Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Agus Yang Mana?
Mobil hitam mewah berhenti tepat di depan Shanum dan Mbah Dyah, hingga seorang pria paruh baya turun dengan wajah pucat pasi karena ketakutan.
"Aduh, maaf Mbah Putri! Tadi ban belakang bocor jauh dari sini, sinyal hp saya mati total jadi tidak bisa mengabari. Mohon maaf sekali membuat Mbah menunggu lama," ucap sang sopir sambil membungkuk berkali-kali.
Mbah Dyah hanya menghela napas pendek lalu menoleh ke arah Shanum yang sudah berdiri untuk berpamitan, "Tidak apa-apa, Man. Untung ada Shanum yang menemani saya di sini," ucap Mbah Dyah.
"Kalau begitu, Shanum pamit pulang dulu ya, Mbah. Sudah mau magrib," ucap Shanum lembut sambil mencium punggung tangan Mbah Dyah dengan takzim.
"Tunggu, Shanum. Biar sopir saya antar kamu sampai depan rumah, hari sudah gelap," tawar Mbah Dyah.
Shanum menggeleng pelan sambil tersenyum tulus, "Tidak usah, Mbah. Rumah saya masuk gang kecil, mobilnya susah masuk. Lagipula saya sudah biasa jalan kaki. Mari, Mbah," pamit Shanum.
Mbah Dyah menatap punggung Shanum yang menjauh hingga gadis itu hilang di tikungan jalan, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Di desa yang penuh dengan lidah tajam ini, ia tahu persis bagaimana nasib Shanum yang sering dijadikan bahan gunjingan. Namun, ketenangan gadis itu saat menghadapi situasi sulit membuat Mbah Dyah terkesan.
"Andai Shanum menjadi keluargaku, pasti aku senang sekali," gumam Mbah Dyah.
Shanum melangkah cepat menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Azan Magrib mulai berkumandang dari musala kejauhan, menyatu dengan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Pikirannya tidak tenang, bukan karena omongan tetangga, melainkan karena ia tahu di balik pintu rumah itu, ada badai yang siap menyambutnya.
Benar saja, begitu kakinya menginjak teras, suara Ibu Laila sudah menggelegar dari arah dapur.
"Bagus ya! Jam segini baru pulang! Sengaja kamu biar nggak bantu masak? Biar Ibu mati kecapekan melayani Bapakmu dan Adik-adikmu?" bentak Ibu Laila tanpa menoleh, tangannya sibuk mengaduk panci dengan kasar.
"Maaf, Bu. Tadi di toko banyak barang datang, terus tadi Shanum nemenin Mbah Dyah buat nunggu jemputan," jawab Shanum pelan sambil meletakkan tasnya di atas kursi kayu.
Mendengar nama jawaban Shanum, Ibu Laila mendadak menghentikan kegiatannya dan berbalik dengan mata memicing.
"Mbah Dyah? Ngapain kamu sama Mbah Dyah? Jangan mimpi ketinggian, Shanum. Orang kaya kayak mereka mana mungkin ngelihat kita, palingan kamu cuma dianggap tukang pijat atau pesuruh!" ucap Ibu Laila.
Shanum hanya menghela napas, tidak berniat membantah dan memilih masuk ke kamar mandi yang hanya berbataskan seng karatan untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air sumur yang dingin, Shanum memejamkan mata dan teringat tatapan lembut Mbah Dyah tadi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada orang yang menatapnya sebagai manusia, bukan sebagai barang yang tidak laku.
.
Keesokan harinya, Suasana di warung Bu Lasmi lebih riuh dari biasanya. Aroma kopi tubruk bercampur dengan bau ikan asin yang digoreng menciptakan atmosfer khas pedesaan yang kental dengan obrolan hangat atau lebih tepatnya gosip panas. Ibu Laila berdiri di pojok warung, jemarinya sibuk memilah kangkung yang sudah agak layu, sementara telinganya panas mendengar bisik-bisik di sekitarnya.
"Eh, Bu Laila," sapa Bu Lasmi sambil menimbang gula pasir.
"Iya, Bu," balas Ibu Laila.
"Gimana itu si Shanum? Katanya kemarin lusa keponakannya Pak Rudi datang, tapi nolak buat dijodohin sama Shanum? Duh, sayang banget ya, padahal katanya keponakannya Pak Rudi itu pns loh," ucap Bu Lasmi.
