Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkubur dan di lupakan.
"Kenapa denganku! Biasanya aku bisa mengatasi ini?" Gumam Parto yang tidak tahu kalau di dalam lubang itu Baharuddin sudah menancapkan batang Bidara yang di berikan Laila padanya Kemarin.
Ssstttt. Ssstttt.
Suara desisan ular terdengar dari arah atas ketika angin masih bertiup kencang, dan orang orang yang ada di dalam semakin panik ingin keluar, tapi usaha mereka gagal, mereka kembali terjatuh ke dalam lubang berkali-kali.
Bruk. Bruk.
Usaha mereka untuk keluar selalu gagal karena Baharuddin kembali menendang tubuh mereka agar masuk kembali ke dalam lubang. Tanpa ampun Baharuddin juga membuat mereka terluka dengan pusaran angin yang dia keluarkan.
"Tolong! Tolong!" Teriak empat orang yang mulai panik karena merasa diri mereka mulai terancam.
"Hahaha... Teruslah berteriak seperti saat Laila berteriak minta di lepaskan!" Bentak Baharuddin
Deg.
Mereka terkejut karena suara yang mereka dengar tahu tentang Laila, Parto juga terus mengeluarkan ilmunya tapi dia gagal, ilmunya sudah tertahan karena ada benda yang menjadi kelemahan Parto di dalam sana.
"Siapa kamu!" Bentak Parto lagi
"Aku adalah kematian kalian!" Jawab Bahruddin sekali lagi semakin membuat mereka bergetar ketakutan.
"Tolong ampuni kami! Kami janji akan berikan apapun yang kamu mau, tapi lepaskan kami" lirih Mahmud
"Laila juga berkata seperti itu saat dia sudah selesai kalian gagahi, tapi kalian justru menyiksanya dan membunuhnya, bahkan dia kalian kubur dalam keadaan masih bernafas"
"Dia merintih menangis di dalam lubang itu tapi kalian tidak mengasihaninya!" Bentak Baharuddin yang menitikkan air mata karena dia juga bisa merasakan apa yang di rasakan Laila saat dia di kubur orang orang jahat itu, kesakitan, sendirian dan tidak ada yang bisa dia mintai tolong.
"Ampuni kami, tolong ampuni kami" mohon mereka tapi tak di dengar sama sekali oleh Baharuddin.
Ssstt. Ssstt.
"Aakhhh....!"
"Ampun!" teriak orang orang itu ketika segerombolan ular dengan banyak jenis dan ukuran masuk ke dalam lubang itu, dan mulai menggigit juga melilit mereka satu per satu.
Parto mulai membaca mantra yang dia pelajari dari gurunya, tapi gagal karena jimat yang dia pakai sudah di ambil Baharuddin dan ada kelemahannya di dalam lubang itu.
"Aarrggg.. pergi kalian ular sialan!" Teriak Parto frustasi.
Baharuddin mulai mengangkat tangannya hingga tanah yang ada di sekitar tempat itu tiba tiba berterbangan ke dalam lubang dan mulai mengubur orang orang yang ada di dalam sana.
"Aakkhhh tolong kami! Siapapun tolong kami!"
"Hihihihi"
"Kalian mau menemaniku?" Tanya sosok yang menyerupai Laila tersenyum lebar ke arah mereka, dia muncul dari dalam tanah tepat di bawah kaki mereka dengan banyak luka cambukan dan juga bibir yang robek sampai ke telinga.
"Aakkhh.. ampun! Ampuni aku Laila! Aku tidak mau mati disini! Keluargaku pasti mencari ku!" Terima Mahmud
"Hahaha... Rasakanlah ketakutan itu manusia jahat! Kalian sudah membuat kejahatan selama bertahun tahun dan hidup tenang selama itu, sekarang adalah waktunya semua perbuatan kalian kami balas!" Suara Baharuddin menggema di setiap sudut hutan itu membuat burung burung berterbangan karena ketakutan.
Brak. Brak. Brak.
Tanah itu tertutup seketika dan teriakan yang tadi terus menggema di sana tiba tiba hilang, berubah jadi suara gesekan daun daun yang tertiup angin.
