NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Jawaban yang Tidak Diberikan

Alden menoleh sedikit.

Seraphina sudah berdiri di sana. Bukan baru datang. Seolah… memang menunggu ia selesai.

Senyumnya tipis seperti biasa. Anggun. Tidak memaksa, namun cukup untuk membuat langkah orang lain terhenti.

Alden tidak langsung mendekat. Matanya sempat beralih ke arah depan. Belvina sudah berjalan lebih dulu. Tidak menunggu.

Tatapan Alden beralih ke sopirnya. Lalu ia memberi isyarat kecil. Satu gerakan jari. Cukup.

Sopir yang berdiri tak jauh langsung mengangguk singkat dan bergerak.

Belvina hampir sampai ke mobilnya ketika suara itu datang.

“Nyonya.”

Ia menoleh.

Sopir Alden berdiri di sana. Tegak. Sopan.

“Tuan meminta Anda naik ke mobil beliau.”

Belvina menatap sopir itu beberapa detik.

“Mobilku?” tanyanya singkat.

“Akan saya urus, Nyonya.”

Belvina terdiam beberapa saat.

"Baik. Selesaikan saja sekalian."

pikirannya.

Ia melangkah menuju mobil Alden tanpa komentar lagi.

Pintu dibukakan. Ia masuk. Duduk. Dan saat matanya terangkat, ia melihat dari kejauhan. Alden berdiri bersama Seraphina.

Berbicara.

“...oh.” Sudut bibir Belvina terangkat tipis. “Pantesan.”

Ia bersandar santai.

Ponselnya sudah di tangan. Layarnya menyala. Bukan mengarah ke luar. Bukan juga ke Alden.

Video pendek berjalan. Suara pelan, cukup untuk dirinya sendiri. Ekspresi wajahnya berubah ringan, benar-benar teralihkan.

Bukannya kesal, ia malah terlihat seperti seseorang yang sedang menikmati sesuatu yang jauh lebih menarik.

Sopir yang duduk di depan melirik lewat kaca spion. Alisnya sedikit mengernyit.

Video pendek berjalan pelan di ponselnya. Matanya tertuju pada layar. Namun itu hanya… pilihan.

Memilih untuk tidak melihat ke luar. Atau— memang tidak ia izinkan untuk penting.

Bahkan, ujung bibirnya bergerak. Tertahan. Seolah menahan tawa karena video yang ia tonton.

Sopir itu mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Keningnya masih sedikit berkerut.

Dalam hati, ia bergumam pelan. "Nyonya… benar-benar tidak peduli."

Di sisi lain.

Alden berdiri berhadapan dengan Seraphina.

“Ada apa?” tanyanya singkat. Langsung. Tanpa basa-basi.

Seraphina tersenyum kecil. Tidak terganggu.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”

“Cepat.”

Nada Alden tetap datar.

“Tadi… di dalam,” ujar Seraphina pelan.

Alden tidak menjawab.

“Belvina terlihat masih marah.”

“Tidak,” potong Alden.

Seraphina terdiam sepersekian detik.

Alden menatapnya sekarang. Langsung.

“Dia tidak marah.”

Kalimat itu tenang. Tapi pasti.

Ini pertama kalinya, ritme percakapan tidak lagi dipegang Seraphina.

“Lebih baik, jaga jarak.”

Bukan untuk Belvina. Untuk Seraphina.

Kata-kata Alden ringan. Namun maknanya tidak.

Senyum Seraphina tetap terpasang. Namun matanya, mengeras sedikit. Sangat tipis.

“Baik,” jawabnya lembut.

Alden tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik. Langsung menuju mobil. Meninggalkan Seraphina berdiri di sana.

Sendiri.

Tatapannya mengikuti punggung pria itu. Lalu perlahan bergeser, ke arah mobil. Tempat Belvina berada.

Senyumnya masih ada. Namun kali ini, lebih tipis. Lebih dingin.

“Menarik…” gumamnya dalam hati.

Permainan ini, tidak berjalan seperti yang ia rencanakan. Dan itu, tidak ia sukai.

-

Pintu mobil tertutup pelan. Suara dari luar langsung teredam.

