Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: BERJALAN TANPA SANDAL
Mahesa memaksa kaki kanan ke dalam sandal ukuran tiga puluh delapan.
Tali yang paling longgar. Yang paling tidak mengikat. Tapi masih terasa seperti memasukkan batu ke dalam kantong yang terlalu sempit. Nyeri. Bukan tajam. Bukan terus-menerus. Tapi ada. Di setiap gerakan. Di setiap tekanan. Seperti ada yang mengingatkan: kamu berbeda. kamu tidak sama. kamu salah.
Ia berjalan tiga langkah. Empat. Lima. Sandal kanan terlepas. Seperti selalu. Seperti setiap hari.
Ia berhenti. Menunduk. Melihat kaki kanan yang sekarang terlalu besar untuk sandal apa pun. Yang kulitnya mengkilap aneh. Yang terasa mati rasa di bagian bawah. Hidup di bagian atas. Seperti dua kaki dalam satu.
"Sudah." Bisiknya pada diri sendiri. "Sudah. Tidak usah pakai."
Ia melepas sandal kiri juga. Yang masih muat. Yang masih normal. Yang masih miliknya. Dua sandal tak sama tergenggam di tangan. Dua sandal yang tidak pernah bisa memenuhi tugasnya.
Berjalan tanpa sandal. Di jalan tanah. Siang. Panas. Tanah yang terik menyentuh telapak kaki. Kaki kiri—yang masih bisa merasakan—merasakan. Panas. Terlalu panas. Tapi bisa ditahan. Harus ditahan.
Kaki kanan—yang bengkak, yang mati rasa—tidak merasakan. Tidak panas. Tidak nyeri. Tidak apa-apa.
Aneh, pikirnya. Seperti bukan kakinya. Seperti kaki orang lain yang dipinjamkan. Yang harus dibawa. Yang harus ditanggung ke mana pun ia pergi.
Batu-batu tajam di jalan. Yang biasa ia lalui dengan sandal. Yang sekarang nyata. Kaki kiri terkena. Kecil. Di telapak. Darah sedikit. Merah segar. Nyeri tajam. Tapi nyeri yang hidup. Nyeri yang membuktikan bahwa kaki ini masih miliknya.
Kaki kanan terkena batu yang sama. Tidak terasa. Tidak berdarah. Tidak bereaksi.
Ia berjalan terus. Satu kilometer. Dua kilometer. Menuju sungai. Tempat teman-teman. Tempat yang kemarin ia bayangkan sepanjang malam. Tempat yang membuatnya bangun pagi ini dengan harapan. Tempat yang... ada Siti.
Sungai. Air mengalir jernih. Suara gemericik yang menenangkan. Suara yang tidak menghakimi.
Tapi kemudian, suara lain. Tawa. Banyak. Anak-anak. Teman-temannya. Yang sudah di sana. Yang mandi. Yang bermain. Yang bebas.
"Eh, datang!" teriak seseorang. Melihatnya. Menunjuk.
Mahesa berhenti. Di tepi. Di batu besar yang biasa ia duduki saat ikut ke sungai dulu—saat kaki belum begini. Melihat. Teman-teman di air. Basah. Tertawa. Tanpa beban. Tanpa kaki yang membesar. Tanpa dia.
Siti ada di sana. Yang rambutnya dikuncir dua. Yang semalam menulis kertas. Yang menunggu. Yang ada.
Mahesa senang. Ingin ikut. Ingin masuk ke air. Ingin merasakan dingin. Ingin menjadi normal. Sebentar saja. Sebentar.
Tapi kemudian ia melihat ke bawah. Kaki kanannya. Yang merah keunguan. Yang bengkak. Yang terlihat jelas di sinar matahari. Yang tidak bisa disembunyikan. Yang tidak bisa dijelaskan.
Takut. Tiba-tiba menyelubungi. Takut dikira aneh. Takut dijauhi. Takut kehilangan satu-satunya yang membuatnya datang sejauh ini.
Ia duduk di batu. Hanya melihat. Dari tepi. Dari luar. Dari tempat yang selalu menjadi miliknya.
"Kenapa tidak ikut?" Siti keluar dari air. Berjalan ke arahnya. Basah. Tersenyum. Seperti semalam. Seperti di kertas yang ia simpan di bawah bantal. "Ayo, dingin!"
Mahesa menggeleng. "Demam belum sembuh," ia berbohong. Suara kecil. Suara yang tidak yakin. "Takut basah lagi."
