Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Agung Penguasa Wu 2
Sidang darah di Aula Singgasana telah mengunci papan catur Wilayah Selatan dalam teror absolut sang Archduke.
Aula takhta Istana Wu Agung kini dipenuhi oleh bau tembaga pekat dari darah segar yang menggenang di lantai giok, menelan sisa-sisa kewarasan ratusan bangsawan yang hadir. Kengerian yang baru saja disajikan terlalu nyata, terlalu brutal. Bahkan ketiga putra Wu Xuan tidak pernah terpikirkan bahwa ayah mereka akan menggunakan teror psikologis seberat ini.
Di kursi barisan tetua klan, Wu Shan menahan napasnya dalam-dalam. Pemuda yang tulang-tulangnya masih terasa ngilu akibat hantaman ayahnya itu menatap lurus ke arah singgasana utama. Ayahnya sangat berbeda. Pria lemah dan penurut yang dulu selalu bisa ia manipulasi rasa sayangnya kini telah lenyap tanpa bekas, digantikan oleh perwujudan tiran sejati. Namun anehnya, Wu Shan tidak meragukannya. Hatinya memang masih terasa berat bak ditimpa gunung saat menyadari takhta Pangeran Mahkota miliknya telah direbut oleh anak haram seperti Wu Guan, tetapi ego arogan di dalam dadanya menolak untuk menyerah.
‘Ayah hanya sedang mengujiku,’ batin Wu Shan, mencoba menghibur dirinya sendiri di tengah keputusasaan. ‘Dia sengaja menggunakan Wu Guan sebagai perisai, sebagai target politik, untuk melindungiku yang sedang terluka. Ya, aku masih putra sah yang paling ia sayangi. Aku hanya perlu membuktikan kemampuanku.’
Sementara itu, di kursi Selir yang terletak satu tingkat di bawah singgasana utama, Yan Melin tak bisa berkata-kata. Wajah cantiknya seputih pualam. Tangannya yang bersembunyi di balik lengan gaun sutranya gemetar tak terkendali.
Mata Yan Melin menatap ngeri ke arah puluhan bangsawan tingkat Viscount dan Baron yang baru saja bersujud dan menangis mengakui kesalahan korupsi mereka. Beberapa dari mereka adalah orang-orangku, jerit Yan Melin dalam hati. Sebagian besar dari mereka adalah bawahan rahasia yang dahulu ia manfaatkan secara sistematis untuk memegang kendali aliran kekayaan Selatan, menyalurkannya diam-diam ke ibukota pusat demi faksi Keluarga Yan.
Namun kini, jaringan yang ia bangun selama ratusan tahun itu dihancurkan oleh suaminya hanya dalam waktu kurang dari satu jam, tanpa Wu Xuan bahkan perlu menatap matanya.
Perlahan, mata emas kristal Wu Xuan terbuka.
Ia memandangi sisa-sisa bercak darah di atas meja giok, tempat peliharaannya, Mandou, baru saja menikmati camilan sorenya. Di balik wajah yang setenang permukaan danau beku itu, batin sang Archduke sedang mengalami monolog yang cukup absurd.
'Gila,' pikir Wu Xuan, jiwa pemuda Bumi berusia 24 tahun di dalam tubuhnya sedang menganalisis respons psikologisnya sendiri. 'Dulu di duniaku, melihat video kecelakaan motor di jalan raya saja sudah cukup untuk membuat lambungku mual dan kehilangan nafsu makan. Tapi sekarang? Melihat kepala manusia dikunyah hidup-hidup oleh singa raksasa... aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa jijik, tidak ada rasa mual, bahkan tidak ada detak jantung yang berdebar.'
Wu Xuan menyandarkan punggungnya dengan santai. 'Apakah jiwa kultivator Ranah Primordial ini telah merusak kewarasan manusiaku? Atau... apakah aku memang sudah gila dari sananya? Yah, masa bodoh. Setidaknya di dunia ini, kegilaan adalah mata uang yang paling berharga.'
Memutus monolog humoris nan gelapnya, Wu Xuan mengangkat tangannya yang dihiasi cincin giok kebesaran.
"Tetua Agung Logistik dan Sumber Daya," ucap Wu Xuan, suaranya membelah keheningan yang mencekam.