Wajah Ibu Laila mendadak merah padam, karena malu. "Iya, Bu. Mungkin belum jodohnya," jawab Ibu Laila.
Bu Vita yang sedang menggendong cucunya ikut menimpali, "Belum jodohnya gimana sih, Bu. Orang Shanum itu kaku banget dan suka pilih-pilih, harusnya kalau sudah umur segitu, ya terima aja yang ada aja, nggak usah pilih-pilih," ucap Bu Vita.
Ibu Laila menghela napas kasar, dadanya sesak oleh rasa malu yang menumpuk. "Saya juga bingung harus bagaimana, masalahnya memang belum ada yang mau sama Shanum," ucap Ibu Laila.
Bu Lasmi menghentikan kegiatannya sebentar lalu mendekat ke arah Ibu Laila dengan tatapan penuh rahasia. "Begini loh, Bu Laila. Daripada Bu pusing sendiri, kenapa nggak minta tolong sama Pak Agus aja," saran Bu Lasmi
"Pak Agus? Pak Agus yang mana?" tanya Ibu Laila heran.
"Loh, Pak Agus yang tinggal di dekat balai desa itu loh! Dia kan memang dikenal sebagai mak comblang sakti di kampung kita. Sudah banyak itu anak-anak gadis yang ketemu jodoh lewat tangan dia. Pak Agus itu koneksinya luas sampai ke luar kecamatan," jelas Bu Lasmi dengan semangat.
"Iya, bener itu!" timpal Bu Sekar yang baru datang.
"Anaknya sepupu saya satu bulan lalu minta dicarikan jodoh sama Pak Agus dan sekarang suaminya juragan material di kota. Pak Agus itu kalau nyariin orang nggak sembarangan, dilihat dulu bibit, bebet, bobotnya. Tapi ya gitu, biasanya yang minta tolong harus bawa tanda terima kasih yang pantas," lanjut Bu Sekar.
Mendengar perkataan Bu Sekar, mata Ibu Laila langsung berbinar dan membayangkan beban ekonominya terangkat jika Shanum mendapatkan suami kaya. Ibu Laila tidak peduli siapa pria itu, yang penting Shanum segera keluar dari rumah dan tidak lagi menjadi bahan tertawaan tetangga.
"Apa benar Pak Agus bisa bantu cariin suami untuk Shanum?" tanya Ibu Laila memastikan.
"Bisa banget, Bu. Tapi ya itu, Bu Laila harus ada inisiatif. Datangi rumahnya Pak Agus, bawa hantaran sedikit lalu ceritakan kondisi Shanum. Pak Agus itu orangnya disegani, omongannya didengar laki-laki mana saja," ucap Bu Lasmi meyakinkan.
Ibu Laila mengangguk mantap, "Ya sudah, nanti sore saya ke sana. Saya sudah nggak tahan lihat muka Shanum di rumah, tiap hari kerjanya cuma bikin saya darah tinggi," balas Ibu Laila.
.
Sore harinya, tanpa sepengetahuan Shanum, Ibu Laila benar-benar menjalankan niatnya dan mengambil tabungan simpanan hasil jualan sayur yang seharusnya digunakan untuk membayar SPP Pandu bulan depan lalu membelikan satu keranjang buah dan biskuit kaleng sebagai pelicin untuk Pak Agus.
Rumah Pak Agus nampak asri dengan pohon mangga yang rimbun di depannya. Di teras, lelaki tua yang selalu mengenakan peci hitam itu sedang asyik menyesap kopi.
"Eh, Bu Laila. Tumben sekali mampir, ada angin apa ini?" tanya Pak Agus dengan senyum ramah yang penuh arti.
Ibu Laila meletakkan hantarannya di atas meja plastik, "I-itu, Pak Agus. Saya mau minta tolong, ini soal si Shanum," ucap Ibu Laila sambil mendekat.
Pak Agus mengangguk-angguk paham, ia sudah sering mendengar selentingan tentang putri sulung Ibu Laila itu. "Oalah, si Shanum yang belum menikah itu ya? Memangnya kenapa, Bu? Shanum itu rajin loh, saya sering lihat dia lewat kalau berangkat kerja," tanya Pak Agus sekadar basa basi.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