Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL04. Rumah Baru
Hari Sabtu yang seharusnya menjadi hari paling santai dalam seminggu justru terasa seperti hari yang paling berat bagi Qiera. Sejak pagi, kamarnya sudah dipenuhi kardus dan koper. Pakaian yang biasanya tersusun rapi di lemari telah berpindah ke dalam koper besar dan buku-buku kuliah memenuhi beberapa kardus. Ada beberapa novel lama yang sampulnya sudah mulai kusam, boneka kecil pemberian Mama ketika ia masih sekolah, foto keluarga yang selama bertahun-tahun diletakkan di atas meja, bahkan beberapa benda sederhana yang sebenarnya tidak memiliki nilai apa pun selain kenangan.
Qiera duduk di lantai sambil memandangi semua barang tersebut dengan tatapan kosong. Rasanya aneh. Selama dua puluh satu tahun, kamar ini tidak pernah berubah menjadi sesuatu yang harus ia tinggalkan. Ia memang tahu suatu hari nanti akan menikah dan tinggal di rumah sendiri, tetapi dalam bayangannya, hari itu masih sangat jauh.
Setidaknya setelah lulus kuliah, setelah memiliki pekerjaan, setelah ia benar-benar merasa siap menjalani kehidupan sebagai orang dewasa. Bukan tiga hari setelah pernikahan mendadak yang bahkan sampai sekarang masih terasa seperti sebuah kesalahan administrasi dalam hidupnya.
“Sudah selesai, Sayang?”
Suara Mama dari ambang pintu membuat Qiera mengangkat wajah. Wanita paruh baya itu berdiri sambil tersenyum, tetapi senyum yang diberikan kepadanya pagi ini terasa berbeda. Ada kesedihan yang berusaha disembunyikan di balik wajah tenangnya.
Qiera hanya mengangguk sambil menunjuk beberapa barang yang masih berserakan di dekat meja belajar.
“Tinggal beberapa barang kecil, Ma. Yang lainnya sudah dimasukkan.”
Mama melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur. Pandangannya berkeliling, seolah sedang menghafalkan kamar itu untuk terakhir kalinya sebelum sebagian besar barang putrinya pergi.
“Kalau ada yang ketinggalan, nanti bisa diambil. Tidak perlu memaksakan semuanya dibawa hari ini.”
“Iya.”
“Qiera.”
“Hm?”
“Kamu sedih?”
Qiera terdiam. Tadinya ia ingin menjawab tidak, tetapi entah mengapa pertanyaan sederhana dari Mama justru membuat dadanya terasa sesak. Ia akhirnya menunduk dan memainkan ujung bajunya. “Sedikit.”
Mama tersenyum kecil. “Cuma sedikit?”
Qiera mengembuskan napas. “Banyak.”
Tawa kecil Mama terdengar, lalu tangannya bergerak mengusap rambut putrinya. “Mama juga sedih.”
Qiera langsung menoleh. “Serius?”
“Serius. Rumah ini nanti pasti sepi kalau kamu tidak ada.”
Kalimat itu membuat mata Qiera seketika panas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. “Jangan ngomong begitu, Ma.”
“Kenapa?”
“Nanti aku nangis.”
“Memangnya kalau menangis kenapa?”
Qiera mengerucutkan bibir. “Gengsi.”
Mama tertawa kecil sebelum akhirnya menarik tubuh putrinya ke dalam pelukan. Kali ini Qiera tidak menolak. Ia membiarkan kepalanya bersandar di bahu Mama, menikmati hangat yang sudah begitu akrab selama hidupnya.
Selama ini ia selalu menganggap rumah adalah sesuatu yang pasti ada. Tempat untuk pulang ketika lelah, tempat untuk mengadu ketika kesal, tempat untuk mencari seseorang ketika dunia terasa terlalu menyebalkan. Namun sekarang ia akan pergi dari tempat itu dan tinggal bersama seorang pria yang ia anggap sebagai dosen paling menyebalkan di kampus.
“Menikah bukan berarti kamu kehilangan rumah ini,” ujar Mama lembut. “Kalau kamu kangen, pulang. Kalau kamu sedih, cerita. Kalau kamu bertengkar dengan suamimu, jangan dipendam sendiri.”
Qiera tertawa kecil di tengah pelukan. “Mama malah ngajarin aku buat ngadu.”
