Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Salma menatap bergantian ke arah kedua orang di hadapannya dengan dahi berkerut dalam. Di satu sisi, ada Rahma yang tergugu di pelukannya dengan hijab yang melorot setengah tiang memperlihatkan rambutnya yang acak-acakan. Di sisi lain, ada kakaknya, Kapten Sakti, yang berdiri terengah-engah dengan sudut bibir bawah yang robek dan masih mengalirkan darah segar.
"Kak Sakti... Rahma... Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian berdua?!" tanya Salma menuntut penjelasan, suaranya dipenuhi rasa selidik yang kencang.
Sakti yang masih mengusap bibirnya yang perih langsung memasang wajah kaku. Ia berdehem keras, mencoba menutupi rasa gugup dan bersalahnya.
"Salma, kau diam dan jangan ikut campur. Ini urusan rumah tangga Kakak sama Rahma. Kamu sendiri ngapain ke sini?" tanya Sakti ketus, berusaha mengalihkan perhatian sembari melirik ke arah Rahma yang buru-buru memalingkan wajahnya ke dada Salma.
Mendengar jawaban ketus sang kakak, emosi Salma langsung tersulut. Ia mengeratkan pelukannya pada Rahma yang bahunya masih naik-turun karena sisa tangisnya.
"Kak! Jangan bilang Kakak melakukan KDRT ya sama Rahma! Awas saja kalau sampai iya, aku adukan kejadian ini ke Papah!" ancam Salma dengan mata melotot geram.
"Ish... KDRT apa sih, Sal?! Kau jangan suka mengada-ada! Mana berani Kakak melakukan hal kasar seperti itu kepada Rahma!" elak Sakti tak terima karena dituduh melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
"Lantas kenapa Rahma sampai menangis seperti ini? Mana hijab dan rambutnya sampai berantakan begini lagi! Terus Kak Sakti juga, kenapa bibirnya sampai berdarah begitu? Kalian habis berantem fisik, kan?!" tanya Salma lagi dengan intonasi suara yang kian meninggi, menuntut kejujuran.
Sakti mendengus kasar. Merasa tersudut oleh tuduhan adiknya, insting militernya justru memancingnya untuk bertindak nekat demi membungkam kecurigaan Salma.
"Kau itu jangan sok tahu ya! Kau mau tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa? Oke, Kakak akan jelaskan semuanya sekarang juga dari A sampai Z biar kau tidak salah paham!" ucap Sakti sengaja dengan nada menantang di depan Rahma. Matanya melirik tajam ke arah istrinya, sengaja ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu.
Mendengar ancaman suaminya, tangis Rahma seketika berhenti. Kepalanya langsung tegak. Bayangan tentang bagaimana memalukannya jika Salma sampai tahu bahwa mereka baru saja bergulat di atas kasur karena rebutan obat yang berujung pada ciuman paksa dan gigitan maut di bibir, membuat bulu kuduk Rahma merinding seketika.
"Sudah, Sal... tidak apa-apa kok antara aku sama Kak Sakti. Sudah ya, nggak usah dibahas dan diperpanjang lagi!" potong Rahma cepat dengan suara serak. Ia melirik sekilas ke arah Sakti dengan tatapan jengkel bercampur panik, sebelum akhirnya kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam seperti orang ketakutan.
Melihat reaksi Rahma yang mendadak panik, Salma yang awalnya curiga kini mulai menyipitkan matanya. Ia adalah gadis yang cerdas dan cukup peka. Pandangannya perlahan turun, mengamati detail wajah sahabatnya itu.
Kedua mata Salma menyipit saat menyadari bibir Rahma yang terlihat sedikit bengkak dan merah merona, lalu beralih menatap sudut bibir bawah kakaknya yang robek persis seperti bekas gigitan pertahanan diri.
Aha! Sebuah bohlam imajiner seolah menyala terang di atas kepala Salma. Ia langsung paham dinamika apa yang baru saja terjadi di dalam kamar asrama ini.
Salma menarik napas panjang, lalu senyum jahil dan geli mulai terbit di bibirnya. Ia melepaskan pelukannya pada Rahma, lalu berkacak pinggang menatap kakaknya dengan pandangan menggoda.
"Aha... aku tahu sekarang apa yang terjadi di sini," ujar Salma sengaja menjeda kalimatnya, membuat suasana di ruang tamu mendadak sunyi senyap.
"Kak Sakti... kalau Rahmanya sedang tidak mau, ya jangan dipaksa dong! Lagipula, bersikaplah yang lembut sedikit sama wanita!" sambung Salma kemudian, yang diakhiri dengan tawa geli yang tak bisa ia tahan lagi.
Glek!
