NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:662.6k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Belum Terbayang

Rumah tinggal istri kedua tidak sebesar rumah istri pertama. Ah, mungkin harus diralat dulu—rumah mantan istri pertama. Tetapi tidak mengurangi kemewahan bangunan dua lantai yang dari gerbangnya saja yang terbuat dari ukiran besi tempa dengan kesan klasik sudah mencerminkan status ekonomi kelas atas yang letaknya juga di perumahan elit. Hari ini Hilman baru sadar, baru peka. Aura rumah Selly dan Suri amatlah berbeda. Kemana saja nuraninya selama ini.

"Bang, hari ini jadwal ke rumah Mbak Suri, kan? dia baru pulang umrah, kan? Atau mau nambah semalam lagi di sini?" Selly memijat paha Hilman yang sedari tadi rebahan di sofa dalam diam. Harusnya sore tadi sudah meninggalkan rumah ini. Sang suami terlihat sedang banyak pikiran hingga ia tak mungkin pergi ke luar. Padahal malam ini ada janji dengan seseorang.

Watak yang harus dipahaminya adalah jangan pernah meminta sesuatu saat Hilman sedang banyak pikiran. Entah masalah itu datang dari luar atau dalam rumah atau juga dari pekerjaan.

"Abang akan tinggal di sini tiap hari kecuali kalau ada urusan ke luar kota." Meski sertifikat rumah tertulis atan nama Selly, akan tetapi Hilman tidak memberikan dokumennya mengingat karakter istri keduanya itu boros. Beda sekali dengan istri pertama yang pandai dalam manajemen keuangan.

Selly menghentikan pijatannya. Menatap wajah yang matanya terpejam saat menjawab. "Ada apa ini? Abang marahan sama Mbak Suri?"

Hilman membuka mata. Menarik badan hingga posisinya berubah duduk selonjoran sambil menyandarkan punggung pada bantal sofa. "Abang dan Suri udah cerai." Sebisa mungkin nadanya tetap datar meski sebenarnya hati lemas. Ada harga diri yang harus dijaga tidak boleh jatuh di bawah kaki wanita.

"APA?" Selly menggeleng tidak percaya. "Abang bercanda ya?"

"Laki-laki tidak boleh bercanda dengan kata cerai karena tetap saja jatuhnya talak."

Selly menelan ludah. Entah kenapa berita ini harusnya membuatnya senang. Itu berarti dirinya naik tahta menjadi istri satu-satunya. Tapi yang dirasa justru was-was. Gerak bebasnya merasa terancam. "Tapi kenapa, Bang? Aku nggak pernah dengar Abang sama Mbak Suri berantem. Dan kapan cerainya?' Kan Mbak Suri baru pulang umrah."

"Sudah jangan kepo. Pokoknya pengadilan udah ketok palu cerai."

Hilman menoleh begitu mencium semerbak wangi yang berasal dari sebelah kanan. Ia melihat Leony yang baru saja menuruni titian tangga terakhir. "Mau ke mana, Leon?"

Tampak sekali Leony terkejut karena ia berjalan lurus tanpa menoleh. Tak menyangka sang ayah masih ada di rumah. Padahal info yang didapat dari mamanya, sore tadi ayahnya itu jadwal tinggal di rumah Ibu Suri. "Hm ini, mau ke rumah teman, Yah."

"Sudah malam. Besok lagi. Dan perginya harus masih sore. Ini udah jam delapan. Tidak baik buat anak gadis."

"Tapi, Yah. Aku harus kerja kelompok. Udah ditunggu." Leon merajuk dengan memasang wajah memelas.

"Sini!" Hilman meminta Leony duduk. Ia menyaksikan wajah putri satu-satunya itu melangkah dengan kaki diseret serta wajah merengut.

"Ayah tidak ngizinin Leon keluar malam kecuali urgent. Itu pun harus ditemani Mama atau Kak Boby. Kalau mau kerja kelompok, ada yang namanya teknologi. Hari ini semua serba digital. Bisa gabung lewat Zoom atau video call grup, banyak fasilitas."

"Tapi ketemu langsung lebih seru," tukas Leony yang masih berharap bisa keluar rumah.

"Kalau sore boleh. Kalau malam, TIDAK. Kerja kelompok macam apa pakai pakaian mini gini, full make up. Kayak mau party."

"Ini outfit ala Korea, Ayah. Style yang lagi trend."

"Tetap harus pilah pilih outfit jangan kebawa arus. Sudah sana masuk lagi ke kamar. Zoom meeting aja."

"Yah!"

Leony menghentakkan kaki melihat sang ayah beranjak dari sofa lalu menghilang di balik pintu kamar. Ia beralih menatap mamanya dengan ekspresi kesal. "Mama bilang Ayah keluar rumah sore tadi."

