Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8 – IDENTITAS TERBONGKAR
"Bos, apa Anda butuh karyawan?"
Tanya Kenzo kepada pemilik kedai tersebut. Pria itu sedang menyapu lantai, berkeringat, wajahnya lelah tapi ramah.
"Oh... ternyata kau yang waktu itu."
Kenzo tersenyum mengangguk.
"Apa kau sedang butuh pekerjaan?"
"Benar, Bos."
"Hmmm... baiklah, tetapi aku tidak dapat membayar mu lebih."
"Aku hanya bisa membayar mu 1400 Yuan per bulan dan akan memberimu 700 Yuan tiap dua minggu."
"Terima kasih, Bos. Serahkan kepadaku."
"Baiklah, kau bisa mulai kerja hari ini."
"Tentu, apa yang harus aku lakukan?"
"Pergilah cuci piringnya. Jika ada pelanggan, kau segera mencatat pesanannya."
Kenzo mengangguk lalu pergi ke dalam mencuci piring. Air dingin mengalir di tangannya. Sabut kawat menggosok noda-noda makanan. Pekerjaan sederhana. Tapi ini kebebasan. Ini hidup normal.
Hari itu, setelah Kenzo melamar, kedai paman tersebut tiba-tiba ramai pengunjung. Entah kebetulan atau takdir. Meja-meja penuh, antrian di depan, suara percakapan dan tawa menggema.
Kenzo dengan cepat mencatat pesanan mereka satu persatu. Sambil mencuci, sambil mencatat, sambil mengantar. Tubuhnya bergerak seperti mesin yang efisien. Tak ada yang terlewat. Tak ada yang salah.
Hingga jam sembilan malam, kedai pun mulai sepi. Lampu neon merah di luar berkedip-kedip. Sisa-sisa makanan di meja menunggu dibersihkan.
"Akhirnya... hari ini aku bisa santai sejenak."
Kenzo tersenyum melihat paman pemilik kedai yang terlihat lelah duduk sambil meminum sebotol bir. Wajah paman itu memerah, mata berkunang-kunang, tapi senyumnya puas.
"Hei anak muda, aku belum tahu namamu."
"Namaku Kenzo Huang."
Balas Kenzo sambil membersihkan meja-mejanya. Kain lap bergerak cepat, mengumpulkan sisa-sisa nasi dan tulang.
"Hahaha... namamu terdengar aneh."
"Tetapi aku sungguh beruntung memilikimu."
"Hari ini setelah kau datang, kedaiku tiba-tiba ramai."
"Hei Huang, terima kasih."
"Justru aku yang seharusnya berterima kasih kepada Bos, karena mau menerimaku."
"Hei... bicara apa kau ini."
Setelah membereskan semuanya, Kenzo pun pamit pulang. Tubuhnya pegal, kakinya lelah, tapi dadanya terasa hangat. Ini hasil kerja keras. Ini hasil jerih payah. Bukan hasil kekerasan. Bukan hasil darah.
"Bos, aku akan pulang."
"Hei, tunggu sebentar."
Pemilik kedai tersebut tiba-tiba masuk ke dalam dan keluar membawa seekor bebek panggang utuh dan dua botol bir. Aroma rempah dan daging asap menguar. Kenzo menelan ludah. Perutnya bergemuruh.
"Bawalah ini."
"I-ini untukku?"
"Tentu saja, kau pikir ini untuk anjing itu?"
Sambil menunjuk anjing liar yang sedang mengais sisa-sisa makanan di sudut jalan. Anjing itu menggonggong responsif, lalu lari ketakutan.
Kenzo tertawa lalu menerimanya. Tawa yang asli. Tawa yang keluar dari perut. Sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Dan ini, ambillah."
Pemilik kedai tersebut memasukkan uang 500 Yuan ke dalam kantong kemeja Kenzo. Uang kertas yang masih baru, bau tinta.
"B-Bos, apa ini."
Kenzo mencoba menahan tangan paman kedai tersebut.
"Hei... jangan menolak, ini adalah bonus buatmu."
"Bos, mengapa kau sangat baik kepadaku."
Kenzo mencoba menahan air mata haru saat memandang ke arah paman kedai. Mata berkaca-kaca. Tenggorokan tersekat. Dia tak ingin menangis di depan orang. Dia tak ingin terlihat lemah.
"Hei... sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir."
"Sudah, sana... sana... sana cepat pulang."
"Orang rumah pasti menunggumu."
Kenzo pun mengangguk tersenyum lalu pergi meninggalkan kedai. Langkahnya ringan. Bebek panggang di tangan kirinya, bir di tangan kanan. Seperti orang yang baru saja menang lotre.
Setelah sampai di panti, Kenzo pun masuk ke dalam lalu melihat nenek dan Yue Yan menunggunya di meja makan. Lampu di ruang makan menyala temaram. Anak-anak lain sudah tidur. Hanya mereka bertiga.
"Kak, kau baru pulang?"
"Bagaimana Huang, apa kau sudah dapat pekerjaan?"
"Nenek... Yue, lihatlah aku membawa bebek panggang."
Kenzo mendekati mereka, lalu meletakkan bebek panggang dan dua botol bir di meja. Aroma makanan menguar, mengundang perut yang kosong.
"Huang, dari mana kau mendapatkan bebek panggang ini?"
"Nenek, aku sudah mendapatkan pekerjaan, di sebuah kedai makanan."
"Benarkah? Baguslah kalau begitu."
Kenzo pun mengeluarkan uang yang diberikan paman tersebut.
