Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
devan diam diam menyelamatkan aura
Lidah api dari pemantik zippo milik Reno menari-nari liar, membakar sudut lembaran foto Aura di genggamannya.
Bau kertas terbakar menyeruak di lorong sepi belakang kampus itu.
Devan menahan napasnya. Matanya yang merah menatap lidah api itu dengan kilatan kemarahan yang amat pekat. Namun, demi keselamatan foto-foto dan nama baik Aura, Devan menahan diri setengah mati untuk tidak menerjang Reno.
"Lu mau apa dari gue, Reno?" suara Devan keluar begitu rendah dan dalam.
"Gue turuti kemauan lu, tapi matikan api itu dan kembalikan foto-foto Aura."
Reno tersenyum puas penuh kemenangan. Ia mematikan pemantik apinya, mengibas-ngibaskan kertas foto yang sedikit gosong di bagian pinggir, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop.
"Gampang, Dev," bisik Reno dengan senyum licik.
"Besok pas presentasi tugas kelompok di depan Pak Surya... lu harus ngaku kalau semua materi dokumentasi dan desain visual pameran itu hasil kerjaan gue sepenuhnya. Lu cuma beban yang nggak ngerjain apa-apa. Dan satu lagi..." Reno memajukan wajahnya, "...keluar dari kampus ini. Mengundurkan diri secara sukarela."
Devan membisu.
Syarat gila yang diajukan Reno berarti menghancurkan seluruh sisa masa depannya. Tapi saat bayangan wajah Aura yang menangis membayang di ingatan Devan, cowok itu mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Oke," jawab Devan dingin tanpa rasa ragu sedikit pun. "Gue turuti permainan lu. Serahkan amplop itu."
"Nanti, pas presentasi besok selesai," kekeh Reno sambil melangkah mundur ke dalam kegelapan.
"Ingat janji lu, si bad boy pahlawan kesiangan."
Keesokan harinya, suasana di laboratorium komputer kampus terasa penuh tekanan.
Hari ini adalah tenggat waktu pengumpulan dan peninjauan awal draf materi presentasi tugas kelompok oleh Pak Surya.
Seluruh anggota kelompok empat berkumpul di sudut ruangan lab. Aura duduk di depan layar komputer, mencoba memfokuskan pikirannya yang kacau.
Matanya sembab karena tidak bisa tidur semalam memikirkan Devan. Di sebelah Aura, Siska sibuk mengecek berkas tulisan, sementara Reno duduk santai sambil tersenyum-tersenyum sendiri.
Devan duduk di bangku paling belakang, berjarak cukup jauh dari meja Aura.
Sesuai dengan janjinya semalam untuk menahan diri dan menjaga jarak, Devan sama sekali tidak menyapa atau menatap Aura.
Sikap dingin Devan yang mendadak kembali itu membuat hati Aura serasa diiris-iris.
"Ra, ini draf bagian analisis strategi pemasaran udah mau dicetak," kata Siska sambil menyodorkan flashdisk ke Aura. "Coba kamu cek sebentar di komputer kamu."
Aura mengangguk pelan, teringat file desain visual pameran yang diberikan Devan semalam.
Ia menancapkan flashdisk milik Devan ke port USB komputer lab tempatnya bekerja, hendak menggabungkan draf tulisan Siska dengan desain brosur buatan Devan.
Namun, karena komputer lab tua itu sering dipakai bergantian oleh puluhan mahasiswa, sistemnya ternyata terserang virus berat secara mendadak.
Saat Aura sedang memindahkan file besar dari aplikasi pengeditan, layar monitor komputer mendadak bergaris-garis hitam dan berkedip liar.
BZZZZT!
Bau hangus menyengat dari bagian belakang CPU komputer. Komputer itu overheat parah dan korslet!
"Aduh! Kok jadi begini?!" jerit Siska panik.
Layar monitor mendadak berubah hitam total (black screen). Seluruh data draf proposal, file tulisan, hingga materi desain brosur yang sedang terbuka di layar seketika rusak dan terancam terhapus permanen akibat file sistem yang "gosong" mendadak!
"Lho, Aura! Kamu gimana sih?!" omel Reno langsung berdiri dari kursinya dengan nada membentak.
"File materi laporan kita gosong dan hilang semua itu! Tiga puluh menit lagi Pak Surya datang buat meriksa!"
Wajah Aura seketika pucat pasi. "A-aku nggak tahu, Ren... komputernya tiba-tiba korslet pas aku lagi export file..."
"Aduh, Ra! Kenapa kelakuan kamu teledor banget sih!" celetuk Reno sengaja mengeraskan suaranya agar mahasiswa lain mendengarkan.
"Gara-gara kamu, nilai kelompok kita bisa hancur total!"
Aura menunduk dalam-dalam, matanya berkaca-kaca menahan malu dan panik yang luar biasa.
Jemarinya yang gemetar mencoba menekan tombol restart CPU yang mati total, tapi tidak ada respons sama sekali. Bahan kerja kelompok mereka benar-benar hangus terkunci di dalam harddisk yang rusak itu.
Di barisan belakang, Devan yang melihat Aura disudutkan dan hampir menangis tidak bisa tinggal diam lagi.
Benteng "menjaga jarak" yang ia bangun semalam hancur seketika oleh rasa tidak tega yang amat sangat.
