NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:807.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32 - Batas untuk Anak Sendiri

Melati tidak pulang setelah keluar dari rumah Ratna.

Ia pergi ke rumah Dimas.

Yuni sedang menjemur pakaian di halaman ketika Melati datang dengan mata merah. Dari cara adik iparnya memegang tas, Yuni sudah tahu ini bukan kunjungan biasa.

"Mas Dimas ada?" tanya Melati.

"Ada. Baru pulang."

Melati masuk ke ruang tengah. Ia bahkan lupa melepas sandal sampai Yuni menegurnya pelan. Dimas sedang makan, piring masih di tangan. Melihat wajah adiknya, ia langsung menaruh piring itu.

"Ada apa?"

"Ibu keterlaluan."

Kalimat itu membuat Yuni berhenti di ambang pintu.

Melati duduk, lalu bercerita. Namun ceritanya tidak utuh. Ia melewati bagian buah, melewati bagian dirinya menyebut Pak Arman, melewati bagian ia menghitung rumah ibunya. Yang keluar hanya bahwa ia meminta bantuan untuk pindah, dan Ratna menolaknya seperti menolak orang asing.

Dimas mendengar dengan wajah makin berat.

"Bantuan pindah itu maksudnya berapa?"

Melati terdiam.

Yuni menjawab dalam hati sebelum Melati membuka mulut. Jika Melati sampai menangis seperti itu, jumlahnya pasti bukan kecil.

"Uang muka apartemen," kata Melati akhirnya. "Atau rumah kecil. Tidak mewah."

Dimas mengusap wajah.

"Mel, itu bukan bantuan kecil."

"Aku tidak minta ke Mas. Aku minta ke Ibu."

"Dan Ibu punya uang dari mana?"

Melati mengangkat dagu. "Ibu dekat dengan Pak Arman. Jangan pura-pura tidak tahu."

Di ruang tengah itu ada kipas angin yang berputar pelan, ada bau ikan goreng dari dapur, ada suara anak tetangga bermain sepeda di luar. Semua hal biasa itu membuat kalimat Melati terdengar semakin tajam.

Dimas menatap adiknya lebih lama.

"Jadi yang kamu lihat bukan Ibu. Yang kamu lihat dompet di belakang Ibu."

Melati berdiri. "Mas juga sama saja."

"Sama seperti siapa?"

"Sama seperti Ibu. Sekarang semua orang merasa aku serakah."

Dimas tidak langsung menjawab. Ia melihat Yuni yang berdiri diam. Istrinya itu sering mendapat tekanan dari keluarganya sendiri. Kadang ibunya meminta uang, kadang adiknya datang meminjam motor, kadang saudara jauh membawa alasan sakit. Dimas dulu sering menganggap semua itu urusan Yuni.

Sekarang, melihat Melati, ia tiba-tiba sadar betapa mudah orang memakai kata keluarga untuk membuka dompet perempuan.

"Aku juga pernah salah," kata Dimas pelan.

Melati menatapnya.

"Waktu Ayah ketahuan membeli rumah untuk Sari, yang pertama kupikirkan bukan Ibu sakit atau tidak. Yang kupikirkan harta bersama. Aku malu setelah itu."

Melati tidak menyangka kakaknya akan bicara begitu. Kemarahannya kehilangan pijakan sebentar.

"Tapi kamu belum malu," lanjut Dimas. "Kamu masih membela permintaanmu dengan nama Rizal, nama mertua, nama masa depan."

"Aku anak Ibu."

"Iya. Tapi Ibu bukan ATM."

Ucapan itu membuat wajah Melati memucat.

Yuni akhirnya duduk di sebelah suaminya. Suaranya lembut, tetapi jelas.

"Mel, semua orang punya tekanan. Aku juga. Keluargaku juga sering meminta. Tapi kalau setiap tekanan kita pindahkan ke orang yang sudah lelah, kita sama saja dengan orang yang menekan kita."

"Mbak mudah bicara," kata Melati. "Mbak tinggal di rumah sendiri."

Dimas menoleh tajam. "Rumah ini masih cicilan."

Yuni tersenyum pahit. Ia tidak marah. Justru itu yang membuat Melati tampak semakin tidak nyaman.

"Aku tidak bilang hidupku paling berat," kata Yuni. "Aku cuma bilang, jangan jadikan Ibu jalan pintas."

Ponsel Melati berbunyi. Nama Rizal muncul. Ia menolak panggilan itu.