Siti berhenti. Di depannya. Menatap. Bukan ke wajah. Ke bawah. Ke kaki. Ke kaki kanan yang terlihat. Yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Ih!" Siti berteriak. Bukan marah. Bukan jijik. Tapi kaget. Terkejut. "Besar sekali!"
Semua menatap. Dari air. Dari tepi. Dari mana-mana. Mata yang tadi tidak melihat. Sekarang melihat. Sekarang terbelalak.
"Kena apa itu?" tanya Rudi. Yang paling besar. Yang paling berani bicara. Yang paling... kasar. "Jangan-jangan koreng!"
Bukan koreng. Tapi Mahesa tidak tahu apa. Dokter tidak pernah datang. Obat tidak pernah ada. Hanya ini. Kaki yang membesar. Yang mati rasa. Yang menjauhkannya dari segalanya.
"Jauh-jauh!" teriak seseorang. "Nular! Nular!"
Tidak. Mahesa ingin berteriak. Ingin menjelaskan. Tapi suaranya tidak keluar. Tenggorokan kering. Seperti debu. Seperti jalan yang ia lalui tadi.
Teman-teman minggir. Perlahan. Dari tepi. Dari dekatnya. Seolah ia punya penyakit menular. Seolah kakinya bisa menular. Seolah ia beracun.
Siti mundur. Satu langkah. Dua. Tiga. Menatapnya dengan mata yang berbeda. Bukan mata yang menulis kertas. Bukan mata yang menunggu. Tapi mata yang takut. Yang asing. Yang melihat... monster.
Seperti ayam melihat ular. Seperti ibu-ibu menutup hidung. Seperti semua yang pernah melihatnya.
Akhirnya. Setelah sekian lama bersembunyi. Setelah sekian lama berharap. Mereka melihat. Dan mereka... pergi.
---
Mahesa berdiri. Perlahan. Kaki kanan—yang mati rasa, yang berat—menahan. Kaki kiri—yang berdarah, yang nyeri—mengikuti.
Berjalan. Pergi. Sendirian.
Kaki kiri berdarah. Darah mengalir sedikit di telapak. Di bekas luka batu tajam. Nyeri yang hidup. Nyeri yang sekarang menjadi satu-satunya teman.
Kaki kanan mati rasa. Tidak berdarah. Tidak nyeri. Tidak apa-apa.
Tapi hatinya. Hatinya yang berdarah lebih banyak. Hatinya yang terluka lebih dalam. Dari batu apa pun. Dari kaki apa pun.
Siti. Yang tadi tersenyum. Yang semalam menulis. Yang sekarang menatapnya seperti monster.
Mahesa berlari. Sebisa mungkin. Dengan kaki yang tidak mau berlari. Dengan kaki kanan yang terlalu berat. Yang terlalu mati rasa. Yang terlalu salah.
Ia jatuh. Di depan mereka. Di tanah. Di depan semua yang melihat. Yang tertawa. Yang pergi.
"Jatuh! Kaki gajah jatuh!" Teriakan meledak. Tawa. Banyak. Bukan satu. Bukan dua. Semua. Yang tadi minggir. Yang tadi takut. Sekarang tertawa.
Mahesa bangun. Berlutut dulu. Menahan dengan tangan. Lalu berdiri. Pincang. Kaki kanan tidak mau diajak cepat. Kaki kiri berdarah lebih banyak sekarang. Tapi ia berjalan. Pergi. Tidak menoleh. Tidak bisa menoleh.
Karena air mata sudah banjir. Dan ia tidak mau mereka lihat. Tidak mau mereka tahu. Tidak mau mereka menang lagi.
---
Berjalan. Satu kilometer. Dua kilometer. Sendirian. Di jalan panas. Di jalan berbatu. Tanpa sandal. Tanpa harga diri. Tanpa Siti.
Siti yang menulis kertas. Siti yang menunggu. Siti yang takut. Seperti semua. Seperti yang selalu ia takutkan.
Di pertengahan jalan, ada pohon besar. Rindang. Yang biasa ia duduki saat lelah pulang sekolah dulu—saat kaki belum separah ini.
Ia duduk di bawah. Di tanah yang lebih dingin. Di tempat yang tidak terik. Menarik napas. Menahan tangis. Menahan segalanya.
Kaki kiri berdarah. Di telapak. Di bekas batu. Nyeri. Tapi nyeri yang miliknya. Nyeri yang membuktikan ia masih hidup. Masih bisa merasakan. Masih manusia.
