Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong Api Yin
Bum! Bum! Bum!
Suara dentuman dahsyat bergema dari balik gerbang tulang hitam legam yang baru saja menutup rapat. Seluruh lorong batu di dalam makam itu bergetar hebat, merontokkan debu-debu purbakala yang telah mengendap selama ribuan tahun dari langit-langit. Di luar sana, Tuan Muda Pertama Sekte Pedang Langit, Jian Wushuang, sedang mengamuk, menghantamkan pedang peraknya ke arah gerbang kutukan tersebut.
Shen Yuan berdiri di dalam kegelapan mutlak, mendengarkan raungan murka yang teredam oleh ketebalan pintu gerbang. Ia tersenyum tipis.
"Pukul saja sesukamu. Butuh waktu bagimu untuk menghancurkan segel yang telah menyerap darah dari belasan nyawa fana," bisik Shen Yuan di tengah kesunyian makam.
Ia membalikkan badan, membiarkan sepasang matanya yang menyala semerah lahar menembus kegelapan lorong di hadapannya. Udara di dalam makam ini sangat pengap dan berat, dipenuhi oleh hawa beracun yang jauh lebih kental daripada di luar lembah. Dinding lorong terbuat dari batu hitam kelam yang diukir dengan relief-relief mengerikan: gambar ribuan manusia yang sedang disiksa, lautan darah, dan sesosok makhluk raksasa berjubah bayangan yang memegang sebuah sabit kematian—wujud sang Tuan Tanah Hantu di masa jayanya.
"Bocah, jangan lengah," suara Leluhur Darah bergema memperingatkan. "Makam seorang ahli di Ranah Peleburan Jiwa bukanlah tempat bermain. Orang ini telah menyentuh batas pemahaman jiwa dan hukum kematian. Setiap ubin yang kau injak bisa jadi adalah kunci dari Susunan Aksara Kematian!"
"Aku tahu," jawab Shen Yuan dalam batinnya.
Ia tidak segera menggunakan Langkah Bayangan Hantu untuk berlari tergesa-gesa. Sebaliknya, ia melangkah dengan sangat perlahan dan terukur. Kesadaran spiritualnya yang telah diperluas dua kali lipat ia rentangkan hingga sejauh sepuluh tombak ke depan, meraba setiap riak hawa murni yang aneh.
Setelah berjalan sejauh seratus tombak menuruni lorong yang semakin menukik ke dasar bumi, suhu udara tiba-tiba anjlok secara drastis. Hawa dingin ini berbeda dengan badai salju di luar; ini adalah hawa dingin yang menusuk langsung ke dalam sumsum tulang dan berusaha membekukan aliran darah.
Krek...
Ujung sepatu Shen Yuan menginjak sebuah ubin batu yang sedikit mencekung.
Seketika itu juga, lorong gelap di depan dan di belakangnya menyala terang benderang. Namun, cahaya yang muncul bukanlah cahaya obor, melainkan api berwarna biru pucat yang berkobar dari celah-celah dinding batu.
"Api Yin Pemakan Tulang!" mata Shen Yuan menyipit tajam.
Api ini tidak memancarkan panas, melainkan hawa dingin yang mutlak. Lidah-lidah api biru itu menjalar dengan cepat, memenuhi seluruh ruang lorong, berusaha menelan tubuh Shen Yuan. Bagi pendekar fana biasa, bahkan mereka yang berada di Ranah Pengumpulan Lautan Qi sekalipun, tersentuh oleh Api Yin ini akan membuat daging mereka membusuk dan tulang mereka retak menjadi serpihan es!
Hawa dingin yang mematikan itu langsung merayap ke atas jubah abu-abu Shen Yuan, membekukan kainnya menjadi kaku. Namun, sebelum Api Yin itu sempat menembus kulitnya, Tubuh Emas Gelap-nya bereaksi.
Cshhh!
Cahaya emas gelap berpendar dari balik kulit Shen Yuan. Di saat yang sama, sisa-sisa kekuatan dari Akar Darah Naga Matahari—yang memiliki unsur Yang Mutlak—bangkit dari dalam darahnya, membentuk perisai panas alami yang menolak serbuan hawa dingin tersebut.
