NovelToon NovelToon
Cinta Dijalur Misi

Cinta Dijalur Misi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.

Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.

Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENTENG HATI DAN LANGKAH PERTAMA

Ckrek.....

Karna satu foto yang tidak disengaja pembuat takdir kedua insan bertemu .

 

"Kenapa harus ke sana, Nak? Desa itu jauh, terpencil. Kenapa kamu harus minta pindah tugas ke sana?"

Isak tangis Sang Ibu pecah di bahu Nara. Pelukannya mengerat, seolah berusaha menahan putri tunggalnya agar tak melangkah keluar dari pintu rumah.

Di samping mereka, Ayah berdiri mengusap sudut matanya yang basah, menatap Nara dengan pandangan berat dan penuh kecemasan.

Nara membalas pelukan ibunya dengan lembut, mengelus punggung wanita yang telah melahirkannya itu. Wajah cantiknya tampak tenang, meski ada gurat keteguhan yang tak bisa digoyahkan oleh siapa pun.

"Bu, Nara ini ASN. Sudah kewajiban Nara untuk mengabdi di mana pun dibutuhkan,"

bisik Nara pelan, mencoba memberi pengertian dengan nada suara setenang mungkin.

"Lagipula, Desa Bejowangi itu sangat butuh tenaga medis. Nara cuma mau fokus kerja dan bantu orang-orang di sana."

"Tapi kamu perempuan, Nara! Kenapa harus melarikan diri sampai ke Desa Bejowangi?"

sahut Ibunya seraya melepaskan pelukan, menatap lekat wajah sang putri.

"Di kota ini kamu aman. Dekat dengan ibu ,Jodoh pun banyak yang antre mendatangi kamu, orang-orang kaya, pria baik-baik....?"

Nara tersenyum tipis sebuah senyum yang menyimpan benteng rapat di balik hatinya.

Jodoh? Pernikahan? Bagi Nara, semua kata itu justru terdengar seperti ancaman.

Bayangan tetangga sebelah rumah yang babak belur akibat KDRT, kisah rekan sejawatnya yang dikhianati hingga depresi, serta maraknya berita perselingkuhan membuat Nara takut jatuh cinta,Cinta hanya ilusi manis yang berujung luka. Ia tak butuh pria untuk melindunginya; latihan bela diri yang tekun ia jalani bertahun-tahun sudah lebih dari cukup untuk menjaga dirinya sendiri.

"Nara nggak melarikan diri, Bu. Nara cuma mau mandiri dan fokus pada karir," ujar Nara mantap. Ia meraih jemari ibunya, menggenggamnya erat. "Ayah, Ibu... restui Nara, ya? Nara janji bakal jaga diri baik-baik di sana."

Ayah mendekat, mengusap lembut kepala Nara seraya menghela napas panjang. "Kalau ini memang sudah jadi tekadmu, Ayah dan Ibu cuma bisa mendoakan. Hati-hati di jalan, Nak."

Setelah berpamitan, Nara melangkah menyusuri peron stasiun. Udara dingin menyapa kulitnya saat ia menaiki gerbong kereta api yang akan membawanya menuju Desa Bejowangi.

Nara berjalan perlahan menyusuri lorong kereta, matanya memperhatikan nomor-nomor kursi hingga menemukan tempat duduk yang sesuai dengan tiketnya. Ia menghela napas lega saat menduduki kursi di dekat jendela. Namun, menyadari perjalanan panjang yang rawan membuatnya mual, Nara segera merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan satu tablet Anti mabuk .

Ia menelan obat anti-mabuk itu dengan seteguk air mineral. Pas sekali, seorang petugas kereta api berseragam rapi berjalan melintasi lorong. Nara segera memanggilnya.

"Pak, maaf," panggil Nara ramah.

Petugas itu menghentikan langkah dan tersenyum polite. "Iya, Mbak? Ada yang bisa dibantu?"

"Saya mau ke Desa Bejowangi,. Saya baru saja minum obat Anti mabuk perjalanan dan biasanya langsung tertidur lelap," tutur Nara jujur. "Boleh minta tolong ingatkan atau bangunkan saya nanti, kalau kereta sudah hampir sampai di stasiun tujuan Bejowangi?"

"Oh, tentu saja, Mbak. Nanti mendekati stasiun tujuan, saya atau rekan saya akan bangunkan. Jangan khawatir, ya," jawab petugas itu ramah.

"Terima kasih banyak ya, Pak."

Nara menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Efek obat mulai bekerja pelan-pelan, membuat kelopak matanya terasa berat dan rasa kantuk mulai menyerang.

Tak lama setelah Nara memejamkan mata setengah sadar, suasana gerbong yang tadinya tenang mendadak berubah agak riuh. Bisik-bisik kagum mulai terdengar dari para penumpang wanita di sepanjang lorong.

Seorang pria berjalan masuk ke dalam gerbong. Langkah kakinya tegap dan mantap, membawa wibawa tersendiri meski tampil sangat sederhana. Ia mengenakan kaus polos berwarna putih yang pas di tubuhnya

memperlihatkan dada bidang serta otot lengan yang terukir tegas,dipadukan dengan celana panjang hitam dan tas ransel besar yang tersampir di salah satu bahunya.

Tatapan matanya yang tajam dan rahangnya yang kokoh membuat penampilannya begitu memesona.

"cool banget .. tajam banget mukanya, gagah banget!" bisik seorang gadis muda kepada temannya di kursi belakang.