Dimas melihat.

"Rizal tahu kamu datang ke Ibu?"

Melati tidak menjawab.

"Dia menyuruh?"

"Dia menyarankan."

"Bedanya besar."

Melati menggenggam tasnya. Matanya kembali basah, tetapi kali ini air mata itu tidak membuat Dimas mundur.

"Kalau aku tidak punya siapa-siapa, untuk apa aku punya ibu?"

Kalimat itu menggantung di ruang tengah.

Dimas menunduk. Ia tahu kalimat itu bisa membuat seorang ibu langsung menyerah. Ia pernah memakai versi lain saat kecil, saat ingin sepeda, saat ingin uang sekolah, saat ingin Ratna datang ke rapat wali murid meski ibunya baru pulang jaga pasien.

"Kamu punya Ibu," kata Dimas. "Tapi Ibu juga punya dirinya sendiri."

Melati tertawa kecil, getir.

"Mas sekarang pandai bicara."

"Harusnya dari dulu."

Melati mengambil tasnya dan berjalan keluar. Di teras, ia berhenti sebentar. Suaranya tidak lagi menangis, tetapi dingin.

"Nanti kalau Ibu menikah dengan Pak Arman dan semua harta jatuh ke orang luar, jangan salahkan aku kalau aku yang pertama menuntut."

Yuni menutup mata.

Dimas berdiri, tetapi Melati sudah pergi.

Setelah motor ojek online membawanya hilang dari ujung jalan, Dimas mengambil ponsel dan menelepon Ratna. Ia tidak tahu harus melapor atau meminta maaf. Begitu suara ibunya terdengar, kata yang keluar justru sederhana.

"Bu, maaf."

Di seberang, Ratna diam sebentar. "Untuk apa?"

"Untuk waktu Ayah ketahuan membeli rumah untuk Sari. Aku lebih dulu menghitung daripada memikirkan Ibu."

Napas Ratna terdengar pelan.

"Kamu sudah sadar. Itu cukup untuk hari ini."

Telepon berakhir tidak lama kemudian.

Malamnya, Melati menulis di grup keluarga.

Melati: Ternyata setelah tua dan punya orang kaya, seorang ibu bisa lupa anak sendiri.

Tidak ada yang membalas.

Ratna membaca pesan itu di rumahnya. Jarinya sempat berhenti di atas layar. Dulu ia pasti menjelaskan. Menulis panjang. Takut disalahpahami anak sendiri.

Malam itu ia mengunci ponsel.

Untuk pertama kalinya, ia membiarkan Melati mendengar ucapannya sendiri tanpa ditenangkan.

Namun diam tidak membuat malam itu mudah.

Ratna duduk lama di tepi tempat tidur. Di luar jendela, suara motor sesekali lewat, lalu hilang. Rumah barunya belum punya banyak barang, tetapi sudah mulai punya bunyi sendiri. Kipas angin, tetes air dari keran dapur, dan ponsel yang sesekali bergetar karena grup keluarga masih hidup.

Ia tidak membuka grup itu lagi.

Beberapa menit kemudian, Raka menelepon.

"Bu, aku lihat pesan Melati."

"Jangan dibalas."

"Aku belum membalas."

"Bagus."

Raka diam sebentar. "Aku mau datang."

"Besok saja."

"Ibu makan?"

Ratna melihat meja makan. Buah dari Melati masih ada. Nasi belum disentuh.

Ia hampir berbohong, lalu berhenti. Anak-anaknya terlalu lama melihat ia kuat. Tidak semua kebohongan perlu diteruskan.

"Belum."

"Makan dulu. Aku tunggu foto piring."

Ratna hampir tertawa.

Anak laki-lakinya yang dulu susah disuruh mandi sekarang memaksa ibunya mengirim bukti makan. Ia mengambil nasi sedikit, telur dadar sisa pagi, dan sambal, lalu memotret piringnya.

Raka membalas dengan stiker jempol.

Ratna menatap stiker itu lama.

Tidak semua anak datang dengan permintaan.

Sebagian hanya ingin memastikan ibunya tidak tidur dalam keadaan lapar.

Malam itu Ratna menghabiskan nasinya pelan-pelan.

Bukan karena lapar.

Karena untuk pertama kalinya, ada anak yang memintanya hidup tanpa meminta imbalan apa pun.

