NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Pintu kamar mandi tetap tertutup.

Lampu putih di atas cermin masih menyala terang, memantulkan bayangan ruangan yang terlalu kecil untuk menampung perasaan yang tiba-tiba terasa terlalu besar.

Yusallia masih duduk di lantai.

Punggungnya bersandar pada dinding dingin. Lututnya sedikit tertekuk. Salah satu tangannya masih menggenggam test pack yang hasilnya sudah tidak mungkin disalahartikan lagi.

Dua garis.

Jelas.

Tegas.

Tidak samar.

Tidak memberi ruang bagi harapan palsu.

Tidak memberi celah bagi penyangkalan yang selama beberapa minggu ini terus ia bangun pelan-pelan di dalam kepalanya.

Ia menatap benda kecil itu lagi.

Lalu menatap tiga test pack lain yang diletakkan berjajar di atas wastafel.

Semuanya sama.

Semuanya menunjukkan jawaban yang sama.

Tidak ada satu pun yang berbeda.

Yusallia menelan pelan.

Namun tenggorokannya terasa kering.

Aneh, pikirannya tidak langsung berisik.

Tidak ada tangisan. Tidak ada jeritan. Tidak ada kepanikan yang meledak seperti yang mungkin akan dilakukan orang lain dalam keadaan seperti ini.

Yang datang justru diam.

Diam yang terlalu penuh.

Diam yang menekan dari segala arah sampai ia bahkan tidak tahu harus mulai merasakan apa lebih dulu.

Takut.

Bingung.

Tidak percaya.

Atau kenyataan bahwa kata itu sekarang benar-benar punya tempat di hidupnya.

Hamil.

Ia memejamkan mata pelan.

Namun begitu gelap menyambut, pikirannya justru memutar lagi potongan-potongan yang selama ini berusaha ia jauhkan.

Hujan.

Club.

Lorong yang sedikit bergoyang di pandangannya.

Suara Rionegro yang memanggil namanya dengan tenang.

Jas hujan yang dipakaikan dengan hati-hati.

Mobil.

Apartemen.

Ciuman yang awalnya ragu, lalu menjadi terlalu nyata untuk dianggap sekadar kebetulan.

Napas Yusallia tercekat sedikit.

Ia membuka mata lagi.

Menatap lurus ke depan.

Cermin di seberangnya memantulkan sosoknya dalam keadaan yang tidak pernah ia bayangkan. Bukan sebagai dokter. Bukan sebagai anak pertama keluarga Callisto. Bukan sebagai perempuan yang selalu mencoba terlihat baik-baik saja.

Hanya dirinya sendiri.

Seorang perempuan yang baru saja mengetahui bahwa hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

Tangannya yang dingin bergerak perlahan, meletakkan test pack yang ia genggam ke atas lantai di sebelahnya.

Gerakan kecil. Hati-hati. Seolah benda itu rapuh.

Padahal yang sebenarnya rapuh mungkin justru dirinya sendiri.

Ia menarik napas dalam.

Lalu menghembuskannya perlahan.

Sekali.

Dua kali.

Tetap tidak banyak berubah.

Dadanya masih terasa penuh.

Ia menunduk, menyandarkan dahinya pada lutut sebentar. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah. Waktu terasa berjalan aneh di dalam ruangan itu. Tidak cepat. Tidak lambat. Hanya... menggantung.

Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana.

Mungkin lima menit.

Mungkin lima belas.

Mungkin lebih.

Tidak ada yang terasa jelas.

Yang jelas hanya satu hal: ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semua ini hanya keterlambatan biasa.

Ia hamil.

Dan bayi itu...

Pikirannya berhenti di sana.

Bukan karena ia tidak tahu siapa ayahnya.

Bukan.

Ia justru tahu.

Terlalu tahu.

Dan kesadaran itu membuat semuanya terasa semakin berat.

Rionegro.

Nama itu muncul begitu saja di kepalanya, membuat dadanya mengencang sedikit.

Untuk beberapa detik, Yusallia hanya menatap kosong ke arah lantai. Seolah dengan tidak memikirkan nama itu terlalu lama, semuanya bisa terasa lebih ringan.

Namun tidak.

Karena dari semua hal yang sekarang harus ia hadapi, yang paling membuatnya tidak tenang justru bukan hasil test pack di depannya.

Melainkan apa yang harus ia lakukan setelah ini.

Ia mengangkat kepalanya perlahan.

Pandangan matanya kembali jatuh ke wastafel.

Ke empat test pack yang masih ada di sana.

Terlalu jelas.

Terlalu nyata.

Terlalu final.

Yusallia akhirnya bergerak.

Perlahan.