“Memangnya salah? Kamu tetap anak Mama.”
Entah mengapa kalimat terakhir itu justru membuat hati Qiera semakin berat.
Belum sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari luar. Papa muncul sambil membawa kardus terakhir yang ukurannya cukup besar. Ia meletakkannya di dekat pintu, lalu mengusap kedua telapak tangannya sebelum memandang putrinya. “Ini yang terakhir?”
Qiera mengangguk. “Kayaknya.”
Papa tersenyum dan mendekat, lalu menepuk kepala Qiera seperti yang biasa dilakukannya ketika gadis itu masih kecil. “Kalau ada masalah, jangan merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri.”
“Iya.”
“Kalau Ravi membuat kamu kesal—”
“Dia memang sudah membuat aku kesal sejak pertama kali jadi dosenku.”
Papa tersenyum. Ia tahu putrinya masih membutuhkan waktu untuk menerima semuanya.
Beberapa saat kemudian, Papa dan Mama keluar untuk memastikan tidak ada barang lain yang tertinggal. Qiera kembali berdiri sendirian di tengah kamar. Kali ini ia tidak langsung mengambil barang apa pun. Tatapannya justru berkeliling perlahan, memperhatikan setiap sudut yang selama ini begitu biasa baginya.
Tempat tidur tempat ia menghabiskan waktu ketika sedang malas beraktivitas, meja belajar tempat ia mengerjakan tugas kuliah sampai larut malam, rak buku yang selalu berantakan meskipun Mama berkali-kali menyuruhnya merapikan, dan jendela yang menjadi tempat favoritnya ketika hujan turun.
Tangannya menyentuh permukaan meja belajar. Ada bekas goresan kecil di sana yang dibuatnya bertahun-tahun lalu. Ia bahkan masih ingat bagaimana Mama memarahinya karena meja tersebut rusak.
Senyum kecil muncul di wajahnya. Ternyata ia akan merindukan semua hal itu.
“Lily.”
Suara Ravi membuat Qiera menoleh. Pria itu berdiri di depan pintu kamar. Sejak pagi, Ravi memang ikut membantu membawa barang-barang ke mobil. Tidak seperti biasanya ketika berada di kampus, hari ini ia hanya mengenakan kaus berwarna gelap dan celana panjang sederhana. Rambutnya juga sedikit berantakan. Tidak ada kemeja rapi, tidak ada ekspresi dosen serius, dan tidak ada aura seseorang yang siap membantah argumen mahasiswanya.
“Sudah siap?” tanyanya.
Qiera mengangguk, tetapi matanya kembali tertuju pada kamar.
Ravi memahami bahwa Qiera belum benar-benar siap pergi. Ia tidak bertanya lebih jauh. Pria itu hanya masuk, mengambil kardus terakhir yang berada di dekat pintu, lalu membawanya keluar tanpa mendesak Qiera.
Beberapa menit kemudian, ketika Qiera akhirnya keluar, Mama langsung memeluknya. Kali ini air mata yang sejak tadi berusaha ditahan akhirnya jatuh juga. Qiera memejamkan mata sambil memeluk Mama erat, seperti seorang anak kecil yang tidak ingin melepaskan pelukan terakhirnya.
“Jaga diri, Sayang,” bisik Mama.
“Iya, Ma.”
“Jangan lupa makan.”
“Iya.”
“Kalau kangen, telepon Mama.”
Qiera tertawa kecil sambil mengusap pipinya. “Iya.”
“Jangan cuma jawab iya.”
Qiera semakin tertawa, meskipun air matanya belum berhenti. “Iya, Ma..”
Mama ikut tertawa sekaligus menangis. Setelah itu Papa mendekat dan memeluk putrinya sebentar. Tidak banyak kata yang diucapkannya. Hanya tepukan pelan di punggung Qiera dan kalimat singkat bahwa ia selalu boleh pulang kapan pun ia mau.
Qiera mengangguk berkali-kali.
Ketika akhirnya ia berjalan menuju mobil, langkahnya terasa berat. Ia masuk ke kursi penumpang, tetapi sebelum pintu ditutup, ia masih sempat menoleh ke belakang. Papa dan Mama berdiri di depan rumah, melambaikan tangan kepadanya.
Qiera membalas lambaian itu sampai mobil mulai bergerak.