"Pergilah sekarang kamu bisa beristirahat dengan tenang, aku akan kuburkan bagian ini nanti saat malam hari ke kuburan barumu" ungkap Baharuddin
Laila hanya menatap datar tanah yang sudah rata dan tertimbun banyak daun daun kering itu, dia lalu pergi dari sana dengan membawa satu benda milik dari dukun yang selalu si dukun gunakan untuk ritualnya, tali pocong yang entah tali pocong siapa.
•••••••••••••
Di vila
Baharuddin sudah kembali tapi raut wajahnya masih menyiratkan kemarahan karena merasa apa yang dia lakukan pada orang orang itu belum cukup untuk membalas penderitaan Laila yang selama lima puluh tahun hanya bisa terus mengetuk pintu rumah warga untuk meminta tolong.
"Kenapa kamu duduk sendiri disini? Biasanya selalu mengikuti Kaivalya" Tanya Lucas
Mereka sedang ada di gazebo depan, dan di luar tembok pembatas itu adalah hamparan kebun teh yang luas. Pemandangan kebun teh bisa di lihat dengan jelas dari villa Lucas, bahkan pabrik akan di bangun di sana akan membuat banyak warga mendapatkan perkejaan dan tidak perlu pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik.
"Aku merasa sudah jahat sekali pada kakakku, dia mungkin akan membenciku jika aku kembali" jawab Baharuddin yang kembali mengingat bagaimana dia berpisah dengan Badaruddin karena Badaruddin memilih untuk bertaubat dan Baharuddin tidak menerimanya.
"Belum tentu juga, dia sangat menyayangi kamu karena walau bagaimanapun kakak adik tidak akan marah terlalu lama, bahkan tidak mau di lepas meski sedang emosi, itu artinya perasaannya padamu juga cukup kuat" ungkap Lucas
"Laila sudah dapat keadilan" ucap Baharuddin tiba tiba
"Apa yang kamu lakukan pada pembunuhnya?" Tanya Lucas serius
"Ini hanya antara kita, aku mengubur mereka di tempat Laila terkubur, dengan banyak ular berbisa dan juga dalam keadaan hidup hidup" jawab Baharuddin membuat Lucas terkejut
"Jangan katakan pada siapapun atau aku akan bawa Ivanka pergi denganku!" Ancam Baharuddin
"Untuk apa aku beri tahu yang lain, mereka pantas mendapatkan lebih dari sekedar di kubur hidup hidup" jawab Lucas santai membuat Baharuddin senang.
"Besok kampung ini pasti akan heboh"
"Lima orang tua hilang secara tiba tiba setelah pamit pada keluarganya untuk mencari ikan di sungai" jawab Baharuddin
"Hahaha.."
"Mereka sedang memancing di dalam kubur bersama sama" balas Baharuddin tertawa.
Kaivalya dan yang lain sekarang sudah kembali menginap di villa, bahkan Diandra juga bersiap untuk pulang karena besok mereka harus kembali bekerja setelah semua masalah di tempat itu teratasi. Mereka tahu kalau dukun itu sudah di hukum oleh Baharuddin karena mereka punya kemampuan Indra keenam yang pastinya bisa mendengar obrolan Lucas dan Baharuddin.
"Pak, semua baju bapak sudah di bereskan ke dalam koper" ucap Diandra
"Bagus, berkas kerjasama pembangunan pabrik bagaimana?" tanya Kaivalya mode bos galak.
"Sudah di tandatangani dan sudah di simpan, semuanya sudah rapi di dalam tas ini" jawab Diandra
"Jangan lupa setelah kembali bekerja kamu harus menjalankan hukuman dari saya"
"Hukuman apa pak?"
"Membuat sarapan, menyiapkannya makan siang dan mengurus keperluan saya selama di kantor, kalau saya mau ganti baju kamu siapkan!"
"Ya Allah pak, saya sekertaris bukan istri bapak"
"Kamu mau jadi istri saya?"
"Hah?"
"Sudahlah, kamu setiap di tanya bengong terus, cepat istirahat sana jangan sampai saya melihat mata panda di kantor dan saya di salahkan karyawan dan membuat kamu kelelahan" ucap Kaivalya
"Baik pak..." keluh Diandra