NovelToon NovelToon
Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: jingrd24

"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.

Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!

Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Perjamuan yang Membuat Naik Pitam

Hari ini niat Kate sangat simpel: mengundang beberapa nona bangsawan seusianya untuk duduk dan minum teh bersama. Mereka adalah dua dari sekian banyak bangsawan yang seusia dengan Kate dan lolos sertifikasi menjadi temannya. Niat hari ini, Kate hanya ingin bernapas dan berharap dua orang itu ada di pihaknya tentang betapa tidak cocoknya dia jika menikah dengan Jenderal Ardan kelak.

"Selamat siang, Putri Kate. Lama tidak berjumpa," sapa seorang bangsawan perempuan dengan gaun berwarna biru cerah.

"Ya, sudah lama kita tidak bertemu. Senang bertemu denganmu juga, Vivi," kata Kate membalas sapaan gadis berambut cokelat panjang itu.

Sementara di belakang Vivi, ada sosok gadis cantik lainnya yang mendominasi penampilannya dengan gaun dan aksesori merah muda. Panggil saja dia Putri Rebecca.

"Tumben sekali Anda mengajak kami berdua kumpul kembali setelah sekian lama," katanya sambil duduk di kursi yang memutari meja teh Kate.

Kate menghela napas pelan. "Aku hanya ingin bercerita tentang keluh kesah hidupku akhir-akhir ini," bukanya dengan nada suara dramatis yang biasa.

Rebecca yang tertarik langsung mencondongkan tubuh. "Bercerita? Tumben sekali. Biasanya Putri Raventhal hanya menatap dari balkon kamarnya sendirian," katanya.

"Masalahnya, ini sangat penting, Rebecca," balas Kate sambil menatap Rebecca serius.

Vivi menaikkan sebelah alisnya. "Sangat penting apanya? Rhea kembali berbicara kepada kodok karena hewan itu tidak mau membalas sapaannya?"

"Bukan!" Kate mendengkus kesal. Memang sih dia sering bercerita tentang perilaku Rhea yang sering di luar nalar. Namun hari ini dia tidak ingin bercerita tentang itu. "Aku berbicara tentang nasibku!"

"Nasib apa? Kau putri bangsawan tertinggi, apa yang perlu dikhawatirkan dengan nasibmu di masa depan?" tanya Rebecca yang belum paham arah pembicaraan.

"Aku tahu aku tidak perlu khawatir soal derajat atau kekuasaan. Tetapi... tapi..." Kate menggigit bibirnya, takut digoda habis-habisan.

"Tapi kau tidak suka dengan calon suamimu, ya?" potong Vivi sambil menahan tawa.

Kate langsung melebarkan matanya, mengangguk cepat. "Nah, betul! Kalian kalau di posisiku juga pasti marah, kan? Tiba-tiba dijadikan hadiah perang seperti trofi! Dia pikir aku ini lotre? Dan tidak mungkin aku menikah dengan jenderal batu yang cuma diam kalau aku marah-marah!"

"Sejujurnya, Putri... aku tidak akan marah kalau ada di posisimu," celetuk Vivi tiba-tiba sambil memainkan kipasnya. Matanya menatap Kate dengan jujur.

Mendengar balasan itu, Kate terbelalak. "Ha? Tidak marah? Kau dijadikan hadiah kemenangan perang, loh!"

Rebecca mendekat. "Tapi itu setimpal, malah lebih dari cukup! Siapa yang tidak mau menjadi istri jenderal besar yang membawa kehormatan usai mengakhiri perang seratus tahun itu selain kamu?"

Kate terdiam, syok. "Apa?"

Vivi yang duduk di sebelahnya mengangguk setuju. "Benar juga, Putri. Lagipula Jenderal itu sangat tampan. Dia gagah, tinggi, dan berotot. Selain bisa memenangkan perang, dia pasti ahli melindungi. Dia idaman semua perempuan di kerajaan ini!"

Kate merasa seolah-olah kursi yang ia duduki baru saja berubah menjadi bongkahan es yang membekukan seluruh sarafnya. Ia menatap Vivi dan Rebecca secara bergantian, mencari tanda-tanda bahwa mereka sedang melontarkan lelucon sarkas. Namun, tidak ada. Wajah kedua temannya itu justru memancarkan binar pemujaan yang biasanya hanya muncul saat membicarakan gaun sutra edisi terbatas dari negeri seberang.

"Setimpal?" Kate mengulangi kata itu dengan suara yang naik satu oktaf. "Kalian bilang menjadi tawanan domestik dari seorang pria yang wajahnya lebih kaku dari batu nisan itu hal yang setimpal?! Kalian sudah gila!"

Rebecca justru mendesah panjang, menyandarkan dagunya di atas punggung tangan dengan tatapan menerawang. "Kalau gila berarti ingin memiliki suami yang bisa mengangkat kuda dengan satu tangan, maka aku rela masuk tempat penanganan jiwa sekarang juga, Kate. Kau tahu tidak? Saat parade kemenangan kemarin, Jenderal Ardan lewat di depan balkonku. Dia memang tidak menoleh, tapi aura ketegasannya itu... Ugh! Rasanya jantungku baru saja diremas sarung tangan besi. Begitu maskulin!"