Baru setelah rumah tersebut perlahan menghilang dari pandangan, tangannya turun. Ia menunduk dan menarik napas panjang.
Ravi yang sejak tadi menyetir tidak mengatakan apa pun. Ia hanya memberikan waktu kepada Qiera untuk menenangkan diri. Beberapa menit berlalu dalam keheningan sampai akhirnya Qiera menyeka pipinya sendiri.
“Aku kelihatan cengeng, ya?”
“Tidak.”
“Padahal aku nangis.”
“Menangis karena meninggalkan orang yang kamu sayangi bukan berarti cengeng.”
Qiera menoleh. “Pak...”
Ravi melirik sekilas. “Hm?”
“Enggak apa-apa.” Ia kembali memandang jendela.
Ravi tidak bertanya lebih lanjut. Ia bahkan membiarkan Qiera memanggilnya Pak. Namun setelah beberapa saat, suaranya terdengar lagi. “Kalau kamu kangen rumah, kita bisa datang kapan saja. Saya tidak akan melarang kamu pulang.”
Qiera menoleh.
“Kalau kamu ingin menginap di rumah orang tuamu juga tidak masalah,” lanjut Ravi tenang. “Saya tidak menikah dengan kamu untuk membuat kamu menjauh dari keluarga.”
Qiera terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.
“Terima kasih, Pak.”
Lagi, Ravi hanya tersenyum tipis. “Sama-sama, Lily.”
...🌼🌼🌼...
Sesampainya di apartemen, Qiera kembali disambut kenyataan bahwa mulai hari ini ia akan tinggal di tempat tersebut. Apartemen Ravi ternyata jauh lebih nyaman daripada yang selama ini ia bayangkan. Ruang tamunya sederhana, didominasi warna-warna netral, dengan rak buku yang hampir seluruhnya dipenuhi buku hukum. Meja kerja berada di dekat jendela, sementara beberapa tanaman kecil menghiasi sudut ruangan. Tidak banyak barang yang tidak diperlukan. Semuanya terlihat teratur, bahkan terlalu teratur untuk ukuran Qiera.
“Pak Ravi tinggal sendiri selama ini?” tanya Qiera sambil melihat sekeliling.
“Sejak kuliah.”
“Enggak pernah bosan?”
“Kadang.”
“Terus kenapa tetap tinggal sendiri?”
Ravi meletakkan salah satu kardus di dekat sofa. “Saya ingin belajar mandiri. Keluarga saya bisa membantu banyak hal, tetapi saya tidak ingin selamanya bergantung kepada mereka.”
Qiera mengangguk sambil memperhatikan rak buku. “Masak juga?”
“Kalau sempat.”
“Cuci baju?”
“Iya.”
“Bersih-bersih?”
“Iya.”
Qiera menatapnya beberapa saat. “Benar-benar nggak bisa dibayangkan.”
Ravi terkekeh. “Kenapa?”
“Entahlah. Pak Ravi kelihatannya kayak orang yang lebih cocok duduk di meja sambil membaca buku hukum daripada mencuci pakaian.”
“Saya melakukan keduanya.”
“Pantes apartemen Bapak rapi.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Saya tetap menerimanya.”
Qiera memutar mata, lalu mengambil salah satu kardus. Mereka mulai membereskan barang-barangnya. Ravi lebih banyak mengangkat barang berat, sementara Qiera mengatur benda-benda kecil. Perlahan-lahan, apartemen yang sebelumnya terasa sangat khas Ravi mulai berubah. Beberapa buku milik Qiera masuk ke rak, foto keluarganya diletakkan di meja kecil, dan sebuah bantal kesayangannya ditempatkan di sofa.
Anehnya, perubahan kecil itu membuat apartemen tersebut terasa sedikit berbeda.
Sedikit lebih hidup?
Sampai akhirnya Qiera membawa salah satu kardus menuju kamar. Begitu pintu dibuka, langkahnya langsung terhenti. Tatapannya jatuh pada satu-satunya tempat tidur di ruangan tersebut.
Qiera perlahan menoleh kepada Ravi yang baru masuk sambil membawa koper.
“Ini kamar Pak Ravi?”
“Sekarang kamar kita.”
Qiera kembali melihat tempat tidur. “Cuma ada satu?”