Alden masuk tanpa tergesa, tapi juga tanpa santai. Gerakannya rapi. Terukur. Ia duduk di samping Belvina, lalu memberi isyarat kecil ke depan.

Mobil mulai bergerak.

Tidak ada sapaan. Hanya suara pelan dari video di ponsel Belvina yang masih berjalan. Cahaya layar memantul samar di wajahnya. Ekspresinya ringan. Seolah dunia di dalam mobil ini… tidak terlalu penting.

Alden melirik sekilas. Lalu mengalihkan pandangan ke depan.

“Matikan.”

Belvina tidak langsung bereaksi. Video itu masih berjalan beberapa detik. Cahaya layar berkedip pelan di matanya. Seolah ia sedang mempertimbangkan sesuatu. Bukan soal video itu. Tapi soal… apakah ia harus menuruti.

“…Belvina.”

Klik.

Layar mati.

Belvina menyandarkan punggung, masih santai. Ponsel tetap di tangannya.

“Ada apa?”

Nada suaranya ringan. Seolah tidak ada yang perlu dibahas.

Alden akhirnya menoleh.

“Apa yang kau bicarakan dengan Seraphina?” tanyanya langsung ke inti.

Belvina mengangkat alis sedikit. “Kenapa?” Ia tak langsung melanjutkan. “Kau takut aku menyakitinya?”

“Jawab saja," ulangnya tegas.

Tidak ada emosi di wajah Alden. Tapi cara dia menatap, tidak memberi ruang untuk mengalihkan.

Bahu Belvina terangkat kecil.

“Tidak banyak.”

“Apa?”

Pertanyaan singkat. Tajam.

Belvina memiringkan kepala sedikit, seolah mengingat.

“Dia tanya kenapa aku berubah.”

Ia berhenti sebentar. Lalu bibirnya melengkung sedikit.

“Aku jawab… orang bisa berubah.”

Alden diam. Tidak menyela.

“Lalu?” desaknya.

Sekarang Belvina menatap ke depan. Nada suaranya tetap ringan.

“Dia tanya apa aku tidak khawatir.”

Sorot Alden sedikit berubah. Lebih fokus.

“Jawabanmu?”

Belvina sempat terdiam sepersekian detik. Tatapannya bergeser ke depan, seolah memikirkan sesuatu. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kalau bisa diambil…” Ia berhenti sebentar. “berarti memang tidak pernah dimiliki.”

Alden tidak langsung bicara. Tatapannya tidak lepas. Seolah sedang memastikan, kalimat itu… ditujukan untuk siapa.

“Maksudmu?”

Nada suaranya tetap datar. Tapi sekarang, lebih dalam.

Belvina akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Ia tidak menghindar. Tidak juga menantang. Hanya… lurus.

“Maksud apa?”

Alden menyipitkan mata sedikit.

“Kau bicara soal siapa?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi ini bukan soal jawaban.

Ini soal, apakah Belvina akan menghindar, atau justru menekan balik.

Belvina menatapnya beberapa detik.

“Menurutmu?”

 

...✨“Ketenangan bukan kelemahan, itu batas yang tidak bisa ditembus.”✨...

.

To be continued

1
RusNa ANtox DEwi
baguss
Bakulgeblek
keren2... bakal saya lahap habis ini karya2mu...
Bakulgeblek
home sweet home...
Bakulgeblek
nha... senyum2 besoknya pasti ini pak COD koplak...
Bakulgeblek
titik terendah harga diri laki2 di depan istri, sekaligus puncak kelaki2an utk menahan dan hanya melepas kepada istri...💪💪💪
Bakulgeblek
"sudah boleh?" 🤣🤣🤣🤣
Bakulgeblek
hanjayyyy... modelan lanangan podo ae...
"boleh ya..." 🤣🤣🤣🤣
anonim
Dimas mendapatkan bukti-bukti dari kejahatan Seraphina yang di bantu pelayan klub malam dengan membayarnya.

Mesti di usut sampai tuntas, Seraphina harus menerima konsekuensinya.sm Sampai Seraphina jera tak akan mendekati Alden sekaligus tidak mengusik Belvina lagi.
anonim
Alden minta jatah sebagai suami, Belvina menolak dengan alasan sedang hamil.

