NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:514
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasien Wanita Pertama dan Alasan "Penyucian Jiwa"

Matahari makin bergeser ke barat, menyisakan hawa gerah yang membungkus perkampungan Kalisari. Di dalam kamar belakang yang remang-remang, Mamat duduk bersila di atas tikar pandan sambil mengipas-ngipaskan kain sarung hitamnya. Asap racikan kamfer, obat nyamuk bakar, dan minyak kayu putih masih menggantung pekat di udara, menciptakan atmosfer yang sengit sekaligus menyiksa paru-paru.

Setelah Pak Sastro tukang jamu keluar dari kamar ritual dengan dahi merah membara dan mata bercucuran air mata akibat "usapan energi dalam" minyak kayu putih, Mamat menyempatkan diri menarik napas lega. Namun, kepuasan Mamat seketika terusik saat terdengar suara gesekan kain dan ketukan ragu-ragu di ambang pintu kamar.

Sesosok wanita muda melangkah masuk dengan canggung. Mamat menyipitkan mata julingnya menembus kepulan asap putih.

Tamu kali ini adalah Mbak Rini, seorang gadis desa berusia dua puluh dua tahun yang bekerja di pabrik tekstil daerah Garang. Mbak Rini terkenal sebagai salah satu kembang desa Kalisari selain Mbak Wiwin. Parasnya manis, kulitnya langsat, dan hari ini ia mengenakan kaus ketat warna merah muda yang membingkai bentuk tubuhnya dengan sangat jelas.

Pikiran mesum Mamat yang sempat terdistraksi oleh uang sajen Pak Sastro langsung menyala terang benderang bagai lampu sorot stadion.

Jancuk... Mbak Rini! jerit Mamat histeris dalam hati. Air liur Mamat hampir menetes, tetapi ia buru-buru menahannya, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap dingin dan berjarak layaknya seorang paranormal kawakan.

Mbak Rini terbatuk-batuk kecil sambil menutupi hidung dan mulutnya dengan saputangan. "UHUK! Nyuwun sewu... Ki Mamat Sastrogati?"

"Duduklah, Nyai Rini..." kata Mamat dengan suara diperberat dua oktaf, menggema dari balik dada kerempengnya. Tangan kanannya mencengkeram gagang Keris Bengkok Brajamukti, sementara tangan kirinya memutar-mutar batu akik merah besar di jarinya. "Langkahmu berat saat memasuki ruangan ini. Ada benang hitam ghaib yang mengikat pundakmu."

Mbak Rini duduk bersimpuh di atas tikar pandan, hanya berjarak semeter dari tempat Mamat bersila. Kehadirannya membawa aroma wewangian selai stroberi murah yang mendadak beradu keras dengan bau kapur barus dan obat nyamuk di ruangan tersebut.

"Beneran ada benang hitam, Ki?" suara Mbak Rini terdengar gemetar dan polos. Matanya yang bulat menatap Mamat penuh rasa cemas. "Saya... saya belakangan ini sering merasa pegal-pegal di leher dan paha, Ki. Terus, tiap kali ada cowok yang mau mendekati saya di pabrik, selalu saja ujung-ujungnya berantem atau malah lari. Kata Bu Tejo tadi di luar, Ki Mamat bisa membersihkan aura jahat."

Mamat menahan napasnya. Otak mesumnya langsung bekerja secepat kilat menyusun skenario gila demi memanfaatkan kepolosan gadis pabrik ini.

"Pegel di leher dan paha itu bukan pegal biasa, Nyai Rini," Mamat menggelengkan kepalanya secara perlahan dan dramatis. "Itu adalah ulah Jin Sengkolo Pengunci Jodoh! Jin ini sengaja bergelayut di pundakmu dan menempel di paha bagian dalammu untuk mengusir setiap pria yang berniat mendekatimu!"

Mbak Rini membelalakkan mata, wajahnya seketika pucat pasi. "Astaga! Jin Sengkolo?! Pantesan paha saya sering terasa tebal dan pegal tiap malam Jumat, Ki! Terus saya harus gimana, Ki?!"

Mamat memejamkan mata rapat-rapat, berpura-pura melakukan penerawangan gaib tingkat tinggi. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra ngawur kesukaannya: "Niat ingsun matra mantra, paha mulus aja ditatap, jin sengkolo miber balik, Mamat menang banyak..."