"Jika ini hanya rintangan pertama, maka ini adalah hidangan pembuka yang mengecewakan," dengus Shen Yuan.
Ia tidak menghindar, melainkan berjalan menembus lautan Api Yin tersebut. Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya berputar pelan, menghisap sisa-sisa energi murni dari api mematikan itu untuk kembali memoles tulang-tulangnya.
Namun, sang Tuan Tanah Hantu tidaklah sebodoh itu dalam merancang jebakan.
Kiiik! Kiiiik! Kiiiik!
Suara lengkingan yang sangat menyayat telinga tiba-tiba meledak dari langit-langit lorong yang tertutup lautan api biru. Puluhan bayangan hitam melesat turun dengan kecepatan yang mengerikan.
Shen Yuan mendongak. Apa yang dilihatnya cukup membuat bulu kuduk berdiri. Itu adalah kawanan Kelelawar Wajah Manusia! Siluman tingkat menengah yang bersarang di tempat dengan unsur Yin yang kuat. Ukuran mereka sebesar anjing dewasa, dengan sayap selaput yang setajam pisau. Yang paling mengerikan, wajah kelelawar-kelelawar itu benar-benar menyerupai wajah manusia yang sedang menyeringai bengis.
"Kelelawar fana yang memakan daging manusia untuk bertahan hidup," gumam Shen Yuan. Masing-masing dari mereka memancarkan aura yang setara dengan pendekar di Lapisan Keenam dan Ketujuh!
Kawanan kelelawar itu tidak takut pada Api Yin; mereka justru berenang di dalamnya bagaikan ikan di dalam air. Puluhan cakar setajam belati mengincar mata, leher, dan jantung Shen Yuan.
"Sutra Penelan Surga!"
Shen Yuan tidak mundur sejengkal pun. Hawa murni merah kehitaman meletus dari tubuhnya, membentuk badai kecil di tengah lorong sempit tersebut. Saat kelelawar pertama mencoba mencakar wajahnya, tangan kanan Shen Yuan melesat ke atas, mencengkeram sayap siluman tersebut dan menariknya dengan paksa.
Kreeeaak!
Sayap yang setajam pisau itu patah di tangan Shen Yuan. Sebelum kelelawar itu memekik, Shen Yuan menghantamkan telapak tangannya ke dada siluman tersebut.
Tapak Penghancur Nadi! Hawa murni iblis meledak di dalam tubuh kelelawar itu, menghancurkan organ dalamnya, lalu dengan cepat menyedot seluruh esensi darah siluman tersebut hingga ia berubah menjadi kerangka bersayap yang kering.
Melihat rekannya terbunuh, kawanan kelelawar lainnya menjadi semakin ganas. Mereka mengeroyok Shen Yuan dari segala arah.
Langkah Bayangan Hantu!
Shen Yuan memecah dirinya menjadi sembilan bayangan di tengah lautan api biru. Kelelawar-kelelawar itu kebingungan, menyerang bayangan kosong yang langsung memudar. Di sisi lain, sosok asli Shen Yuan bergerak dengan ketepatan mematikan. Tangan dan kakinya menjelma menjadi senjata pencabut nyawa.
Setiap kali ia mendaratkan pukulan, satu Kelelawar Wajah Manusia jatuh mengering. Esensi darah mereka, yang mengandung hawa Yin yang kuat dari ratusan tahun hidup di dalam makam, disedot ke dalam Dantian Shen Yuan. Kekuatan dari Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapannya perlahan mendidih, merangkak naik menuju ambang batas Lapisan Kesembilan.
Tiga belas tarikan napas kemudian, lorong itu dipenuhi oleh puluhan kerangka kelelawar yang berserakan.
Shen Yuan berdiri di tengahnya, napasnya sedikit memburu. Ia menyeka percikan darah hitam dari pipinya. Hawa murni di dalam tubuhnya sangat penuh, nyaris meluap.
"Aku butuh sesuatu untuk menstabilkan hawa Yin yang baru saja kutelan ini agar tidak berbenturan dengan Yang Mutlak dari Akar Naga Matahari," pikir Shen Yuan.
