Dianggap sebagai sampah karena meridiannya yang hancur, Ling Tian hidup dalam penghinaan dan keputusasaan. Namun, takdirnya yang kelam berubah selamanya saat ia secara tak sengaja membangkitkan Mutiara Naga Kosmik, sebuah artefak ilahi yang menyimpan jiwa Naga Purba dan rahasia ruang-waktu.
Dengan warisan yang menentang langit ini, perjalanan Ling Tian dimulai. Dari seorang pemuda yang dicemooh, ia bangkit untuk membalas dendam, mengguncang sekte, dan menaklukkan kerajaan. Perjalanannya membawanya melintasi dunia fana menuju alam abadi, di mana setiap langkah adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang sampah bisa naik menjadi penguasa kosmos, mengungkap konspirasi universal, dan memegang takdir jutaan dunia di tangannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Peringatan di Balai Sumber Daya
Keesokan paginya, Ling Tian berjalan menuju Balai Sumber Daya. Ini adalah tempat di mana para murid klan menerima penjatahan bulanan mereka—pil, koin emas, dan sumber daya kultivasi lainnya, tergantung pada status dan peringkat mereka.
Sebagai murid luar yang terbuang, jatah bulanan Ling Tian sebelumnya adalah lima keping perak dan satu Pil Pengumpul Qi berkualitas paling rendah—cukup untuk bertahan hidup, tetapi tidak cukup untuk membuat kemajuan apa pun. Sekarang, sebagai murid inti, jatahnya adalah lima keping emas dan lima Pil Pengumpul Qi berkualitas menengah. Perbedaannya seperti langit dan bumi.
Saat ia tiba, balai itu sudah ramai. Kehadirannya sekali lagi menarik perhatian, tetapi kali ini, tidak ada yang berani mengejek secara terbuka. Mereka hanya berbisik-bisik, mengamatinya dengan rasa ingin tahu dan waspada.
Ling Tian mengabaikan mereka dan langsung menuju ke konter tempat seorang diaken membagikan sumber daya. "Ling Tian, datang untuk mengambil jatah bulan ini," katanya.
Diaken itu meliriknya, lalu memeriksa catatannya. Setelah melihat perintah dari Patriark, ia mengangguk dan mulai menyiapkan kantong berisi koin dan sebuah botol porselen.
Namun, sebelum diaken itu bisa menyerahkannya, sebuah suara sombong terdengar dari belakang Ling Tian.
"Tunggu dulu."
Tiga pemuda berjalan mendekat, menghalangi jalan Ling Tian. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda tinggi dengan wajah angkuh, yang auranya berada di puncak tingkat kelima. Dia adalah Ling Yun, salah satu antek utama Ling Feng lainnya, yang kekuatannya sedikit di atas Ling Jian.
"Ling Yun? Apa yang kau inginkan?" tanya diaken itu, sedikit mengernyit.
Ling Yun mengabaikan diaken itu dan menatap Ling Tian dengan senyum mengejek. "Aku dengar seekor anjing liar tiba-tiba belajar berdiri dengan dua kaki. Aku hanya ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri."
Ia melanjutkan, "Tingkat kelima? Aku tidak percaya. Kau pasti menggunakan semacam trik curang. Sumber daya murid inti sangat berharga, tidak boleh disia-siakan untuk seorang penipu."
Ling Tian menatapnya dengan dingin. "Menyingkir."
Hanya satu kata, tetapi diucapkan dengan nada yang begitu dingin dan penuh otoritas hingga membuat Ling Yun tertegun sejenak.
"Kau berani menyuruhku menyingkir?" Ling Yun tertawa marah. "Sepertinya kau lupa tempatmu setelah tidur selama tiga tahun! Hari ini, biarkan aku 'menguji' kekuatanmu dan melihat apakah kau benar-benar layak!"
