NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pembayaran Harga Normal

Terik matahari di atas lahan Desa Sukamaju kian menyengat, membakar udara di sekitar mereka. Namun, keheningan yang tercipta di antara Dirga, Lisa Larasati, dan Maya terasa seolah membekukan waktu. Pernyataan Dirga yang menawarkan lima ratus juta rupiah, harga normal pasar, bukan harga obral tiga ratus juta rupiah yang ditawarkan anak perusahaan Larasati Group, masih menggantung di udara bagai gema yang memukau.

Lisa menatap Dirga tanpa berkedip. Kedua bola matanya bergetar halus, mencoba mencari celah kebohongan atau gurauan di wajah pria berjaket ojek online kusam tersebut. Namun, yang ditemukannya hanyalah sorot mata yang dingin, dalam, dan dipenuhi keteguhan prinsip yang tak tergoyahkan.

"Dirga..." Lisa akhirnya bersuara, intonasinya terdengar bergetar hebat. "Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan? Kami yang menawarkan harga tiga ratus juta rupiah itu. Kamu tidak sedang menawar naik, kamu sedang menyerahkan dua ratus juta rupiah secara cuma-cuma kepada kami!"

Dirga merapikan lipatan lembar portofolio saham dan buku tabungannya dengan gerakan yang sangat teratur, lalu memasukkannya kembali ke saku dalam jaketnya. Ia menatap Lisa secara lurus.

"Saya sangat sadar dengan setiap kata yang keluar dari mulut saya, Bu Lisa," jawab Dirga tenang. "Dua ratus juta rupiah itu bukan uang cuma-cuma. Itu adalah nilai wajar dari hak atas tanah tiga koma lima hektar ini."

Maya, sang asisten yang sejak tadi berdiri mematung dengan wajah pucat, memberanikan diri melangkah maju satu tindak. Bibirnya bergetar saat ia menyela, "Tapi... Tapi, Pak Dirga! Dalam dunia bisnis, jika penjual sudah menyetujui harga pelepasan cepat karena butuh likuiditas, pembeli berhak mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Tidak ada investor di dunia ini yang mau membayar lebih mahal dari harga yang diminta penjual!"

Dirga memutar pandangannya, menatap Maya dengan tatapan yang begitu tajam hingga staf muda itu spontan menundukkan kepalanya secara refleks.

"Investor yang picik mungkin akan bertindak seperti itu," ujar Dirga dengan suara berat dan berwibawa. "Mereka yang memeras darah dari luka orang lain yang sedang terdesak tidak sedang melakukan bisnis. Mereka sedang melakukan penjarahan terselubung. Saya membangun modal saya dengan kehormatan, dan saya tidak akan mengotorinya dengan cara memanfaatkan kesempitan pihak lain."

Lisa mengepalkan kedua tangannya di samping gaun formalnya. Pengakuan jujur dan filosofi hidup Dirga menghantam dadanya begitu keras. Selama bertahun-tahun berkecimpung di jajaran eksekutif korporasi raksasa, Lisa dibesarkan dalam iklim persaingan yang saling memotong leher. Ia terbiasa melihat para pengusaha berjas mahal saling memanfaatkan kelemahan lawan demi mengeruk surplus keuntungan sebesarnya. Namun hari ini, di tengah ladang gersang berdebu, seorang mantan Office Boy yang kini berdiri sebagai pengemudi ojek online justru mengajarinya tentang arti sejati dari sebuah harga diri dan integritas.

"Dirga," ucap Lisa serak, matanya mulai membasah oleh air mata yang ditahannya dengan kuat. "Kondisi kas anak perusahaan kami memang sedang krisis untuk menutupi beban vendor minggu ini. Tapi kami tidak bisa menerima kebaikan yang sebesar ini dari kamu. Kamu sudah menyelamatkan Larasati Group dari skandal Pak Surya kemarin tanpa meminta imbalan sepeser pun. Dan sekarang, kamu hendak membayar harga penuh untuk tanah yang sengaja kami diskon?"

"Saya tidak sedang memberi Anda kebaikan atau rasa kasihan, Bu Lisa," potong Dirga tegas, menolak kesan lemah yang dilekatkan padanya. "Saya bertindak sebagai pembeli yang rasional. Tanah ini memiliki potensi dan luas yang nyata. Jika saya membelinya seharga tiga ratus juta rupiah hanya karena Anda terdesak, kelak transaksi ini akan menyisakan ganjalan moral di antara kita. Saya menginginkan hubungan bisnis yang bersih dan sejajar."

Lisa menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. "Tapi bagaimana dengan modalmu? Bukankah seluruh portofoliomu senilai lima ratus juta rupiah? Jika kamu menggunakan seluruh modalmu untuk membayar tanah ini, kamu tidak akan menyisakan dana likuid untuk operasionalmu sendiri!"

Dirga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan keyakinan mutlak atas perhitungan masa depannya. Dalam ingatan batinnya, ia tahu persis bahwa tanah Sukamaju ini dalam tiga bulan ke depan akan bernilai puluhan miliar rupiah setelah pengumuman Proyek Strategis Nasional. Menanamkan seluruh lima ratus juta rupiahnya hari ini bukanlah sebuah kerugian, melainkan investasi terbesar dalam hidupnya.

"Perhitungan finansial saya adalah urusan saya, Bu Lisa," balas Dirga diplomatis. "Modal likuid sebesar lima ratus juta rupiah di akun RDN saya siap ditarik hari ini juga. Saya akan mentransfernya secara utuh ke rekening resmi PT Larasati Sarana Mandiri begitu akta jual beli dan dokumen pelepasan hak rampung disiapkan oleh notaris."

Maya menatap Lisa dengan mata berbinar-binar penuh harapan. "Bu Lisa... lima ratus juta rupiah tunai hari ini akan menutup seluruh kewajiban vendor anak perusahaan, bahkan menyisakan cadangan kas yang sangat aman untuk kuartal depan. Ini... ini adalah penyelamatan yang sempurna bagi divisi kami."

Lisa menatap asistennya dengan pandangan tajam sejenak, membuat Maya kembali membisu, lalu beralih menatap Dirga. Ada rasa hormat yang teramat dalam yang kini memancar dari mata wanita cantik itu.

"Baik," kata Lisa pelan namun mantap. "Jika itu memang keputusan mutlakmu, Dirga, saya tidak akan menolaknya lagi. Tapi proses ini tidak boleh dilakukan di pinggir jalan seperti ini. Maya, hubungi Kantor Notaris Rekanan Utama Larasati Group di Kawasan Bisnis Sudirman sekarang juga. Minta Notaris Hendrawan menyiapkan berkas Pengikatan Jual Beli dan Akta Pemindahan Hak atas tanah Desa Sukamaju dengan nominal transaksi lima ratus juta rupiah."

"Baik, Bu Lisa! Segera saya laksanakan!" jawab Maya sigap, langsung menjauh beberapa langkah sambil tergesa-gesa mengetik nomor di ponsel pintarnya.

Suasana di antara Dirga dan Lisa kembali hening. Angin panas berhembus perlahan, memainkan beberapa helai rambut Lisa yang terlepas dari ikatannya. Lisa mendekat satu langkah ke arah Dirga, menatap wajah tegas pemuda di hadapannya dari jarak dekat.

"Dirga," panggil Lisa dengan nada suara yang sangat lembut, jauh dari intonasi dingin eksekutif yang biasa ditunjukkannya pada dunia luar. "Mengapa kamu melakukan semua ini? Dulu saya bersikap begitu sombong padamu di tepi jalan saat kecelakaan itu. Saya bahkan menuduhmu gila dan menyodorkan uang ganti rugi dengan cara yang merendahkan. Mengapa kamu tidak menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam atau setidaknya menekan saya?"

Dirga menatap mata Lisa tanpa ada riak dendam sedikit pun. Masa lalunya yang dihina oleh Eri, Leon, dan orang-orang kaya yang picik memang membakar semangatnya untuk bangkit, namun ia tidak pernah membiarkan kebiasaan buruk orang lain mengotori standar hidup yang dibentuknya sendiri.

"Dendam yang diwujudkan dengan cara picik hanya akan menurunkan derajat saya menjadi setara dengan orang-orang yang menghina saya, Bu Lisa," jawab Dirga lurus. "Anda membayar kesalahan Anda dengan menyadari kebenaran. Itu sudah cukup bagi saya. Dalam transaksi ini, saya hanya seorang pembeli yang menghargai aset yang dibelinya dengan harga yang pantas."

Lisa terpaku. Kata-kata Dirga meresap hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam. Ia menyadarkan dirinya bahwa pemuda di hadapannya ini memiliki jiwa yang jauh lebih besar dan lebih matang daripada kebanyakan pria dari kalangan elit yang pernah ia temui sepanjang hidupnya. Pria-pria kaya yang selama ini mendekatinya selalu memiliki niat terselubung, mencoba memanfaatkan posisinya atau memamerkan harta demi harga diri palsu. Namun Dirga... Dirga berdiri di hadapannya tanpa pretensi, jujur, teguh, dan memegang integritas di atas segalanya.