Devan berdiri dari kursinya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia melangkah lebar mendekati meja Aura. Posturnya yang tinggi menjulang langsung menghalangi pandangan Reno dari Aura.
"Mundur lu, Reno," bentak Devan pendek namun amat menakutkan.
Reno tertegun. "Mau ngapain lu? Jangan sok pahlawan ya, komputernya udah mati total! Filenya gosong!"
Devan mengabaikan bacotan Reno. Ia menarik kursi kayu di sebelah Aura, lalu duduk di sana. Dengan tenang namun cekatan, Devan mencabut kabel daya CPU yang korslet itu, merogoh saku jaketnya untuk mengeluarkan obeng mini kelengkapan kameranya, dan membongkar casing samping CPU komputer tua tersebut hanya dalam hitungan detik.
Aura mendongak, menatap Devan dari dekat dengan mata berair. "Devan... kamu mau ngapain? Filenya udah hilang..."
"Filenya nggak hilang, Aura," bisik Devan pelan tanpa menoleh, suaranya begitu menenangkan di tengah kepanikan itu.
"Gue cuma perlu menyelamatkan harddisk-nya sebelum IC memori-nya terbakar total."
Tangan Devan yang lincah dan biasa membongkar mesin motor bergerak cepat mencabut komponen harddisk utama dari dalam CPU yang masih terasa panas dan berbau hangus.
Jemari Devan bahkan sempat tergores pinggiran besi CPU yang tajam hingga berdarah tipis, namun Devan sama sekali tidak meringis.
Devan lalu menyambungkan harddisk yang baru diselamatkannya itu ke laptop miliknya menggunakan kabel adaptor converter yang selalu ia bawa di dalam tas kameranya.
Jari-jari Devan menari-nari di atas keyboard laptopnya, menyalin dan memperbaiki sektor file yang rusak (corrupted sectors) dengan perintah komando perintah sistem yang sangat cepat.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit...
Ting!
Sebuah notifikasi hijau muncul di layar laptop Devan: File Recovery Successful (100%).
Seluruh data proposal, draf tulisan Siska, hingga materi desain brosur yang tadi disangka gosong dan hilang berhasil diselamatkan total oleh Devan!
Siska sampai membelalak takjub dan bernapas lega. "Ya ampun! Filenya balik lagi! Makasih banyak, Devan!"
Aura memandangi layar laptop Devan, lalu beralih menatap jari tangan Devan yang sedikit berdarah dan terkena noda oli kompresor CPU demi menyelamatkan tugas mereka—dan menyelamatkannya dari amukan Reno serta Pak Surya.
"Devan... tangan kamu berdarah," bisik Aura tersentuh luar biasa.
Rasa hangat membuncah di dadanya. Cowok ini selalu saja diam-diam menjadi juru selamatnya di saat-saat paling kritis.
Devan cepat-cepat menarik tangannya, menyembunyikannya ke bawah meja. Sikap dinginnya kembali ia pasang rapat-rapat.
"Gue cuma nggak mau nilai kelompok ini hancur," kata Devan datar, mencoba bersikap seolah-olah ia melakukan itu bukan demi Aura.
Devan lalu memindahkan file yang sudah sembuh itu ke flashdisk cadangan dan meletakkannya di meja. "Nih. Serahkan ke Pak Surya."
Reno yang melihat hal itu mengepalkan tangannya rapat-rapat dengan wajah merah padam karena rencananya untuk mempermalukan Aura gagal total gara-gara keahlian Devan.
Pintu lab komputer mendadak terbuka. Pak Surya melangkah masuk dengan gaya tegasnya.
"Kelompok empat! Mana berkas materi presentasi kalian? Kumpulkan sekarang di meja saya!"
Reno langsung menyambar flashdisk di meja sebelum Aura sempat menyentuhnya, lalu melangkah ke depan dengan senyuman licik yang amat sangat menyebalkan.
"Ini Pak Surya, berkas draf dan seluruh konsep visual pameran dari kelompok kami," kata Reno bangga di depan Pak Surya. "...yang sudah saya selesaikan dan rapikan sendiri semalaman."
Aura membelalak kaget mendengarkan klaim sepihak Reno yang sangat tidak tahu malu itu! Ia menoleh cepat ke arah Devan, hendak memprotes kepalsuan Reno.
Namun, Devan yang duduk di belakang justru memberikan isyarat menggelengkan kepala pelan pada Aura, meminta gadis itu untuk diam dan membiarkan Reno mengambil seluruh kredit hasil kerja kerasnya demi menjaga perjanjian rahasia semalam.
Di saat Pak Surya baru saja hendak membuka flashdisk tersebut di laptop dosen, tiba-tiba layar proyektor besar di depan kelas yang tersambung ke jaringan Wi-Fi lab menyala sendiri secara otomatis.
Sebuah notifikasi surel masuk skala besar (broadcast email) terkirim ke seluruh server kampus dan langsung menampilkan proyeksi gambar berukuran raksasa di dinding depan lab.
Gambar yang muncul di proyektor itu adalah foto Aura yang sedang tertidur di perpustakaan—foto pribadi milik Devan—lengkap dengan judul berita utama yang sangat menyudutkan: 'SKANDAL FOTO RAHASIA: KETUA PANITIA KAMPUS DAN SI BAD BOY KAMPUS.'
Seluruh mahasiswa di lab komputer seketika menjerit kaget, sementara Pak Surya membelalak murka menatap layar proyektor tersebut.
Bersambung...