update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Buruk
Ponsel itu masih berada di tangan Lin Yinjia ketika ia duduk di tepi tempat tidurnya. Pesan dari Gu Zhenrui belum ia balas. Kalimatnya pendek, seperti perintah.
Datang ke rumahku minggu ini. Ibuku ingin bertemu. Tidak ada sapaan. Tidak ada tanda bahwa mereka sebenarnya adalah dua orang yang dijodohkan untuk menikah.
Yinjia menghela napas pelan. Ia menaruh ponselnya di meja kecil di samping tempat tidur. Pikirannya terasa penuh, tapi tubuhnya terlalu lelah untuk memikirkan semuanya malam itu.
Besok masih ada kuliah pagi. Ia mematikan lampu kamar. Kamar kosnya langsung tenggelam dalam keheningan. Namun tidur tidak datang dengan mudah.
Keesokan paginya, Yinjia bangun lebih cepat dari alarmnya. Ia duduk di ranjang beberapa saat, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih terlihat mengantuk. Kamar kecil itu dingin, tapi bukan karena cuaca. Lebih karena suasana pagi yang sunyi.
Ia mengambil ponselnya lagi. Pesan dari Zhenrui masih di sana. Belum ada pesan tambahan. Yinjia mengetik balasan singkat. Baik.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Setelah itu ia bersiap ke kampus seperti biasa. Hari itu tampak normal. Terlalu normal. Ia berjalan melewati gerbang universitas, masuk ke gedung fakultas ekonomi yang sudah mulai ramai. Mahasiswa lalu lalang dengan buku di tangan, beberapa mengobrol keras di koridor.
Suasana seperti ini biasanya membuat Yinjia merasa tenang. Hari yang sederhana. Kuliah. Tugas. Bercanda dengan teman.
Namun pagi itu ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ia masuk ke kelas dan duduk di kursinya. Yara datang beberapa menit kemudian. “Kamu terlihat lelah,” kata Yara sambil menaruh tasnya.
“Aku tidur agak telat.”
“Belajar?”
“Memikirkan hidup.”
Yara tertawa kecil. “Wah, terdengar berat.”
Yinjia tersenyum tipis. Ia ingin mengatakan sesuatu tentang pesan dari Zhenrui, tapi akhirnya tidak jadi.
Profesor belum datang, jadi kelas masih cukup berisik. Beberapa mahasiswa berdiri di dekat jendela sambil berbicara, sementara yang lain menatap layar ponsel mereka. Tiba-tiba ponsel Yinjia bergetar. Ia melirik layar.
Rumah sakit.
Alisnya langsung berkerut. Ia mengangkat panggilan itu dengan cepat. “Halo?”
Suara seorang wanita terdengar dari seberang. “Nona Lin?”
“Iya.”
“Ini dari Rumah Sakit Zhongshan. Apakah Anda keluarga Lin Yichen?”
Yinjia langsung duduk lebih tegak. “Iya. Dia adik saya.”
Ada jeda singkat di telepon. “Mohon Anda datang ke rumah sakit secepatnya.”
Jantung Yinjia seperti berhenti sebentar. “Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”
“Kami perlu berbicara langsung dengan keluarga.” Nada suara itu profesional, tapi cukup untuk membuat dada Yinjia terasa berat.
“Baik. Saya akan datang.” Ia menutup telepon dengan tangan sedikit gemetar.
Yara langsung memperhatikannya. “Ada apa?”
Yinjia berdiri begitu saja dari kursinya. “Aku harus ke rumah sakit.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yinjia menggeleng pelan. “Aku juga belum tahu.”
Ia mengumpulkan buku-bukunya dengan cepat lalu keluar kelas tanpa menunggu profesor datang. Langkahnya di koridor terasa cepat dan tidak teratur. Pikirannya penuh kemungkinan buruk. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Mungkin hanya pemeriksaan rutin. Mungkin dokter hanya ingin berbicara tentang kondisi Yichen.
Mungkin tidak ada yang serius. Tapi semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin dadanya terasa sesak.
Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Bus kota yang ia naiki penuh dengan orang. Suara percakapan dan mesin kendaraan bercampur menjadi kebisingan yang membuat kepalanya pusing. Yinjia menatap keluar jendela sepanjang jalan.
Bangunan kota Shanghai bergerak perlahan melewati pandangannya. Namun ia hampir tidak melihat apa pun. Yang ada di kepalanya hanya satu orang.
Lin Yichen.
