NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 KASIH SAYANG DUA KAKAK UNTUK NIZA

Sinar matahari siang memancar hangat menembus celah-celah rindangnya dahan pohon mangga di pekarangan rumah keluarga Zaki. Jam dinding berbingkai kayu di ruang tengah baru saja menunjuk ke angka 11.55 WIB.

Udara siang perdesaan berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma wangi tanah dan keharuman tumisan bumbu dapur buatan Nisa yang menyerbak dari arah belakang.

​Klek...

​Pintu depan terdorong terbuka.

Haruma dan Harumi melangkah masuk ke dalam rumah seraya menggandeng jemari tangan Dek Niza. Anak laki-laki itu melangkah dengan dada terbusung bangga, senyuman lebar tak henti-hentinya terkembang dari wajah mungilnya usai masalah perundungan di sekolahnya tuntas diselesaikan oleh kedua kakaknya di hadapan Kepala Sekolah.

​Nisa yang sedang merapikan piring-piring di atas meja makan seketika menoleh, menyambut kedatangan ketiga anaknya dengan senyuman ramah.

​"Eh... sudah pulang anak-anak Ibu!" sapa Nisa seraya mengusap tangannya pada celemek kain. "Gimana tadi di sekolah, Niza?"

​Harumi tertawa renyah, melangkah mendekati ibunya seraya mencium tangan Nisa.

​"Lancar seratus persen, Ibu tercinta! Tapi ada sedikit masalah tadi di sekolah." jawab Harumi.

"Loh? Masalah? Masalah apa, Rumi? Niza nakal ya?" tanya Nisa spontan.

"Bukan, Bu. Tapi ada dua murid kelas lima yang membully Niza." jawab Harumi.

"Astaghfirullah, membully Niza? Terus gimana?" tanya Nisa lagi sedikit kaget mendengarnya.

"Sudah aman, Bu. Tadi Rumi sama Kak Ruma langsung menghadap ke ruang kepala sekolah. Pak Kepala Sekolahnya sampai usap-usap dahi sambil minta maaf berkali-kali. Hari ini juga langsung diadakan pembinaan khusus zero-bullying buat seluruh guru sama murid SD." jawab Harumi.

​Haruma ikut melangkah mendekat, mengusap lembut rambut hitam Dek Niza. "Iya, Bu. Pak Kepala Sekolah janji bakal panggil dua murid kelas lima itu bareng orang tuanya. Jadi Dek Niza sudah aman banget sekarang di sekolah."

​Nisa mendesah lega, mengelus dadanya seraya tersenyum haru. "Alhamdulillah ya Allah... Makasih ya, Haruma, Harumi. Ibu tenang banget dengernya. Ya sudah, Niza... sana ganti baju putih-merahmu dulu di kamar, terus cuci tangan sama kaki ya."

​"Siap, Ibu!" sahut Dek Niza gembira seraya berlari kecil menuju kamarnya.

​Sayup-sayup dari menara masjid desa, gema adzan Zhuhur berkumandang merdu membelah damainya suasana siang.

​Haruma, Harumi, Nisa, dan Dek Niza mengambil air wudhu yang sejuk di kamar mandi belakang. Mereka berempat melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah di ruang tengah yang telah terhampar sajadah kain bermotif Ka'bah.

Haruma berdiri paling depan memimpin shalat Zhuhur. Setelahnya ia memimpin doa dengan suara jernihnya yang teramat sangat sejuk, merogoh kedamaian jiwa di dalam dada setiap anggota keluarganya.

​Usai bersalaman dan memohon doa keselamatan, mereka berempat berpindah duduk bersila mengelilingi karpet ruang tengah untuk menikmati makan siang bersama.

​Di atas karpet, Nisa telah menyajikan masakan yang melimpah ruah: piring besar berisi ikan mas goreng renyah bercita rasa gurih, mangkuk kuah sayur asam bening dengan jagung manis, lalapan daun selada dan ketimun segar, serta satu cobek batu berisi sambal terasi dadakan yang menggugah selera.

