Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32 - Batas untuk Anak Sendiri
Melati tidak pulang setelah keluar dari rumah Ratna.
Ia pergi ke rumah Dimas.
Yuni sedang menjemur pakaian di halaman ketika Melati datang dengan mata merah. Dari cara adik iparnya memegang tas, Yuni sudah tahu ini bukan kunjungan biasa.
"Mas Dimas ada?" tanya Melati.
"Ada. Baru pulang."
Melati masuk ke ruang tengah. Ia bahkan lupa melepas sandal sampai Yuni menegurnya pelan. Dimas sedang makan, piring masih di tangan. Melihat wajah adiknya, ia langsung menaruh piring itu.
"Ada apa?"
"Ibu keterlaluan."
Kalimat itu membuat Yuni berhenti di ambang pintu.
Melati duduk, lalu bercerita. Namun ceritanya tidak utuh. Ia melewati bagian buah, melewati bagian dirinya menyebut Pak Arman, melewati bagian ia menghitung rumah ibunya. Yang keluar hanya bahwa ia meminta bantuan untuk pindah, dan Ratna menolaknya seperti menolak orang asing.
Dimas mendengar dengan wajah makin berat.
"Bantuan pindah itu maksudnya berapa?"
Melati terdiam.
Yuni menjawab dalam hati sebelum Melati membuka mulut. Jika Melati sampai menangis seperti itu, jumlahnya pasti bukan kecil.
"Uang muka apartemen," kata Melati akhirnya. "Atau rumah kecil. Tidak mewah."
Dimas mengusap wajah.
"Mel, itu bukan bantuan kecil."
"Aku tidak minta ke Mas. Aku minta ke Ibu."
"Dan Ibu punya uang dari mana?"
Melati mengangkat dagu. "Ibu dekat dengan Pak Arman. Jangan pura-pura tidak tahu."
Di ruang tengah itu ada kipas angin yang berputar pelan, ada bau ikan goreng dari dapur, ada suara anak tetangga bermain sepeda di luar. Semua hal biasa itu membuat kalimat Melati terdengar semakin tajam.
Dimas menatap adiknya lebih lama.
"Jadi yang kamu lihat bukan Ibu. Yang kamu lihat dompet di belakang Ibu."
Melati berdiri. "Mas juga sama saja."
"Sama seperti siapa?"
"Sama seperti Ibu. Sekarang semua orang merasa aku serakah."
Dimas tidak langsung menjawab. Ia melihat Yuni yang berdiri diam. Istrinya itu sering mendapat tekanan dari keluarganya sendiri. Kadang ibunya meminta uang, kadang adiknya datang meminjam motor, kadang saudara jauh membawa alasan sakit. Dimas dulu sering menganggap semua itu urusan Yuni.
Sekarang, melihat Melati, ia tiba-tiba sadar betapa mudah orang memakai kata keluarga untuk membuka dompet perempuan.
"Aku juga pernah salah," kata Dimas pelan.
Melati menatapnya.
"Waktu Ayah ketahuan membeli rumah untuk Sari, yang pertama kupikirkan bukan Ibu sakit atau tidak. Yang kupikirkan harta bersama. Aku malu setelah itu."
Melati tidak menyangka kakaknya akan bicara begitu. Kemarahannya kehilangan pijakan sebentar.
"Tapi kamu belum malu," lanjut Dimas. "Kamu masih membela permintaanmu dengan nama Rizal, nama mertua, nama masa depan."
"Aku anak Ibu."
"Iya. Tapi Ibu bukan ATM."
Ucapan itu membuat wajah Melati memucat.
Yuni akhirnya duduk di sebelah suaminya. Suaranya lembut, tetapi jelas.
"Mel, semua orang punya tekanan. Aku juga. Keluargaku juga sering meminta. Tapi kalau setiap tekanan kita pindahkan ke orang yang sudah lelah, kita sama saja dengan orang yang menekan kita."
"Mbak mudah bicara," kata Melati. "Mbak tinggal di rumah sendiri."
Dimas menoleh tajam. "Rumah ini masih cicilan."
Yuni tersenyum pahit. Ia tidak marah. Justru itu yang membuat Melati tampak semakin tidak nyaman.
"Aku tidak bilang hidupku paling berat," kata Yuni. "Aku cuma bilang, jangan jadikan Ibu jalan pintas."
