NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkekang

Tepuk tangan membahana memenuhi seluruh ruang teater saat Laras melakukan sembah terakhirnya di tengah panggung. Lampu spotlight putih menyinari tubuhnya yang masih bersimbah keringat, membuat selendang merah tua warisan ibunya berkilau seolah bernyawa. Di barisan terdepan, Elang Dirgantara berdiri paling awal, memberikan tepuk tangan yang pelan namun penuh penekanan, matanya mengunci sosok Laras dengan binar kemenangan yang mengerikan sekaligus memuja.

​Begitu tirai beludru tertutup, Elang tidak menunggu Laras kembali ke ruang rias. Ia menerobos masuk ke belakang panggung, menghalau kru yang mencoba mendekat, dan langsung merengkuh bahu Laras. Ia tidak peduli jika kostum mahal itu basah oleh peluh; baginya, Laras saat ini adalah mahakarya yang baru saja selesai ia pamerkan kepada dunia.

​"Sempurna," bisik Elang di puncak kepala Laras. "Kamu membuat mereka semua bertekuk lutut."

​Belum sempat Laras mengatur napasnya yang masih memburu, Elang sudah menuntunnya keluar menuju lobi utama, tempat para tamu VIP berkumpul. Di sana, telah berdiri tiga orang pria dan wanita paruh baya dengan pakaian necis—mereka adalah kurator tari internasional dan pemilik galeri seni terpandang yang pengaruhnya menjangkau hingga ke Eropa.

​"Tuan Elang, ini benar-benar penemuan abad ini!" seru salah satu kurator wanita asal Belanda, matanya berbinar menatap Laras. "Gerakannya, emosinya... dia bukan sekadar menari, dia bercerita. Anda benar-benar berhasil menemukan permata yang tersembunyi di lumpur Jakarta."

​Elang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa kepemilikan. "Saya tidak hanya menemukannya, Madam. Saya mengasahnya hingga ia kembali bersinar sebagaimana mestinya."

​Seorang kurator pria bertubuh jangkung mendekat, menyodorkan kartu namanya dengan antusias. "Laras, namaku Julian. Aku sedang menggarap proyek kolaborasi di Opera House Sydney bulan depan. Aku ingin kamu menjadi penampil utamanya. Ini adalah kesempatan langka, namamu akan sejajar dengan balerina kelas dunia."

​Mata Laras membelalak. Sydney? Opera House? Itu adalah mimpi tertinggi bagi setiap penari di negeri ini. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena tarian, melainkan karena harapan yang membuncah. Ia membuka mulutnya, hendak mengucapkan rasa terima kasih dan ketertarikannya.

​Namun, sebelum satu kata pun keluar dari bibir Laras, tangan Elang yang berada di pinggangnya meremas pelan—sebuah peringatan fisik yang dingin.

​"Terima kasih atas tawarannya, Julian," potong Elang dengan suara baritonnya yang tenang namun tak terbantahkan. "Tapi Laras telah melalui jadwal latihan yang sangat padat untuk pementasan malam ini. Saya telah memutuskan bahwa dia butuh istirahat total untuk beberapa waktu ke depan. Dia tidak akan mengambil jadwal pementasan luar dalam waktu dekat."

​Laras tertegun. Ia menoleh ke arah Elang dengan tatapan tidak percaya. "Tapi... Elang, saya..."

​"Laras sedang sangat lelah, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu," lanjut Elang, mengabaikan protes kecil Laras. Ia menatap para kurator itu dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa diskusi ini telah berakhir. "Dia butuh waktu untuk memulihkan tenaganya di bawah pengawasan saya. Kita bisa membicarakan bisnis lagi... mungkin tahun depan."

​Para kurator itu tampak kecewa, namun mereka tidak berani mendebat pria yang membiayai seluruh kemegahan malam ini. Mereka hanya bisa mengangguk sopan dan perlahan menjauh, meninggalkan Laras yang merasa dunianya baru saja menciut kembali setelah sempat melebar sesaat.

​"Ayo, mobil sudah siap," desis Elang di telinga Laras.

​"Kenapa Anda menolaknya?" bisik Laras saat mereka berjalan cepat menuju pintu keluar belakang. "Itu Sydney, Elang. Itu mimpi saya."

​Elang tidak berhenti melangkah. Wajahnya mengeras. "Mimpimu adalah apa yang aku berikan padamu, Laras. Bukan apa yang ditawarkan orang asing yang hanya ingin mengeksploitasi keindahanmu di panggung yang jauh dari jangkauanku."

