NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:94.6k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Agus Yang Mana?

Mobil hitam mewah berhenti tepat di depan Shanum dan Mbah Dyah, hingga seorang pria paruh baya turun dengan wajah pucat pasi karena ketakutan.

​"Aduh, maaf Mbah Putri! Tadi ban belakang bocor jauh dari sini, sinyal hp saya mati total jadi tidak bisa mengabari. Mohon maaf sekali membuat Mbah menunggu lama," ucap sang sopir sambil membungkuk berkali-kali.

​Mbah Dyah hanya menghela napas pendek lalu menoleh ke arah Shanum yang sudah berdiri untuk berpamitan, "Tidak apa-apa, Man. Untung ada Shanum yang menemani saya di sini," ucap Mbah Dyah.

​"Kalau begitu, Shanum pamit pulang dulu ya, Mbah. Sudah mau magrib," ucap Shanum lembut sambil mencium punggung tangan Mbah Dyah dengan takzim.

​"Tunggu, Shanum. Biar sopir saya antar kamu sampai depan rumah, hari sudah gelap," tawar Mbah Dyah.

​Shanum menggeleng pelan sambil tersenyum tulus, "Tidak usah, Mbah. Rumah saya masuk gang kecil, mobilnya susah masuk. Lagipula saya sudah biasa jalan kaki. Mari, Mbah," pamit Shanum.

​Mbah Dyah menatap punggung Shanum yang menjauh hingga gadis itu hilang di tikungan jalan, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Di desa yang penuh dengan lidah tajam ini, ia tahu persis bagaimana nasib Shanum yang sering dijadikan bahan gunjingan. Namun, ketenangan gadis itu saat menghadapi situasi sulit membuat Mbah Dyah terkesan.

"Andai Shanum menjadi keluargaku, pasti aku senang sekali," gumam Mbah Dyah.

​Shanum melangkah cepat menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Azan Magrib mulai berkumandang dari musala kejauhan, menyatu dengan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Pikirannya tidak tenang, bukan karena omongan tetangga, melainkan karena ia tahu di balik pintu rumah itu, ada badai yang siap menyambutnya.

​Benar saja, begitu kakinya menginjak teras, suara Ibu Laila sudah menggelegar dari arah dapur.

​"Bagus ya! Jam segini baru pulang! Sengaja kamu biar nggak bantu masak? Biar Ibu mati kecapekan melayani Bapakmu dan Adik-adikmu?" bentak Ibu Laila tanpa menoleh, tangannya sibuk mengaduk panci dengan kasar.

​"Maaf, Bu. Tadi di toko banyak barang datang, terus tadi Shanum nemenin Mbah Dyah buat nunggu jemputan," jawab Shanum pelan sambil meletakkan tasnya di atas kursi kayu.

​Mendengar nama jawaban Shanum, Ibu Laila mendadak menghentikan kegiatannya dan berbalik dengan mata memicing.

"Mbah Dyah? Ngapain kamu sama Mbah Dyah? Jangan mimpi ketinggian, Shanum. Orang kaya kayak mereka mana mungkin ngelihat kita, palingan kamu cuma dianggap tukang pijat atau pesuruh!" ucap Ibu Laila.

​Shanum hanya menghela napas, tidak berniat membantah dan memilih masuk ke kamar mandi yang hanya berbataskan seng karatan untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air sumur yang dingin, Shanum memejamkan mata dan teringat tatapan lembut Mbah Dyah tadi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada orang yang menatapnya sebagai manusia, bukan sebagai barang yang tidak laku.

.

Keesokan harinya, ​Suasana di warung Bu Lasmi lebih riuh dari biasanya. Aroma kopi tubruk bercampur dengan bau ikan asin yang digoreng menciptakan atmosfer khas pedesaan yang kental dengan obrolan hangat atau lebih tepatnya gosip panas. Ibu Laila berdiri di pojok warung, jemarinya sibuk memilah kangkung yang sudah agak layu, sementara telinganya panas mendengar bisik-bisik di sekitarnya.

​"Eh, Bu Laila," sapa Bu Lasmi sambil menimbang gula pasir.

"Iya, Bu," balas Ibu Laila.

"Gimana itu si Shanum? Katanya kemarin lusa keponakannya Pak Rudi datang, tapi nolak buat dijodohin sama Shanum? Duh, sayang banget ya, padahal katanya keponakannya Pak Rudi itu pns loh," ucap Bu Lasmi.

​Wajah Ibu Laila mendadak merah padam, karena malu. "Iya, Bu. Mungkin belum jodohnya," jawab Ibu Laila.

​Bu Vita yang sedang menggendong cucunya ikut menimpali, "Belum jodohnya gimana sih, Bu. Orang Shanum itu kaku banget dan suka pilih-pilih, harusnya kalau sudah umur segitu, ya terima aja yang ada aja, nggak usah pilih-pilih," ucap Bu Vita.

​Ibu Laila menghela napas kasar, dadanya sesak oleh rasa malu yang menumpuk. "Saya juga bingung harus bagaimana, masalahnya memang belum ada yang mau sama Shanum," ucap Ibu Laila.

​Bu Lasmi menghentikan kegiatannya sebentar lalu mendekat ke arah Ibu Laila dengan tatapan penuh rahasia. "Begini loh, Bu Laila. Daripada Bu pusing sendiri, kenapa nggak minta tolong sama Pak Agus aja," saran Bu Lasmi

​"Pak Agus? Pak Agus yang mana?" tanya Ibu Laila heran.

​"Loh, Pak Agus yang tinggal di dekat balai desa itu loh! Dia kan memang dikenal sebagai mak comblang sakti di kampung kita. Sudah banyak itu anak-anak gadis yang ketemu jodoh lewat tangan dia. Pak Agus itu koneksinya luas sampai ke luar kecamatan," jelas Bu Lasmi dengan semangat.