​"Aduh... masakan Ibu ini benar-benar bikin lidah Rumi menari-nari!" seru Harumi renyah seraya mengambil seekor ikan mas goreng dan mencocolnya ke dalam sambal terasi.

​Haruma tersenyum manis, menuangkan kuah sayur asam ke mangkuk nasi adiknya. "Pelan-pelan makannya, Rumi. Nanti tersedak lho."

​Niza mengunyah lauknya dengan sangat lahap, sesekali melirik kedua kakak perempuannya dengan mata berbinar-binar gembira.

​Melihat tatapan polos penuh kasih dari adik bungsunya, Haruma dan Harumi saling bertukar pandangan. Sebuah senyuman bahagia terukir indah di bibir dua bersaudari tersebut.

Mereka berdua menyadari bahwa jatah libur dua hari yang diberikan pimpinan markas Polres adalah momen emas yang teramat berharga untuk mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatian mereka kepada Dek Niza.

​Harumi membungkuk sedikit ke arah Haruma, berbisik sedikit.

​"Kak Haruma..." ucap Harumi dengan mata berkilat gembira. "Habis makan siang ini, kita bawa Dek Niza jalan-jalan yuk? Kasihan dia semalam sempat cemburu sama sedih. Hari ini kita bikin dia jadi anak paling bahagia yuk!"

​Haruma terkekeh renyah, mengangguk cepat dengan mata berbinar penuh rasa kasih sayang. "Setuju, Dek! Kita habiskan waktu seharian ini khusus buat menyenangkan hati Dek Niza!"

​Haruma menepuk pelan bahu adik bungsunya seraya bertanya ramah.

​"Dek Niza..." panggil Haruma lembut.

​Niza menengadah, menghentikan kunyahan nasinya. "Iya, Kak Haruma?"

​"Habis makan siang ini... Dek Niza mau nggak kalau Kak Haruma sama Kak Harumi ajak jalan-jalan?" tawar Haruma dengan suara manisnya yang menyenangkan.

​Mata Dek Niza seketika membelalak lebar, menghentikan sendoknya di udara. "Jalan-jalan?! Jalan-jalan ke mana, Kak?!"

​Harumi tertawa renyah, mengacak-acak rambut Niza dengan gemas. "Ke mana saja yang Dek Niza mau! Pokoknya hari ini adalah hari khusus Dek Niza! Kak Haruma sama Kak Harumi bakal turuti semua keinginanmu!"

​"Horeeeeee! Beneran, Kak?! Nggak bohong kan?!" seru Dek Niza melompat gembira di atas karpet, hingga Nisa tertawa menggelengkan kepala.

​"Beneran, Sayang!" jawab Haruma dan Harumi serempak.

​Nisa menatap ketiga anaknya dengan raut wajah yang dipenuhi keharuan dan kebahagiaan luar biasa. "Ya Allah... Haruma, Harumi... kalian baik banget sama adikmu."

.....

.....

​Pukul 13.00 WIB tepat.

​Sinar matahari siang mulai merambat miring. Mesin mobil SUV dinas kepolisian berwarna abu-abu gelap yang dikemudikan Harumi kembali menderu halus di pekarangan rumah.

Dek Niza sudah tampil sangat tampan mengenakan kaos biru santai dan celana pendek kain, duduk dengan penuh semangat di kursi belakang. Sementara Haruma duduk di kursi penumpang depan mengenakan blouse pastel yang anggun.

​Tujuan pertama mereka siang itu adalah pusat keramaian ekonomi warga lokal: Pasar Raya Parung.

​Perjalanan menempuh waktu sepuluh menit. Mobil dinas Harumi memutar perlahan memasuki area parkir khusus di dekat kompleks pertokoan pakaian Pasar Raya Parung.

Suara hiruk pikuk pedagang, aroma harum jajanan pasar, dan deretan pertokoan yang dipenuhi aneka busana warna-warni menyambut kedatangan mereka.