Tubuhnya terasa sedikit berat saat ia bangkit dari lantai. Lututnya sempat lemas sesaat, membuat tangannya refleks bertumpu pada pinggir wastafel. Ia menunggu beberapa detik sampai keseimbangannya kembali.

Ia menatap dirinya di cermin.

Wajahnya terlihat pucat.

Bibirnya sedikit kering.

Matanya tampak lebih kosong dari biasanya.

Ia hampir tidak mengenali ekspresi itu.

Yusallia meraih salah satu test pack lagi.

Menatap dua garis merah itu lebih dekat, seolah ada kemungkinan hasilnya berubah kalau ia melihatnya dari sudut yang berbeda.

Tetap sama.

Tidak berubah.

Ia tertawa kecil.

Sangat kecil.

Bukan karena lucu.

Lebih karena dirinya sendiri tiba-tiba terasa begitu tidak berdaya di hadapan sesuatu yang selama ini hanya menjadi bagian dari teori, ilmu, dan kasus orang lain.

Sebagai dokter, ia sudah melihat banyak perempuan menghadapi kehamilan dengan berbagai emosi. Bahagia. Takut. Syok. Menolak. Menerima. Semua reaksi itu pernah ia lihat dari sudut yang aman.

Dari seberang meja.

Dari posisi yang mengharuskannya tenang.

Objektif.

Menenangkan.

Namun sekarang, ketika hal itu terjadi padanya sendiri, semua pengetahuan itu terasa tidak cukup.

Sangat tidak cukup.

Ia tahu secara medis apa yang harus dilakukan.

Ia tahu apa langkah berikutnya.

Kontrol.

Pemeriksaan.

Perhitungan usia kehamilan.

Penyesuaian pola hidup.

Ia tahu semuanya.

Tapi pengetahuan tidak otomatis membuat hati seseorang siap.

Dan saat ini, hatinya jelas belum siap.

Ia mengangkat tangan, mematikan keran yang sejak tadi tidak sengaja masih menetes pelan.

Suara air berhenti.

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Kesunyian itu menekan lagi.

Yusallia menghela napas, lalu mengambil tisu kering dari rak kecil di samping cermin. Tangannya mulai bergerak lebih nyata sekarang. Lebih terarah. Ia mengumpulkan satu per satu test pack itu dengan hati-hati.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Ia membungkusnya dengan tisu, lalu memasukkannya ke plastik kecil dari salah satu kotaknya. Gerakannya pelan, teratur, hampir seperti ritual. Bukan karena ia tenang. Tapi mungkin karena tubuhnya memilih bergerak mekanis agar pikirannya tidak runtuh sepenuhnya.

Setelah semua tersimpan, ia mengikat plastik itu kecil-kecil.

Lalu memegangnya beberapa detik.

Benda ringan itu terasa seperti membawa sesuatu yang jauh lebih berat daripada berat aslinya.

Yusallia menatap pintu kamar mandi.

Di luar sana, rumah masih berjalan seperti biasa.

Mungkin ada suara langkah asisten rumah tangga.

Mungkin Yasvera sedang berada di bawah.

Mungkin semuanya tampak normal.

Dan justru itulah yang terasa aneh.

Bagaimana mungkin dunia tetap berjalan seperti biasa ketika hidupnya barusan terasa seperti bergeser dari porosnya?

Ia membuka lemari kecil di bawah wastafel.

Tangannya sempat berhenti.

Lalu ia meletakkan plastik itu di bagian paling belakang, tersembunyi di balik beberapa botol cadangan sabun dan tisu gulung.

Tindakan kecil.

Namun secara tidak sadar, itu seperti simbol dari apa yang sedang ia lakukan sekarang.

Menyembunyikan.

Bukan karena ingin menghapusnya.

Tapi karena ia belum sanggup melihatnya terus-menerus.

Setelah menutup lemari, ia berdiri diam lagi.

Kedua tangannya jatuh lemah di sisi tubuh.

Tatapannya kembali kosong.

Ia tidak tahu harus ke mana setelah ini.

Apakah keluar kamar mandi dan berpura-pura biasa saja?

Apakah duduk di kamar dan menangis?

Apakah langsung menelepon seseorang?

Tidak.

Tidak ada satu pun pilihan yang terasa benar.

Ia akhirnya membuka pintu kamar mandi.

Udara kamar terasa sedikit berbeda setelah sekian lama berada di ruang sempit yang penuh tekanan tadi. Lebih hangat. Lebih kering. Lebih tenang. Tapi tidak banyak membantu.

Yusallia berjalan keluar dengan langkah lambat.

Kamar tidurnya tetap sama seperti tadi siang.

Rapi.

Tenang.

Sunyi.

Sinar matahari sudah sedikit bergeser dari posisinya, jatuh di ujung karpet dekat jendela.

Semua tampak biasa.

Namun ia tidak lagi merasa sama.

Ia berjalan menuju tempat tidur, lalu duduk perlahan di tepinya.

Kasur itu sedikit turun menyesuaikan berat tubuhnya.

Tangan Yusallia otomatis menyentuh seprai di sampingnya, menggenggam kain itu pelan. Pandangannya jatuh ke depan, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.

Ia hamil.

Kalimat itu kembali berputar.

Lebih jelas sekarang.

Lebih utuh.

Dan karena semakin utuh, ia justru semakin sulit bernapas dengan ringan.

Ia memikirkan rumah sakit.

Pekerjaannya.

Rutinitasnya.

Tubuhnya.

Lalu setelah itu, tanpa bisa dicegah, pikirannya berbelok lagi ke satu arah yang paling ia hindari.

Rionegro.

Apa yang harus ia katakan pada pria itu?

Apa yang akan pria itu katakan nanti?

Apakah ia akan diam seperti pagi setelah malam itu?

Apakah ia akan bersikap formal lagi?

Apakah ia akan menganggap ini hanya sebuah konsekuensi?

Atau...

Yusallia menghentikan dirinya sendiri.

Terlalu cepat.

Terlalu jauh.

Ia bahkan belum sanggup memproses kenyataan ini sepenuhnya untuk dirinya sendiri, jadi memikirkan reaksi orang lain hanya akan membuat semuanya semakin kacau.

Ia menunduk.

Napasnya mulai tidak stabil.

Bukan sesak yang meledak-ledak. Hanya sesak kecil yang terus menumpuk tanpa suara.

Tangannya perlahan berpindah ke perutnya sendiri.

Gerakan itu sangat refleks.

Sangat halus.

Hampir tidak terasa.

Begitu tangannya menyentuh bagian bawah perutnya, ia langsung membeku.

Diam.

Beberapa detik yang sangat panjang.

Lalu pelan-pelan, matanya mulai terasa panas.

Bukan tangis yang pecah.

Hanya rasa perih kecil di sudut mata yang datang tanpa izin.

Yusallia menelan ludah.

Ia tidak menangis.

Namun untuk pertama kalinya, semuanya terasa benar-benar nyata.

Bukan hanya test pack.

Bukan hanya dua garis.

Tapi kenyataan bahwa di dalam tubuhnya, mungkin memang ada kehidupan yang sedang mulai tumbuh.

Pikirannya langsung berputar lagi.

Takut.

Sangat takut.

Bukan karena bayi itu.

Bukan sepenuhnya.

Tapi karena ia tidak tahu hidup seperti apa yang sedang menunggunya setelah ini.

Ia tidak tahu apakah ia cukup kuat.

Tidak tahu apakah ia cukup siap.

Tidak tahu apakah ia akan sendirian saat menghadapinya.

Pertanyaan terakhir itu membuat dadanya menegang lebih kuat dari yang lain.

Sendirian.

Kata itu terasa terlalu dekat dengan hidupnya selama ini.

Dan ia tiba-tiba membencinya.

Ia merebahkan tubuhnya perlahan ke atas tempat tidur.

Masih dengan pakaian rumah yang sama.

Masih tanpa mengganti posisi tirai, tanpa menyalakan lampu tambahan, tanpa melakukan apa pun selain menatap langit-langit kamar yang putih dan terasa terlalu tenang.

Satu tangan masih berada di atas perutnya.

Yang lain menutup matanya sebentar.

Ia mengingat kembali wajah Bryan.

Lalu Yasvera.

Lalu Rionegro.

Nama terakhir itu kembali membuat pikirannya tidak stabil.

Yusallia menghembuskan napas panjang.

Tidak.

Belum.

Ia belum bisa memikirkan langkah berikutnya sekarang.

Hari ini saja sudah terasa terlalu penuh.

Terlalu berat.

Ia hanya ingin diam sebentar.

Sebentar saja.

Tanpa harus mengambil keputusan.

Tanpa harus menjelaskan apa pun pada siapa pun.

Tanpa harus menjadi dokter yang tahu segalanya.

Tanpa harus menjadi anak perempuan yang kuat.

Tanpa harus menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.

Waktu berjalan pelan.

Cahaya di kamar bergeser sedikit demi sedikit.

Namun Yusallia tidak beranjak.

Ia tetap diam di sana.

Dengan pikiran yang terlalu ramai.

Dengan tubuh yang terasa asing.

Dan dengan kesadaran baru yang perlahan, tanpa belas kasihan, mengubah seluruh arah hidupnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yusallia tidak tahu harus melangkah ke mana.

Dan diam yang mengikutinya sore itu terasa lebih berat dari apa pun yang pernah ia simpan sendirian sebelumnya.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!