Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Masih Pera-wan?
"Tuan, ini kamarnya. Nomor 404," ucap Marco sambil menunduk hormat, tangannya memegang kunci kartu elektrik yang baru saja ia terima dari resepsionis.
Dominic berdiri di depan pintu dengan wajah datar dan rahangnya mengeras. "Kau yakin ini cara yang benar, Marco? Membeli wanita dari keluarga tidak jelas itu?"
Marco mengangkat bahu tipis. "Anda butuh pelampiasan, Tuan. Dan jujur saja, setelah mendengar nona Clara berteriak tadi, saya rasa anda butuh sesuatu yang jauh lebih tenang daripada seorang model yang terlalu banyak bicara."
"Wanita tetaplah wanita, Marco. Mereka semua sama. Hanya menginginkan uang dan kuasa," desis Dominic dingin. Ia menyambar kartu itu dari tangan Marco. "Tunggu di sini. Jangan biarkan siapa pun mengganggu, termasuk istriku jika dia menelepon."
"Dimengerti, Tuan. Selamat menikmati malam anda."
Pintu pun terbuka. Dominic melangkah masuk ke dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu remang-remang di sudut ruangan.
Awalnya, ia berniat untuk sekadar duduk, merokok, dan membiarkan wanita di dalam sana meringkuk di pojokan. Karena ia tidak tertarik pada pemuasan nafsu sesaat.
Namun, suara rintihan kecil dari atas tempat tidur menghentikan langkahnya.
"Panas... tolong aku.. siapapun... ini sangat panas..."
Dominic mendekat. Di sana, di atas seprai putih yang kini berantakan, seorang gadis meringkuk dengan tubuh gemetar hebat.
Rambut panjangnya menutupi wajah, namun kulit bahunya yang terekspos tampak memerah, seolah-olah ada api yang membakar dari dalam.
"Ada apa denganmu?" tanya Dominic.
Gadis itu mendongak. Matanya berubah sayu dan berkaca-kaca karena pengaruh obat yang dipaksakan ibu tirinya.
Saat melihat sosok pria tinggi tegap di hadapannya, Keyla tidak lari. Alih-alih takut, ia justru merangkak mendekat, tangannya yang mungil meraih ujung kemeja mahal Dominic.
"Tolong... bantu aku... aku tidak tahan..." rintih Keyla dengan serak dan penuh penderitaan sekaligus gai-rah yang tak terkendali.
Dominic menatapnya dengan pandangan menghina. "Jadi ini caramu merayu pelanggan? Dengan akting kepanasan, hum?"
"Bukan... hiks... mereka memberiku sesuatu... tolong, kepalaku mau pecah..."
Tanpa aba-aba, tangan Keyla yang gemetar mulai menarik ritsleting gaun merahnya. Dengan gerakan kasar dan putus asa, ia melepaskan kain tipis itu hingga jatuh ke lantai, menyisakan tubuh polosnya.
Keyla tidak peduli dengan rasa malu, ia hanya ingin rasa terbakar di kulitnya hilang.
Dominic menelan ludah. Matanya yang biasanya sedingin es tiba-tiba menangkap sesuatu yang berbeda. Ia menatap mata Keyla, mata yang jernih meski sedang dikaburkan obat, mata yang memancarkan kesedihan mendalam sekaligus kepolosan yang belum pernah ia temui.
Sesuatu di dalam dada Dominic meledak. Itu bukan sekadar nafsu, tapi dorongan posesif yang liar.
Pikirannya melayang pada Clara, wanita yang selalu menolaknya, yang egois, yang dingin. Dan sekarang, di depannya, ada seorang gadis yang memohon bantuannya dengan cara yang paling primitif.
"Kau tidak tahu apa yang kau minta, Gadis Kecil," desis Dominic. Ia mencengkeram rahang Keyla, memaksanya menatapnya.
"Lakukan... apa saja... asalkan rasa panas ini hilang..." Keyla berbisik lirih, air matanya jatuh mengenai ibu jari Dominic.
"Aku harus melayani mu... supaya keluargaku selamat... kumohon..."
