersebut.
Gigi-gigi itu berhenti beberapa sentimeter dari wajahnya. Napas BETA menerpa kulitnya, panas dan busuk. Air liur menetes ke pipinya.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯…" Kata itu keluar dari sela gigi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 yang terkatup, lebih mirip geraman daripada ucapan.
Lengannya mulai turun. Otot dari siku sampai bahu bergetar tanpa bisa ia hentikan.
"…𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪…!"
BETA menekan semakin kuat. Darah dari lehernya yang robek jatuh ke dada Ervan, tetes demi tetes.
Ervan memutar tubuh.
Tangan kirinya—tangan dari bahu yang baru saja dikoyak—meraba lantai.
Besi tadi.
Tidak ketemu.
Jarinya menyapu debu.
Pecahan batu.
Sampah.
Rahang itu turun satu senti lagi.
Lalu—
logam.
Ervan mencengkeramnya.
"𝘔𝘢𝘵𝘪—! 𝘔𝘢𝘵𝘪!" Raungan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 serak dan pecah, lebih banyak takut daripada marah.
Ia menghantamkan ujung besi ke sisi tubuh BETA.
DUK!
Makhluk itu menjerit.
Hantaman itu lemah; bahu kirinya tidak sanggup memberi lebih. Ervan menarik besi itu dan menusuk lagi.
Meleset. Ujungnya tergelincir di permukaan daging kasar.
Sekali lagi.
Kali ini besi menghunjam bagian bawah rahang.
BETA meronta. Cakarnya mencabik udara, lantai, apa saja yang terjangkau.
Ervan tidak berhenti.
Ia mendorong tubuh makhluk itu dengan lutut sampai tercipta sejengkal ruang, lalu mengayunkan besi tanpa arah yang jelas.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ayunan ketiga mendarat tepat di luka pada leher—luka yang tadi ia buka dengan giginya sendiri.
Darah menyembur.
Dan kali ini BETA yang mencoba menjauh darinya.
Makhluk itu menyeret tubuhnya mundur. Ervan kehilangan tumpuan dan ikut jatuh ke depan.
Tetapi tangannya masih menggenggam besi.
Makhluk itu menggeram lemah.
Ervan bangkit setengah berlutut. Ia tidak membidik. Ia hanya tahu ada satu tempat di tubuh makhluk itu yang sudah terbukti bisa berdarah.
Ia mengangkat besi tinggi-tinggi dengan dua tangan. Bahu kirinya menjerit; ia membiarkannya.
DUK!
BETA tersentak.
Masih bergerak.
Ervan menghantam lagi.
DUK!
Kakinya mencakar lantai.
Sekali lagi.
DUK!
Gerakannya melemah.
Ervan tidak yakin apakah makhluk itu sudah mati. Tidak ada yang pernah mengajarinya cara memastikan.
Jadi ia mengangkat besi sekali lagi.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯…" Suara 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 nyaris tidak terdengar. Besi di atas kepalanya bergetar bersama kedua tangannya.
"…𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪."
DUK!
Tubuh BETA akhirnya diam.
Ervan masih mengangkat besi.
Menunggu.
Satu detik.
Dua.
Lima.
Tidak ada gerakan.
Besi itu terlepas dari tangannya.
KLANG!
Suara logam menggema di antara bangunan kosong.
Ervan terduduk.
Napasnya kacau.
Tangannya gemetar hebat.
Ia menatap BETA yang tergeletak beberapa meter di depannya.
Tidak ada perasaan menang.
Tidak ada kebanggaan.
Tidak ada pikiran bahwa dirinya baru berhasil membunuh BETA pertama.
Yang muncul justru rasa mual.
Ervan membungkuk.
"𝘜𝘸𝘦𝘬—! 𝘏𝘬𝘬—!" Sebelah tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menapak lantai, menahan tubuhnya agar tidak ikut tersungkur.