​Haruma dan Harumi menggandeng kedua tangan Dek Niza, melangkah masuk menelusuri koridor toko pakaian anak bernama Toko Busana Murni—toko pakaian terbesar dan terlengkap di lantai dua Pasar Raya Parung.

​Seorang ibu penjaga toko bertubuh gempal bernama Cik Mei seketika menyambut mereka dengan senyuman ramah khas warga pasar.

​"Mari Mbak! Ayo Dek!" sapa Cik Mei renyah. "Mari-mari masuk! Cari pakaian anak ya?"

​"Selamat siang, Mbak," balas Haruma tersenyum manis dan ramah. "Iya nih... Hari ini kita mau belikan baju baru buat adik kita."

​Harumi memutar tubuh Niza menghadap deretan gantungan baju anak-anak yang tersusun rapi dari ujung ke ujung toko itu.

​"Nah... Dek Niza ganteng..." kata Harumi seraya menepuk kedua bahu adiknya. "Lihat sekeliling toko ini! Pilih baju, kemeja, kaos, jaket, sama celana apa saja yang Dek Niza suka! Mau warna merah, biru, gambar pahlawan super, jeans... semuanya boleh dipilih!"

​Dek Niza membelalakkan matanya terpana, seolah tak percaya dengan pendengarannya. "S-semuanya boleh, Kak?! Nggak dilarang?!"

​"Nggak ada yang melarang, Sayang!" timpal Haruma tersenyum seraya mencium pipi adiknya. "Bebas pilih berapa stel saja yang Niza suka. Nanti Kak Haruma sama Kak Harumi yang bayar semuanya."

​"Horeeee! Makasih Kakak!" seru Niza gembira luar biasa.

​Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu langsung berlari kecil menelusuri gantungan pakaian. Jemari mungilnya memilah-milah kaos dengan penuh keceriaan.

​Pilihan pertama Niza jatuh pada sebuah kaos t-shirt warna merah bergambar pahlawan super robot. Pilihan kedua adalah sebuah kemeja kotak-kotak katun warna biru muda yang sangat keren, disusul dua potong celana jeans pendek berbahan lembut, satu celana panjang kargo hitam yang gagah, serta sebuah jaket hoodie bertopi warna hijau tentara yang sangat disukainya.

​Haruma dan Harumi memperhatikan tingkah polos adik bungsunya dari belakang dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa kasih sayang dan kebahagiaan yang melimpah ruah.

​"Mbak..." panggil Haruma ramah pada penjaga toko. "Tolong tambahkan tiga setel pakaian tidur katun yang paling adem buat ukuran adik saya ini ya. Sama dua potong celana olahraga pendek."

​"Siap, Mbak! Langsung saya bungkuskan yang bahannya paling bagus!" jawab Cik Mei gembira.

​Harumi menjangkau dompet kulitnya, menyerahkan beberapa lembar uang kertas ratusan ribu ke kasir.

​"Gimana, Dek Niza? Sudah puas pilih bajunya?" goda Harumi seraya merangkul bahu adiknya yang sedang memegang dua kantong plastik belanjaan besar.

​Niza mengangguk-angguk gembira dengan mata berbinar-binar. "Puas banget, Kak! Bajunya bagus-bagus semua! Niza punya celana kargo keren kaya punya Kak Harumi!"

​Haruma terkekeh renyah, mengusap pipi adiknya. "Alhamdulillah... Ya sudah, sekarang kita lanjut ke tujuan kedua!"

.....

.....

​Pukul 14.15 WIB.

​Mobil SUV dinas Harumi bergerak melaju meninggalkan kawasan Pasar Raya Parung, berbelok ke arah barat menembus jalur lintas perbukitan menuju kecamatan tetangga: Kecamatan Ciseeng.

​Ciseeng terkenal dengan keasrian lanskap alamnya yang hijau, bukit-bukit kapur, serta beberapa destinasi wisata pemandian dan kolam renang keluarga yang populer di kalangan warga lokal.

​Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit membelah deretan pohon kelapa dan hamparan sawah, mobil Harumi berbelok memasuki pekarangan Tirta Sanita Ciseeng—sebuah kompleks wisata kolam renang keluarga yang luas dengan fasilitas wahana air, seluncuran (water slide), ember tumpah raksasa, serta gazebo-gazebo kayu di tepi kolam.

​Klek...

​Niza melangkah keluar dari mobil, matanya membelalak gembira menatap hamparan air kolam renang yang biru jernih di bawah naungan pohon-pohon bambu hias yang sejuk.

​"Wahhhh! Kolam renang!" jerit Niza gembira seraya melompat-lompat kecil.

​Haruma membawakan tas kain berisi perlengkapan renang dan handuk bersih. "Ayo, Dek... ganti celana renangmu di kamar ganti sana."

​Niza berlari riang menuju kamar ganti. Lima menit kemudian, anak laki-laki itu sudah keluar mengenakan celana renang pendek warna biru yang baru dibeli di pasar raya sebelumnya.

​BYURRRR!

​Niza melompat gembira ke dalam kolam renang anak berdinding dangkal setinggi lutut dewasa. Air kolam yang sejuk dan jernih seketika menyiram tubuhnya.

Niza tertawa riang gembira, berenang mengepakkan kaki dan tangannya, bermain di bawah siraman ember tumpah raksasa, serta meluncur di seluncuran air warna-warni bersama anak-anak sebayanya.

​"Kak Haruma! Kak Harumi! Lihat Niza! Niza bisa meluncur tinggi!" jerit Niza gembira dari atas wahana seluncuran seraya melambaikan tangannya.

​Di tepi kolam, Haruma dan Harumi duduk berdampingan di atas sebuah gazebo kayu yang teduh. Haruma mengenakan kacamata hitam sambil memangku dua cangkir es kelapa muda segar. Sementara Harumi menyandarkan punggungnya leluasa, memastikan balutan kassa steril di lengan kiri bawahnya tetap terlindung rapi dan kering dari cipratan air.

​Dua bersaudari itu menatap keceriaan Dek Niza dari jarak dekat seraya menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling tulus.

​"Lihat tuh, Dek..." tutur Haruma lembut dengan suara jernihnya. "Senyumnya Dek Niza lepas banget ya hari ini. Kebahagiaannya benar-benar murni dari lubuk hati."

​Harumi menyesap es kelapa mudanya menggunakan sedotan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kakak sulungnya.

​"Iya, Kak Ruma..." ujar Harumi. "Rasanya semua rasa lelah kita pas menghadapi persekongkolan sihir di Polres kemarin seketika menguap hilang pas ngeliat Niza ketawa segirang itu."

​Haruma mengusap jemari tangan adiknya hangat, memberikan ketenangan jiwa.

​"Adik kecil kita ini adalah pengingat buat kita berdua, Rumi..." bisik Haruma dengan kedalaman jiwa seorang kakak. "Bahwa sebesar apa pun badai kejahatan yang harus kita hadapi di luar sana... kedamaian dan kebahagiaan keluarga di rumah adalah harta suci yang wajib kita jaga sampai hembusan napas terakhir."

​Harumi menatap mata kakak sulungnya, menganggukkan kepalanya tegar dengan keimanan yang mantap. "Pasti, Kak. Rumi janji bakal selalu jaga Ayah, Ibu, Dek Niza, sama Kak Haruma."

​Selama dua jam penuh, Haruma dan Harumi menemani dan mengawasi Dek Niza bermain air dengan penuh rasa kasih sayang. Tawa riang anak kecil itu menggema memenuhi area kolam renang Ciseeng, membawa kehangatan yang amat berharga bagi jiwa mereka bertiga.

.....

.....

​Pukul 16.30 WIB.

​Sinar matahari sore mulai meredup keemasan di ufuk barat. Angin sore berhembus sejuk menggoyangkan dahan-dahan pohon trembesi.

