Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saham
Sementara itu, di sisi lain kota yang jauh dari kegalauan Gion, sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengkilap meluncur mulus memasuki gerbang besi raksasa yang dijaga ketat. Di balik gerbang itu, terbentang halaman luas dengan air mancur bergaya Eropa yang megah, menuju sebuah mansion yang lebih mirip istana daripada sekadar rumah.
Di dalam mobil, Zayn sesekali melirik Laila yang tampak termenung menatap ke luar jendela. Riasan Latina yang tajam itu masih melekat, namun sorot matanya kini jauh lebih lembut dan sedikit basah.
"Kau gugup?" tanya Zayn memecah keheningan. Suaranya tidak lagi dingin seperti saat menghadapi Gion, melainkan hangat dan perhatian.
Laila menoleh, lalu tersenyum tipis. "Sedikit. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini. Aku merasa... malu, Zayn."
Zayn meraih jemari Laila dan menggenggamnya erat. "Tidak ada yang perlu dimalukan. Ini rumahmu. Mereka menunggumu," ucap Zayn lembut. Seakan tak ingin semakin menambah beban di hati Laila.
Begitu mobil berhenti di depan lobi utama, pintu langsung dibukakan oleh pelayan berseragam rapi, sambil membungkuk hormat pada tuan muda keluarga Malik. Zayn menuntun Laila masuk ke dalam ruang tamu utama yang langit-langitnya dihiasi lukisan mural klasik dan lampu gantung kristal yang luar biasa besar.
Di sana, di atas sofa kulit berwarna gading, duduklah dua sosok yang sangat berpengaruh: Tuan Frank Malik dan istrinya, Nyonya Rosa Pradipta Malik. Keduanya langsung berdiri saat melihat sosok wanita yang berjalan di samping putra mereka.
Laila mempercepat langkahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa ragu, ia mendekati Frank dan membungkuk hormat, menyalami punggung tangan pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.
"Papa Frank..." bisik Laila lirih.
Hatinya terasa sesak, seolah beban di pundaknya kini sirna. Diganti kelegaan saat berjumpa dengan kedua orang tua Zayn yang sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri.
Frank menepuk bahu Laila dengan tangan yang sedikit gemetar karena emosi. "Kau pulang, Nak. Akhirnya kau pulang."
Belum sempat Laila berkata-kata lagi, Nyonya Rosa sudah menghambur memeluknya. Pelukan itu begitu erat, seolah takut Laila akan menghilang lagi jika dilepaskan. Tangis Nyonya Rosa pecah seketika. Tangis kerinduan yang tak pernah terobati dengan perjumpaan..Akhirnya bisa kembali bertemu. Selama ini nyonya Rosa hanya bisa memantau dari jauh, dan tak bisa turut campur dalam masalah rumah tangga Laila.
"Lima tahun, Sayang... Lima tahun kamu pergi dan memilih hidup menderita bersama pria bernama Gion itu," isak Nyonya Rosa di bahu Laila. "Kenapa kamu begitu keras kepala? Jika bukan karena keinginanmu, Sinar Pradipta Corp tidak akan sudi mengeluarkan satu sen pun untuk berinvestasi di Wijaya Grup milik keluarga itu!"
Mendengar itu, tangis Laila pun ikut tumpah. Kenangan masa-masa sulitnya saat melayani Gion dan mertuanya yang kejam berkelebat di pikiran.
"Maaf... maafkan aku, Mommy," isak Laila dalam pelukan hangat itu. "Aku bodoh. Aku pikir dengan menikahi Gion dan memberikan segalanya, aku bisa mengubah hidup dari nol dan membangun kebahagiaan sendiri. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa sukses tanpa nama besar keluarga Malik... tapi aku salah besar."
Nyonya Rosa melepaskan pelukannya perlahan, lalu memegang kedua pipi Laila, menghapus air mata yang merusak riasannya yang cantik.
"Sudahlah, Nak. Jangan diingat lagi. Kini kamu aman di bawah penjagaan Zayn. Kau tak perlu khawatir lagi tentang tikus-tikus kecil seperti Gion dan selingkuhannya itu," ujar Rosa dengan nada protektif.
