Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Trak.
Bima membanting ampul obat palsu itu di atas meja konter tepat di depan wajah Roni.
"Kamu menyebut air steril ini sebagai Ceftriaxone?"
Wajah Roni tiba-tiba berubah pucat pasi melihat ampul tersebut.
Dia tidak menyangka dokter magang di depannya ini bisa tahu isi di dalam botol tanpa harus membukanya.
"Apa maksudmu?"
"Itu obat asli dari gudang kok."
"Jangan menuduh orang sembarangan ya!"
Roni mencoba mengelak dengan suara yang mulai terdengar gemetar.
Bima mencondongkan tubuhnya melewati meja konter dan langsung menarik kerah baju Roni.
Srek.
Kerah baju seragam Roni tercengkeram sangat kuat di tangan Bima.
"Dengar baik-baik, Roni."
"Pasien di atas sana sedang meregang nyawa karena gas gangren di kakinya."
"Kalau aku tidak menyuntikkan antibiotik dalam sepuluh menit, dia akan mati membusuk."
"Dan kalau dia mati, aku pastikan polisi akan menyeretmu atas tuduhan pembunuhan berencana."
Roni berusaha keras melepaskan tangan Bima dari kerahnya.
"Lepaskan aku, gila!"
"Kamu tidak punya bukti apa-apa untuk menuduhku!"
Bima tersenyum sinis melihat kepanikan apoteker itu.
"Kamu pikir aku ini orang bodoh?"
"Di sudut ruangan ini ada kamera CCTV yang merekam semuanya."
"Dan aku yakin kamu belum sempat membuang ampul Meropenem yang asli ke tempat sampah."
Mata Bima melirik tajam ke arah deretan laci paling bawah di belakang meja konter.
"Sistem, pindai isi laci kayu itu."
Bima menggunakan Pandangan Sinar-X nya secara diam-diam.
[Terdeteksi lima ampul Meropenem dan sepuluh ampul Clindamycin di dalam laci bawah.]
[Obat tersebut sengaja disembunyikan dan belum tercatat keluar dari sistem inventaris.]
Bima melepaskan kerah Roni dengan dorongan kasar.
Dia berjalan memutar meja konter dan langsung menarik laci bawah tersebut.
Sret.
Benar saja, puluhan kotak obat keras yang dia cari tergeletak rapi di sana.
"Habis katamu?"
Bima mengambil dua kotak obat yang paling dia butuhkan.
Roni terdiam membeku di tempatnya dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.
"Dokter Surya yang menyuruhku melakukan ini..."
Roni bergumam pelan dengan suara bergetar ketakutan.
"Dia bilang tidak masalah menukar obat untuk pasien miskin tidak berguna itu."
"Dia menjanjikan uang lembur tambahan padaku kalau aku mau tutup mulut."
Bima mendengus jijik mendengar pengakuan kotor itu.
"Bawa masalahmu ini ke komite medis nanti siang."
"Atau aku yang akan membawamu ke kantor polisi dengan bukti rekaman CCTV ini."
Bima menunjuk ampul palsu di atas meja sebagai peringatan terakhir.
Tanpa menunggu jawaban Roni lagi, Bima segera berlari kembali menuju ruang operasi di lantai atas.
Waktunya semakin menipis.
Nyawa Pak Karto benar-benar bergantung pada seberapa cepat Bima tiba di sana.
Sesampainya di ruang bedah, Suster Nita sudah menyiapkan semuanya dengan rapi.
Pak Karto sudah dipasangi alat monitor jantung dan selang oksigen di hidungnya.
Dokter anestesi juga sudah bersiap berdiri di samping kepala pasien.
"Suntikkan ini melalui saluran infus, sekarang juga."
Bima menyerahkan obat asli itu pada Suster Nita.
"Syukurlah Dokter berhasil mendapatkan obatnya."
Suster Nita segera memasukkan cairan obat itu dengan jarum suntik ke dalam selang.
"Bius total pasien sekarang."
Bima memberi aba-aba pada dokter anestesi di sebelahnya.
Dokter anestesi mengangguk pelan dan memutar katup gas bius pada mesin.
"Tiga, dua, satu, pasien sudah tertidur."
Bima berdiri tegak di samping meja operasi dan mengangkat kedua tangannya yang sudah memakai sarung tangan steril baru.
Suasana di ruang operasi berubah menjadi sangat sunyi dan dipenuhi ketegangan.
"Pisau bedah ukuran sepuluh."
Bima menadahkan tangannya tanpa melihat ke arah perawat.
Suster Nita meletakkan gagang pisau bedah yang dingin ke telapak tangan Bima.
"Sistem, aktifkan Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut."
Bima memberi perintah penting itu di dalam hati.
[Bantuan Anatomi diaktifkan.]
[Menampilkan rute pemotongan pembuluh darah dan tulang yang paling optimal.]
Pandangan mata Bima langsung berubah seketika.
Dia bisa melihat garis-garis hologram biru dan merah bersinar di atas paha pasien.
Garis itu menunjukkan batas yang sangat aman dari infeksi bakteri pembusuk.
Sret.
Sayatan pertama dilakukan Bima dengan sangat mulus dan mantap.
Darah segar mengalir keluar, namun Bima dengan cepat menggunakan alat kauter untuk membakarnya.
Cisss.
Suara daging yang terbakar terdengar halus disertai kepulan asap tipis di udara.
Bima bekerja dengan sangat cepat dan efisien.