Cairan bercampur darah keluar dari mulutnya.
Ia terbatuk beberapa kali.
Rasa darah BETA masih tertinggal di lidah.
"𝘎𝘪𝘭𝘢…" Suara 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 keluar serak, asing di telinganya sendiri. "𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯… 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘪𝘨𝘪𝘵 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘨𝘪𝘨𝘪."
Ervan mengusap mulut dengan punggung tangan.
Barulah ia melihat keadaannya sendiri.
Kausnya nyaris tidak berbentuk.
Darah menutupi bahu kiri.
Lengan penuh sayatan.
Pinggang terluka.
Pelipis masih basah.
Telapak tangannya robek.
Lututnya terasa seperti dihantam palu.
"𝘎𝘢𝘸𝘢𝘵…" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba mengangkat lengan kirinya; lengan itu hanya naik sejengkal sebelum bahunya menolak. "𝘐𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘱𝘭𝘦𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘰𝘣𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘬 𝘮𝘪𝘯𝘪𝘮𝘢𝘳𝘬𝘦𝘵."
Bahunya yang paling parah.
Bekas gigitan itu seharusnya membutuhkan pertolongan medis segera.
Ervan menekan luka.
Aneh.
Ia berhenti.
Darah masih keluar.
Tetapi—
tidak sebanyak tadi.
Ervan mengangkat tangannya perlahan.
Luka yang sebelumnya terasa seperti lubang menganga terlihat mulai mengencang.
"…𝘈𝘱𝘢?" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengerjap, lalu mendekatkan wajah ke bahunya sendiri. "𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶. 𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘣𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪."
Ia menatapnya.
Beberapa detik.
Tidak mungkin.
Ervan mengusap darah di sekitar bahunya.
Rasa sakit masih ada.
Namun rasa panas yang tadi menusuk sampai ke tulang perlahan berubah menjadi sensasi hangat.
Seperti sesuatu bergerak di bawah kulit.
Uap tipis muncul.
Ervan membeku.
"𝘈𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪…?" Bibir 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 nyaris tidak bergerak. "𝘜𝘢𝘱…? 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘶𝘬𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪?"
Ia melihat lengannya.
Tiga goresan panjang akibat cakar BETA juga berubah.
Tepi luka perlahan mendekat.
Tidak langsung hilang.
Tidak sembuh seketika.
Tetapi cukup cepat untuk dilihat dengan mata telanjang.
Ervan menyentuhnya.
"𝘈𝘬𝘩—𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵…!" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik jarinya, lalu menekan lagi di tempat yang sama, lebih pelan, seperti orang yang mengulang hitungan karena tidak percaya pada hasilnya. "𝘐𝘺𝘢… 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵."
Berarti ia tidak berhalusinasi.
Jantungnya kembali berdetak cepat.
Recovery setelah latihan memang sudah terasa tidak normal.
Luka tusuk sebelum kebangkitannya juga menghilang.
Sekarang ini.
Terlalu banyak kejadian untuk disebut kebetulan.
CORE-ku?
Kemungkinan pertama itu langsung muncul.
Sejak installation mencapai seratus persen, tubuhnya berubah.
Atau mungkin karena kebangkitan saat dirinya hampir mati?
Ervan tidak tahu.
Ia bahkan tidak mempunyai dasar untuk memilih jawaban mana yang paling masuk akal.
Pandangan Ervan sempat jatuh pada tubuh BETA.
Kemudian ia mengingat darah menjijikkan yang tadi tertelan.
Wajahnya langsung berubah.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨…" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menelan ludah, dan langsung menyesalinya begitu rasa anyir itu ikut turun. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘤𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘶𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯."
Bukan hubungan dengan pemulihan yang terpikir olehnya.
Justru kemungkinan penyakit.
Ervan meludah beberapa kali untuk menghilangkan rasa di mulut.
Ia harus pergi.
Kalau ada satu BETA—
belum tentu hanya satu.