Adiknya yang berusia tujuh belas tahun. Beberapa hari lalu mereka masih bercanda di dapur rumah. Yichen selalu suka membuat komentar konyol yang membuat ibunya mengomel. Anak itu tidak pernah bisa diam. Dan sekarang…
Ia terbaring di rumah sakit. Tidak sadar. Bus berhenti di dekat rumah sakit. Yinjia turun dan langsung berlari masuk. Koridor rumah sakit dipenuhi orang. Beberapa duduk menunggu dengan wajah lelah, beberapa berjalan cepat membawa dokumen medis.
Yinjia menuju meja perawat. “Saya keluarga Lin Yichen.”
Perawat itu melihat komputer sebentar. “Dokter menunggu Anda di ruang konsultasi.”
Yinjia mengangguk dan segera berjalan ke arah yang ditunjukkan. Ia membuka pintu ruang itu dengan napas sedikit terengah.
Ayahnya sudah ada di sana. Lin Wei duduk di kursi dengan wajah pucat. “Ibu di mana?” tanya Yinjia.
“Ada di kamar Yichen.” Yinjia duduk di kursi di sebelah ayahnya.
Dokter yang berada di meja terlihat serius. “Terima kasih sudah datang.”
“Ada apa dengan adik saya?” tanya Yinjia langsung. Dokter menarik napas pendek sebelum menjawab. “Cedera kepala yang dialami adik Anda cukup serius.”
“Kami sudah melakukan operasi untuk menghentikan pendarahan.”
“Tapi…” Ia berhenti sebentar. “Kondisinya masih koma.”
Yinjia menelan ludah. “Itu… berarti dia akan bangun nanti, kan?”
Dokter tidak langsung menjawab. “Kami berharap begitu.”
“Tapi kemungkinan prosesnya bisa sangat lama.”
“Berapa lama?”
“Satu bulan.”
“Bisa juga satu tahun Atau" Dokter tidak menyelesaikan kalimatnya. Ruangan itu terasa sunyi. Ayah Yinjia menunduk, tangannya saling menggenggam.
Yinjia merasa seperti dunia di sekitarnya tiba-tiba menjadi sangat berat. “Biaya perawatan juga cukup besar,” lanjut dokter dengan hati-hati.
“Terutama jika perawatan jangka panjang diperlukan.” Angka yang disebutkan dokter beberapa saat kemudian membuat Yinjia merasa seperti jatuh dari ketinggian. Itu jumlah yang bahkan tidak bisa ia bayangkan.
Ayahnya menghela napas panjang. “Terima kasih, dokter.” Dokter mengangguk dan meninggalkan ruangan. Yinjia duduk diam beberapa saat.
Lalu ia berkata pelan. “Ayah… kita bisa membayar itu?”
Ayahnya tidak menjawab segera. Ia hanya menatap meja. “Bisnis ayah sedang tidak terlalu baik.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup jelas. Yinjia menggigit bibirnya. “Aku bisa bekerja paruh waktu.”
Ayahnya menggeleng. “Itu tidak cukup.” Yinjia merasa tenggorokannya terasa panas. Pikirannya berputar mencari kemungkinan lain. Lalu satu pikiran muncul. Perjodohan. Keluarga Gu. Hubungan yang sudah diatur dua tahun lalu.
Ayahnya pernah mengatakan bahwa keluarga Gu bersedia membantu jika mereka menjadi keluarga. Yinjia memejamkan mata sebentar. Ia tidak pernah benar-benar ingin menikah dengan Gu Zhenrui. Tapi sekarang…
Ia berdiri perlahan. “Ayah.”
“Aku akan bertemu keluarga Gu minggu ini.” Ayahnya mengangkat kepala.
“Kamu yakin?” Yinjia memaksakan senyum kecil. “Kalau itu bisa membantu Yichen… aku tidak keberatan.” Padahal jauh di dalam hatinya, ia tahu keputusan itu akan mengubah hidupnya. Dan mungkin tidak ke arah yang baik.
Beberapa menit kemudian ia masuk ke kamar rumah sakit. Ibunya duduk di samping tempat tidur Yichen. Wajah wanita itu terlihat sangat lelah. Yichen terbaring diam dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Yinjia berjalan mendekat perlahan.
Ia memegang tangan adiknya. Tangan itu dingin. “Aku datang,” katanya pelan. Tidak ada jawaban. Namun ia tetap duduk di sana cukup lama.
Di dalam pikirannya, sebuah keputusan sudah terbentuk. Jika dunia memaksanya memilih…
Ia akan melakukan apa saja untuk keluarganya. Bahkan jika itu berarti berjalan masuk ke dalam kehidupan keluarga Gu. Kehidupan yang penuh kekuasaan. Dan orang-orang yang tidak pernah benar-benar peduli pada orang seperti dirinya.