Ponsel Melati berbunyi. Nama Rizal muncul. Ia menolak panggilan itu.
Dimas melihat.
"Rizal tahu kamu datang ke Ibu?"
Melati tidak menjawab.
"Dia menyuruh?"
"Dia menyarankan."
"Bedanya besar."
Melati menggenggam tasnya. Matanya kembali basah, tetapi kali ini air mata itu tidak membuat Dimas mundur.
"Kalau aku tidak punya siapa-siapa, untuk apa aku punya ibu?"
Kalimat itu menggantung di ruang tengah.
Dimas menunduk. Ia tahu kalimat itu bisa membuat seorang ibu langsung menyerah. Ia pernah memakai versi lain saat kecil, saat ingin sepeda, saat ingin uang sekolah, saat ingin Ratna datang ke rapat wali murid meski ibunya baru pulang jaga pasien.
"Kamu punya Ibu," kata Dimas. "Tapi Ibu juga punya dirinya sendiri."
Melati tertawa kecil, getir.
"Mas sekarang pandai bicara."
"Harusnya dari dulu."
Melati mengambil tasnya dan berjalan keluar. Di teras, ia berhenti sebentar. Suaranya tidak lagi menangis, tetapi dingin.
"Nanti kalau Ibu menikah dengan Pak Arman dan semua harta jatuh ke orang luar, jangan salahkan aku kalau aku yang pertama menuntut."
Yuni menutup mata.
Dimas berdiri, tetapi Melati sudah pergi.
Setelah motor ojek online membawanya hilang dari ujung jalan, Dimas mengambil ponsel dan menelepon Ratna. Ia tidak tahu harus melapor atau meminta maaf. Begitu suara ibunya terdengar, kata yang keluar justru sederhana.
"Bu, maaf."
Di seberang, Ratna diam sebentar. "Untuk apa?"
"Untuk waktu Ayah ketahuan membeli rumah untuk Sari. Aku lebih dulu menghitung daripada memikirkan Ibu."
Napas Ratna terdengar pelan.
"Kamu sudah sadar. Itu cukup untuk hari ini."
Telepon berakhir tidak lama kemudian.
Malamnya, Melati menulis di grup keluarga.
Melati: Ternyata setelah tua dan punya orang kaya, seorang ibu bisa lupa anak sendiri.
Tidak ada yang membalas.
Ratna membaca pesan itu di rumahnya. Jarinya sempat berhenti di atas layar. Dulu ia pasti menjelaskan. Menulis panjang. Takut disalahpahami anak sendiri.
Malam itu ia mengunci ponsel.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan Melati mendengar ucapannya sendiri tanpa ditenangkan.
Namun diam tidak membuat malam itu mudah.
Ratna duduk lama di tepi tempat tidur. Di luar jendela, suara motor sesekali lewat, lalu hilang. Rumah barunya belum punya banyak barang, tetapi sudah mulai punya bunyi sendiri. Kipas angin, tetes air dari keran dapur, dan ponsel yang sesekali bergetar karena grup keluarga masih hidup.
Ia tidak membuka grup itu lagi.
Beberapa menit kemudian, Raka menelepon.
"Bu, aku lihat pesan Melati."
"Jangan dibalas."
"Aku belum membalas."
"Bagus."
Raka diam sebentar. "Aku mau datang."
"Besok saja."
"Ibu makan?"
Ratna melihat meja makan. Buah dari Melati masih ada. Nasi belum disentuh.
Ia hampir berbohong, lalu berhenti. Anak-anaknya terlalu lama melihat ia kuat. Tidak semua kebohongan perlu diteruskan.
"Belum."
"Makan dulu. Aku tunggu foto piring."
Ratna hampir tertawa.
Anak laki-lakinya yang dulu susah disuruh mandi sekarang memaksa ibunya mengirim bukti makan. Ia mengambil nasi sedikit, telur dadar sisa pagi, dan sambal, lalu memotret piringnya.
Raka membalas dengan stiker jempol.
Ratna menatap stiker itu lama.
Tidak semua anak datang dengan permintaan.
Sebagian hanya ingin memastikan ibunya tidak tidur dalam keadaan lapar.
Malam itu Ratna menghabiskan nasinya pelan-pelan.
Bukan karena lapar.
Karena untuk pertama kalinya, ada anak yang memintanya hidup tanpa meminta imbalan apa pun.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan