Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Wush.
Mobil sedan hitam mewah milik Raka baru saja melesat keluar dari gerbang utama mansion.
Dewi menghembuskan nafas lega melihat bos es batunya itu akhirnya pergi bekerja.
"Hore, Papa sudah pergi, sekarang kita bisa main bebas ya sayang," ucap Dewi sambil mengangkat tubuh Elvan tinggi-tinggi.
Elvan tertawa kegirangan memamerkan deretan gigi susu kecilnya yang rapi.
Grep.
Dewi mendudukkan Elvan di atas karpet tebal di ruang keluarga dan mulai mengeluarkan kotak mainan balok susun.
Suasana rumah mendadak terasa jauh lebih santai tanpa aura intimidasi dari sang CEO.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ding!
Suara mekanis yang nyaring mendadak berbunyi di dalam kepala Dewi.
Layar biru transparan muncul berkedip-kedip cepat dengan warna merah tanda bahaya.
[Peringatan Darurat! Ada niat jahat terdeteksi di sekitar Tuan Putri!]
[Misi Harian: Pembersihan Hama Mansion!]
[Kondisi: Kepala Pelayan Marni sedang merencanakan sabotase untuk membuat Anda dipecat hari ini juga.]
[Misi: Balikkan jebakan itu dan buat Marni mempermalukan dirinya sendiri di depan Tuan Raka!]
[Hadiah Penyelesaian: Poin Kasih Sayang +20 dan Item Mata-Mata Tak Kasat Mata]
[Hukuman Kegagalan: Tuan Raka akan salah paham dan langsung mengusir Anda dari mansion!]
Dewi mendecakkan lidahnya kesal membaca rentetan peringatan dari sistem itu.
"Nenek sihir kacamata itu benar-benar tidak bisa diam sehari saja ya," rutuk Dewi dalam hati.
"Baru juga mau bersantai, sudah disuruh main detektif-detektifan."
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah ruang keluarga.
Dewi dengan cepat menekan layar sistem agar menghilang dari pandangannya.
Bi Marni muncul dari lorong dapur membawa sebuah nampan perak dengan senyum palsu yang menempel di wajahnya.
Di atas nampan itu terdapat segelas susu putih hangat dan sepiring biskuit cokelat.
"Nona Dewi, ini saatnya Tuan Muda Elvan minum susu paginya," ucap Bi Marni dengan nada yang dibuat selembut mungkin.
Dewi menatap curiga ke arah gelas kaca berisi susu itu.
"Tumben sekali kau berbaik hati membuatkan susu untuk anak ini, Bi," sindir Dewi terang-terangan.
"Bukankah biasanya kau lebih suka melihatku kerepotan mondar-mandir ke dapur?"
Bi Marni mempertahankan senyum kaku di wajahnya meskipun matanya menyorotkan kebencian.
"Saya hanya menjalankan tugas sebagai Kepala Pelayan, Nona."
"Lagipula saya tahu Anda pasti lelah setelah memasak sarapan tadi pagi," balas Bi Marni mencoba terdengar peduli.
Bi Marni meletakkan nampan itu di atas meja kaca di depan Dewi dan Elvan.
"Silakan diminumkan pada Tuan Muda sebelum susunya dingin."
Setelah mengatakan itu, Bi Marni menunduk hormat sekilas lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan.
Dewi menatap punggung Bi Marni yang menjauh dengan dahi berkerut tajam.
"Sistem, coba kau pindai gelas susu ini, apa nenek sihir itu memasukkan racun tikus ke dalamnya?" tanya Dewi dalam hati.
Ding!
[Susu telah dipindai!]
[Hasil: Terdapat kandungan garam dapur dalam jumlah yang sangat banyak dan bubuk obat pencahar dosis rendah!]
Mata Dewi langsung membulat sempurna membaca hasil pindaian itu.
"Kurang ajar, dia tidak hanya ingin anak ini menangis karena keasinan, tapi juga membuatnya sakit perut!" maki Dewi dengan amarah yang memuncak.
"Dia benar-benar tega mengorbankan kesehatan anak majikannya sendiri hanya demi mengusirku!"
Elvan yang sedang menyusun balok menatap Dewi dengan wajah polos.
"Mama, Elvan haus, mau susu," rengek Elvan sambil menunjuk gelas di atas meja.
Dewi dengan cepat menyingkirkan gelas itu menjauh dari jangkauan tangan mungil Elvan.
