NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 31 — Bayangan yang Menolak Padam

Bayangan raksasa itu tidak runtuh. Ia tidak lenyap seperti yang mereka harapkan. Saat cahaya Aurelia menyelimutinya, ia tidak memeluknya kembali — justru menarik diri, mundur perlahan, menyusut ke arah sudut ruangan, hingga akhirnya hanya menyisakan sosok yang berdiri sendiri, diam dan dingin.

Kai melangkah maju, melindungi Aurelia di belakangnya. "Kau sudah bebas. Pergilah. Pulanglah ke tempat damai."

Sosok itu tertawa — tawa yang tidak bergema, tidak menyebar, hanya terasa dingin di telinga masing-masing. "Damai? Kalian menyebutnya damai saat dunia terus berubah, saat yang dicintai pergi, saat yang dipercaya berkhianat? Kalian menyebutnya damai dengan terus terluka dan terus bangkit kembali?"

Ia melangkah keluar dari sisa kabut yang menyelimutinya. Wajahnya kini terlihat jelas — bukan wajah yang mengerikan, melainkan wajah yang tak memiliki wajah: permukaan halus berwarna kelabu pucat, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut, namun semua orang merasakan tatapannya menembus ke kedalaman jiwa.

"Aku adalah bayangan yang kalian tinggalkan," suaranya terdengar di kepala mereka, bukan di telinga. "Setiap kali kalian berkata 'aku sudah melupakan', aku tumbuh. Setiap kali kalian tersenyum namun hati menangis, aku menguat. Aku bukan musuh yang bisa dikalahkan. Aku adalah bagian dari kalian yang tak ingin kalian akui."

Kaelan mengepalkan tangannya erat. "Kami tidak menyangkal rasa sakit kami. Kami mengatasinya."

"Kau menutupinya," potong sosok itu tajam. "Kau menyembunyikan kesepianmu di balik kekuatanmu. Kau menyembunyikan kerinduanmu di balik keberanianmu. Dan gadis kecil ini…" Ia menunjuk Aurelia. "Ia memikul beban semua orang, agar tak ada yang terluka — lupa bahwa ia juga berhak lelah."

Aurelia melangkah maju, melewati perlindungan ayahnya. "Aku tidak lupa. Aku tahu rasanya sakit. Tapi aku juga tahu rasanya disembuhkan."

Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengundang. "Datanglah. Jangan berdiri sendirian di kegelapan."

Sosok itu terdiam. Selama ribuan tahun, tak ada yang pernah mengajaknya masuk. Tak ada yang pernah mengulurkan tangan. Semua orang selalu berusaha menghancurkannya, mengusirnya, melupakannya.

"Jika aku datang… aku tidak akan menjadi terang sepenuhnya," katanya pelan. "Aku tetap membawa bagian gelap kalian."

"Itulah yang kami butuhkan," jawab Aurelia lembut namun teguh. "Tanpa bayangan, tak ada kedalaman. Tanpa gelap, tak ada tempat untuk beristirahat."

Sosok itu ragu-ragu. Perlahan, ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat udara bergetar, seakan dunia sendiri tak percaya. Namun tepat sebelum tangannya menyentuh tangan Aurelia, sesuatu terjadi.

Bayangan di sudut ruangan bergerak sendiri — cepat, tajam, mematikan. Sosok itu tersentak mundur, dadanya tertusuk seberkas cahaya hitam yang melesat dari arah pintu masuk.

"Kau lemah," suara dingin terdengar dari kegelapan. "Kau menyerah pada kelembutan. Dan itu yang membinasakanmu."

Dari balik pilar cahaya, muncul sosok lain — mengenakan jubah kelabu yang berkilauan samar, wajahnya tertutup topeng sederhana namun penuh kekuasaan. Ia melambaikan tangan, dan sosok tanpa wajah itu tersedot mundur, ditarik paksa ke arahnya.

"Siapa kau?" bentak Kai, cahaya keemasan meledak dari tubuhnya.

Sosok bertopeng itu tertawa pelan, menarik sosok bayangan itu di belakangnya seakan tawanan. "Namaku tak penting. Ketahuilah — yang kalian hadapi selama ini hanyalah bayangan permukaan. Di atas kami ada yang lebih tinggi, lebih tua, dan tak pernah tidur."

Ia melangkah mundur menuju celah yang terbuka di udara. "Pertemuan ini hanya permulaan. Saat kalian berpikir telah menang… itulah saat sesungguhnya baru dimulai."