Dek Niza telah selesai membilas badannya di shower air hangat, kini sudah tampil sangat tampan dan segar mengenakan t-shirt merah gambar robot dan celana kargo barunya. Rambut hitamnya yang basah tersisir rapi, dan wajah mungilnya memancarkan pendaran bahagia yang luar biasa.

​Mereka bertiga melangkah menuju mobil SUV dinas di pekarangan parkir.

​Namun, sebelum masuk ke dalam kabin mobil...

Harumi memegang kedua bahu Dek Niza seraya tersenyum manis.

​"Nah... Dek Niza yang ganteng..." panggil Harumi. "Baju baru sudah kamu punya, berenang di kolam renang ini juga sudah puas... Sekarang sudah mulai sore nih. Sebelum kita pulang ke rumah bertemu Ibu... Dek Niza mau beli jajanan apa saja buat oleh-oleh di rumah?!"

​Niza membelalakkan matanya gembira. "Boleh beli jajanan lagi, Kak?!"

​"Jelas boleh dong, Sayang!" timpal Haruma tersenyum sambil mengusap kepala Niza. "Bebas pilih jajanan apa saja di sepanjang jalan nanti. Mau martabak, batagor, kue pancong, es boba... sebutkan saja!"

​"Horeeee! Niza mau beli Martabak Manis Keju Cokelat Mbah Wiryo! Sama mau beli Batagor Kuah Kacang Pak Kumis! Sama mau beli Kue Pancong Lumer Cokelat tiga porsi!" seru Niza melompat gembira.

​Haruma dan Harumi tertawa bahagia mendengar deretan jajanan kesukaan adik bungsunya.

​"Sip! Semua jajanan yang disebutkan Dek Niza langsung kita borong sore ini!" seru Harumi penuh semangat seraya menyalakan mesin mobil.

​Mobil SUV dinas Harumi melaju pelan menelusuri deretan kedai jajanan kaki lima di sepanjang jalan utama Kecamatan Parung.

Di setiap kedai langganan, Haruma dan Harumi membelikan jajanan-jajanan tersebut dalam porsi besar: satu loyang besar Martabak Manis Spesial Keju Cokelat Lumer, dua bungkus besar Batagor Kuah Kacang yang gurih hangat, tiga porsi Kue Pancong Lumer Cokelat Keju, sepiring Telur Gulung goreng renyah, serta empat gelas Es Cendol Durian segar buat menikmati sore bersama Ibu mereka di rumah.

.....

.....

​Pukul 17.15 WIB.

​Semburat cahaya keemasan senja memancar indah di atas langit.

Ban mobil SUV dinas Harumi menggerus halus kerikil dan tanah pekarangan rumah keluarga Zaki.

​Di teras depan rumah, Ibu Nisa sedang duduk menyulam kain seraya menunggu kedatangan ketiga anaknya.

​Klek...

​Pintu mobil terbuka.

Dek Niza melompat keluar dari kabin belakang dengan wajah berbinar-binar luar biasa!

Kedua tangan mungilnya penuh menggenggam kantong-kantong belanjaan baju baru dan berbungkus-bungkus jajanan sore yang masih mengepulkan uap hangat!

​"Ibuuu! Niza pulaaang!" seru Niza sambil berlari gembira menaiki tangga teras.

​Nisa seketika berdiri, membelalakkan matanya kaget sekaligus gembira melihat tumpukan kantong belanjaan yang dibawa putra bungsunya.

​"Ya Allah... Niza!" seru Nisa. "Banyak banget belanjaanmu, Nak!"

​Niza dengan penuh rasa bangga dan gembira langsung menggelar semua kantong belanjaannya di atas meja kayu teras di hadapan ibunya.

​"Lihat ini, Ibu!" pamer Niza penuh semangat seraya memperlihatkan baju-baju barunya satu per satu. "Niza dibelikan baju robot merah baru! Dibelikan kemeja biru keren! Dibelikan celana kargo hitam kaya punya Kak Harumi! Dibelikan jaket hoodie tentara! Terus tadi Niza diajak berenang sepuasnya di kolam renang Ciseeng sama Kak Haruma dan Kak Harumi!"