"Itu bukan maskulin, Rebecca! Itu namanya kurang sopan santun karena tidak menyapa!" sergah Kate dengan wajah memerah padam. "Dan kau, Vivi! Kau bilang dia ahli melindungi? Dia itu jenderal! Hobinya menebas orang! Bagaimana kalau saat aku sedang marah, dia lupa kalau aku istrinya dan malah memperlakukanku seperti komandan musuh?"

Vivi tertawa kecil, suara denting kipasnya terdengar sangat menyebalkan di telinga Kate. "Justru itu menariknya, Putri. Bayangkan, kau sedang mengomel panjang lebar, lalu dia menatapmu dengan mata tajamnya itu, dan tiba-tiba menarikmu ke dalam pelukannya untuk membungkam mulutmu. Bukankah itu sangat romantis? Seperti di novel-novel terlarang yang sering kita baca diam-diam!"

Kate ternganga. Ia merasa dunianya benar-benar terbalik. Niat hati ingin mencari sekutu untuk menyusun petisi pembatalan pernikahan, ia justru terjebak di tengah perkumpulan penggemar garis keras calon suaminya sendiri.

"Kalian benar-benar tidak membantu!" Kate menggebrak meja, membuat cangkir teh porselennya bergetar. "Aku ini sedang menderita! Aku tidak butuh pria berotot, aku butuh ketenangan! Aku butuh seseorang yang bisa diajak diskusi tentang filosofi seni, bukan seseorang yang kalau ditanya pendapat tentang gaun hanya menjawab 'Siap' atau 'Bagus'!"

"Tapi dia kaya raya, Kate," sahut Rebecca santai sembari mencicipi makaron. "Kabarnya, harta rampasan perang dan hadiah dari Raja untuknya cukup untuk membeli satu kota kecil di perbatasan. Kau bisa membeli semua galeri seni di kerajaan ini dan menyuruhnya berdiri sebagai patung pajangan jika kau mau. Dengan badan seperti itu, dia akan jadi karya seni paling indah di rumahmu."

Kate memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut. Ia merasa kalah mental. Ia merasa seperti satu-satunya orang waras di ruangan yang penuh dengan penganut sekte "Pemuja Otot Jenderal".

"Aku menyerah," gumam Kate, menyandarkan punggungnya lemas. "Kalian berdua sama saja dengan Ayah dan Raja. Tidak ada yang peduli dengan kesehatan mentalku yang terancam karena harus menghadapi tembok giok itu setiap hari."

Vivi mencondongkan tubuhnya, menatap Kate dengan raut yang sedikit lebih serius namun tetap menyebalkan. "Dengar, Kate. Kami bicara begini karena kami iri padamu. Jika besok Jenderal Ardan mengumumkan bahwa dia salah memilih hadiah dan ingin menukar Putri Raventhal dengan putri mana pun, aku akan jadi orang pertama yang berdiri di depan baraknya memakai gaun pengantin. Jadi, berhentilah menggerutu seolah-olah kau dikirim ke tiang gantungan. Kau dikirim ke surga dunia, Bodoh!"

"Surga dunia yang beraroma keringat dan besi pedang," sindir Kate ketus.

Tepat saat suasana makin memanas karena perdebatan estetika versus fungsionalitas sang Jenderal, sebuah bayangan muncul dari balik pilar taman. Rhea berjalan mendekat dengan langkah tenangnya yang khas, membawa nampan berisi teko teh tambahan.

Rhea menaruh teko itu dengan presisi, lalu tanpa diminta mulai berbicara. "Sepertinya perjamuan teh ini lebih mirip rapat evaluasi kualitas fisik Jenderal Ardan daripada sekadar minum teh biasa."

Kate menoleh tajam pada dayangnya. "Rhea! Jangan ikut campur! Dan jangan bilang kau juga setuju dengan pendapat mereka yang tidak masuk akal ini!"

Rhea merapikan taplak meja yang sedikit bergeser karena gebrakan Kate tadi. "Saya tidak setuju atau tidak setuju, Nona. Saya hanya baru saja menerima kabar dari penjaga gerbang depan."

"Kabar apa?" tanya Kate waswas.

"Jenderal Ardan baru saja mengirimkan kiriman 'kecil' sebagai permintaan maaf karena pertemuan sore nanti mungkin akan sedikit terlambat. Beliau sedang menyelesaikan urusan di barak," jelas Rhea.

"Kiriman kecil?" Kate menaikkan sebelah alisnya. "Paling-paling hanya seikat bunga liar yang dia cabut di pinggir jalan."

Rhea memberi isyarat ke arah pelayan lain yang baru masuk ke area taman. Empat orang pria kuat tampak kewalahan menggotong sebuah peti kayu besar yang diukir indah. Begitu peti itu dibuka di depan mereka, Vivi dan Rebecca hampir terjatuh dari kursi karena terkejut.