"Berhenti!" Kaelan melesat maju secepat kilat, namun celah itu menutup tepat di depan wajahnya. Hanya tersisa suara terakhir yang menggema:

"Jaga gadis itu. Karena ia adalah kunci yang kami cari sejak awal."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini tidak damai. Ada jejak yang tertinggal — jejak kekuatan yang tak dikenal, dingin, dan kuno.

Aurelia berdiri diam, menatap tempat sosok itu menghilang. "Mereka tidak menginginkan kekuatanku… mereka menginginkan apa yang tersembunyi di dalamnya."

Kai berlutut di samping putrinya, memegang bahunya. "Apa yang tersembunyi?"

Aurelia menggeleng pelan. "Aku belum tahu. Tapi aku merasakannya — ada sesuatu yang tertanam di dalamku sejak lahir. Sesuatu yang bahkan Ibu dan Ayah tidak ketahui."

Elowen melangkah mendekat, wajahnya pucat. "Mungkin itu sebabnya mereka tak pernah berhenti mencarimu. Bukan sekadar sebagai penyatu… tapi sebagai wadah sesuatu yang jauh lebih tua."

"Siapa yang menanamkannya?" tanya Ren, suaranya serius.

"Kita tidak akan tahu jika berdiri di sini," kata Elara sambil memasang kembali pedangnya di sarung. "Jejak itu mengarah ke tempat lain. Jika kita bergerak cepat, kita bisa menyusul."

Kai berdiri tegak, menatap teman-temannya satu per satu. Tidak ada yang tampak takut — mereka tampak siap.

"Kita tidak terburu-buru," ucapnya tegas. "Tapi kita tidak menunggu. Kita mencari tahu apa yang tersembunyi, siapa yang berada di balik bayangan, dan mengapa Aurelia dipilih." Ia menggenggam tangan putrinya erat. "Dan tidak ada yang menyentuhnya selama kita masih bernapas."

Malam itu, mereka tidak pulang ke tempat asal. Mereka berkemah di dekat gerbang yang tertutup, memeriksa jejak yang ditinggalkan sosok bertopeng itu. Lyra menemukan serpihan kain jubah yang memancarkan cahaya samar — berasal dari benang yang ditenun dari waktu itu sendiri.

"Dunia yang dituju bukan sekadar dunia lain," bisik Lyra sambil memeriksa serpihan itu. "Ini menuju Zaman Awal — masa sebelum langit dan bumi terpisah, tempat asal segala hukum yang ada."

"Apakah mungkin ke sana?" tanya Kaelan.

"Jalan itu ada," jawab suara lembut dari kegelapan. Seraphina melangkah maju, wajahnya serius. "Kaum Penempa Bara menyimpan peta kuno yang tak pernah ditunjukkan kepada siapa pun. Jalan itu berbahaya — siapa pun yang masuk bisa terubah, terhapus, atau terjebak selamanya."

"Kita pergi," ucap Kai tanpa ragu. "Bersama-sama."

Saat semua beristirahat, Aurelia duduk sendirian di tepi ruangan yang bercahaya. Ia menatap telapak tangannya — di sana, samar-samar terlihat tanda yang belum pernah ada sebelumnya: lingkaran dengan tiga titik di tengahnya, berdenyut pelan seakan bernapas. Ia tidak tahu apa artinya. Tapi ia tahu satu hal: perjalanan ini jauh lebih panjang dari yang dibayangkan siapa pun.

Dan di kejauhan, di tempat yang tak terjangkau mata, sosok bertopeng itu berdiri di hadapan takhta yang terbuat dari cahaya pudar.

"Mereka tahu," lapornya.

Suara dari atas takhta terdengar tenang, namun mengandung kekuasaan mutlak.

"Biarkan mereka tahu. Semakin jauh mereka mencari, semakin dekat mereka ke tempat yang tak boleh diketahui. Saat mereka menemukan kebenaran… mereka akan hancur sendiri."

1
Youngku Manz
thorr.. aku mampir nih dan ninggali jejak, jgn lupa mampir juga di cerita baru aku ya yang bernama "RUMAH DI UJUNG JALAN LAYANG" aku tunggu loh kedatangmu di novelku dan jejakmu juga😊😍😍🤗
Yanto Hulu: 🙏 ok thor
total 1 replies
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!