Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Menjelang sore, Salma akhirnya memutuskan untuk pamit pulang dan kembali ke kosannya. Ia tahu diri untuk tidak berlama-lama mengganggu pasangan pengantin baru ini, terlebih setelah insiden menggelikan tadi siang yang sempat membuatnya salah paham terhadap kakaknya sendiri. Salma sempat melempar kerlingan jahil penuh arti kepada Sakti sebelum melangkah keluar pagar, yang dibalas Sakti dengan pelototan tajam.
Namun, begitu Salma benar-benar pergi dan pintu rumah dinas kembali ditutup, atmosfir di dalam rumah seketika berubah drastis. Sunyi dan canggung. Baik Sakti maupun Rahma mendadak menjadi sangat sibuk dengan urusan masing-masing demi menghindari interaksi. Rahma memilih mengurung diri di dapur untuk mencuci mangkuk, sedangkan Sakti berpura-pura memeriksa berkas di ruang tamu.
Waktu bergulir lambat hingga selepas isya. Sakti berdiri di depan lemari, menatap seragam dinas malamnya yang tergantung rapi. Setelah menimbang-nimbang dengan gejolak batin yang melelahkan, ia akhirnya memutuskan untuk masuk bekerja malam ini, mengabaikan sisa jatah cutinya.
Pikirannya bisa kacau dan berbahaya jika malam ini ia kembali berduaan di rumah bersama Rahma. Sakti sendiri bingung, kenapa belakangan ini ia begitu sulit menahan diri setiap kali berada di dekat istrinya. Padahal dulu, ia sudah mewanti-wanti dirinya sendiri dan menegaskan bahwa ia tidak akan mungkin menyukai Rahma. Tapi kini, semua ucapan ketus itu seolah berbalik menjadi bumerang yang menghantam telak egonya. Tuhan benar-benar sedang berpihak pada kepolosan Rahma, menjungkirbalikkan hati sang Kapten tanpa ampun.
Sakti melangkah mendekati Rahma yang sedang merapikan meja makan.
"Rahma, malam ini aku masuk dinas. Ada beberapa urusan di markas yang harus aku selesaikan," ujar Sakti, berusaha menjaga nada suaranya tetap tegas dan formal seperti biasa.
Rahma cukup terkejut mendengar keputusan tiba-tiba suaminya. "Loh, Kak Sakti kan masih ada sisa cuti menikah beberapa hari lagi?" tanya Rahma refleks, menatap suaminya dengan dahi berkerut.
"Tidak apa-apa, lebih cepat lebih baik agar pekerjaanku tidak menumpuk," kilah Sakti kaku, tanpa berani menatap mata Rahma terlalu lama. "Aku pergi dulu. Jangan lupa kunci semua pintu."
"I...iya, Kak. Hati-hati di jalan," jawab Rahma pelan.
Setelah punggung tegap Sakti menghilang di balik pintu dan deru mobilnya menjauh, Rahma menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Jujur saja, menurutnya keputusan Sakti untuk dinas malam ini adalah pilihan yang sangat tepat. Rahma benar-benar membutuhkan ketenangan dan ruang untuk bernapas setelah insiden menegangkan sekaligus memalukan tadi siang.
Kebetulan, besok pagi Rahma juga berencana untuk pergi ke kampus sejak awal untuk mengurus keperluan kuliahnya yang sempat tertunda. Jadi, di saat Sakti pulang dari tugas malamnya besok pagi, posisinya Rahma sudah tidak ada di rumah. Mereka hanya akan memiliki waktu yang sangat sebentar untuk bertemu. Strategi saling menghindar ini dirasa paling aman untuk saat ini.
Rahma berjalan gontai masuk ke dalam kamar utama, menatap kasur yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu pergulatan mereka. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang, menyentuh bibirnya yang kini sudah tidak terlalu bengkak.
'Lebih baik seperti ini saja untuk sementara waktu,' ucap Rahma lirih dalam hati, menatap kosong ke arah lantai. 'Aku tidak mau sampai Kak Sakti menyentuhku lebih jauh lagi. Entahlah... apa yang sudah ia lakukan padaku tadi siang itu atas landasan apa? Apakah karena dia sudah mulai cinta? Atau... atau itu semua hanya sekadar pelampiasan semata karena dia frustrasi akibat ditinggal menikah oleh mantan kekasihnya?'
Rahma memeluk lututnya sendiri, merasakan dadanya kembali berdegup kencang saat ingatan itu menyerbu.
'Kak Sakti menciumku tidak hanya sekali... tapi sudah dua kali. Dan ciuman tadi siang... ya Tuhan, ciuman tadi siang hampir saja meruntuhkan seluruh tembok pertahananku. Hampir saja aku terlena dan menyerahkan segalanya,' batin Rahma cemas, merutuki hatinya yang ternyata begitu rapuh di hadapan pesona dingin suaminya sendiri.