​"Iya, bener itu!" timpal Bu Sekar yang baru datang.

"Anaknya sepupu saya satu bulan lalu minta dicarikan jodoh sama Pak Agus dan sekarang suaminya juragan material di kota. Pak Agus itu kalau nyariin orang nggak sembarangan, dilihat dulu bibit, bebet, bobotnya. Tapi ya gitu, biasanya yang minta tolong harus bawa tanda terima kasih yang pantas," lanjut Bu Sekar.

​Mendengar perkataan Bu Sekar, mata Ibu Laila langsung berbinar dan membayangkan beban ekonominya terangkat jika Shanum mendapatkan suami kaya. Ibu Laila tidak peduli siapa pria itu, yang penting Shanum segera keluar dari rumah dan tidak lagi menjadi bahan tertawaan tetangga.

​"Apa benar Pak Agus bisa bantu cariin suami untuk Shanum?" tanya Ibu Laila memastikan.

​"Bisa banget, Bu. Tapi ya itu, Bu Laila harus ada inisiatif. Datangi rumahnya Pak Agus, bawa hantaran sedikit lalu ceritakan kondisi Shanum. Pak Agus itu orangnya disegani, omongannya didengar laki-laki mana saja," ucap Bu Lasmi meyakinkan.

​Ibu Laila mengangguk mantap, "Ya sudah, nanti sore saya ke sana. Saya sudah nggak tahan lihat muka Shanum di rumah, tiap hari kerjanya cuma bikin saya darah tinggi," balas Ibu Laila.

.

Sore harinya, tanpa sepengetahuan Shanum, Ibu Laila benar-benar menjalankan niatnya dan mengambil tabungan simpanan hasil jualan sayur yang seharusnya digunakan untuk membayar SPP Pandu bulan depan lalu membelikan satu keranjang buah dan biskuit kaleng sebagai pelicin untuk Pak Agus.

​Rumah Pak Agus nampak asri dengan pohon mangga yang rimbun di depannya. Di teras, lelaki tua yang selalu mengenakan peci hitam itu sedang asyik menyesap kopi.

​"Eh, Bu Laila. Tumben sekali mampir, ada angin apa ini?" tanya Pak Agus dengan senyum ramah yang penuh arti.

​Ibu Laila meletakkan hantarannya di atas meja plastik, "I-itu, Pak Agus. Saya mau minta tolong, ini soal si Shanum," ucap Ibu Laila sambil mendekat.

​Pak Agus mengangguk-angguk paham, ia sudah sering mendengar selentingan tentang putri sulung Ibu Laila itu. "Oalah, si Shanum yang belum menikah itu ya? Memangnya kenapa, Bu? Shanum itu rajin loh, saya sering lihat dia lewat kalau berangkat kerja," tanya Pak Agus sekadar basa basi.

.

.

.

Bersambung.....

1
Ladyicha Haruna
Buatlah Shanum berani membela dirinya banyak banyak..jangan jadi manja jadi perempuan
Yuliana Tunru: smoga s3jua badai akan berlalu ..pandu mana ya apa dia tdk cari2 ibu x lagi atau jg sdh tqu kejahatan ihu x pd ahanum diva jg gmn kabar x apa tdk hadir saat sukuran rmh dan kandungan shanum
total 1 replies
Nasiati
mendingan keluar dr rumah shanum
Ha Liyah
kenapa akhir-akhir ini updatenya cuma 1 episode doang thor?
Rea
b
Rea
weslah num, num gemes, mbok yao jangan terus jadi beban suami, kali kali dibuat pinter lah Thor, setidaknya jadi perempuan kuat, untuk dirinya.
Putri Anghita Tera Vita
please lah ko shanum kee cewek lemah banget
Yuliana Tunru
astaga ketemu gea lagi ,yg mukut x kyk racun ayo abi ini kecoak2 yg hrs kaku basmi buat shanum
Ladyicha Haruna
jangan terlalu gambar kan shanum wanita lemah...pantas memang ditindas .dan rasanya enak memang menindas dia..tidak ada perlawanan hanya andalkan orang...bagaimana mau besarkan anak di kejamnya persekolahan🤭🤭🤭
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulut Gea minta di tabok pake bakiak nih ..😡
𝐈𝐬𝐭𝐲
dia bilang anak durhaka dia gak sadar kalo dirinya adalah ibu yg durhaka dan biadab👿
𝐈𝐬𝐭𝐲
kenapa kemarin yg mati bapak nya bukan ibunya saja thor...
bikin emosi aja nih ibunya shanum👿👿
Eva Tigan
mati ketabrak aja nya maunya ibu nya si Shanum ini..dia yg ibu durhaka
Nur Syamsi
Siapa tau udah selesai buku nikahnya diurus SMA Mas Abinya cuma lupa dikasi tau Shanumnya,
Nur Syamsi
Alhamdulillah Shanum ngidam mama dan papa mertua 🤲🤲menilai
Nur Syamsi
😂😂😂
Indra Reza Zulkifli
udah baca sampe bab ini,,kurang suka karakter shanum,, 🙏 🤭
Nur Syamsi
Buah dr kesabaranmu Shanum, waktu belum nikah di hina terus Krn miskin dan belum nikah bahkan ibumu sendiri menghinamu ....yg ternyata matre ...
Retno Harningsih
lanjut
Nur Syamsi
Adakah suami yg sebijaksana Abi di dunia nyata ya thor.
Nur Syamsi
😭😭😭😭😭 sabar Shanum ini adalah ujian kehidupan dan rumah tangga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!