Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Ketakutan yang Sama
Keduanya tidak saling mengenal wajah.
Arvid terus berjalan. Zinnia juga.
Namun, entah mengapa, ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, langkah Arvid melambat. Perasaan aneh itu kembali muncul. Familiar. Seperti pernah melihat sosok itu sebelumnya.
Zinnia pun tiba-tiba merasakan hal yang sama. Langkahnya ikut melambat. Entah mengapa, keberadaan pria yang berjalan melewatinya barusan terasa mengusik sesuatu di dalam ingatannya.
Ia menoleh sedikit.
Arvid juga hampir menoleh.
Namun, seorang tamu keluar dari arah samping dan membuat Zinnia harus bergeser.
Mereka akhirnya berpapasan. Hanya dalam hitungan detik.
Aroma parfum Arvid melintas di dekat Zinnia. Tubuhnya mendadak menegang.
Aroma itu...
Ada sesuatu yang sangat dikenalnya. Zinnia berhenti satu langkah setelah melewati Arvid.
Di saat yang sama, Arvid juga menghentikan langkah. Alisnya berkerut.
"Kenapa rasanya seperti..."
Ia menoleh.
Namun, Zinnia sudah beberapa langkah menjauh sambil kembali bekerja.
Arvid menatap punggungnya. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
“Bos?”
Suara Juki membuat Arvid tersadar.
Arvid masih menatap perempuan itu beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
“Kenapa?” tanya Juki.
Arvid menggeleng pelan. “Enggak.”
Ia kembali berjalan menuju pintu. Namun, kali ini langkahnya terasa lebih berat.
Sementara itu, Zinnia menggenggam erat kain lap di tangannya. Ia tidak tahu kenapa pria tadi terasa begitu familiar.
Yang ia tahu, aroma parfum yang tertinggal sesaat di udara membuat dadanya berdebar tanpa alasan yang bisa ia mengerti.
***
Pagi itu, Arvid kembali terbangun dengan rasa mual yang mengganggu. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat, menunggu rasa tidak nyaman di perutnya mereda.
Sudah beberapa hari seperti ini. Awalnya ia mengira hanya kelelahan. Namun, semakin lama, mual itu justru semakin sering muncul. Arvid mengusap wajahnya lalu berdiri.
Setelah bersiap, ia turun ke ruang makan. Danendra dan Merry sudah berada di sana.
“Pagi, Ar,” sapa Merry.
“Pagi, Ma. Pa.” Arvid menarik kursi lalu duduk.
Merry langsung memerhatikannya. “Kamu masih pucat.”
“Cuma kurang tidur," jawab Arvid.
Merry melirik piring di hadapannya.
Arvid baru menyentuh sepotong roti ketika perutnya kembali terasa tidak nyaman. Ia meletakkan roti itu.
“Kok makannya sedikit sekali?” tanya Danendra.
“Nggak terlalu lapar, Pa.”
“Beberapa hari ini juga gitu,” sahut Merry. “Kamu gak bisa menghabiskan sarapanmu.”
Arvid terdiam. Ia memang sudah beberapa hari hampir tidak menyentuh sarapan dengan baik.
Danendra meletakkan cangkir kopinya. “Papa udah bilang dari kemarin. Kalo emang gak enak badan, periksa ke dokter.”
Arvid menghela napas pendek. “Iya. Hari ini aku ke dokter.”
Merry tampak sedikit lega. “Jangan bilang iya kalo akhirnya gak pergi.”
“Aku serius, Ma.” Arvid mencoba memakan roti itu lagi, tetapi baru satu gigitan, ia sudah kehilangan selera.
Akhirnya ia meneguk teh dan berdiri. “Aku berangkat dulu.”
“Jangan lupa dokter,” pesan Merry.
Arvid mengangguk. “Iya.”
Begitu tiba di kantor, Arvid langsung masuk ke ruangannya.
Juki yang sedang membawa beberapa dokumen mengikuti dari belakang. “Bos, ini berkas yang—”
“Juki.”
Juki berhenti.
“Atur jadwalku ke dokter.”
"Nah... gitu dong, Bos. Dari kemarin coba. Malah nunggu parah dulu."
Arvid melirik tajam. “Kalo mau komentar, nanti aja.”
“Baik, Bos.” Juki membuka ponselnya. “Dokter biasa atau rumah sakit?”
“Yang bisa secepatnya.”
Juki melirik Arvid. “Siang?”
Arvid mengangguk. “Siang.”
Juki mulai mengatur jadwal.
Sementara itu, Arvid duduk di kursinya dan menyandarkan punggung. Entah kenapa, pikirannya kembali pada percakapan dengan Pak Herry di Aurelle kemarin.
Tentang mual. Tentang kehamilan. Tentang seorang suami yang mengalami gejala aneh ketika istrinya mengandung.
Arvid mengerutkan kening. "Nggak." Ia menggeleng pelan. "Itu hanya kebetulan."