*
*
Setibanya di Markas Siliwangi, deru mesin kendaraan Kapten Sakti seketika memecah keheningan malam. Kemunculannya yang tiba-tiba itu sukses mengejutkan para prajurit yang sedang berjaga. Padahal, beberapa hari ini para bawahannya merasa hidup mereka sangat damai karena komandan galak mereka diketahui masih dalam masa cuti menikah. Namun siapa sangka, malam ini sang Singa telah kembali ke sarangnya lebih cepat dari perkiraan.
"Siap, hormat, Kapten!" seru para prajurit jaga dengan sigap memposisikan tubuh mereka, memberikan hormat tegap kepada Sang Kapten Sakti Prawira Kusuma.
Sakti pun mengangguk tegas dan menyunggingkan senyuman lebar. Entah kenapa, ia merasa jauh lebih nyaman dan tenang berada di markas ini ketimbang terjebak dalam kecanggungan di rumah dinas bersama Rahma. Pria tegap itu segera melangkah masuk ke dalam kantornya dan langsung memulai pekerjaannya.
Malam itu, Sakti bergerak aktif mengecek keamanan seluruh pangkalan dan mengawasi dengan ketat pengamanan dokumen serta materi penting militer. Setelah memastikan semuanya dalam kondisi aman dan terkendali, Sakti memutuskan untuk berjalan ke pos jaga depan. Ia duduk di sana sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat demi menjaga agar kedua matanya tidak mengantuk.
Sretttt!
Keheningan malam itu terusik saat sesosok pria dengan seragam medis militer mendadak muncul dan melangkah menghampiri pos jaga. Pria itu tidak lain adalah Mayor Adnan. Namun, saat langkah kaki sang Mayor semakin dekat dan sorot lampu pos jaga menerangi wajah Sakti, senyuman geli langsung terukir di bibir Adnan. Mata dokternya yang jeli langsung menangkap luka robek kecil yang masih memerah di sudut bibir bawah sang Kapten.
"Sepertinya sakitmu itu hanya bisa disembuhkan oleh istrimu ya, Kapten?" seloroh Mayor Adnan sambil melipat kedua tangannya di dada, langsung mencoba menggoda.
Sakti seketika mengerutkan keningnya dalam-dalam. Rasa kesal dan cemburu yang terpendam sejak pagi tadi akibat keakraban Mayor Adnan dengan Rahma mendadak bangkit kembali. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan ketukan agak keras.
"Perkataanmu konyol sekali, Mayor. Mana ada penyakit demam bisa sembuh hanya dengan cara seperti itu?" elak Sakti kaku, berusaha menutupi kepanikan di hatinya.
"Heleh... sudahlah, kau jangan mengelak lagi di depanku," goda Adnan, menunjuk sudut bibir Sakti dengan dagunya. "Tuh, buktinya sudut bibirmu sampai terluka dan robek seperti itu. Bisa kubayangkan betapa panasnya hubungan kalian tadi siang setelah aku pulang. Sepertinya kau terlalu gragas dan agresif, Kapten, sampai-sampai istrimu terpaksa menggigit bibirmu untuk bertahan!"
Uhuuk!
Tebakan jitu nan nyata dari Mayor Adnan sukses membuat Sakti tersedak ludahnya sendiri. Dalam sekejap, wajah tegas sang komandan berubah menjadi merah padam hingga ke ujung telinganya. Ego dan wibawa perwiranya serasa digilas habis oleh ledekan rekan sejawatnya itu.
Namun, belum sempat Sakti membuka mulut untuk membalas ejekan telak tersebut, Mayor Adnan sudah lebih dulu melirik jam tangannya dan menepuk bahu Sakti sambil tertawa puas.
"Sudah ya, aku tidak mau mengganggumu lagi. Kebetulan tugasku malam ini sudah selesai dan aku harus segera undur pamit untuk pulang. Aku mau istirahat total, karena besok pagi-pagi sekali aku tidak boleh sampai kesiangan pergi ke Kampus Padjadjaran!" ucap Mayor Adnan santai.
Mendengar nama universitas tempat Rahma menimba ilmu disebut, jantung Sakti seketika mencelos. Matanya membelalak menatap punggung Mayor Adnan yang mulai berbalik arah menjauh.
'Ngapain dia pergi ke sana besok pagi? Ada urusan apa dia ke kampus Universitas Padjadjaran?!' batin Sakti bergemuruh hebat, dipenuhi rasa curiga dan kecemburuan yang mendadak membakar dadanya kembali di tengah dinginnya angin malam markas.
Bersambung...
kira2 siapa kah ya orang nya..
lanjutkan donk Thor
is the best deh friend yg ini.. hihihihihi
terus gali terus biar terbongkar
yg kemaren ketemu sama s dinda s yuda apa bukan si?
aku lupa othorrr.. heheheh
ttp tenang dlm menjalankan misi ini ya sakti..
Untungnya Rahma sudah tidak salah paham kembali..
semangat n semoga rencana kalian berhasil n ttp hati-hati n waspada