"Nenek, ini untuk nenek."
Kenzo memberikan 300 Yuan kepada nenek panti.
"Yue, ini ambillah untuk jajan."
Lalu Kenzo pun memberikan 100 Yuan ke Yue Yan.
"Kak, terima kasih."
"Kau pasti lelah. Istirahatlah."
"Baik, Nek."
Lalu Kenzo pun pergi menuju ke kamarnya dan membawa dua botol bir bersamanya. Langkahnya sedikit terhuyung. Bukan karena mabuk. Karena lelah. Karena bahagia.
"Hei anak nakal... jangan kau habiskan itu..."
"Tenang, Nek... aku hanya minum sedikit."
"Dasar..."
Ucap nenek melihat tingkah Kenzo. Tapi senyumnya terlihat. Senyum ibu yang melihat anaknya pulang dengan hasil kerja keras.
"Yue Yan, kau juga tidurlah."
"Baik, Nek..."
Hari-hari pun berlanjut. Rutinitas baru. Pagi kerja, malam pulang. Kadang dengan bebek panggang, kadang dengan uang ekstra. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan.
Saat Kenzo sedang membersihkan meja di kedai, sebuah mobil mewah berhenti di depan kedai. Mercedes hitam, kilatannya menyilaukan. Kenzo menghentikan kerjanya dan memperhatikan mobil mewah tersebut. Instingnya berteriak. Ini bukan pelanggan biasa.
Lalu seorang pengawal membuka pintu mobil dan muncul seorang wanita cantik dengan pakaian mewah keluar dari dalam mobil. Parfum mahal menguar sebelum dia melangkah. High heels berdentum di trotoar yang kasar. Liu Xiang. Lebih anggun, lebih berbahaya dari yang diingat Kenzo.
"Nona Liu Xiang?!"
"Hai Kenzo, lama tidak bertemu."
Liu Xiang menghampiri Kenzo. Senyumnya tipis, matanya menyelidik. Dia melihat perubahan. Pria di depannya lebih kurus, lebih tua, tapi lebih... hidup.
"Apa yang Anda lakukan di sini?"
Liu Xiang duduk di meja di hadapan Kenzo. Kursi plastik murahan yang dia duduki terlihat tidak pantas.
"Menurutmu?"
"Nona pasti bercanda. Orang seperti Anda tidak mungkin makan di tempat seperti ini."
"Tentu saja. Selain memesan makanan, aku datang mencari mu."
"Shadow of Death..."
Kenzo terkejut mendengar ucapan Liu Xiang. Tubuhnya menegang. Tangan kanannya bergerak tanpa sadar ke arah pisau dapur di dekatnya.
"Nona, apa yang Anda bicarakan?"
"Kenzo, di hadapanku kau tak perlu menyembunyikan diri."
"Aku telah tahu semuanya."
Liu Xiang melempar dokumen di hadapan Kenzo. Map tebal, berisi kertas-kertas yang terlihat resmi. Foto-foto. Berkas-berkas.
Dengan ragu, Kenzo mengambil dokumen tersebut lalu membukanya. Dan Kenzo pun terkejut melihat semua data-data tentang dirinya tertulis di dalamnya. Nama asli. Kasus penjara. Pembunuhan-pembunuhan di dalam penjara. Semuanya tercatat rapi.
"K-kau?!!!"
"Tenang... aku akan bantu kau untuk menghapus file tentangmu semuanya."
"Apa maumu?!!!"
Liu Xiang kembali melemparkan amplop coklat ke atas meja ke hadapan Kenzo. Amplop itu mendarat dengan bunyi plak yang kering.
Kenzo pun meraihnya dan membuka amplop tersebut. Foto seorang pria berusia lima puluhan, wajahnya bulat, mata sipit, senyumnya palsu.
"Dia adalah Michel Tang."
"Pemilik sebuah kasino dan ketua dari kelompok Tang Xin."
Kenzo memasukkan foto tersebut ke dalam amplop dan menutup amplop tersebut. Matanya menatap Liu Xiang. Dingin. Menyelidik.
"Nona, maaf. Aku memiliki kehidupan baru sekarang."
"Tolong hormati keputusanku."
Kenzo membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Langkahnya cepat, tapi teratur. Tak ada yang menunjukkan kepanikan.
"Tunggu."
"Aku akan membayar mu 500 juta."
"Lupakan."
"Kenzo... aku akan membantumu mencari Lin Xian Mei..."
"Aku bisa mencarinya sendirian."
"Kenzo... jika kau berubah pikiran, datanglah ke tempatku."
Teriak Liu Xiang kepada Kenzo yang pergi masuk ke dalam kedai. Suaranya tajam, berwibawa, tapi ada sedikit kepanikan di dalamnya. Dia butuh pria ini. Dia tahu itu.
Kenzo berhenti sejenak di ambang pintu. Punggungnya menghadap Liu Xiang. Tapi dia tak menoleh. Dia hanya berdiri diam, menghitung detik. Lalu melangkah lagi, menghilang ke dalam kedai.
Di dalam, dia menatap tangan kanannya yang bergetar. Bukan karena takut. Karena gairah. Karena hasrat untuk kembali ke dunia yang dia tinggalkan.
Tapi dia ingat Yue Yan. Dia ingat nenek. Dia ingat bebek panggang dan 500 Yuan bonus.
Dia mengatupkan tangan, mengepalkan nya erat.
Bukan sekarang.
...$ BERSAMBUNG $...