Ia melanjutkan langkahnya, berjalan sejauh lima puluh tombak lagi hingga lorong sempit itu terbuka menuju sebuah ruangan batu melingkar.
Di tengah ruangan tersebut, tidak ada peti mati atau tumpukan emas. Hanya ada sebuah gundukan tengkorak manusia yang telah menghitam. Namun, di puncak gundukan tengkorak itu, tumbuh sebuah jamur berukuran kepalan tangan. Tangkai dan payungnya berwarna sehitam tinta, namun memancarkan kilau merah darah yang berdenyut pelan seirama dengan detak jantung.
"Hah! Keberuntunganmu sungguh tidak masuk akal, Bocah!" seru Leluhur Darah dengan nada takjub. "Itu adalah Jamur Giok Darah Hitam! Tanaman roh ini hanya bisa tumbuh di tempat di mana puluhan ahli fana mati dengan kebencian dan intisari darah mereka meresap ke dalam tanah selama ratusan tahun. Ini adalah harta karun penutrisi jiwa dan pemadat hawa murni tingkat tinggi!"
Mata Shen Yuan berbinar. Ia baru saja memperluas lautan kesadarannya secara paksa dengan menelan Niat Pedang Perak tempo hari. Meskipun jiwanya menjadi kuat, fondasinya masih sedikit goyah. Jamur ini adalah obat yang sempurna untuk mengukuhkan kekuatannya sebelum ia menembus ke Ranah Penempaan Raga Lapisan Kesembilan—lapisan terakhir dari alam fana!
Shen Yuan melangkah cepat ke arah gundukan tengkorak tersebut. Kesadaran spiritualnya tidak mendeteksi adanya jebakan susunan aksara di ruangan ini. Kelelawar-kelelawar tadi kemungkinan besar adalah penjaga alami dari jamur pusaka ini.
Ia mengulurkan tangannya dan memetik Jamur Giok Darah Hitam itu dengan hati-hati. Aroma obat yang sangat pekat, bercampur dengan aroma darah purbakala, langsung menyengat indera penciumannya.
"Aku akan menyerapnya sekarang—"
Blaaarrr! Kreeeaak!
Belum sempat Shen Yuan duduk untuk bermeditasi, sebuah ledakan yang sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya mengguncang seluruh makam. Dinding batu di sekelilingnya retak memanjang. Debu dan batu-batu besar runtuh dari langit-langit.
Dari arah belakang, jauh di ujung lorong tempat gerbang berada, hawa murni pembantaian yang sangat tajam dan terang benderang meledak menyapu kegelapan!
"Gerbangnya hancur!" Leluhur Darah berteriak. "Si sombong Inti Emas dari Sekte Pedang Langit itu pasti menggunakan formasi gabungan ribuan murid untuk menghancurkan segel tulang itu secara paksa! Mereka sudah masuk!"
Shen Yuan menoleh ke belakang, matanya menyipit melihat kilatan cahaya pedang perak yang menyapu Api Yin di kejauhan. Jian Wushuang tidak membuang waktu; ia pasti menerjang masuk mendahului para tetuanya demi menangkap Shen Yuan.
"Waktuku habis," desis Shen Yuan.
Ia tidak bisa duduk diam menyerap jamur tersebut saat seorang ahli Ranah Inti Emas sedang memburunya. Perbedaan kekuatan antara Lapisan Kedelapan dan Inti Emas adalah jurang keputusasaan yang tidak bisa diatasi hanya dengan Tubuh Emas Gelap.
Shen Yuan segera memasukkan Jamur Giok Darah Hitam ke dalam Kantong Qiankun-nya. Ia menoleh ke sisi seberang ruangan batu itu, di mana terdapat tiga lorong gelap yang berbeda yang mengarah lebih jauh ke dalam perut bumi.
"Tiga percabangan. Sang Tuan Tanah Hantu benar-benar menyukai permainan kematian," seringai Shen Yuan.
Ia memilih lorong paling kanan secara sembarang, mengerahkan Langkah Bayangan Hantu, dan melesat masuk ke dalam kegelapan pekat yang menantinya. Perlombaan maut di dalam makam purbakala baru saja memasuki babak yang paling mematikan.