Mendengar kata melayani dan keluarga, amarah Dominic memuncak. Ia benci bagaimana dunia ini bekerja, dan ia benci bagaimana ia tiba-tiba merasa begitu menginginkan gadis ini.
Dengan satu sentakan kasar, Dominic mendorong Keyla kembali ke tempat tidur dan menindihnya.
Pria itu membungkam bibir Keyla dengan ciuman yang brutal. Ia me-lumatnya, menyesap setiap sisa rasa alkohol dan keputusasaan di sana.
Keyla menjerit dalam ciuman itu, tangannya mencengkeram bahu kokoh Dominic, mencoba mencari pegangan di tengah badai yang menghantamnya.
Saat Dominic memasukinya dengan sekali sen-takan kuat, sebuah jeritan kesakitan yang menyayat hati memenuhi ruangan.
"Aakh! Sakit... berhenti... tolong sakit sekali..." Keyla terisak, tubuhnya menegang kaku. Darah segar merembes di atas seprai putih itu.
Dominic membeku. Napasnya memburu di ceruk leher Keyla. "Kau masih pera-wan?"
Selama hidupnya, Dominic tidak pernah menyentuh wanita lain kecuali istrinya. Dan ia tahu persis bahwa Clara tidak pernah memberikan hadiah pertama spesial seperti ini padanya.
Gadis ini adalah yang kedua, namun dia adalah yang pertama yang benar-benar memberikan mahkotanya tanpa syarat, meski di bawah paksaan.
"Hiks... sakit... tapi jangan berhenti..." Keyla meracau, pengaruh obat itu membuatnya kehilangan akal sehat. "Lanjutkan..."
Dominic tidak bisa menahan diri lagi. Rasa sempit yang menjepit miliknya seolah-olah mengunci jiwanya.
Ia bergerak dengan ritme yang semakin cepat, melampiaskan seluruh kekesalannya pada Clara, pada ibunya, dan pada dunia lewat tubuh kecil Keyla.
Setiap erangan Keyla menjadi candu baru baginya.
Ia merasa haus, sangat haus, dan hanya gadis di bawahnya ini yang bisa memuaskannya.
*
*
Sementara itu, di luar pintu, Marco bersandar di dinding sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba, benda itu bergetar hebat.
Dan nama Clara muncul di layar.
Marco menghela napas panjang, lalu menggeser tombol hijau.
"Ya, Nona Clara?" ucap Marco dengan nada yang dibuat-buat sopan.
"Marco! Di mana Dominic?! Kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Berikan ponselnya padanya sekarang!" teriak Clara bahkan tanpa perlu fitur loudspeaker.
Marco menjauhkan ponsel itu sedikit dari telinganya, lalu meringis. "Aduh, Nona. Tuan Dominic sedang... ah, dia sedang ada rapat dadakan. Sangat mendadak. Dan tidak bisa diganggu."
"Rapat apa jam begini?! Aku tahu dia marah soal tadi, tapi jangan kekanak-kanakan! Suruh dia pulang sekarang!"
"Wah, saya rasa rapat kali ini butuh waktu semalam suntuk, Nona. Maklum, banyak masalah teknis yang harus diselesaikan secara manual," jawab Marco sambil menahan tawa.
Ia membayangkan wajah Clara yang mungkin sedang memakai masker wajah seharga puluhan juta namun hatinya terbakar cemburu.
"Kau bicara apa, Marco? Kau pikir aku bodoh?! Katakan di mana kalian!"
"Kami di... aduh, sinyalnya jelek sekali, Nona. Kresek... kresek... Sepertinya saya masuk ke area tanpa jangkauan. Sampai jumpa besok pagi!"
Klik!
Marco mematikan sambungan itu dan langsung memblokir nomor Clara untuk sementara. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, mendengar sayup-sayup suara rintihan dari balik pintu 404.
"Kasihan sekali nona model itu," gumam Marco sambil menggeleng-geleng. "Disentuh suaminya saja tidak mau, sekarang suaminya sedang mencicipi hidangan penutup yang jauh lebih manis. Memang benar kata orang, jangan sombong kalau punya barang berharga, nanti dipinjam orang lain tanpa izin."