Ravi mengangguk santai. “Apartemen ini memang hanya punya satu kamar.”
“Kenapa dari awal enggak bilang?”
“Saya kira kamu tahu.”
“Aku mana tahu?”
Ravi mengangkat bahu. “Sekarang kamu sudah tahu.”
Qiera menatapnya dengan tidak percaya. “Terus aku tidur di mana?”
“Di kamar.”
“Terus Pak Ravi tidur di mana?”
“Di kamar juga.”
Qiera langsung menoleh tajam. “Pak Ravi!”
Ravi hampir tertawa melihat ekspresinya. “Apa?”
“Aku enggak mungkin tidur satu kasur sama Bapak!”
“Kalau begitu, kamu bisa menggunakan sofa.”
Qiera melirik ruang tamu, lalu kembali menatap tempat tidur. Sofa itu memang cukup panjang, tetapi jelas tidak akan nyaman untuk tidur semalaman.
“Aku juga enggak mau tidur di sofa!”
Ravi mengangguk seolah memahami masalahnya. “Berarti kita punya masalah.”
“Jangan santai begitu!”
“Saya sedang mencari solusi.”
“Solusinya cari kamar lain.”
“Untuk apa? Kita hanya membutuhkan satu kamar.”
Qiera terdiam. “Pak Ravi!”
“Kenapa?”
“Kamu memang sengaja, kan?”
Ravi akhirnya tertawa kecil. “Saya hanya mengatakan kenyataan.”
Qiera mendengus kesal lalu masuk ke kamar dan meletakkan kardusnya. “Aku tidur di ujung.”
“Baik.”
“Pak Ravi di ujung sana.”
“Baik.”
“Jangan lewat batas!” Qiera mengambil salah satu bantal lalu meletakkannya tepat di tengah kasur.
Ravi melihat bantal tersebut, kemudian mengangguk. “Baik. Saya tidak akan melewati batas.”
Barulah Qiera merasa sedikit tenang.
Namun setelah beberapa menit membereskan pakaian, kesunyian kembali membuat pikirannya melayang kepada rumah. Ia teringat Mama yang tadi memeluknya, Papa yang berdiri di depan rumah, dan kamar yang sekarang sudah kosong dari sebagian besar barangnya. Wajahnya kembali murung tanpa ia sadari.
Ravi yang sedang merapikan koper memperhatikannya.
“Lily.”
Qiera menoleh. “Apa?”
“Kamu masih sedih?”
“Enggak!”
Ravi mendekat beberapa langkah. “Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti orang yang baru kehilangan dunia?”
“Aku cuma capek.”
“Kalau capek, istirahat.”
“Nggak bisa.”
“Kenapa?”
Qiera menghela napas. “Karena aku masih kepikiran Papa sama Mama.”
Ravi terdiam sebentar. Ia kemudian berdiri tepat di depannya dan mengambil bantal yang sedang dipegang Qiera.
"Ngomong-ngomong Lily, kamu melupakan satu hal."
Qiera mendongak dengan kesal. “Apa?”
"Hukumanmu. Sejak dari rumah, kamu terus memanggil saya Pak, padahal saya bukan bapak kamu."
Belum sempat Qiera protes, Ravi justru terlihat sedang menghitung dengan jemarinya.
"Mungkin sekitar 10 kali? Berarti kamu harus memanggil saya Mas 50 kali.."
Qiera langsung mengepalkan tangannya. “PAK RAVI!”
"55," Ravi tampak menahan tawa. Dan sungguh, itu membuat Qiera seketika semakin kesal.
Qiera memejamkan matanya. Okey, dia harus sabar. Tapi bagaimanapun juga panggilan 'Mas' terlalu aneh baginya untuk memanggil pria yang lebih ia kenal sebagai dosennya.
Saat otaknya sedang bekerja keras memikirkan panggilan untuk Ravi, tiba-tiba sebuah ide jahil muncul. Jika ia tidak salah ingat, selisih usia mereka 9 tahun.
“Om,”
Ravi berhenti bergerak. Ia menatap Qiera cukup lama. "Kamu manggil saya?"
"Iya, salah?" Gadis itu mulai menahan tawa.
"Kamu kira saya Om kamu?"
“Kan beda umur kita sembilan tahun!”
“Sembilan tahun bukan berarti saya Om kamu.”
“Tapi cocok.”