"Terima kasih, Dirga," ucap Lisa lirih, matanya berbinar menahan haru yang meluap. "Kamu mungkin menganggap ini sekadar transaksi bisnis yang adil. Tapi bagi saya dan Larasati Group, apa yang kamu lakukan hari ini adalah bentuk perlindungan dan kebaikan yang luar biasa. Kamu menolak memanfaatkan posisi kami yang terdesak, di saat orang lain pasti akan memeras kami habis-habisan."

"Tugas kita adalah menyelesaikan transaksi ini secara sah di hadapan hukum, Bu Lisa," timpal Dirga, mengalihkan fokus pembicaraan kembali pada hal teknis demi menjaga ketenangannya. "Apakah kita akan berangkat ke kantor notaris sekarang?"

"Ya," jawab Lisa cepat, menyapu sudut matanya secara halus agar tidak terlihat emosional. Ia mengutarakan ajakannya dengan sopan. "Mobil saya terparkir di ujung jalan semen di depan sana. Kamu bisa menyimpan sepeda motormu di area parkir aman dekat pos warga, dan kita bisa berangkat bersama dalam satu mobil ke Sudirman."

Dirga menggelengkan kepalanya secara halus. "Tidak perlu, Bu Lisa. Saya akan mengendarai sepeda motor saya sendiri di belakang mobil Anda. Kita bertemu langsung di kantor Notaris Hendrawan."

Lisa tersenyum memaklumi keteguhan dan jarak profesional yang tetap dijaga oleh Dirga. "Baiklah kalau itu kemauanmu. Kami akan melaju perlahan agar kamu bisa mengikuti dari belakang."

Satu jam kemudian, di ruang rapat mewah Kantor Notaris Hendrawan di kawasan pusat bisnis Sudirman, penandatanganan dokumen berjalan dengan sangat lancar dan resmi. Berkas pemindahan hak atas lahan tiga koma lima hektar di Desa Sukamaju secara sah berpindah tangan kepada Dirga. Pada saat yang sama, Dirga mengeksekusi instruksi pemindahan dana dari rekening dana nasabahnya sebesar lima ratus juta rupiah secara utuh ke rekening anak perusahaan Larasati Group.

Notaris Hendrawan menatap Dirga dengan rasa kagum yang tak tersirat setelah prosesi cap jempol dan tanda tangan selesai. "Selamat, Pak Dirga. Seluruh dokumen kepemilikan lahan atas nama Anda sudah sah secara hukum negara. Sertifikat Hak Milik pecahan akan terbit atas nama Anda dalam waktu sepuluh hari kerja."

"Terima kasih, Pak Notaris," jawab Dirga singkat sambil berjabat tangan secara mantap.

Setelah Keluar dari ruangan notaris dan berdiri di lobi utama gedung pencakar langit tersebut, Lisa menghentikan langkah Dirga. Wajah wanita muda itu tampak berseri-seri, namun ada keraguan manis saat ia hendak mengutarakan sesuatu.

"Dirga," panggil Lisa, suaranya terdengar canggung namun penuh harapan.

Dirga menghentikan langkahnya dan memutar badan. "Ada hal lain yang perlu diselesaikan, Bu Lisa?"

Lisa meremas jemari tangannya sendiri, menatap Dirga dengan tatapan yang penuh pendar kekaguman dan utang budi yang amat besar.

"Transaksi bisnis kita memang telah selesai hari ini," tutur Lisa pelan, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Dirga. "Tapi rasa terima kasih saya dan keluarga saya atas segala bantuanmu, mulai dari kasus sabotase korporasi hingga transaksi tanah hari ini, tidak akan pernah cukup dibayar dengan formalitas dokumen ini. Saya merasa berutang budi sangat besar padamu, Dirga."

Dirga hendak menyela untuk menetralkan perasaan Lisa, namun Lisa dengan cepat mengangkat tangannya secara halus, memohon agar diberi kesempatan menyelesaikan ucapannya.

"Tolong, jangan ditolak dulu," pintaku Lisa dengan nada memohon yang sangat tulus. "Ayah saya... Pak Arisandra, selaku pendiri dan Pemilik Utama Larasati Group, telah mendengar seluruh cerita tentang bagaimana kamu menyelamatkan perusahaan kami. Beliau secara khusus ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih secara langsung padamu."

Lisa menarik napas panjang, melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Dirga sebelum melanjutkan kalimatnya. "Saya ingin mengundangmu secara resmi untuk hadir dalam acara makan malam keluarga di kediaman utama kami nanti malam. Bisakah kamu memenuhi undangan ini, Dirga?"

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!