Frank berdeham, mencoba menetralkan suasana yang penuh haru. "Rosa benar, Laila. Orang tuamu di surga pasti sedih melihat putri tunggal sahabat terbaikku ini hidup sengsara selama lima tahun terakhir. Mereka menitipkanmu pada kami bukan untuk dijadikan pelayan di rumah keluarga Wijaya."
Frank mengajak mereka semua untuk duduk. Pelayan dengan cekatan menyajikan teh earl grey dan camilan premium, namun perhatian semua orang tetap tertuju pada Laila.
"Kau harus tahu satu hal, Laila," lanjut Frank dengan nada serius namun tenang. "Selama lima tahun ini, meskipun kau menghilang dan mengganti identitasmu menjadi wanita biasa, hakmu tidak pernah hilang. Kamu masih memegang saham kedua terbesar di Sinar Pradipta Grup. Itu adalah warisan mutlak dari almarhum papamu."
Laila tertegun. "Saham... sebesar itu masih atasku?"
Zayn, yang sejak tadi duduk tenang di samping Laila sambil menyesap tehnya, akhirnya angkat bicara. "Tentu saja. Aku yang menjaganya agar tidak ada satu pun orang luar yang bisa menyentuhnya. Termasuk mantan suamimu yang serakah itu. Dia bahkan tidak tahu kalau 'aset' yang dia buang sebenarnya adalah pemilik asli dari sebagian besar modal yang menggerakkan bisnisnya selama ini."
Zayn melirik Laila dengan senyum miring yang penuh arti. "Jadi, Queen... sekarang saatnya kamu berhenti bersembunyi. Saatnya kamu bergerak bersamaku untuk membangun kembali kerajaan bisnis kita agar semakin berkembang. Besok, aku ingin kau duduk di kursi direksi."
Laila menghela napas panjang, perasaan lega yang luar biasa menjalar di dadanya. Beban yang ia pikul selama lima tahun seolah luruh begitu saja.
"Apa aku bisa melakukannya, Zayn? Maksudku, setelah semua yang terjadi?" tanya Laila ragu.
"Bisa?" Zayn tertawa kecil, suara baritonnya memenuhi ruangan. "Laila, kau adalah lulusan terbaik sekolah bisnis di London sebelum kau memutuskan untuk 'kabur' mengejar cinta monyetmu itu. Kemampuanmu ada di darahmu. Ditambah lagi, kau punya aku di sisimu. Siapa yang berani membantah?"
Nyonya Rosa tersenyum penuh arti melihat interaksi putranya dengan Laila. Ia tahu betul bahwa Zayn tidak pernah berhenti mencintai Laila sejak mereka masih kecil.
"Benar kata Zayn, Nak," sahut Nyonya Rosa sambil mengusap tangan Laila. "Mulai besok, biarkan dunia tahu siapa Laila yang sebenarnya. Biarkan pria kerdil itu melihat bagaimana wanita yang dia hina sebagai 'miskin' dan 'tidak berguna' ternyata adalah ratu yang bisa menghancurkan bisnisnya hanya dengan satu jentikan jari."
Laila terdiam sejenak, lalu matanya menyipit penuh tekad. Kesedihannya menguap, berganti dengan api keberanian yang baru.
"Kalau begitu," ucap Laila dengan suara yang kini mantap dan tegas, "mari kita mulai permainannya. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Sarah saat tahu bahwa 'koneksi papanya' yang dia banggakan sebenarnya hanyalah bawahan di perusahaanku."
Zayn tersenyum puas. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gaya angkuh yang menawan. "Itu baru Laila-ku. Oh, dan soal Sarah... papanya, wakil direktur itu? Sepertinya besok aku harus meninjau ulang kinerjanya. Mungkin dia butuh 'pensiun dini' karena tidak bisa mendidik anaknya dengan benar."
Tawa ringan pecah di ruang tamu mewah itu. Malam yang tadinya penuh drama bagi Gion, kini berubah menjadi malam penyusunan strategi bagi penguasa yang sebenarnya.