Seorang pria tua berjubah abu-abu tebal melangkah keluar dengan lutut bergetar hebat. Ia bersujud hingga dahinya nyaris menempel ke lantai. "Hamba... hamba di sini, Yang Mulia Archduke!"
"Berikan aku buku tahunan wilayah," perintah Wu Xuan dengan nada mutlak. "Semuanya."
Tetua Agung itu menelan ludah. Ratusan penguasa kota yang hadir juga ikut menelan ludah, suara tegukan mereka terdengar jelas di ruang yang hening itu.
"Y-Yang Mulia... data yang Anda minta mencakup 30 wilayah kota besar, 90 wilayah kota sedang, dan 300 wilayah kota serta desa kabupatan kecil," lapor sang Tetua dengan suara putus asa. "Jumlah pembukuannya mencapai ratusan ribu slip giok dan jutaan halaman perkamen kuno. Memeriksanya... akan memakan waktu berbulan-bulan."
"Berikan padaku," potong Wu Xuan dingin. "Atau aku harus mengambilnya sendiri dari kepalamu?"
Tanpa berani membantah lagi, Tetua Agung Logistik mengayunkan lengan jubahnya. Ratusan cincin spasial tingkat rendah melayang keluar dan memuntahkan isinya. Seketika, ribuan tumpukan slip giok yang berpendar dan lautan buku perkamen melayang di udara, membentuk sebuah gunung data administratif raksasa di tengah aula, tepat di antara Wu Xuan dan para bangsawan yang bersujud.
Bagi seorang kultivator normal, memproses data sebanyak ini adalah mimpi buruk. Otak mereka dilatih untuk merasakan hukum alam dan energi Dao, bukan untuk membedah angka-angka pajak yang membosankan.
Namun, Wu Xuan menyunggingkan senyum tipis. Di balik identitasnya sebagai Patriark tiran, ia sejatinya adalah mantan mahasiswa elit jurusan Manajemen Bisnis dan Hukum di Bumi. Seorang jenius analitik yang sengaja menganggurkan diri dan menarik diri dari dunia korporat karena muak melihat kecurangan, manipulasi, yang dilakukan oleh tikus-tikus berdasi di dunia kerja yang tidak bisa disentuh oleh hukum bumi.
Wu Xuan memancarkan kesadaran spiritual (Divine Sense) dari Ranah Primordial Suci tahap menengahnya. Ratusan ribu benang kesadaran yang tak kasat mata melesat, terhubung langsung ke setiap slip giok dan buku perkamen yang melayang. Ia menggunakan otak Primordialnya selayaknya superkomputer kuantum.
Di matanya, angka-angka itu mulai berbaris.
'Astaga, ini pembukuan atau buku mewarnai anak TK?' monolog Wu Xuan dalam hati sambil menahan keinginan untuk tertawa meremehkan. 'Menggelapkan jutaan batu spiritual dan memasukkannya ke pos "perawatan kuda roh"? Kuda roh macam apa yang butuh dana sebesar itu? Pegasi berlapis emas padat? Memanipulasi angka distribusi tambang tanpa menyeimbangkan rasio hasil logistik di bulan berikutnya... Ckckck. Di duniaku, koruptor amatiran seperti kalian sudah membusuk di penjara pada bulan pertama. Bagi seorang auditor korporat, mengecek manipulasi bodoh ini seperti melihat soal 1+1\=2.'
Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit bagi Wu Xuan untuk memutus kesadaran spiritualnya.
TRANG! KLINTING!
Ribuan slip giok itu berjatuhan ke lantai seperti hujan kaca, menandakan bahwa sang Archduke telah selesai membaca sejarah keuangan Wilayah Selatan selama dua puluh tahun terakhir.
Keheningan kembali mengambil alih. Tatapan Wu Xuan perlahan turun, melewati para koruptor yang bersujud, hingga akhirnya berhenti pada barisan jenderal militer Keluarga Wu. Pasukan yang selama ini menjadi tameng kebanggaan wilayahnya.
"Jenderal Agung Ke-9!!" panggil Wu Xuan mendadak.