"Eh, jangan sayang, susu ini sudah dihinggapi lalat jahat, nanti perut Elvan sakit," bujuk Dewi lembut.
"Tunggu sebentar ya, Mama buatkan susu yang baru dari resep ajaib Mama."
Elvan mengangguk patuh dan kembali fokus menyusun baloknya yang mulai tinggi.
Otak Dewi berputar cepat memikirkan cara untuk membalikkan keadaan ini.
"Sistem bilang aku harus membuat Marni malu di depan Tuan Raka."
"Tapi pria es batu itu kan sedang pergi ke kantor, bagaimana caranya dia bisa melihat kejadian ini?" batin Dewi kebingungan.
Ciiit.
Suara decitan rem mobil yang sangat khas terdengar samar dari arah halaman depan.
Beberapa detik kemudian terdengar keributan kecil di area lobi utama mansion.
"Tuan Raka, Anda kembali cepat sekali hari ini, apakah ada barang yang tertinggal?" terdengar suara cemas Bi Marni dari luar.
Dewi menyeringai lebar mendengar percakapan itu.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba, sepertinya dewa keberuntungan sedang memihakku hari ini," bisik Dewi senang.
Brak.
Pintu ruang keluarga terbuka menampilkan sosok Raka yang berjalan masuk dengan wajah lelah.
Bram mengekor di belakangnya membawa sebuah tas kerja yang terlihat berat.
"Jadwal rapat dewan direksi dibatalkan mendadak, aku akan bekerja dari rumah saja hari ini," ucap Raka pada Bram.
Bi Marni berjalan tergesa-gesa di samping Raka, wajahnya terlihat sedikit panik namun juga penuh harap.
"Kebetulan sekali Anda pulang, Tuan Raka. Saya baru saja mengantarkan susu untuk Tuan Muda Elvan," ucap Bi Marni mencari perhatian.
Raka menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Dewi yang sedang duduk santai di karpet bersama anaknya.
"Papa pulang!" seru Elvan riang, meski anak itu tetap tidak beranjak dari pangkuan Dewi.
Raka tersenyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tidak terlihat, melihat putranya tampak sehat dan ceria.
"Apakah kau mengurus anakku dengan baik hari ini, Nona Dewi?" tanya Raka dengan nada angkuh andalannya.
Dewi berdiri dan mengibaskan debu dari celananya sebelum membalas tatapan Raka.
"Tentu saja Bos, Elvan sangat bahagia bersamaku."
"Tapi sepertinya pelayan kesayanganmu ini sedang berusaha keras membuat hari kami berantakan," sindir Dewi tanpa basa-basi.
Bi Marni langsung melebarkan matanya dan menunjuk Dewi dengan telunjuk gemetar.
"Tuan, jangan dengarkan fitnah wanita ini! Saya hanya membawakan susu sesuai jadwal!" sangkal Bi Marni cepat.
"Wanita malas ini bahkan belum memberikan susunya pada Tuan Muda!" tambahnya sambil menunjuk gelas utuh di atas meja.
Raka menatap bergantian antara Bi Marni dan Dewi dengan rahang mengeras.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Aku benci keributan di rumahku sendiri," desis Raka dingin.
Dewi mengambil gelas susu itu dan berjalan mendekati Bi Marni dengan senyum mengejek.
"Tuan Raka, pelayanmu ini bilang dia membuatkan susu untuk anakmu."
"Tapi entah kenapa, aku merasa susu ini tidak layak minum sama sekali," ucap Dewi sambil menyodorkan gelas itu ke depan wajah Bi Marni.
Bi Marni memundurkan wajahnya dengan raut panik yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Omong kosong! Itu susu formula kualitas premium yang biasa diminum Tuan Muda!" bantah Bi Marni keras.
"Tuan Raka, wanita miskin ini pasti ingin menjebak saya karena saya menegurnya tadi pagi!"
Raka memijat pangkal hidungnya yang mancung, merasa pusing dengan drama wanita di rumahnya.
"Dewi, apa buktinya kau menuduh Marni?" tanya Raka menuntut penjelasan logis.
Dewi tersenyum semakin lebar, inilah saat yang dia tunggu-tunggu.
"Sederhana saja Tuan Raka."
"Jika susu ini memang aman dan premium seperti yang dia katakan, suruh saja dia meminumnya sendiri sampai habis," tantang Dewi lantang.
Suasana ruang keluarga mendadak hening sejenak.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