“Tidak.”
Qiera tersenyum jahil. “Om.”
Ravi hanya menghela napas panjang.
Namun Qiera semakin menahan tawanya. “Om Ravi!”
Hingga akhirnya Ravi berjalan mendekat. “Kamu sengaja?”
“Iya!”
“Baik.”
“Baik bagaimana?”
Ravi tak menjawab. Pria itu hanya melangkah, semakin mendekati Qiera dengan tatapan yang Qiera bahkan tidak tahu apa artinya.
Qiera bingung. Ia reflek berjalan mundur, namun Ravi justru semakin mendekatinya dan memojokkannya di tepi ranjang.
Tak ada sepatah kata pun dari Ravi. Dan tanpa Qiera duga, satu tangan Ravi meraih lehernya, dan satu gigitan kecil hinggap di telinganya.
Qiera reflek menjerit kaget dan mundur hingga jatuh terduduk di ranjang.
“PAK RAVI!”
Ravi tertawa kecil melihat ekspresinya. “Nah, begitu lebih baik.”
Namun tawanya berhenti ketika melihat mata Qiera kembali berkaca-kaca. Ekspresi Ravi langsung berubah. “Lily?”
Qiera menunduk. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya tangis yang sejak tadi ditahannya sejak meninggalkan rumah kembali pecah.
Ravi terdiam. Ia tidak pernah berniat membuat Qiera semakin sedih. Ia kembali mendekat dan berlutut memeluk kaki Qiera. “Maaf, Lily. Saya minta maaf.”
Namun gadis itu justru masih terisak menangis.
“Saya cuma ingin membuat kamu tidak sedih. Saya tidak bermaksud membuat kamu merasa terancam.”
Ravi beralih duduk di samping Qiera. Dengan ragu ia memeluk Qiera, sementara tangannya mengusap punggung gadis itu perlahan. “Kamu masih punya Papa dan Mama. Kamu masih bisa menelepon mereka, pulang kapan saja, bahkan mengadu kepada mereka setiap kali kamu mau. Saya tidak akan pernah melarang.”
Qiera tidak menjawab. Tangisnya perlahan mulai mereda, tetapi tubuhnya masih diam dalam pelukan Ravi.
“Dan kalau suatu saat kamu tidak tahu harus mengadu kepada siapa...” Ravi berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, “kamu bisa mengadu kepada saya.”
Qiera perlahan mengangkat wajah.
Ravi menatapnya. Tidak ada senyum jahil kali ini.
“Walaupun Pak Ravi menyebalkan?”
“Terkadang.”
“Walaupun Pak Ravi sering membantahku?”
“Tidak selalu.”
“Walaupun Pak Ravi dosenku?”
Ravi terkekeh kecil. "Tidak untuk sekarang."
Qiera akhirnya ikut tersenyum.
Beberapa saat kemudian, ia melepaskan diri dari pelukan tersebut dan kembali mengambil bantalnya. Wajahnya masih sedikit sembap, tetapi setidaknya tidak lagi seberat sebelumnya.
“Pak.”
“Hm?”
“Kalau aku kangen rumah, boleh pulang?”
“Tentu.”
“Kalau aku mau telepon Mama tengah malam?”
“Silakan.”
“Kalau aku aduin Pak Ravi ke Papa karena gigit aku?”
Ravi menghela napas. “Itu jangan.”
Qiera langsung tertawa kecil. “Kenapa?”
“Karena saya masih ingin dianggap menantu baik.”
“Sudah terlambat," sarkas Qiera tertawa.
Ravi ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, tawa Qiera ikut memenuhi kamar itu.
Mungkin kehidupan setelah menikah memang tidak akan semudah yang ia bayangkan. Ia masih harus beradaptasi dengan apartemen baru, dengan status baru, dengan kebiasaan Ravi yang menyebalkan, bahkan dengan kenyataan bahwa ia harus berbagi kamar dengan dosen yang selama ini paling sering membuat darahnya naik.
Namun setidaknya sekarang Qiera tahu satu hal. Mungkin ia tidak benar-benar kehilangan rumah. Ia hanya memiliki satu tempat baru untuk pulang.
Dan sayangnya, tempat baru itu datang bersama seorang suami yang sepertinya akan membuat hari-harinya jauh lebih kacau daripada sebelumnya.
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