Tangannya sama sekali tidak gemetar meskipun ini adalah operasi amputasi besar pertamanya.
"Klem pembuluh darah femoralis."
Bima meminta alat selanjutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari luka sayatan.
"Ini klemnya, Dok."
Suster Nita memberikan alat penjepit itu dengan sigap.
Bima menjepit pembuluh darah besar di paha pasien itu dengan sekali gerakan yang pasti.
Dia kemudian mengambil benang bedah tebal dari nampan.
Berkat Teknik Penjahitan Tingkat Master yang dia miliki, Bima mengikat pembuluh darah itu dengan sempurna tanpa celah.
"Gergaji tulang."
Instruksi Bima semakin terdengar dingin dan mekanis layaknya mesin presisi.
Suster Nita menyerahkan gergaji medis bertenaga baterai yang sudah steril.
Ngiinggg.
Suara gergaji yang menyala memecah kesunyian ruangan operasi yang tegang itu.
Bima menempelkan mata gergaji dengan hati-hati ke tulang paha pasien.
Serbuk tulang berterbangan halus di udara saat mata gergaji itu menembus tulang yang keras.
Hanya butuh waktu lima menit bagi Bima untuk memotong putus tulang paha itu.
Kaki hitam yang berbau menyengat itu akhirnya terpisah dari tubuh.
Kaki itu langsung diangkat oleh perawat asisten dan dimasukkan ke dalam kantong limbah medis tebal berwarna kuning.
"Bau sekali, bakterinya pasti sangat ganas dan cepat menular."
Suster Nita bergumam pelan dari balik masker wajahnya.
Bima tidak merespons ucapan itu dan terus fokus merapikan sisa otot di ujung potongan paha.
Dia harus membentuk ujung otot itu agar membulat supaya nantinya pasien nyaman jika ingin memakai kaki palsu.
"Jarum jahit kulit ukuran tiga-nol."
Bima mulai menyatukan lembaran kulit paha yang terpotong.
Sret, sret, sret.
Gerakan tangan Bima terlihat seperti sebuah tarian yang teratur.
Jahitannya sangat rapi dan presisi, seolah diukur menggunakan penggaris.
Dokter anestesi yang sejak tadi memperhatikan diam-diam hanya bisa menelan ludah karena takjub.
"Dokter Bima, kamu yakin belum pernah mengambil sekolah spesialis bedah ortopedi?"
Dokter anestesi itu bertanya dengan nada heran memecah keheningan.
"Gerakan jahitanmu bahkan lebih rapi dari Dokter Hendra yang sudah punya pengalaman puluhan tahun."
Bima hanya tersenyum tipis di balik maskernya.
"Saya hanya banyak berlatih menjahit dengan manekin silikon di rumah, Dok."
Sebuah alasan klise yang cukup aman untuk menutupi keberadaan sistem di kepalanya.
Setengah jam kemudian, rangkaian operasi itu akhirnya selesai.
Bima memotong sisa benang jahit terakhirnya dengan gunting.
"Operasi selesai."
"Bakteri sudah terisolasi penuh dan antibiotiknya mulai bekerja di aliran darah pasien."
Bima meletakkan gunting jahitnya kembali di atas nampan besi.
Tit, tit, tit.
Suara monitor detak jantung terdengar sangat stabil dan kuat mengiringi keberhasilan itu.
[Misi Darurat berhasil diselesaikan.]
[Pasien terhindar dari komplikasi sepsis fatal.]
[Menyalurkan hadiah: Peningkatan ketangkasan jari sebesar lima belas persen.]
Bima bisa merasakan otot-otot di jemarinya seketika menjadi lebih lentur dan bertenaga.
Dia menarik napas panjang dan merasa sangat lega.
Satu lagi nyawa dari orang kecil berhasil dia selamatkan hari ini.
Meskipun harus kehilangan satu kaki, setidaknya Pak Karto masih bisa melihat wajah istrinya lagi nanti.
"Pindahkan pasien ke ruang pemulihan intensif sekarang."
Bima memberikan instruksi terakhirnya sebelum mencuci tangan.
"Tolong awasi tekanan darahnya dengan sangat ketat selama enam jam ke depan."
"Baik, Dokter Bima."
Suster Nita menjawab dengan nada yang penuh rasa hormat.
Bima berjalan keluar dari ruang operasi sambil melepas pakaian bedahnya.
Urusan medisnya memang sudah selesai, tapi urusannya dengan Dokter Surya baru saja dimulai.
Dia tidak akan membiarkan dokter korup itu terus membahayakan nyawa pasien demi uang dan keegoisan.
Bima mengambil ponselnya dari saku jas dokter yang dia gantung di loker luar.
Dia mencari sebuah nomor kontak di layarnya dan menekan tombol panggil.
Tuut, tuut.
Panggilan itu langsung tersambung pada dering kedua.
"Halo, Dokter Bima?"
Suara lembut namun berwibawa milik Kiara terdengar dari seberang telepon.
"Nona Kiara, maaf mengganggu waktu istirahat Anda."
Bima berbicara dengan nada yang tenang namun terdengar sangat tegas.
"Apakah tawaran Anda pagi tadi soal menghancurkan karir seseorang masih berlaku?"
Terdengar suara kekehan pelan dari Kiara di ujung telepon sana.
"Tentu saja masih berlaku, Dokter."
"Siapa tikus kotor yang harus saya singkirkan hari ini?"