​Ia membukakan pintu mobil Rolls-Royce-nya dengan gerakan yang sangat sopan namun tegas, seolah sedang memasukkan kembali benda berharga ke dalam brankasnya. Begitu mobil melaju, keheningan menyelimuti mereka. Laras menatap keluar jendela, merasa sesak. Ia baru saja membuktikan kemampuannya pada dunia, namun pria di sampingnya justru segera menariknya kembali ke dalam bayangan.

​Mobil tidak menuju ke arah apartemen. Setelah perjalanan sekitar tiga puluh menit, mereka tiba di sebuah gedung pencakar langit yang puncaknya tampak menembus awan. Elang menuntun Laras menuju lift pribadi yang membumbung tinggi menuju lantai paling atas.

​Begitu pintu lift terbuka, Laras terperangah. Mereka berada di sebuah rooftop tertutup kaca yang dihiasi ribuan lampu gantung kecil menyerupai bintang. Di tengah ruangan, hanya ada satu meja bundar yang telah ditata dengan sangat romantis. Lilin-lilin aromaterapi menyebarkan wangi mawar, dan di kejauhan, pemandangan lampu-lampu Jakarta terlihat seperti hamparan permata.

​"Selamat atas kesuksesanmu malam ini," ucap Elang, suaranya kini melunak, kembali menjadi pria yang memuja Laras dengan segenap jiwanya.

​Ia menarik kursi untuk Laras, lalu duduk di hadapannya. Seorang pelayan muncul secara ajaib, menuangkan wine merah ke dalam gelas kristal sebelum menghilang kembali ke kegelapan.

​Laras menatap makanan mewah di depannya, namun seleranya telah hilang. "Mengapa kita di sini? Mengapa Anda melakukan semua ini, tapi melarang saya untuk berkembang lebih jauh?"

​Elang menyesap minumannya, matanya menatap Laras melampaui api lilin. "Aku tidak melarangmu berkembang, Laras. Aku hanya melarangmu pergi terlalu jauh dari mataku. Di Sydney, aku tidak bisa menjagamu setiap detik. Di sana, ribuan mata akan menatapmu, dan aku tidak akan ada di sana untuk memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang berani memikirkan hal-hal kotor tentangmu."

​"Itu hanya pertunjukan, Elang! Itu profesi saya!" suara Laras sedikit meninggi, rasa tulusnya mulai berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa ia sedang dimiliki oleh seorang pria yang paranoid.

​Elang berdiri, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri di belakang Laras. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Laras, membungkuk hingga bibirnya menyentuh telinga wanita itu.

​"Bagimu itu profesi. Bagiku itu ancaman," gumam Elang. "Aku tidak ingin berbagi keindahanmu dengan dunia lebih dari yang diperlukan. Malam ini sudah cukup. Kamu sudah membuktikan kamu yang terbaik, dan sekarang, kembalilah padaku seutuhnya. Jangan biarkan ambisi menjauhkanmu dari pelukanku."

​Elang mencium bahu Laras yang terbuka, sebuah ciuman yang terasa hangat namun bagi Laras, itu terasa seperti sebuah stempel yang mengatakan: Properti Elang Dirgantara. Tidak untuk dipamerkan di luar sangkar.

​Laras memejamkan mata, merasakan air mata yang hampir jatuh. Di tempat yang begitu romantis ini, di atas puncak dunia dengan kemewahan yang tak terbayangkan, ia menyadari satu hal yang mengerikan. Semakin besar kesuksesan yang ia raih, semakin kuat pula Elang akan menggenggamnya. Makan malam romantis ini bukanlah perayaan, melainkan sebuah cara Elang untuk menenangkan "burung" peliharaannya agar tidak lagi mencoba mengepakkan sayap menuju Sydney atau tempat mana pun yang berada di luar jangkauan Sang Elang.

​"Makanlah, Sayang," bisik Elang lembut, tangannya kini mengusap leher Laras dengan posesivitas yang tak terbantahkan. "Malam ini adalah milik kita berdua. Hanya kita. Tidak ada kurator, tidak ada panggung, dan tidak ada dunia luar."

​Laras terpaksa mengangkat garpunya, menyuap makanan yang terasa hambar, sementara di dalam hatinya, tarian kesedihan yang ia lakukan di studio tadi pagi kembali bergema. Ia tertawan dalam cinta yang begitu megah, namun begitu menyesakkan.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!