"Lihat badannya, pres bodi banget kausnya... Tentara atau model ya?" sahut teman wanita di sebelahnya dengan mata tak berkedip.

"Duh, semoga dia duduk di sebelah gue..." gumam penumpang wanita lain yang sibuk merapikan rambutnya.

Hampir semua pasang mata wanita di gerbong itu terpukau melihat sosoknya. Pria itu—Revan—hanya berjalan tenang, mengabaikan tatapan kagum di sekelilingnya. Matanya yang tajam sibuk menyapu nomor-nomor di atas barisan kursi, mencari tempat yang tertera di tiketnya.

Hingga akhirnya, langkah tegap Revan terhenti tepat di samping barisan kursi Nara. Pria itu melihat memastikan nomor tiket, lalu menatap wanita di samping jendela yang matanya sudah terpejam rapat dengan wajah yang sangat tenang dan cantik alami.

 

Dering telepon seluler di saku celana membuat Revan menghentikan gerakannya yang hendak menaruh ransel besar ke rak atas. Ia melihat nama yang tertera di layar: Ibu.

Dengan menghela napas panjang, Revan menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo, Assalamu'alaikum, Bu," sapa Revan dengan suara berat dan tenang.

"Wa'alaikumussalam, Nak! Revan! Kamu sudah di kereta, kan? Jadi pulang kampung hari ini, Nak?" suara Sang Ibu terdengar begitu penuh kerinduan dan antusias dari seberang telepon.

Revan tersenyum tipis. "Jadi, Bu. Ini Revan sudah di dalam kereta menuju desa."

"Alhamdulillah! Ya Allah, akhirnya setelah sekian lama kamu pulang juga, Nak..." Suara ibunya terdengar serak menahan haru. "Ya sudah, ini Ibu mau langsung siap-siap masak makanan kesukaanmu. Nanti kalau sudah hampir sampai, kabari ya. Biar nanti disiapkan penjemputan di stasiun."

"Iya, Bu. Nanti Revan kabari. Ibu jangan terlalu capek, ya," jawab Revan lembut sebelum akhirnya menyudahi panggilan tersebut.

Ia lalu mengambil duduk di kursinya, tepat di sebelah wanita cantik yang sudah terpejam lelap. Belum sempat Revan memasukkan kembali ponselnya ke saku, sebuah notifikasi pesan masuk bernada nyaring. Kali ini dari Nisa, adik perempuannya.

Cekrek. Sebuah foto terkirim, menampilkan seorang gadis desa bertubuh anggun dengan senyum tersimpul, disusul pesan beruntun dari adiknya:

Nisa: Mas Revan! Lihat deh, ini Mbak Rina, anak Pak Kades. Cantik, kan? Kata Ibu pas Mas Revan sampai rumah nanti, mau langsung disuruh lamar Mbak Rina. Nisa: Jangan alasan sibuk tugas terus ya, Mas! Umur sudah 30 tahun, Ibu tuh udah pengen banget punya menantu!

Revan memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening. Misi pengintaian kelompok pemberontak di hutan desa selama dua bulan ini membutuhkan tingkat fokus dan kerahasiaan yang sangat tinggi. Ia tidak boleh terdistraksi oleh drama perjodohan, apalagi harus berpura-pura menjadi calon suami idaman keluarga desa.

Bagaimana caranya bikin Ibu dan Nisa berhenti mendesak tanpa harus bikin Ibu patah hati? batin Revan memutar otak.

Tiba-tiba, tubuh wanita di sampingnya sedikit bergoyang mengikuti guncangan halus kereta api. Efek obat mabuk perjalanan benar-benar membuat Nara tertidur sangat pulas. Tanpa sadar, kepala Nara perlahan jatuh dan...

puk,

terbaring pasrah menyandar tepat di bahu tegap Revan.

Aroma harum yang lembut dari rambut Nara mendadak menyeruak, menyapa indra penciuman sang komandan elit. Revan sempat membeku seketika. Tatapannya turun, menatap lekat wajah polos di bahunya yang begitu tenang tanpa sapuan makeup berlebih.

Sebuah ide nekat dan kilat mendadak melintas di pikiran Revan.

Tanpa membuang waktu dan tanpa menyia-nyiakan momen, Revan mengangkat ponselnya. Mengarahkan kamera depan dari sudut yang pas—memperlihatkan kepalanya yang berdekatan dengan Nara yang sedang tertidur lelap menyandar di bahunya.

Cekrek!

Sebuah foto manis nan intim terpajang sempurna di layar ponsel. Revan segera membuka obrolan dengan adiknya dan mengunggah foto tersebut.

Revan: Nisa, kasih tahu Ibu. Mas sudah punya calon sendiri .... Jadi stop jodoh-jodohin Mas sama orang lain.

Setelah menekan tombol kirim, Revan mematikan layar ponselnya dan kembali menyenderkan punggungnya. Ia menatap sekilas wanita asing di bahunya yang masih terlelap tanpa tahu bahwa hidupnya baru saja dimasukkan ke dalam pusaran rencana seorang komandan tentara elit.......

1
sakura
....
es moon: terima sudah mampir, semoga suka ,happy reading
total 1 replies
Rian Moontero
Mampiiirr
es moon: terima kasih, semoga suka..happy reading
total 1 replies
Apis
huuu revan belum jadian asal main kokop aj
es moon: Wkwkwk 😂 Revan emang gercep ya, Kak. Belum jadian udah berani macam-macam.
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Revan dan Nara ❤️ , DiTunggu ya kak kelanjutannya,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!