Mendengar kesimpulan telak dari Salma, baik Sakti maupun Rahma seketika melotot sempurna. Mereka berdua menelan ludah secara bersamaan dengan wajah yang dalam sekejap berubah menjadi semerah kepiting rebus karena rahasia ranjang mereka dikuliti habis di siang bolong.
Rahma, yang merasa detak jantungnya sudah melompat melebihi batas normal, buru-buru memutar tubuhnya.
"A...aku buatkan minum dulu untukmu, Sal!" pamitnya terbata-bata, lalu setengah berlari menuju dapur demi menyembunyikan wajahnya yang sudah panas menyerupai kepiting rebus.
Salma setengah berteriak menyahut dari ruang tamu, "Rahma, tidak perlu repot-repot loh! Aku tadi sekalian lewat dan beli mpek-mpek Palembang kesukaanmu!" ujarnya sembari melirik jahil ke arah Sakti yang berdiri kaku bagai manekin hidup di dekatnya.
"Nggak ngerepotin, Sal! Makasih ya mpek-mpeknya!" balas Rahma sedikit berteriak dari arah dapur, menyembunyikan getaran gugup di suaranya.
Begitu siluet Rahma benar-benar menghilang di balik sekat dapur, Salma langsung mendekati kakaknya. Dengan menyilangkan dada, ia berbisik dengan nada super jahil, "Kak, sudah mulai suka ya sama Rahma? Hayo, ngaku! Jangan suka dipendam, nanti jerawatan loh!"
Sakti langsung membuang muka, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya yang mendadak tidak karuan. "Apaan sih, Sal? Jangan ngaco kamu!" ketusnya pelan, berusaha mempertahankan wibawa militernya yang sudah runtuh tak bersisa di depan sang adik.
"Heleh, jangan menyangkal ya, Kak. Lihat tuh, wajah Kak Sakti sampai merah begitu!" goda Salma lagi, menyenggol lengan kekar kakaknya dengan siku. "Kalau suka cepat bilang, nggak usah gengsi... Nanti kalau Rahma diambil orang lain, baru tahu rasa!"
Deg!
Kata-kata Salma seolah menyentil ego terdalamnya Sakti. Ingatannya langsung berputar cepat, memutar kembali adegan pagi tadi saat ia melihat betapa akrabnya Rahma mengobrol dengan Mayor Adnan. Dadanya kembali terasa sesak oleh rasa tidak rela yang aneh.
"Kakak nggak akan biarkan Rahma direbut orang lain! Dia kan istriku. Jangan suka ngaco kamu, Sal!" tegas Sakti, suaranya sedikit meninggi karena terbawa emosi cemburu yang tak sengaja tersulut.
Mata Salma seketika berbinar menang.
"Cie... cie... akhirnya Kakak beneran suka ya sama Rahma!" sorak Salma pelan namun penuh nada kemenangan.
Mendengar ucapan Salma yang begitu blak-blakan, Sakti panik setengah mati. Takut suara cempreng adiknya terdengar sampai ke dapur, dengan cepat ia membekap mulut Salma menggunakan telapak tangannya yang lebar.
"Ssssttt! Diam, Sal!" bisik Sakti panik dengan mata melotot.
Tepat pada saat itu, Rahma muncul dari arah dapur. Penampilannya kini sudah jauh lebih rapi, jilbabnya sudah dibetulkan dengan benar dan tidak ada lagi helai rambut yang berantakan. Ia membawa nampan berisi minuman dingin beserta piring kecil dan mangkuk untuk mpek-mpek bawaan Salma.
Sakti buru-buru menarik tangannya dari mulut Salma, lalu berpura-pura merapikan kaosnya seolah tidak terjadi apa-apa. Rahma meletakkan nampan di atas meja dengan gerakan yang sangat hati-hati, benar-benar berusaha menghindari kontak mata dengan suaminya.
"Silakan dimakan, Sal," ujar Rahma pelan, mendudukkan diri di samping Salma sekali lagi, mencari jarak terjauh dari jangkauan Sakti.
Mereka bertiga akhirnya mulai menikmati mpek-mpek Palembang tersebut bersama-sama. Namun, keheningan di antara Sakti dan Rahma terasa begitu kaku dan sarat akan kecanggungan. Sakti makan dengan perlahan sambil sesekali melirik istrinya dengan kikuk, sedangkan Rahma sibuk memotong mpek-mpek di piringnya seolah itu adalah tugas paling penting di dunia.
Salma yang duduk di antara mereka hanya bisa mengunyah kuah cuko sambil tersenyum-senyum geli. Pemandangan dua pengantin baru yang sedang dilanda salah tingkah akut ini benar-benar menjadi hiburan gratis yang sangat menyenangkan bagi Salma siang ini.
Bersambung...
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi