"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Laki-Laki Lain
...GAMON...
...Bab 2: Laki-Laki Lain...
...POV Keana...
Pagi itu Keana bangun dengan mata sembab.
Bukan karena nangis semalaman. Tapi karena tidurnya cuma dua jam. Setiap kali pejam mata, yang muncul wajah Bima. Bukan Bima yang marah. Tapi Bima yang diam. Yang nurut. Yang nerima "iya" sebagai jawaban.
Dan itu lebih nyakitin dari apa pun.
Dia duduk di tepi kasur. Rambut berantakan. Pandangan kosong ke jendela—hujan semalem udah berhenti, tapi langit masih kelabu.
Ponsel. Refleks.
Bima (05.47): "Selamat pagi, Sayang. Moga harimu lancar. Udah siapin bekal, tapi tadi lupa aku taruh di meja dapur. Maaf ya. Love you."
Bekal.
Bima masih sempat mikirin bekal. Di tengah semua keanehan semalem, di tengah balasan "iya" yang dingin, dia masih sempat bangun pagi, masak, dan nyiapin bekal buat dia.
Keana menggigit bibir bawah. Sakit. Tapi bukan sakit fisik.
Dia bangun. Ke kamar mandi. Mandi lama—biar nggak kepikiran. Tapi air ngalir deras, dan pikirannya tetep ke Bima.
Kenapa sih dia baik banget?
Kenapa nggak marah?
Kenapa nggak ngamuk?
Kenapa nggak sekalian benci biar aku juga bisa benci balik?
Dia berpakaian. Seragam kantor. Blus putih, rok hitam. Sama seperti kemarin. Sama seperti ribuan hari sebelumnya.
Ke dapur. Buka kulkas.
Bekal itu ada. Dibungkus rapat. Stiker kecil ditempel: "Buka jam 12 aja ya, biar nggak cepet basi. Love you."
Love you.
Dua kata yang pagi ini rasanya salah.
Dia ambil bekal itu. Taruh di tas. Nggak tahu mau dibuka atau nggak. Nggak tahu masih pantas dimakan atau nggak.
Pukul 07.45 – Kantor
Keana duduk di meja kerjanya. Kopi di tangan. Layar komputer nyala. Tapi matanya nggak fokus ke angka-angka spreadsheet. Matanya kosong ke arah pintu kaca ruangannya.
Dia tahu. Dia tunggu.
Dan benar.
Pintu terbuka. Seseorang masuk tanpa ketuk.
Andra.
Pagi ini dia pakai kemeja biru muda, lengan digulung sampai siku. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan. Senyum tipis—senyum yang tahu diri sendiri itu menarik.
"Pagi, Kean." Suaranya dalam. Tenang.
"Pagi," balas Keana, berusaha biasa.
Andra masuk. Duduk di kursi tamu—tepat di seberang meja. Nggak bawa apa-apa. Cuma diri sendiri.
"Lo kenapa?"
"Hah?"
"Lo." Andra menunjuk wajahnya sendiri. "Mata sembab. Kurang tidur?"
Keana refleks menyentuh bawah mata. "Ah, ini. Enggak. Cuma... kurang tidur."
Andra mengangguk. Tapi matanya—matanya melihat. Bukan sekadar mendengar. Dan itu beda.
"Jangan begadang terus. Nggak baik." Dia berdiri. Mau pergi. Tapi berhenti di pintu. "Eh, lo udah sarapan?"
Keana mikir. Bekal di tas. Tapi dia nggak mau buka.
"Belum."
"Yuk. Kantin bawah. Gue traktir."
Bukan tanya. Tapi ajakan. Yang nggak enak ditolak.
Kantin – Pukul 08.15
Mereka duduk di meja pojok. Andra pesen nasi uduk, telur, kerupuk. Keana cuma pesen kopi.
"Makan. Jangan cuma kopi." Andra dorong piring ke arahnya.
"Gue nggak laper."
"Bukan soal laper. Soal butuh." Andra menatapnya. "Lo kelihatan capek. Butuh tenaga."
Keana diam. Lalu ambil sedikit nasi. Hanya biar dia diem.