Setelah komat-kamit beberapa saat, Mamat mendadak membuka matanya lebar-lebar. Tatapan matanya yang juling difokuskan tepat ke arah Mbak Rini.

"Ghaib tidak bisa dibersihkan hanya dengan doa biasa," ujar Mamat penuh wibawa buatan. "Gangguan yang menempel di tubuh halus seorang wanita membutuhkan Ritual Penyucian Jiwa dan Cakra Pemikat!"

"Penyucian Jiwa? Gimana caranya itu, Ki Mamat?" tanya Mbak Rini dengan polosnya.

Mamat membetulkan letak sarung hitamnya, lalu merapatkan posisi duduknya setengah jengkal ke depan. "Jin Sengkolo itu menyerap energi murni di titik-titik saraf tubuhmu. Untuk mengusirnya, saya harus menyalurkan energi panas dari Mustika Brajamukti langsung ke pusat auramu lewat teknik 'Penepukan Cakra' dan pembaluran Air Penyucian."

"D-Ditepuk, Ki?" Mbak Rini menunduk, wajahnya merona merah karena canggung.

"Benar," tegas Mamat tanpa ragu seribu bahasa. Wajahnya dibuat sejujur dan sesuci mungkin, seolah-olah ia tidak punya niat mesum sedikit pun. "Pundakmu harus ditepuk sembilan kali untuk memutus rantai jin, dan bagian dahimu serta lehermu harus dibalur dengan Air Penyucian Jiwa. Kalau kamu ragu atau menolak, jin itu akan makin melekat dan bisa membuatmu jadi perawan tua selamanya!"

Ancaman "perawan tua" adalah peluru paling mematikan bagi gadis desa seusia Mbak Rini. Mendengar ancaman tersebut, ketakutan Mbak Rini langsung meruntuhkan seluruh rasa ragunya.

"Jangan, Ki! Jangan sampai saya jadi perawan tua!" seru Mbak Rini panik. "Saya mau di-ritual Penyucian Jiwa, Ki! Asal jin jahat itu hilang!"

"Bagus. Keputusan yang bijaksana," sambung Mamat, menahan sorak kemenangan di dalam hatinya. "Sekarang, pejamkan matamu rapat-rapat! Pasrahkan jiwamu pada aura gaib di ruangan ini. Jangan pernah membuka mata sebelum saya perintahkan, atau energinya bisa berbalik menyerang matamu hingga buta!"

Mbak Rini tergesa-gesa memejamkan matanya rapat-rapat. Jemarinya mencengkeram ujung roknya dengan erat, dadanya yang padat terangkat naik turun karena napasnya yang tegang.

Mamat tersenyum licik di balik kepulan asap kamfer. Kesempatan emas yang dicita-citakannya kini terpampang nyata di depan mata.

Dengan perlahan, Mamat meraih mangkuk seng berisi Air Penyucian Jiwa—air sumur bercampur garam dan minyak kayu putih. Ia mencelupkan jemarinya, lalu mendekati Mbak Rini.

Mamat memposisikan dirinya di samping Mbak Rini. Tangannya yang agak gemetar akibat gerigi syahwat mulai menyentuh pundak mulus gadis itu.

Tep! Tep! Tep!

Mamat menepuk-nepuk pundak Mbak Rini sembilan kali sesuai janjinya, sambil tak lupa membiarkan tangannya sengaja berlama-lama menempel di leher bagian belakang gadis itu dengan alasan "menyalurkan energi". Kulit halus dan kehangatan tubuh Mbak Rini seketika membuat Mamat merasa melayang ke langit ketujuh.

"Oohhh... terasa ada hawa hangat merambat, Ki..." bisik Mbak Rini dengan mata tetap terpejam rapat.

"Itu adalah energi Keris Bengkok yang sedang membakar Jin Sengkolo!" dusta Mamat cepat sambil mengoleskan air garam bercampur minyak kayu putih ke dahi dan leher Mbak Rini.

Mamat lalu meraih Keris Bengkok Brajamukti, mengacungkannya tepat di atas kepala Mbak Rini, lalu mengibaskan ujung sarung hitamnya ke udara untuk menciptakan angin buatan yang membawa bau menyengat kapur barus.