Isinya bukan bunga. Isinya adalah satu set lengkap perhiasan zamrud langka yang warnanya sangat selaras dengan mata Kate, ditambah gulungan kain sutra dari wilayah Timur yang harganya setara dengan satu buah kapal pesiar mewah. Di atas tumpukan harta itu, terselip sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang tegas dan rapi:

"Untuk Putri yang selalu merasa tidak dihargai. Semoga ini bisa menjadi teman minum tehmu sementara aku menyelesaikan urusan. — S.A."

Vivi dan Rebecca langsung memekik histeris, sementara Kate hanya bisa terdiam membeku dengan wajah yang lebih merah dari aksesori Rebecca.

"Nah," celetuk Rhea polos sambil menuangkan teh. "Sepertinya 'batu giok' itu tidak hanya punya otot, tapi juga tahu cara menyuap perasaan calon istrinya. Bagaimana, Nona? Masih mau menderita atau mau saya bantu mencoba kalung zamrud ini?"

Kate menatap perhiasan itu, lalu menatap teman-temannya yang sudah sibuk menyentuh kain sutra mahal itu dengan wajah iri. Ia merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.

"Rhea..." desis Kate pelan.

"Ya, Nona?"

"Kenapa dia harus melakukan ini di depan mereka? Sekarang mereka akan makin menganggapku orang paling beruntung di dunia!"

Rhea hanya mengangkat bahu. "Mungkin karena beliau tahu kalau Anda butuh penonton saat sedang dimanjakan, Nona. Agar drama 'wanita yang dipaksa menikah' milik Anda terasa lebih dramatis."

"RHEAAAAA!!!"

Vivi dan Rebecca hanya tertawa, mengabaikan teriakan Kate sambil terus mengagumi kemurahan hati sang Jenderal. Sementara Kate, di tengah tumpukan hadiah mewah itu, merasa hatinya sedikit goyah—meski ia bersumpah akan tetap menjaga gengsinya setinggi langit. Ia menyadari satu hal pahit: Jenderal Ardan tidak hanya memenangkan perang seratus tahun, tapi dia juga sedang memenangkan opini publik untuk menyudutkan Kate dalam kebahagiaan yang tidak diinginkannya.

1
Iluvmacha
ga sabar Kate notice Sonia🤭
jinggaarundari: waduh bener lagi, tungguin bab selanjutnya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
btw, semangat kaka authorr💪💪 lanjut terus
jinggaarundari: 😍😍makasi banyak kaa, makin semangat disemangati kakakk
total 1 replies
otter_orange
Menunggu reaksi Kate kalau suaminya deket sama wanita lain🤣
jinggaarundari: sipp, tunggu update bab nya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
apaan sii, dia yg nunggu dia jg yg gengsi😭😭
jinggaarundari: emang kadang kidding🫣
total 1 replies
otter_orange
Akhirnya yg ditunggu-tunggu Kate kena karma kan, dibilang suaminya perfect gitu😭
La Vanya
waduhh, siapa tuh Sonia🤔
jinggaarundari: siapa ya🤔🤔, tunggu bab selanjutnya besok kaa😍😍
total 1 replies
La Vanya
katanya pemandangan merusak, tp kok ditungguin🤭
jinggaarundari: kalo ga gengsi bukan Kate namany🤭
total 1 replies
La Vanya
RHEA APRESIASI SETINGGI-TINGGINYA BUAT KMU WKWKWK😭😭😭
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jinggaarundari: hahaha, bener banget ka, emang orang kaya Kate butuh dayang kaya Rhea 😭😭
total 1 replies
Mommy Inci
plis Thor lngsung kebagian menyerah and falling in love ke jendral biar ga monoton...
jinggaarundari: siap kaa, pas banget besok bab 23 memang udh masuk Kate Denial suka suaminya, makasi kaa supportnya 😍😍
total 1 replies
lynn.flow
udah mampir nihh, ternyata seru juga, ga expect kalau si putri seberani itu😭😭
Vy
Seru ceritanya thorr😍
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗
jinggaarundari
baik kaa, cuma agak tsundere aja🫣
Putry Chan
nih prmepuan keras lumayan sulit sih di bikin Lulu semoga nanti bisa ya
Putry Chan
hmmm tapi jasa juga ke kejuaraan lumayan besar
Putry Chan
owh jadi nih putri trlalu tinggi derajatnya dan sulit di atur
Putry Chan
owh hadiahnya trlalu besar nya mknya sulit dia kan seorang putri
Putry Chan
beh 100 tahun coy
Putry Chan
apakah dia orang baik
La Vanya
kaa lanjuttt💪💪
otter_orange
SERU BANGET ANJIRRR!! 😭😭 Kakinya Kate ga bisa diem banget pas nyusun rencana kabur tapi malah bikin makin nempel aama suaminya wkwkw! Salvatore ganteng banget tapi lempengnya minta ampun 😭 Pokoknya wajib baca guyss, ceritanya seger, komedinya banyak, cocok buat dibac selepas kerja atau sekolah yang penat. Lanjut part 22 thorr fast update!!!💙💙💙
jinggaarundari: waa, senang kalau kakak sukaa. makasi suportnya kaa😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!