Andra makan dengan lahap. Di sela-sela, dia ngomong. Kerjaan. Bos. Rencana. Hal-hal biasa. Tapi cara ngomongnya beda—nggak nge-gurui, nggak sok tahu. Cuma... ngobrol.
Dan Keana sadar: udah lama dia nggak ngobrol kayak gini. Ngobrol tanpa harus ngejelasin perasaan. Tanpa harus ngejawab pertanyaan berulang "lo kenapa?", "lo lagi mikirin apa?", "aku ada salah?"
Bima selalu nanya itu.
Bima selalu mencari.
Sedangkan Andra? Dia nggak tanya apa-apa. Dia cuma... ada.
Kembali ke Lantai
Di lift, mereka berdua. Pintu tertutup.
Andra menatapnya dari samping. "Kean."
"Hmm?"
"Maaf kalo gue kepo. Tapi... lo baik-baik aja? Beneran?"
Keana menoleh. Matanya—buat pertama kalinya hari ini—bertemu dengan mata orang lain yang melihat.
"Gue..."
Dia berhenti. Lift mulai naik.
"Lo nggak usah jawab." Andra tersenyum. "Cuma, kalo butuh temen ngobrol... gue ada."
Pintu lift terbuka. Lantai mereka.
Andra keluar duluan. Meninggalkan Keana yang masih diam di dalam lift.
Pintu hampir tertutup. Dia baru sadar—dan cepat-cepat keluar.
Sore Hari – Sepulang Kerja
Keana duduk di halte. Nunggu bus. Tapi pikirannya nggak di halte.
Bekal di tas. Nggak dibuka seharian.
Dia buka tas. Keluarin bungkusan itu. Buka pelan-pelan.
Nasi goreng. Telur ceplok mata sapi—kesukaannya. Wortel dipotong kecil-kecil bentuk hati. Bima selalu repot-repot ngukir wortel bentuk hati. Padahal dia nggak pernah minta.
Di atas nasi, ada kertas kecil.
"Maaf ya cuma bisa bikinin ini. Lupa beli sayur. Tapi semoga suka. Jangan lupa makan. Love you always."
Keana baca. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Lalu dia lipat. Simpan di saku.
Nasi goreng itu nggak disentuh.
Malam – Kost Keana
Pukul 21.00. Bima belum nge-chat.
Ini aneh. Biasanya jam segini, dia udah nanya "udah makan?", "lagi ngapain?", "capek?".
Tapi malam ini? Nggak ada.
Keana pegang ponsel. Dibuka. Chat Bima masih di bawah—pesan terakhir pagi tadi.
Dia scroll ke atas. Baca percakapan mereka setahun terakhir. Ribuan pesan. Ribuan "love you". Ribuan "aku sayang kamu".
Dan dia sadar: Bima nggak pernah minta apa-apa. Bima cuma ngasih. Terus ngasih. Tanpa batas.
Tapi kenapa... kenapa sekarang itu mencekik?
Pukul 22.00. Ponsel bergetar.
Bukan Bima. Tapi Andra.
Andra: "Udah sampai rumah? Aman?"
Keana tatap layar.
Dia nggak tahu harus bales apa. Atau harus bales nggak.
Tapi di luar sadar, jempolnya bergerak.
Keana: "Udah. Makasih."*
Andra: "Istirahat. Jangan mikir yang aneh-aneh. Selamat malam."*
Selamat malam.
Dua kata. Sederhana. Tapi nggak minta apa-apa.
Keana letakkan ponsel.
Di kamar sebelah, di kost yang berbeda, Bima masih menunggu. Menunggu balasan. Menunggu kabar. Menunggu tanda bahwa dia masih berarti.
Tapi malam itu, tanda itu nggak datang.
Bersambung ke Bab 3: Perbandingan
📝 Preview Bab 3:
Keana mulai sadar—dia lagi bandingin Bima sama Andra. Tanpa sengaja. Tanpa mau. Tapi terus terjadi.
Bima mulai ngerasa ada yang berubah. Tapi dia nggak tahu harus nanya gimana.
Dan di kantor, Andra makin sering muncul. Bukan ngejar. Tapi jadi tempat Keana "pulang" tanpa harus pulang.
Bab 3: Perbandingan—soon.