Kaki kanan di sampingnya. Yang mati rasa. Yang bengkak. Yang menjadi penjara. Yang menjadi alasan semua ini.
Ia menatap keduanya. Kaki yang berbeda. Kaki yang tidak sama. Yang satu hidup. Yang satu mati.
Tapi ia masih punya. Masih ada. Masih bisa duduk di bawah pohon. Masih bisa menarik napas. Masih bisa melanjutkan.
Meski Siti pergi. Meski teman-teman tertawa. Meski dunia tidak mengerti.
Ia melepaskan air mata. Yang tadi ditahan. Yang tadi dilarang. Yang sekarang diizinkan. Di bawah pohon. Sendirian. Tanpa sandal. Dengan kaki berdarah dan kaki mati rasa.
Menangis. Bukan karena sakit. Bukan karena luka. Tapi karena kehilangan. Kehilangan Siti. Kehilangan harapan. Kehilangan satu-satunya yang membuatnya berjalan dua kilometer hari ini.
---
Tapi kemudian, di antara tangis, ada suara.
Suara langkah di jalan. Mendekat.
Mahesa membeku. Menahan napas. Menahan suara. Siapa? Mereka yang mengejek? Yang kembali untuk tertawa lagi?
Tapi langkah itu berhenti. Di dekat pohon. Di tempat yang terlihat dari jalan.
"Mahesa?"
Suara itu. Bukan Siti. Bukan Rudi. Bukan siapa-siapa yang ia kenal. Suara laki-laki. Dewasa. Lembut. Asing.
Mahesa tidak menjawab. Tidak bergerak. Tidak mau dilihat. Tidak mau lagi.
"Saya dari puskesmas. Dari kampung sebelah." Suara itu menjelaskan. "Dapat kabar ada anak... kakinya bengkak."
Mahesa menatap dari bawah pohon. Ke arah suara. Laki-laki. Muda. Dengan tas putih. Dengan baju putih bersih. Dengan wajah yang tidak menertawakan.
"Kamu Mahesa?" tanya laki-laki itu. Matanya jatuh ke kaki kanan. Yang bengkak. Yang merah. Yang berbeda. Tapi tidak menertawakan. Tidak minggir. Tidak takut.
Mahesa mengangguk. Kecil. Hampir tidak terlihat.
Laki-laki itu duduk. Di tanah. Di sampingnya. Tidak jauh. Tidak dekat. Tapi ada. Tidak peduli tanah kotor. Tidak peduli bau. Hanya duduk.
"Kakinya sudah berapa lama begini?" tanyanya.
Mahesa berpikir. Menghitung. Waktu terasa kabur.
"Setahun," jawabnya. Suara serak. "Mungkin lebih. Awalnya kecil. Digigit nyamuk. Terus... membesar. Sekarang..."
Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu. Laki-laki itu melihat. Sudah tahu.
"Filariasis." Laki-laki itu mengangguk. "Kaki gajah. Penyakit dari nyamuk. Ada obatnya. Gratis. Dari pemerintah."
Obat? Gratis? Kata-kata yang asing. Kata-kata yang tidak mungkin. Di dunia Mahesa, tidak ada yang gratis. Tidak ada obat.
"Tapi harus minum rutin. Setiap tahun. Bertahun-tahun." Laki-laki itu menjelaskan dengan sabar. "Dan tidak bisa sembuh total. Yang sudah membesar akan tetap besar. Tapi bisa dihentikan. Supaya tidak semakin parah."
Mahesa menatapnya. Tidak mengerti sepenuhnya. Tapi mendengar. Menangkap satu kata: tidak semakin parah.
Laki-laki itu berdiri. Membuka tas putih. Mengeluarkan sesuatu.
"Besok," katanya. "Besok saya ke sini lagi. Bawa obat. Minum di depan saya. Supaya yakin diminum."
Ia meletakkan sesuatu di tanah. Di dekat Mahesa. Kotak kecil. Plaster luka.
"Untuk sementara," katanya. "Tutup lukanya. Biar tidak infeksi. Besok kita obati yang besar."
Laki-laki itu pergi. Berjalan ke jalan. Ke arah kampung sebelah. Menghilang di tikungan.
Mahesa menatap kotak di tanah. Plaster. Untuk lukanya. Untuk kakinya. Untuk dia.
Dan ia menatap ke jalan. Ke arah laki-laki itu pergi. Ke arah besok. Ke arah mungkin.
