"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Elang disini, bukan anaknya Ojan dan Nisa ya.
Serangkaian acara resepsi telah selesai, namun bukan berarti, semuanya sudah bubar. Deburan ombak yang terasa lebih tenang daripada siang, dan tiupan angin yang lebih dingin, membuat beberapa orang justru masih betah disana. Belum lagi dengan langit bertabur bintang, juga cahaya bulan yang memantul indah di air laut. Begitu syahdu, begitu menenangkan, terkhusus untuk para penghuni ibu kota yang terbiasa dengan kebisingan, kemacetan, dan polusi udara.
Dari kejauhan, Elang menatap Ilona yang berada di bibir pantai bersama Arya. Gadis disabilitas itu duduk di kursi roda, didorong pelan oleh sang kekasih. Entah kenapa, setelah kejadian minuman tumpah tadi, Ilona mendadak menjelma menjadi magnet yang menarik perhatiannya. Bukan cinta, tapi entahlah, seperti ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuat ia sedih saat menatapnya. Ia menoleh saat seseorang menepuk bajunya.
"Anak-anak bakar daging, gak pengen lo?" Kenan menghampirinya, di tangannya ada segelas minuman.
Kenan dan Elang berteman sejak keduanya sama-sama menempuh pendidikan S1 di Jerman. Kenan sudah kembali ke tanah Air 4 tahun yang lalu, memulai usaha cafe sekaligus menjadi konten kreator. Sementara Elang, ia baru kembali 2 tahun lalu, selain karena suatu alasan, juga karena ia masih betah di Jerman untuk lanjut program S2. Dan sekarang begitu kembali ke tanah air, bekerja di perusahaan keluarga.
"Eh, lo tadi ngapain nyamperin Kak Ilona?" tanya Kenan. "Pakai ngasih jas segala."
Elang menunduk, menatap pakaiannya. Pantas saja dinginnya angin laut seperti menembus tulang. Ternyata ia hanya mengenakan kemeja lengan panjang yang tipis.
"Bajunya ketumpahan minuman gue. Gara-gara si Ilham." Menoleh ke arah Ilham yang asyik BBQ dengan yang lainnya. "Eh, siapa tadi namanya?"
"Ilona. Dia kakak kandung Eliana, yang maknanya, sekarang dia kakak ipar gue."
"Oh... pantesan kayak ada mirip-mirip dikit sama bini lo."
"Sama-sama cantik, iya gak?" Kenan menyenggol bahu Elang. "Tapi sayang, Ilona tak seberuntung Eliana. Kasihan dia." Menatap nanar ke arah Ilona, sembari menyesap minumannya.
"Apa dia disabilitas sejak kecil? Sejak lahir maksud gue?"
Kenan menggeleng. "Kakinya diamputasi setelah mengalami kecelakaan 8 tahun silam."
"Kecelakaan?" Kening Elang mengernyit.
"Iya. Tabrak lari."
Deg
Elang seketika terperangah, jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat. Ia seperti mengalami serangan kecemasan saat mendengar kata tabrak lari.
"Hari itu, menjadi hari terburuk di sepanjang sejarah kehidupan Ilona. Dini hari, saat hendak mengantarkan ponsel ibunya yang ketinggalan di rumah, ia ditabrak sebuah mobil. Salah satu kakinya remuk, dan terpaksa harus diamputasi sebatas lutut."
Elang mengusap keningnya yang tiba-tiba berkeringat dingin. Kejadiannya sama dengannya, 8 tahun silam, tapi tidak mungkin itu Ilona. Tidak! "A, apa dia tahu siapa yang menabraknya?" nafasnya mulai tercekat.
Kenan terkekeh mendengar pertanyaan konyol Elang. "Gue bilang tadi apa, tabrak lari. Artinya penabrak itu pergi begitu saja, tidak bertanggung jawab."
"A, apa tidak lapor polisi?"
"Polisi?" Kenan tersenyum getir. "Eliana bilang sudah lapor, tapi lo tahu sendirikan, gak semua hal bisa teratasi dengan cara lapor polisi. Kejadiannya dini hari."
Tubuh Elang mengalami tremor mendengar kata dini hari. Wajahnya memucat. Sekilas bayangan masa lalu berputar di otaknya.
"Enggak, bukan gue." Ia berusaha untuk meyakinkan diri sendiri.
"CCTV di lokasi kejadian rusak. Bisa gitu ya, tiba-tiba rusak." Kenan tersenyum simpul. "Kayak yang...ah sudahlah. Awalnya ada saksi yang bilang jika penabraknya sebuah mobil sport warna merah, tapi beberapa hari kemudian, tiba-tiba keterangannya berubah, dia bilang warnanya tidak jelas, gelap. Kasus itu menguap begitu saja, tanpa ada tersangka yang ditangkap." Ia terkekeh geli. "Kalau memang benar penabraknya menggunakan mobil sport merah, sudah bisa dipastikan pelakunya orang kaya. Dan lo tahu sendirikan, apa yang tidak bisa dilakukan dengan uang. Membeli hukum? Jelas sangat bisa. Lokasinya di Jl. Ampera, dekat pasar lama yang sudah direlokasi. Disana memang gelap sih, penerangannya kurang."
Elang terus mengusap keringat dingin yang sekarang memenuhi sekujur tubuhnya. Nafasnya sesak, tenggorokannya tercekat. Jantungnya berdetak sangat cepat seperti dini hari itu. Semuanya sama, mulai dari lokasi, waktu kejadian, dan mobil yang menabrak Ilona.
Delapan tahun ia lari, mencoba mengubur dalam-dalam peristiwa mencekam dini hari itu. Berusaha meyakinkan diri, mungkin orang yang ia tabrak hari itu baik-baik saja. Mungkin korbannya tidak terluka parah, hanya lecet-lecet.
Namun ternyata tidak seperti itu. Korban itu sekarang punya nama, dia Ilona. Tidak baik-baik saja, salah satu kakinya diamputasi. Bukan hanya soal kaki, tapi masa depan, serta kebahagiaan gadis itu terenggut karena satu detik kelalaiannya.
Tubuhnya Elang membeku, matanya sayu menatap Ilona dikejauhan. Setelah 8 tahun, semesta mempertemukannya dengan korban yang ia tabrak dan tinggalkan begitu saja. Korban yang ternyata tidak baik-baik saja.
"Lo kenapa?" Saat menoleh, Kenan heran dengan wajah Elang yang tiba-tiba pucat pasi. "Sakit lo?"
Elang mengangkat tangan saat Kenan hendak menyentuh bahunya.
"Lang, lo kenapa?" Kenan panik.
"Gak, gua gak papa. Gue, gue sepertinya harus kembali ke hotel," ujar Elang dengan suara tercekat.