"Kirain iya. Ternyata Ayah mau tinggal di sini tiap hari kecuali kalau dinas luar kota."

"Ma...ada party di rumah Renata. Aku harus pergi. Mama harus bujuk Ayah."

"Untuk kali ini Mama nggak bisa turutin kemauan Leon. Ucapan Ayah nggak bisa dibantah. Sorry ya, sayang." Selly menatap anak bungsunya dengan sorot penuh penyesalan.

"Mama mau aku aduin ke Ayah kalau Mama punya pacar berondong?" Leony tersenyum menyeringai. Menurutnya, ini waktu yang tepat mengeluarkan senjata pamungkas agar mamanya tidak berkutik.

"Oh, udah pintar ngancam Mama ya." Selly melipat kedua tangan di dada, tersenyum sinis. "Mau Mama aduin juga kalau anak gadis kebanggaan Ayah ini tukang party, pernah mabok. Silakan ...silakan aduin. Tahu rasa nanti kalau uang jajan di stop, dan Ayah pasti pindahin kamu ke pesantren."

Leony memanyunkan bibirnya. Beranjak sambil menghentakkan kaki menuju tangga.

Selly menyeringai. "Anak bau kencur coba-coba ngancam senior expert," batinnya tertawa. Ia pun beranjak menuju kamarnya menyusul Hilman yang menurutnya harus dihibur dengan desahan.

***

Bincang santai bertiga baru saja disudahi. Suri yang lebih dulu mengingatkan waktunya istirahat setelah kebersamaan dengan berhias tawa. Waktunya masuk ke kamar masing-masing untuk melanjutkan bersantai di peraduan.

Diaz memeluk Tya dari belakang begitu sudah mencapai lantai dua. Menggelayut seolah anak kecil yang sedang bermanja sampai tiba di dalam kamar.

"Bey, geli ih!" Tya mengerutkan bahu saat bibir Diaz menyapu leher hingga ke daun telinga. Di samping geli, ada sensasi lain yang dirasa. Sulit dijabarkan dengan kata-kata. Pokoknya ada.

"Harusnya abis spa itu lanjut bercinta. Wangi kulitmu menggoda imin, sayang. Sini aku cek. Masih bengkak, nggak?" Tanpa menunggu jawaban, Diaz mendorong punggung Tya ke arah ranjang. Terjatuh telungkup bersamaan di spring bed yang empuk.

"Udah nggak bengkak. Tapi kan luka di dalamnya yang harus recovery. Makanya Abey disuruh puasa 2 minggu."

"Mau lihat!"

Tya memilih pasrah saat celana piyamanya ditarik melorot sampai bawah lalu celana dalamnya pun diperlakukan sama hingga kedua kakinya dibuka. Sebenarnya malu. Tetapi namanya sudah menjadi suami istri betulan, harus terbiasa dengan perlakuan privasi satu sama lain.

Setelah meneliti barang berharga yang menjadi miliknya itu, Diaz memberi kecupan lembut dan hangat lalu menarik selimut sampai pinggang Tya. Ia pun berbaring dalam posisi miring menghadap perempuan cantik yang sudah mencerahkan hari-harinya.

"Jangan sampai abis puasa disambung datang bulan. Nggak kan, Yang?"

Tya terkikik. Ia pernah melihat betapa tegasnya Diaz saat di kantor. Tapi di sampingnya kini, CEO yang penuh wibawa itu berubah menjadi kucing imut yang manja, yang butuh belaian dan pelukan.

"Kalau melihat tanggal, tiga hari lagi waktunya haid. Jadi barengan selesainya sama jadwal hukuman Abey."

"Hukuman." Diaz menggerutu mendengar satu kata itu. Tidak setuju tetapi faktanya memang puasa itu sebagai bentuk hukuman atas perbuatannya yang mungkin terlalu ganas. Dalam dua hari melakukan lima kali ibadah suami istri sampai Tya tumbang, kelelahan dan cidera.

Tya menempelkan bibirnya dengan bibir Diaz. Obat ampuh meredakan suami yang merajuk adalah dengan berciuman.

Malam berganti pagi. Mulai hari ini Tya akan mengikuti kegiatan kerja sang mertua sesuai hasil obrolan semalam bertiga. Ia lebih dulu melepas Diaz dengan mengantar hingga teras. Pelukan dan kecupan menjadi ritual setiap kali melepas pergi.

Selang setengah jam kemudian, giliran mobil yang dikemudikan Anwar keluar dari pintu gerbang. Tya duduk di sisi kiri Ibu Suri yang katanya sudah mantap untuk mengenakan hijab. Sepanjang jalan, ia fokus mendengarkan penjelasan sang mertua mengenai bisnis perhiasan yang dimiliki berikut jumlah toko emas yang tersebar di mall besar.