​Niza lalu membukakan ikatan kantong-kantong jajanannya.

​"Terus ini Niza dibelikan Martabak Manis Keju Cokelat Mbah Wiryo yang paling enak! Dibelikan Batagor Kuah Kacang! Dibelikan Kue Pancong Lumer! Dibelikan Es Cendol Durian segar buat Ibu juga!" seru Niza gembira tanpa henti.

​Nisa memegang dadanya, air mata keharuan dan kebahagiaan menggenang di pelupuk matanya menatap keceriaan luar biasa dari putra bungsunya.

​"Masya Allah... Alhamdulillah, ya Allah..." bisik Nisa penuh rasa syukur.

​Haruma dan Harumi melangkah naik ke teras, menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling anggun dan hangat.

​"Gimana, Ibu?" goda Harumi sambil merangkul bahu ibunya. "Niza hari ini sudah jadi anak paling bahagia se-Kecamatan Parung, kan? Hehehehe..."

​Nisa tertawa haru, mengusap bahu Haruma dan Harumi dengan kelembutan seorang ibu. "Kalian berdua ini benar-benar kakak yang luar biasa, Haruma, Harumi..."

​Namun...

Tepat di saat suasana di teras rumah tersebut penuh dengan gelak tawa dan keceriaan...

​Dek Niza yang sedang berdiri di dekat meja makan mendadak menghentikan gerakannya.

​Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu menatap dua kantong baju barunya, menatap tumpukan jajanan sore yang hangat, lalu memutar pandangan matanya menatap wajah Haruma dan Harumi yang berdiri tersenyum di hadapannya bersama sang Ibu.

​Lalu...

​Di dalam sanubari polos Dek Niza...

Keharuan yang teramat sangat besar, mendalam, dan tak terhingga seketika meledak dahsyat!

​Niza mengingat kembali bagaimana semalam ia sempat merajuk, cemburu, dan melontarkan ucapan-ucapan jahat kepada kedua kakak perempuannya.

Namun hari ini...

Bukannya marah atau membalas, Kak Haruma dan Kak Harumi justru mencurahkan seluruh waktu libur mereka, membahagiakannya, membelikannya belasan baju baru, membawanya berenang gembira, dan memborongkan semua jajanan kesukaannya dengan kasih sayang yang begitu melimpah ruah!

​Tes... tes... tes...

​Air mata keharuan yang teramat tulus seketika meluncur membasahi kedua pipi mungil Dek Niza!

​"Eh? Dek Niza? Kok menangis, Sayang?" tanya Haruma kaget, melangkah mendekati adik bungsunya dengan raut cemas.

​Namun...

Tanpa menguapkan sepatah kata pun...

​Dek Niza langsung BERLARI DAN MELEMPARKAN SELURUH TUBUH MUNGILNYA MENERJANG KEDUA KAKAK PEREMPUANNYA!

​Shet!

​Dek Niza melingkarkan kedua tangan mungilnya erat-erat mengait pinggang Haruma dan Harumi secara bersamaan!

Anak laki-laki itu menyembunyikan wajahnya di antara pinggang kedua kakaknya, menangis sesenggukan menumpahkan seluruh rasa haru, penyesalan, terima kasih, dan cinta kasih yang membara di dalam dadanya!

​"Kak Harumaaaaa...! Kak Harumiiii...!" jerit Dek Niza menangis histeris dengan suara parau yang pecah oleh keharuan mendalam.

​Haruma dan Harumi tersentak pelan, seketika berlutut di atas lantai teras di hadapan adik bungsunya.

​"Dek Niza... kenapa, Sayang?" tanya Haruma lembut, mengusap air mata di pipi adiknya.

​Dek Niza mendongakkan kepalanya yang basah oleh air mata, menatap mata Haruma dan Harumi bergantian dengan pandangan mata polos yang teramat sangat tulus dan menyentuh jiwa.

