Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai panik
Empat hari telah berlalu.
Vara dan Dirga menghabiskan waktu di pulau pribadi milik Vara. Awalnya Dirga hanya mengatakan mereka akan tinggal selama dua hari. Namun, entah apa yang Vara lakukan hingga suaminya justru memperpanjang waktu liburan mereka.
Selama empat hari itu, Dirga bahkan tidak sempat menghubungi Monica. Ponselnya yang sejak kemarin dimatikan masih tergeletak begitu saja.
Vara melirik benda itu, lalu tersenyum miring. Wanita gatal itu pasti sudah pusing.
Tatapannya kemudian beralih kepada Dirga yang masih terbaring pulas di tempat tidur.
Katanya mau membuatku terbang ke langit? Yang ada aku yang membuat kamu lupa waktu, Dirga.
Vara keluar dari vila dan berjalan menuju pantai. Pemandangan pagi itu begitu indah. Ombak kecil menyapu pasir putih, sementara angin laut berembus lembut.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Iya, Nona."
"Alaskar, setelah saya pulang, kita ketemu."
"Siap, Nona."
"Hmm... bagaimana dengan informasi yang waktu itu saya minta?"
"Saya sudah mendapatkannya, Nona. Nona ingin saya jelaskan sekarang?"
"Tidak perlu. Saya rasa ini bukan waktu yang tepat," jawab Vara sambil melirik ke arah Vila. Dirga terlihat mulai bergerak dari tempat tidur.
"Baik, Nona."
Vara mengakhiri panggilan dan segera menghampiri Dirga.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
"Hm."
Begitu Vara mendekat, Dirga langsung meraih pinggangnya dan memeluknya.
"Sayang, kamu mandi dulu. Satu jam lagi kita berangkat."
Dirga tak menjawab. Ia malah semakin mempererat pelukannya.
"Sebentar lagi, Sayang."
Vara terkekeh.
"Sayang, kalau terus begini, kapan mandinya?"
Dirga akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Vara dari atas sampai bawah. Selama empat hari di pulau itu, Vara memang lebih sering mengenakan pakaian yang santai dan sedikit terbuka. Hal itu rupanya cukup mengganggu konsentrasi Dirga.
"Selama di sini, kenapa pakaian kamu seksi begini?" tanyanya.
Vara mengangkat alis. "Kenapa? Kamu nggak suka?"
"Bukan begitu." Dirga menghela napas. "Kamu sengaja, ya?"
"Sengaja apa?"
"Menggodaku."
Vara terkekeh. "Memangnya salah aku berpakaian seperti ini di depan suamiku sendiri?"
"Nggak salah, Sayang." Dirga mengusap wajahnya. "Tapi... kamu masa nggak paham sih?"
Vara justru tertawa kecil melihat ekspresinya. "Memang kenapa?"
Dirga menatapnya sebal. "Sudah, jangan ketawa."
"Kenapa? Lucu tau."
"Kamu memang sengaja bikin aku susah."
Vara semakin terkekeh. "Ya sudah, sana mandi. Nanti kita terlambat."
Dirga menghela napas, tetapi akhirnya bangkit dari tempat tidur.
"Iya, iya."
Vara hanya menggeleng sambil tersenyum. Dalam hati, ia justru merasa puas.
Empat hari berlalu tanpa Dirga menghubungi Monica, itu jauh lebih menyenangkan daripada ia bayangkan.
Setelah selesai berkemas, Vara dan Dirga akhirnya meninggalkan pulau pribadi itu.
Di dalam mobil, Vara duduk di kursi penumpang sementara Dirga mengemudi. Baru beberapa saat perjalanan berlangsung, Vara diam-diam mengaktifkan kembali ponsel Dirga, lalu meletakkan seperti semula.
Tak lama kemudian, notifikasi demi notifikasi mulai bermunculan di layar ponsel pria itu.
Vara melirik sekilas. Kemudian, dengan sengaja, ia mengambil ponsel tersebut dan menyodorkannya kepada Dirga.
"Sayang, ponsel kamu bunyi."
Deg!
Tangan Dirga yang memegang kemudi sempat menegang. Ia langsung teringat Monica. Selama empat hari di pulau itu, ia benar-benar lupa menghubungi wanita tersebut.
Perhatiannya terlalu banyak tersita oleh Vara sampai kesepakatan mereka pun terlupakan.
"Sayang?" Vara menatapnya. "Kenapa wajahmu begitu?"
Dirga segera menggeleng. "Mungkin pesan dari kantor. Aku lupa memberi tahu Reno kalau aku memperpanjang liburan."
"Oh, gitu."
Vara mengangguk santai, seolah sama sekali tidak curiga.
"Vara?"
"Iya?"
"Kamu lihat pesan yang masuk?"
"Nggak." Vara menggeleng. "Memangnya kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
Dirga menghembuskan napas lega.
Beberapa detik kemudian, ia kembali melirik ponselnya.
"Sayang, boleh nggak kamu nyetir? Aku mau balas pesan sebentar."
"Boleh."
Vara langsung mengangguk setuju.
Mereka kemudian bertukar tempat. Setelah duduk di kursi pengemudi, Vara menyalakan mesin dan melanjutkan perjalanan.
Dirga segera membuka ponselnya. Benar saja. Puluhan pesan dari Monica memenuhi layar.
"Gawat! Pasti Monica marah," gumamnya panik.
Dirga mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana ia bisa lupa memberi kabar kepada Monica? Pasti, wanita itu sudah menunggunya sejak beberapa hari yang lalu.
Vara yang sedang fokus mengemudi hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak perlu bertanya siapa yang mengirim semua pesan itu.
Melihat Dirga mulai gelisah saja sudah cukup membuatnya puas.
"Kelihatannya rencanamu mulai berantakan."
Vara kembali menatap jalan di depan mereka, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.
"Padahal aku bahkan belum melakukan apa-apa. Kalau begini saja sudah mulai panik, bagaimana nanti saat rencanaku berhasil?"