Dengan raungan, Ling Yun melepaskan auranya. Qi hijau melonjak dari tubuhnya saat ia melancarkan serangan—sebuah teknik tinju Klan Ling yang disebut 'Tinju Batu Menghancurkan'. Pukulannya cepat dan kuat, ditujukan langsung ke dada Ling Tian. Ia berencana untuk mempermalukan Ling Tian dengan satu pukulan.
Para penonton mundur, mengharapkan Ling Tian akan dipukul mundur atau bahkan terluka parah.
Namun, Ling Tian bahkan tidak bergerak dari tempatnya.
Tepat saat tinju Ling Yun hampir mengenai dadanya, Ling Tian mengangkat tangannya. Gerakannya tidak cepat, tetapi sangat presisi. Ia tidak memukul, ia hanya membuka telapak tangannya dan mendorongnya ke depan dengan lembut.
Pada saat yang sama, ia melepaskan sebagian kecil dari kekuatan tingkat ketujuhnya.
BOOOM!
Bukan suara benturan fisik. Itu adalah suara ledakan Qi yang murni.
Tinju Ling Yun bahkan tidak berhasil menyentuh telapak tangan Ling Tian. Gelombang Qi Naga Kosmik yang tak terlihat namun sangat dahsyat meledak dari telapak tangan Ling Tian, menghantam Ling Yun seperti palu godam tak kasat mata.
"ARGH!"
Ling Yun menjerit kesakitan saat ia terlempar ke belakang seperti layang-layang putus. Ia terbang melintasi aula, menabrak dua murid lain yang tidak sempat menghindar, sebelum akhirnya menabrak dinding dengan suara keras dan jatuh ke lantai, batuk darah. Ia pingsan seketika. Dua anteknya yang lain membeku di tempat, wajah mereka pucat pasi karena ketakutan.
Seluruh balai menjadi sunyi senyap. Mulut semua orang ternganga.
Satu gerakan. Bahkan bukan serangan yang sebenarnya, hanya dorongan telapak tangan. Dan seorang ahli puncak tingkat kelima dikalahkan secara instan.
Ini bukan lagi kekuatan tingkat kelima. Kekuatan macam apa ini?
Diaken di konter menatap Ling Tian dengan ngeri, tangannya yang memegang kantong koin bergetar.
Ling Tian menarik kembali tangannya seolah-olah baru saja menepis seekor lalat. Ia menoleh ke arah dua antek Ling Yun yang gemetaran. "Apakah kalian juga ingin 'menguji' aku?"
Kedua pemuda itu tersentak seolah tersengat listrik. Mereka dengan panik menggelengkan kepala, lalu bergegas mengangkat Ling Yun yang pingsan dan kabur dari balai secepat yang mereka bisa, tidak berani menatap Ling Tian lagi.
Ling Tian kemudian berbalik ke arah diaken yang masih membeku. "Jatahku."
"Y-ya! Tentu saja, Tuan Muda Ling Tian!" Diaken itu tergagap, dengan cepat menyerahkan kantong koin dan botol pil dengan kedua tangan, membungkuk hormat.
Ling Tian mengambilnya, tidak melirik isinya, dan berbalik untuk pergi. Saat ia berjalan menuju pintu keluar, kerumunan murid secara otomatis terbelah, memberinya jalan lebar seolah-olah ia adalah dewa wabah. Tidak ada lagi bisikan, hanya keheningan yang dipenuhi rasa takut.
Dengan satu tindakan kejam dan tegas, Ling Tian telah mengirimkan pesan yang jelas kepada seluruh klan: hari-hari di mana ia bisa diinjak-injak telah berakhir. Siapa pun yang mencoba memprovokasi dia akan menghadapi akibat yang sama.
Berita tentang kekalahan instan Ling Yun menyebar lebih cepat daripada berita sebelumnya. Ketika sampai ke telinga Ling Feng, dikatakan bahwa cangkir teh di tangannya hancur menjadi debu. Untuk pertama kalinya, ia mulai melihat Ling Tian bukan lagi sebagai gangguan, tetapi sebagai ancaman nyata yang harus segera dihilangkan.