Di barisan depan, seorang pria paruh baya bertubuh kekar dengan zirah tempur merah dan bekas luka di pipinya mendadak tersentak. Dia adalah Jenderal Agung ke-9, salah satu dari sepuluh panglima tertinggi yang menguasai perbatasan selatan, dikenal luas sebagai pilar loyalitas Keluarga Wu.
Wajah Jenderal Agung ke-9 mendadak pucat pasi. Matanya membelalak, dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur membasahi dahi dan jenggotnya. Ia baru saja akan melangkah maju, mulutnya terbuka untuk menyusun alibi.
Namun, sang Archduke tidak suka mendengar kebohongan dari seekor anjing.
Wu Xuan bahkan tidak mengangkat tangannya. Ia hanya menjentikkan jarinya pelan. Seutas energi dari Akar Spiritual Samudra Terdalam dipadatkan menjadi sebuah bilah air bertekanan miliaran ton yang tak kasat mata.
CRASH!
Sebelum Jenderal Agung ke-9 sempat mengeluarkan satu patah kata pun, kepalanya telah terlepas dari lehernya dengan sangat mulus. Tubuh kekar berlapis zirah itu masih berdiri selama dua detik sebelum darah menyembur ke udara bagaikan air mancur.
Bruk!
Tubuh tanpa kepala itu ambruk, dan kepalanya menggelinding pelan hingga berhenti tepat di kaki Jenderal Wu Zuan.
Puluhan jenderal bawahan lainnya terlonjak mundur. Wajah mereka dipenuhi oleh syok, kebingungan, dan teror absolut.
"Y-Yang Mulia Archduke!" seru Jenderal Wu Zuan dengan suara bergetar tak percaya, menatap mayat rekan seperjuangannya. "Mengapa... mengapa Anda mengeksekusi Jenderal Agung ke-9?! Dia adalah pelindung perbatasan kita! Kesetiaannya—"
"Kesetiaannya adalah pada emas kekaisaran," potong Wu Xuan dengan nada dingin yang langsung membekukan bantahan sang panglima.
Wu Xuan menunjuk ke tumpukan slip giok di lantai dengan dagunya. "Jenderal ke-9. Memanipulasi anggaran pasokan militer di garis depan perbatasan sebesar lebih dari seratus juta batu spiritual tahap menengah. Dan yang paling menjijikkan, ia menggunakan dana itu untuk menyuap penjaga portal, bekerja sebagai mata-mata langsung untuk ibukota kekaisaran di tanah ini."
Aula itu meledak dalam kebisuan yang mematikan. Seratus juta batu spiritual! Bekerja untuk ibukota?! Para jenderal militer yang tadinya terkejut kini menatap mayat tanpa kepala itu dengan amarah yang mendidih. Mereka tidak menyangka bahwa rekan yang paling lantang meneriakkan loyalitas adalah lintah pengkhianat yang menjual rahasia mereka.
Wu Xuan tidak memberikan waktu bagi para jenderalnya untuk merenung. Ia perlahan menoleh ke samping, menatap wanita yang sedari tadi menahan napas di kursi Selir.
"Apa hukuman untuk seorang pengkhianat yang menjadi mata-mata asing di wilayah kita, Melin?" tanya Wu Xuan dengan senyum tenang yang mematikan.
Yan Melin terkesiap, tubuhnya menegang kaku seolah baru saja disambar petir. Seluruh mata di aula kini tertuju padanya. Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan bodoh; itu adalah sebuah jebakan psikologis yang disiapkan khusus untuknya.
"Y-Yang Mulia..." jawab Yan Melin dengan suara yang terbata-bata, tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Keringat dingin merusak riasan sempurnanya. "Hukumannya... hukumannya adalah... mati."
"Jawaban yang tepat," ucap Wu Xuan singkat.
Sang Archduke berdiri dari singgasananya. Jubah hitamnya jatuh dengan sempurna, dao halo nya muncul kembali dengan aura yang berat, padat dan suci. Ia melangkah menuruni anak tangga giok, memunggungi takhta dan berjalan santai menuju pintu utama aula, melewati genangan darah dan sisa tulang kepala yang berserakan.
"Melin," suara Wu Xuan menggema di ruangan raksasa itu tanpa ia menoleh ke belakang sedikit pun. "Bereskan kekacauan yang kau buat ini."