​"K-Kak Haruma... Kak Harumi..." rintih Dek Niza terisak-isak dengan nada suara yang bergetar penuh perasaan mendalam. "T-terima kasih banyak ya, Kak... Terima kasih banyak udah sayang banget sama Niza... Terima kasih udah belikan Niza baju baru banyak banget... Terima kasih udah ajak Niza berenang... Niza... Niza sayang banget sama Kak Haruma sama Kak Harumi..."

​Niza mencium pipi kanan Haruma dan mencium pipi kiri Harumi berulang kali seraya menangis haru.

​"Niza janji... Niza nggak bakal nakal lagi... Niza nggak bakal cemburu lagi..." bisik Niza sesenggukan di dekapan kakaknya. "Kak Haruma sama Kak Harumi adalah kakak paling baik dan paling cantik di seluruh dunia! Niza bangga banget punya Kakak kaya kalian berdua...!"

​DEG!

​Kata-kata ucapan terima kasih dan kasih sayang yang tulus dari mulut adik bungsu mereka itu seketika menembus langsung ke dalam bagian sanubari Harumi dan Haruma yang paling dalam!

​Air mata kebahagiaan yang melimpah ruah seketika menetes membasahi pipi anggun Haruma dan Harumi.

​Harumi menarik Dek Niza ke dalam pelukan hangatnya yang paling erat, mencium puncak kepala adik bungsunya berulang kali seraya tertawa renyah dalam derai air mata bahagianya.

​"Iya, Dek Niza manis..." bisik Harumi renyah dengan suara serak penuh rasa kasih sayang. "Sama-sama, Sayang... Kak Harumi sama Kak Haruma juga sayang banget sama Dek Niza. Kamu adalah adik terganteng dan paling berharga buat kita berdua."

​Haruma merangkul tubuh Niza dan Harumi secara bersamaan, mengusap-usap punggung adik bungsunya dengan kasih sayang yang tak terhingga.

​"Kakak berdua bakal selalu sayang sama Dek Niza..." tutur Haruma lembut tersenyum haru. "Sampai kapan pun, Kakak bakal selalu ada buat menjaga dan membahagiakan Niza."

​Nisa yang berdiri menyaksikan momen kebersamaan dan rasa cinta kasih yang teramat tulus di antara ketiga anak-anaknya di atas teras rumah tersebut...

Seketika menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Air mata kebahagiaan seorang ibu menetes deras membasahi pipinya.

​Nisa melangkah mendekat, merangkul Haruma, Harumi, dan Dek Niza secara bersamaan di tengah teras rumah.

​"Ya Allah... Alhamdulillah ya Allah..." bisik Nisa penuh rasa syukur yang mendalam. "Terima kasih telah memberikan kebahagiaan dan keharmonisan yang begitu indah buat keluarga kami..."

​Semburat sinar keemasan senja memancar hangat menyirami tubuh Nisa, Haruma, Harumi, dan Dek Niza yang sedang berpelukan erat di teras rumah sore itu.

​Aroma wangi martabak manis keju cokelat yang hangat dan keharuman bunga melati berhembus lembut menyejukkan suasana.

Pendaran aura keemasan suci milik Sekar Arum memancar sangat redup dan sejuk di dalam jiwa Haruma, menyatu sempurna dengan kehangatan Mata Batin Murni milik Harumi di bawah naungan cinta kasih keluarga sejati.

​Di rumah sederhana di tanah Parung hari itu, kasih sayang tulus Haruma dan Harumi telah memberikan kebahagiaan terbesar bagi Dek Niza.

Segala rasa cemburu dan duka telah musnah tak bersisa, berganti dengan ikatan persaudaraan yang semakin abadi.

Dan di dalam kehangatan pelukan keluarga tercinta tersebut, dua srikandi penegak keadilan itu menemukan kembali puncak kekuatan jiwa mereka—siap untuk kembali berdiri tegap melangkah menembus badai, membawa cahaya kebenaran dan keadilan bagi seluruh masyarakat di Tanah Jawa.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!