Belvina terpesona dengan tubuh didepannya yang sedang dia bantu melepas baju.

Alden selesai mandi menyerahkan dokumen untuk ditandatangani Belvina.

Belvina terkejut.

Alden serius memindahkan hampir seluruh asetnya atas nama Belvina.

Belvina pasti tak menyangka dengan jawaban Alden, ketika dia bilang jika dirinya kabur membawa hampir seluruh aset milik Alden.
anonim
Harta tak ada artinya bagi Alden tanpa Belvina dan anaknya berada di sisinya.

Seluruh kekayaan Alden dipindah atas nama Belvina.

Dimas kenapa takut Belvina meninggalkan Bos-nya. Kerjakan saja perintahnya Bos.

Bagi Alden itu hanya sebuah penebusan kecil. Tidak sebanding dengan penderitaan Belvina rasakan karena dirinya.
Bakulgeblek
pertama baca, bahasanya kaku...
dibaca lagi jadi penasaran...
lanjut baca, jd jatuh cinta 😍😍😍😍
Bakulgeblek
ketika bini sdh nyaman dan mengeluarkan potrnsinya... jangan terkejut ketika itu terjadi... 🤣🤣🤣🤣
Bakulgeblek
yap... itu sangat menyedihkan... walau hanya skdr membayangkan saja itu benar2 menyakitkan...
Bakulgeblek
dan saya menjadi bagian dari orang yg sangat2 beruntung... sadar sepenting apakah orang yg mengejar kita sebelum dia lelah mengejar... dan itu sangat2 membahagiakan... 😍😍😍
anonim
Apa isi dokumen yang sudah dibuat Alden, sampai Dimas matanya membelalak.
anonim
Panggilan tersambung dengan Dimas.

Tujuan Alden menghubungi Dimas supaya Belvina tahu kejadian yang sebenarnya.

Tuh Dimas malah komplit menjawabnya ketika Alden bertanya tentang kejadian tadi.

Dimas, cari tuh orang yang sudah bikin salah paham Belvina. Usut tuntas seakar-akarnya.
anonim
Naaa begitu dong Belvina, mestinya bicara baik-baik. Tanya baik-baik. Dasar bumil emosinya yang maju terdepan lebih dulu.

Belvina menyerahkan ponselnya yang telah dibuka aplikasi pesannya pada Alden. Minta penjelasan dari Alden.

Alden melihat foto-foto dirinya bersama Seraphina, sedikit terkejut pastinya.

Dari pada ribut dengan istrinya, Alden menghubungi Dimas, ponsel dalam mode pengeras suara.
anonim
Seraphina sukses bikin Belvina salah paham terhadap Alden.

Bawaan Ibu hamil lebih dominan, emosinya tak terkontrol.

Alden yang sudah merebahkan tubuhnya di belakang Belvina, lengannya melingkar di pinggang Belvina. Reflek Belvina menepis tangan Alden.

Belvina diam ketika Alden bertanya belum tidur.

Alden memeluk lagi, Belvina kembali menepis lebih keras.

Alden belum tahu kenapa Belvina bersikap begitu.

Dipanggilnya Belvina "sayang."

Jangan panggil aku sayang.

Waduuuh
anonim
Alden meluruskan apa yang ada di pikiran Raymond dan kalangan pebisnis.

Rasa penasaran Raymond harusnya sudah terjawab dengan penjelasan Alden.

Raymond bicaranya semakin jauh. Tidak menjaga kepantasan dengan apa yang dia ucapkan. Mengurusi rumah tangga orang lain.

Dimas ikut bicara, Seraphina geram, dalam hati mengumpat.

Mereka benar telah salah paham. Seraphina saja yang tidak paham, dadanya jadi terasa sesak kan 😄.

Seraphina ini pintar tapi kesadarannya tumpul. Kenapa mesti tidak terima kalau Alden terus berada di sisi Belvina. Belum sadar juga kalau Alden sudah membangun benteng.
anonim
Seraphina duduk di sebelah Tuan Raymond.

Raymond bikin malu Seraphina. Duduknya yang tidak di sebelah Alden di bahas. Malah bicaranya jadi merembet ke masalah pribadi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!