Tya juga menyimak tugas hari ini yang kedudukannya sebagai asisten. Sebagai orang yang belum berpengalaman dalam dunia bisnis, pekerjaan yang dijelaskan Suri dengan intonasi lembut seorang Ibu bukan seorang bos—sangat mudah dipahami dan menjadi pelajaran kuliah yang langsung dipraktikkan.

Semangat yang dimiliki Tya, menjadikan hari-hari yang dilalui bergulir tanpa terasa. Kalau tidak mertuanya itu berkata di sela makan siang jika hari ini waktunya melemparkan bom pertama, ia sungguh lupa jika waktu sudah berjalan sepekan.

"Bu, mekanismenya gimana? Ibu sendiri yang mau lempar bomnya?"

"Nggak dong, Nak. Ada tangan lain yang Ibu percayai. Sekarang video Selly akan dikirim ke Pak Hilman. Satu-satu dulu. Ibu khawatir ayahnya Diaz serangan jantung. Tujuan Ibu bukan balas dendam tapi ngasih pelajaran pada Selly dan anak-anaknya."

Tya merasa bulu kuduknya meremang. Belum melihat videonya seperti apa. Baik video Selly, Boby, maupun Leony. Diaz bilang akan ditunjukkan nanti kalau Ibu sudah memulai misinya. Kemungkinan nanti malam bakal lihat sendiri kebobrokan seperti apa yang diperbuat keluarga durjana itu. Ah, belum terbayang.

Suri tersenyum tipis usai membaca pesan singkat yang berisi satu kata, 'Done'. Orang yang dipercayainya sudah melaksanakan tugas.

1
Shee_👚
betul mending jujur dari pada nanti jadi bumerang kedepannya
Shee_👚
ya elah mantan pake acara laporan terserah situ mau tinggal dimana, di kutub juga bodo amat😏
Shee_👚
keceplosan pak anwar🤭
Bunda Idza
let's go mas Diaz....kami tunggu kejujuran mu 😊
secret
nahhh benerrr massee mending ceritaaa sm neng tya biar ga jd boomerang kedepannya
terima kasihh upnyaa teteehhh, selaluu nungguinnn😍
srimusvita
wah masa muda mas Diaz sempat nakal ya..secara sembunyi2 dari ibu kyk nya....ketahuan ibu bs dihukum mas Diaz tidur di kamar tamu nya Tya...🤣
sikepang
nah itu pilihan yg bagus Diaz jng sampe salah paham nanti timbul, apalagi itu manta kayak calon² lakor 🤭
Dinda Putri
gak pakek lama dong pak bos Diaz harus wajib cerita ke Tya soal si shopia yg matanmu itu Tya GK mungkin marah eh kok ibu suri smpai GK tau klu Diaz punya mantan shopia .
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
N I A 🌺🌻🌹
jadi penasaran ama cerita masa lalu diaz sama mantan🤔🤔🤔
tq up nya akak nia🙏🙏
N I A 🌺🌻🌹
good job diaz👍👍👍 itu baru laki sejati👍👍👍
wayan sriani
jd penasaran kenangan masa lalu Diaz sama Sofia itu apa ya.... ditunggu ceritamu ya Diaz
N I A 🌺🌻🌹
wah apakah mantan berniat jadi pelakor🤔🤔🤔🤔
Neng Ima Adhikari
Nah gitu donk, Mas Diaz.. gentle, kudu jujur sama istri.. jangan ada dusta diantara kalian.. biar rumah tangga makin adem tanpa ada bayang-bayang mantan..
kadang emang mantan itu dengan tidak tau dirinya datang tiba-tiba.. entah apa tujuannya...

Pak Husain dalam pengawasan Mas Diaz 😆😆
N I A 🌺🌻🌹
keceplosan pak anwar😂😂😂
N I A 🌺🌻🌹
cie yg lagi kepo sama calon bapak sambung semua orang di interogasi🤭
Eulis🌹🌹Mυɳҽҽყ☪️
Duduk di kursi depan lagiii...yeaahhh.



Lanjut nonton. terimakasih teh Nia 🥰🥰☕☕
N I A 🌺🌻🌹
Alhamdulillah mencutul juga, hadir mas diaz☝️😊
Wahidah Aja
nah gitu bapak ceo harus cerita dan jujur sama istri daripada istri tau dari yg lain hayooo kan berabe 🤭
Nur Wakidah
bener Mas , , , mendingan jujur deh daripada dipendem jadi beban pikiran gk tenang 😂😂😂 apalagi ntar klo Tya tau dari orang lain malah brabe deh urusannya , ,, tp Tya pasti menanggapi dengan bijak deh gk langsung marah2 gk jelas 🤣🤣🤣 ngreog kaya Leony atau Selly klo lagi kumat 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!