"Mundurlah wahai jin jahat! Lepaskan ikatanmu dari tubuh Nyai Rini!" seru Mamat dengan nada menggelegar, menambah efek drama sandiwaranya.

Setelah merasa puas menempelkan tangannya dan menikmati momen tersebut selama beberapa menit, Mamat menarik tangannya kembali. Ia kembali duduk bersila di tempat semula, mengusap Keris Bengkok-nya yang berkarat.

"Buka matamu, Nyai Rini..." perintah Mamat.

Mbak Rini perlahan membuka matanya. Dahinya terasa hangat dan sedikit perih akibat gesekan minyak kayu putih, tetapi kepalanya yang pusing akibat menghirup uap kamfer membuat tubuhnya terasa agak ringan—sebuah efek fisik alami yang oleh otaknya yang polos ditafsirkan sebagai "beban gaib yang telah terangkat".

"Gusti... leher saya rasanya hangat dan agak enteng, Ki Mamat!" seru Mbak Rini dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.

"Tentu saja," jawab Mamat dengan angkuh. "Jin Sengkolo itu telah terbakar menjadi abu. Mulai besok, aura pemikatmu akan terpancar kembali. Pria mana pun yang menatap mata dan lehermu akan terpesona."

Mbak Rini tersenyum lebar, wajah cantiknya merona bahagia. Tanpa ragu-ragu, ia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan tiga lembar uang lima puluh ribuan, menyodorkannya dengan kedua tangan yang membungkuk hormat.

"Ini uang sajennya, Ki Mamat... Terima kasih banyak sudah menyucikan jiwa dan aura saya!" kata Mbak Rini penuh rasa terima kasih.

Mamat menerima uang seratus lima puluh ribu rupiah itu dengan gerakan lambat nan anggun. "Simpan rahasia ritual ini, Nyai. Cukup katakan pada teman-temanmu bahwa Ki Mamat telah membebaskanmu dari belenggu ghaib."

"Baik, Ki Sastrogati! Saya pamit dulu!" Mbak Rini membungkuk berkali-kali sebelum berjalan keluar Dari kamar belakang dengan langkah ringan.

Begitu pintu kamar tertutup dan Mbak Rini menghilang keluar dari rumah, Mamat tidak sanggup lagi menahan luapan kegembiraannya. Ia melempar tiga lembar uang lima puluh ribuan itu ke udara, membiarkannya jatuh melayang-layang di atas tikar pandan, lalu tertawa terbahak-bahak hingga dadanya sakit.

"Hahaha! Jancuk! Berhasil lagi!" teriak Mamat sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. "Dapat pegang pundak dan leher gadis tercantik pabrik, plus dapat uang tunai seratus lima puluh ribu perak! Dunia ini betul-betul milik Ki Mamat Sastrogati!"

Mamat menghitung total uang yang terkumpul di dalam saku sarungnya hari ini: dua ratus ribu dari Pak RT, dua ratus ribu dari Mbak Wiwin, seratus lima puluh ribu dari Bu Tejo, dan seratus lima puluh ribu dari Mbak Rini. Total tujuh ratus ribu rupiah dalam waktu satu hari!

Uang itu lebih dari cukup untuk membayar bunga denda Pinjol Kilat Cepat untuk bulan ini, sekaligus membeli pasokan beras, kopi, rokok, dan racun kamfer untuk pertunjukan dukun minggu depan.

Mamat menyandarkan punggungnya ke dinding papan kamarnya yang lapuk, memandangi Keris Bengkok Brajamukti yang terselip kaku di pinggangnya. Trik absurd berawal dari keputusasaan dikejar penagih utang kini telah menjelma menjadi mesin pencetak uang dan pemuas niat mesum paling efektif di Kampung Kalisari.

Namun, Mamat tidak tahu bahwa di luar sana, gosip tentang suksesnya "Ritual Penyucian Jiwa" pada Mbak Rini dan Mbak Wiwin sedang merayap masuk ke telinga orang-orang berbahaya—termasuk dukun asli dari kampung tetangga yang mulai merasa lahannya terancam oleh kehadiran sang dukun gadungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!