Yan Melin mendongak, matanya membelalak ngeri mendengarkan titah selanjutnya.
"Aku mau semua mata-mata kekaisaran, mata-mata dari wilayah Duke luar, dan semua tikus asing yang bersembunyi di balik gelar bangsawan lokal selatan... mati hari ini juga, sebelum matahari benar-benar tak terlihat dari ufuk."
Langkah Wu Xuan berhenti tepat di ambang pintu raksasa.
"Dan ingat," gema suara Wu Xuan berubah menjadi ancaman absolut. "Tidak ada satu orang pun yang boleh meninggalkan ruang takhta ini sampai aku kembali."
Wu Xuan melangkah keluar, diiringi oleh dua bayangan elit yang melesat mengikuti di belakangnya, membiarkan pintu utama aula takhta itu tetap terbuka lebar namun dijaga oleh ketakutan yang tak terlihat.
Di dalam aula, napas Yan Melin menjadi sangat tidak teratur. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin menetes dari ujung dagunya.
Titah itu adalah mimpi buruk. Beberapa pengkhianat dan mata-mata yang menyamar menjadi bangsawan di ruangan ini adalah anggota Keluarga Yan—keluarga dengan garis darah yang sama dengannya dan dari kekaisaran! Suaminya sedang memerintahkannya untuk menjadi algojo bagi keluarganya sendiri. Jika ia melakukannya, ia akan terputus selamanya dari ibukota.
Namun, di saat rasa takut yang luar biasa mencengkeram akal sehatnya, sebuah perasaan aneh, gelap, dan sangat ganjil menyelinap ke dalam relung hatinya. Suaminya yang kini kejam... suaminya yang mendominasi... masih memberikannya hak dan otoritas mutlak untuk memerintah eksekusi ini. Pria itu tidak membuangnya; pria itu sedang memaksanya untuk tunduk dan menjadi pedang-nya. Sebuah kepatuhan yang sakit mulai mengalahkan egonya.
Di sisi lain aula, barisan jenderal militer yang mengabdi dengan sangat loyal menatap Yan Melin dengan mata menyipit. Di masa lalu, mereka sangat menderita karena wanita ini tiba-tiba menikah dengan Patriark Xuan demi memanipulasi militer keluarga Wu. Dan dimasa lalu Mereka hanya bisa memendam diam dan menelan amarah karena Wu Xuan terlalu buta oleh cinta pada istrinya, membiarkan wanita ini memasukkan orang-orang luar ke dalam sistem wilayah mereka.
Namun sekarang, sepertinya perasaan itu telah berbalik sepenuhnya. Sang Archduke bukan lagi budak cinta; ia adalah tiran yang memaksa selirnya sendiri untuk memakan kroni-kroninya hidup-hidup. Rasa bangga yang luar biasa membanjiri dada para komandan perang itu.
Sementara itu, jauh melangkah menyusuri koridor istana yang sepi, Wu Xuan menyeringai tipis di bawah cahaya lampion giok.
Bagi orang lain, mengeksekusi Jenderal ke-9 adalah tindakan membersihkan korupsi. Tapi bagi Wu Xuan, itu adalah langkah strategis terbesar yang ia ambil hari ini.
Dalam novel aslinya, saat Keluarga Wu mulai melemah dan memutuskan untuk melarikan diri ke Wilayah Selatan dari ibukota, Jenderal ke-9 inilah yang secara diam-diam mengirimkan rute pelarian rahasia mereka kepada faksi kekaisaran dan Chu Zhang. Pengkhianatan itulah yang memicu pembantaian di tengah jalan, membunuh hampir seluruh anggota Keluarga Wu sebelum mereka bisa mencapai keselamatan.
Dengan memisahkan kepala jenderal itu hari ini, Wu Xuan baru saja mematahkan salah satu death flag terbesar dari takdir keluarganya.
Matahari sore di luar Istana Wu Agung semakin tenggelam, menumpahkan warna merah darah ke atas atap-atap kota. Dan di dalam Aula Singgasana yang tertutup dari dunia luar...
Sidang darah pembersihan itu, masih terus berlanjut.
Bersambung...