Mual yang ia alami pasti ada penyebabnya sendiri. Setidaknya, dokter akan memberinya jawaban.
Siang itu, Arvid duduk di ruang pemeriksaan bersama Juki.
Dokter selesai memeriksa tekanan darah dan denyut nadinya, kemudian kembali duduk di hadapan Arvid.
“Keluhannya mual terutama pagi hari?”
“Iya, Dok," jawab Arvid.
“Sudah berapa lama?” tanya dokter sambil mencatat sesuatu.
Arvid mengingat. “Sekitar seminggu.”
Dokter menatap Arvid sebentar. “Selain mual?”
“Nafsu makan turun," jawab Arvid. "Beberapa hari terakhir saya juga cuma bisa makan dikit.”
Dokter mengangguk sambil terus mencatat. “Muntah?”
“Beberapa kali," jujur Arvid.
“Nyeri perut?”
“Enggak.”
“Diare? Demam?”
“Enggak.”
Dokter kembali memeriksa catatannya. “Belakangan ini banyak stres atau kurang tidur?”
Arvid terdiam sebentar. “Pekerjaan cukup banyak.”
Juki langsung menyahut, “Cukup banyak itu bahasa halusnya, Dok. Dia hampir tiap hari—”
“Juki.”
“Baik, Bos.” Juki membuat gerakan tangan mengunci mulut.
Dokter tersenyum tipis. “Stres dan kurang tidur memang bisa memperburuk keluhan lambung dan menyebabkan nafsu makan menurun. Dari pemeriksaan awal, saya belum melihat tanda yang mengarah ke kondisi gawat.”
Arvid mengangguk. “Jadi saya sakit apa, Dok?”
“Kalo cuma dari keluhan ini saja belum bisa dipastikan. Bisa saja gangguan lambung, bisa berkaitan dengan pola makan dan stres, atau ada penyebab lain.”
Dokter menatapnya serius. “Untuk sementara, saya sarankan pola makan diperbaiki. Jangan biarkan perut kosong terlalu lama, hindari makanan yang bikin mual, cukup tidur, dan kalo memungkinkan kurangi beban kerja.”
Arvid kembali bertanya. “Kalau mualnya tetap ada?”
“Kalau dalam beberapa hari gak membaik, atau justru makin sering muntah, sulit makan dan minum, berat badan turun, atau muncul nyeri perut yang berat, kembali lagi. Kita bisa melakukan pemeriksaan darah dan pemeriksaan tambahan untuk mencari penyebabnya.”
Arvid mengangguk. "Baik, Dok."
Dokter menyerahkan resep dan catatan pemeriksaan. “Untuk sekarang, kita atasi gejalanya dulu.”
Arvid menerima kertas itu.
Di sebelahnya, Juki menghela napas lega. “Berarti Bos cuma kecapekan?”
Dokter langsung menggeleng. “Saya gak bilang gitu. Saya bilang penyebabnya belum dapat dipastikan.”
Juki mengangguk cepat. “Oh. Baik, Dok.”
Arvid berdiri. Namun, sebelum keluar, ia kembali teringat percakapan dengan Pak Herry di restoran Aurelle.
Mual di pagi hari. Nafsu makan berubah. Kehamilan simpatik.
Arvid mengerutkan kening. "Nggak mungkin."
Ia bahkan tidak tahu apakah perempuan itu benar-benar hamil. Dan dokter juga tidak menemukan sesuatu yang jelas pada dirinya. Jadi, seharusnya tidak ada hubungannya.
Seharusnya.
***
Sementara itu di tempat lain...
Di tengah kesibukan, Sari tiba-tiba mendekati Zinnia. “Zin, kalau ada yang nyariin aku, bilang aku ke toilet, ya. Aku mau ganti pembalut.”
Zinnia mengangguk.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Sari segera bergegas pergi.
Zinnia hendak kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, kata terakhir Sari membuat gerakannya terhenti.
Pembalut.
Jantung Zinnia berdegup keras. Haid?
Ia mencoba mengingat. Kapan terakhir kali ia haid? Awal bulan. Zinnia menghitung dalam hati. Sekarang sudah tanggal delapan.
Berarti...
Sudah sekitar seminggu ia terlambat. Tangannya perlahan mengepal. Kejadian malam itu kembali terngiang begitu jelas.
Pantai yang gelap. Suara ombak. Tubuhnya yang gemetar. Dan pria itu.
Zinnia menggeleng cepat. "Enggak."
Tidak mungkin.
Namun, semakin ia mencoba menepis pikiran itu, semakin kuat rasa takut yang memenuhi dadanya.
Bagaimana kalau...
Zinnia menahan napas.
Bagaimana kalau dirinya benar-benar hamil?
...🔸🔸🔸...
...“Sebuah kesalahan mungkin hanya berlangsung beberapa saat, tetapi akibatnya dapat tinggal jauh lebih lama dalam kehidupan seseorang.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued