Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pregiwa memejamkan matanya, membiarkan kehangatan tubuh Gatotkaca mengalir meresap ke dalam jiwanya. Ia mengangkat tangannya yang masih gemetar, membalas pelukan itu dengan melingkarkan lengannya di leher besar sang senopati. Ia tidak menolak keintiman yang terlarang ini. Di tengah amukan badai salju di antah berantah, dinding kasta keraton, sumpah perjodohan, dan tata krama yang membelenggu mereka selama sepuluh hari terakhir, hancur lebur tanpa sisa.
Mereka hanya dua anak manusia yang saling berpegangan di ambang kehancuran.
"Mengapa, Kanda?" isak Pregiwa pilu di dada Gatotkaca, suaranya teredam oleh kerasnya zirah emas tersebut. "Mengapa Kanda harus menyelamatkanku dari kematian yang damai ini? Jika aku mati karena badai ini, kita tidak perlu mengalami perpisahan yang lebih menyakitkan besok lusa. Swantipura... Swantipura sudah di depan mata, Kanda. Saat salju ini reda, saat kereta ini kembali berjalan... Kanda akan menyerahkanku selamanya."
Tubuh Gatotkaca menegang. Kata-kata "menyerahkanku selamanya" menghujam jantungnya bagai sebilah keris pusaka yang diputar paksa di dalam dadanya. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata teduh Pregiwa yang dipenuhi oleh genangan keputusasaan.
"Mati bukanlah sebuah pilihan, Pregiwa," untuk pertama kalinya, dalam keintiman yang dipaksakan oleh badai, Gatotkaca melepaskan gelarnya dan memanggil nama wanita itu secara langsung. Suaranya tidak lagi bergetar karena panik, melainkan karena kepedihan yang sangat purba. "Jika kau mati malam ini, hatiku akan ikut mati bersamamu, terkubur di bawah salju ini selamanya. Aku lebih memilih melihatmu hidup, melihatmu bernapas, meskipun kau harus bernapas di samping pria lain, daripada harus menatap batu nisanmu dengan tanganku sendiri."
Pregiwa menggeleng kuat-kuat. Tangisnya pecah menjadi isakan yang menyayat hati. Ia memukul pelan dada berlapis zirah Gatotkaca dengan kepalan tangannya yang lemah.
"Itu sangat egois, Kanda!" jerit Pregiwa tertahan, mengabaikan dua embannya yang kini menutup wajah mereka karena tak sanggup menyaksikan tragedi di hadapan mereka. "Kanda egois karena memaksaku untuk hidup menanggung rindu yang tidak akan pernah ada obatnya! Kanda egois karena menyuruhku tersenyum di atas singgasana Swantipura, sementara aku tahu separuh jiwaku telah kutinggalkan di tangan pengawalku sendiri! Bagaimana... bagaimana aku bisa hidup seperti itu, Kanda?!"
Gatotkaca menundukkan wajahnya, menyatukan kening kasarnya dengan kening pualam Pregiwa. Ia membiarkan air mata mereka bercampur. Tangan besarnya menangkup wajah cantik sang putri, ibu jarinya membelai lembut pipi yang kembali merona berkat kehangatan tubuhnya.
"Karena kau adalah pahlawan bagi rakyatmu, cintaku," bisik Gatotkaca, kata-kata itu meluncur dari bibirnya dengan kepahitan empedu. "Dan aku hanyalah senjata yang ditugaskan untuk memastikan pahlawan itu menyelesaikan tugasnya. Kita hidup di dunia di mana cinta kita adalah racun bagi kedamaian ribuan nyawa. Jika pengorbanan kita berdua bisa memastikan paman-pamanmu memenangkan Baratayuda... jika dengan hancurnya hati kita, anak-anak di Amarta bisa tidur nyenyak tanpa takut ditebas pedang Astina... maka kita harus menanggung kutukan ini. Bersama-sama. Dalam diam."
Pregiwa memejamkan mata, membiarkan air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia tahu Gatotkaca benar. Darma mereka sebagai ksatria dan putri kerajaan berada di atas segalanya. Cinta yang membara di antara mereka ini terlalu indah untuk dihancurkan oleh politik, namun terlalu lemah untuk melawan takdir jutaan nyawa.
Malam itu, badai salju terus mengamuk tanpa henti di luar kereta kencana. Namun di dalam kabin yang sempit itu, Gatotkaca menolak untuk melepaskan pelukannya. Ia terus mendekap Dewi Pregiwa, memancarkan hawa panas kehidupan dari dalam lahar Candradimuka di jiwanya. Ia membiarkan wanita itu menangis hingga tertidur di dadanya.
Gatotkaca menatap wajah damai Pregiwa yang terlelap dalam pelukannya. Ini mungkin adalah malam terakhir ia bisa mendekap wanita ini sedekat ini. Lusa, saat gerbang batu Kerajaan Swantipura menjulang di hadapan mereka, saat Pangeran Mahkota menyambut iring-iringan ini dengan senyum kemenangan, Gatotkaca harus melangkah mundur. Ia harus menutupi wajahnya dengan helm baja, mengeraskan hatinya, dan berpaling pergi meninggalkan satu-satunya alasan mengapa jantungnya pernah berdetak layaknya seorang manusia.
Namun malam ini, di tengah badai es yang membekukan dunia, sang dewa perang dari Pringgandani membiarkan dirinya menjadi seorang pria biasa, yang menangisi takdir cintanya yang dipastikan akan gugur bahkan sebelum ia sempat mengembangkan sayapnya secara penuh.