Pemikiran itu membuat Ervan langsung berdiri.
Kakinya hampir menyerah.
Ia berpegangan pada dinding.
"𝘗𝘦𝘭𝘢𝘯… 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶," desis 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, jari-jarinya memutih di permukaan dinding. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘣𝘳𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘋𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."
Satu langkah.
Dua.
Ervan mulai meninggalkan kompleks bangunan.
Setiap beberapa meter ia menoleh ke belakang.
Tidak ada yang mengejar.
Namun kepalanya terus memutar kembali pertarungan tadi.
Pukulan pertamanya.
Terlalu lebar.
Tendangannya.
Hampir membuatnya jatuh.
Ia tidak punya guard.
Tidak mampu menjaga jarak.
Tidak bisa membaca serangan.
Bahkan ketika memegang besi, ia hanya mengayunkannya sekuat tenaga seperti orang panik.
Ervan berhenti.
Menoleh ke arah bangunan tempat tubuh BETA tertinggal.
Satu pikiran muncul sangat jelas.
Kalau tadi sedikit lebih kuat…
Ia menelan ludah.
...aku mati.
Bukan karena tubuhnya kurang kuat.
Latihan fisiknya justru menjadi alasan ia mampu bertahan selama itu.
Tetapi bertahan bukan berarti tahu cara bertarung.
Ervan kembali berjalan.
"𝘉𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵…" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendengus, setengah tertawa, tanpa memperlambat langkah. "𝘓𝘢𝘳𝘪, 𝘱𝘶𝘴𝘩-𝘶𝘱, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘳𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪 𝘫𝘶𝘳𝘯𝘢𝘭. 𝘎𝘪𝘭𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘭𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘪𝘨𝘪𝘵."
Beberapa hari lalu ia melihat dua calon Hunter berlatih.
Guard.
Footwork.
Dodge.
Counter.
Saat itu ia menganggap teknik bisa menyusul setelah fisiknya cukup kuat.
Sekarang ia tahu betapa salahnya pemikiran itu.
---
Malam telah turun ketika Ervan duduk di depan meja kamarnya.
Luka-lukanya belum sepenuhnya hilang.
Tetapi kondisinya sudah jauh terlalu baik dibanding beberapa jam sebelumnya.
Ia membuka jurnal.
Tiga kategori lama menyambutnya.
Kondisi Fisik
Pengetahuan
Recovery
Ervan mengambil pena.
Di bawahnya ia menulis satu kategori baru dengan huruf kapital.
COMBAT
Ia menarik garis.
Kemudian mulai menulis.
Basic Combat — PRIORITAS BARU
Stance.
Guard.
Footwork.
Dodge.
Blocking.
Timing.
Counter.
Kontrol jarak.
Refleks.
Membaca gerakan lawan.
Penggunaan lingkungan.
Battle IQ dasar.
Ervan berhenti menulis.
Tatapannya kemudian jatuh pada tulisan dari beberapa hari lalu.
PHASE II — 3× BASELINE AWAL
Ia tidak mencoretnya.
Target itu tetap.
Namun sekarang maknanya berbeda.
Tidak cukup hanya berlari tiga kali lebih jauh.
Tidak cukup melakukan push-up lebih banyak.
Tidak cukup mempunyai stamina untuk terus berdiri.
Ervan mengepalkan tangannya.
"𝘓𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱," ucap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pelan, seakan kalimat itu perlu didengar telinganya sendiri sebelum boleh dipercaya. "𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢."
Ia terdiam.
Kemudian menambahkan satu kalimat di bawah daftar Combat.
Aku harus belajar cara bertarung.
Ervan menutup jurnal.
Tanpa ia sadari, sisa darah BETA masih mengering di sudut bibirnya.
Dan jauh di dalam tubuh yang seharusnya masih hancur akibat pertarungan—
sesuatu yang selama ini tertidur telah mencicipi darah untuk pertama kalinya.
Lalu merespons.
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