---
Bukan sembuh. Tidak. Laki-laki itu bilang tidak bisa sembuh total. Yang sudah membesar akan tetap besar. Tapi bisa dihentikan. Bisa tidak semakin buruk. Bisa... tidak seperti ini selamanya.
Dan ada obat. Gratis. Dari pemerintah. Yang tidak ia minta. Yang datang sendiri. Di hari terburuk. Di hari ketika Siti pergi. Di hari ketika teman-teman tertawa.
Mahesa membuka kotak. Mengambil plaster. Membalut kaki kirinya sendiri. Dengan hati-hati. Nyeri berkurang. Darah berhenti.
Ia berdiri. Perlahan. Kaki kanan masih berat. Masih mati rasa. Masih penjara.
Tapi besok. Besok ada obat. Besok ada yang datang. Besok tidak sama.
Ia berjalan pulang. Satu kilometer. Dua kilometer. Tanpa sandal—sandalnya ia genggam di tangan. Dengan kaki berbeda. Dengan hati yang masih berdarah. Tapi dengan kotak plaster di saku. Dengan janji besok di kepala.
Siti mungkin pergi. Teman-teman mungkin tertawa. Dunia mungkin tidak mengerti.
Tapi besok, ada obat. Ada laki-laki putih yang tidak menertawakan. Ada kemungkinan.
Di ambang pintu rumah, ia berhenti. Melihat ke belakang. Ke jalan yang baru ia lalui. Ke arah sungai yang meninggalkannya. Ke arah besok yang tidak pasti.
Lalu ia melihat ke kotak di saku. Ke plaster yang membalut kakinya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum. Kecil. Hampir tidak terlihat.
Tapi cukup.
Karena hari ini ia berjalan tanpa sandal. Dan besok... besok mungkin ia tidak perlu sandal lagi. Mungkin ada obat. Mungkin ada harapan.
Mungkin.
Itu cukup. Untuk sore ini. Untuk malam ini. Untuk besok yang akan datang.
Mahesa membuka pintu. Masuk ke rumah. Ibu sedang memasak—daun singkong lagi. Bima bermain di sudut.
"Kak!" Bima memanggil. Seperti tidak terjadi apa-apa kemarin. Seperti tidak berteriak. Seperti tidak mengatakan hal-hal itu. "Main yuk!"
Mahesa menatapnya. Adiknya. Yang masih lima tahun. Yang tidak mengerti. Yang kemarin menangis karena merasa tidak adil.
"Sebentar," jawab Mahesa. "Kakinya sakit."
Bima mendekat. Melihat. Ke kaki kanan. Ke kaki kiri yang dibalut plaster.
"Kenapa?"
"Terjatuh. Tapi sudah diobati." Mahesa mengeluarkan kotak plaster dari saku. "Lihat. Dapat obat. Gratis."
Bima membelalak. "Gratis? Dari mana?"
"Dari orang puskesmas. Besok datang lagi. Bawa obat buat kaki besar."
Bima diam. Memproses informasi. Lalu bertanya, "Sembuh?"
Mahesa menggeleng. "Tidak sembuh total. Tapi tidak tambah besar."
Bima mengangguk. Lalu, tanpa diduga, ia duduk di samping Mahesa. Di lantai. Di dekat tikar.
"Nanti kalau aku besar, aku beliin obat biar sembuh," kata Bima. Serius. Matanya bersinar. "Aku kerja. Dapat uang banyak. Beli obat paling bagus."
Mahesa menatapnya. Adiknya. Yang kemarin berteriak Ibu sayang dia saja. Yang sekarang duduk di sampingnya dan berjanji membeli obat.
"Iya," Mahesa berkata. Suara serak. "Nanti."
Bima tersenyum. Lalu berlari lagi. Kembali ke mainannya. Kembali ke dunianya.
Mahesa memegang kotak plaster di saku. Menatap kaki kanan yang besar.
Besok ada obat. Besok ada yang datang. Besok mungkin tidak sama.
Dan di sampingnya, ada adik yang tadi berjanji. Ada ibu yang memasak. Ada rumah yang... rumah.
Malam turun. Mahesa berbaring di tikar. Kaki kanan di posisi paling nyaman. Kaki kiri masih terasa nyeri, tapi sudah dibalut.
Ia memejamkan mata. Membayangkan besok. Laki-laki putih datang dengan obat. Ia minum. Kakinya berhenti membesar.
Mungkin. Mungkin.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur dengan sesuatu yang hampir mirip... damai.
Malam ini, itu cukup.
---