1
Meysha Azzaliyah
betul jd gak sinkron, pdhl cara penulisannya sudah bagus tertata rapi, mudah dimengerti, tp knp alur jd berantakan, klo di klinik wajar ada bu rini dan Mahmud, tp ini di rumah sewa yg jaraknya 15 menit, klo tokoh bu rini harus muncul, harusnya ada cerita sebelum nya misal bu rini kesana ingin memberikan sesuatu dan tdk sengaja melihat kejadian itu
Lala lala
saya emak2 jg..feelnya dapat ini 🤭😄
Lala lala
Aku cmn heran sm hp yg ketinggalan d rumah..koq bambang bs kirim pesan, sari pun berbalas pesan di hp yg ketinggalan, bambang pake hp lain kah waktu minta ambilin paket..hp nya ada 2 atau gmn nih .
soalnya tdk dijelaskan hp ketinggalan dgn hp yg kirim peaan ambilin paket..bambang msh di t4 lain soalnya
Lala lala
jangan salah paham ya..usia 60 masih banyak koq perempuan yg molek dan kencang krna gaya fashion masa kini membuat lansia terlihat segar dlm artian yg fisiknya mmg diberkati dgn wajah awet dan tubuh ideal loh ya..(bkn emak2 gembrot ga merawat wajah dan tubuh dan fashion jadul..)
sodaraku usia 58 nikah sm sejawatnya sama2 awet muda skrg usia 60 msh kenceng bodynya..wajah awet muda jg.
Zahraputri Putri
🤣🤣🤣 bu rini
Zahraputri Putri
bu rini ikut pindah kah?🤣🤣
Suyati
adakah seperti Pak arman dlm kehidupan nyata?
Suyati
kemaren kemana aja pak bambang
Suyati
tenang banget bu Ratna y
Suyati
bu Ratna cakep sikapmu
Betty Sulasmono
berkerudung atau bersanggul?
vinn17
ayo guys boleh di baca 👍🏻
vinn17
author, buku ini bagus sekali. hangat dan mudah di baca, aku baca dalam 1 hari. Ada beberapa bagian yang menyentil sedikit, ada juga bberapa yg buat terharu sampai menangis. Ku tunggu karya selanjutnya, sukses selalu👍
Mr. AgusFy
masyaallah salut dengan kisahya meski saya loncat baca banyak hikmah yg disematkan disetiap episode tetap 💪ya thor ditunggu karya ² selanjutnya🙏🙏🙏
Anonim
cerita ini menarik krn baru kali ini ada cerita lansia kembali dilamar mikyarder biasa nya cerita ttg cantik2 yg wajah msh mulus, fresh, kenceng kulit nya tp ini cerita ttg lansia tp sayang nya komunikasi nya kaku jd terkesan semua pake bahasa yg baku dan tidak natural seperti kata2 dannkalimat nya terjemahan dari bhs asing… jd pembaca kurang rileks membacanya kaku dan tidak natural dlm kehidupan…, tegas boleh, judes jg boleh tp bukan kaku dg bhs yg baku…
Anonim
awal cerita masih masuk nalar, tp mulai ketemu Arman dan Sari selalu tau gerak gerik Ratna, cerita mulai agak aneh…, setiap ada kejadian pd Ratna, Arman sll ada begitu jg dg Sari sll tau apa gerak gerik Ratna kaya pd punya CCTV sendiri…😂
Nur Aini: namanya juga dunia halu kak
total 1 replies
Anonim
kok Sari bisa langsung tau sih ? katanya Sari tinggal nya di kampung sebelah, kok semua tentang Ratna si Sari langsung tau ya ? aneeh….
Anonim
diusia 60 thn adlh usia pensiun, dari kerja kantoran (kecuali dokter, pengacara) krn diusia itu fisik kita jg sdh tdk muda lg, tinggal menikmati hsl kerja dan menikmati hari tua dg bahagia, tp seperti dr Ratna kasus nya beda, masa tua bersama pasangan (suami) yg sehrs nya menikmati kebahagiaan, malah menjd masa tua yg menyakitkan, lbh ikhlas ditinggal mati pasangan drpd ditinggal krn perselingkuhan dan perceraian 😢
Tien Tien
merasakan rasaaanya .masuk banget ..kita ditinggal atw juta meninggalkan .semoga yg tersisa kebaikan. dan tidak ada penyesalan .
dwi sulastri
episode sebelumnya bu ratna pakai jilbab, ini kok disanggul ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!