"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG: Di Antara Dingin dan Luka
Jogja, 2012. Harusnya itu menjadi malam yang kita kenang sebagai awal. Namun bagiku, itu adalah awal dari sebuah akhir yang tak pernah usai.
Aku masih ingat bagaimana aku mengejarmu. Laki-laki dengan jersey bola bernomor punggung yang selalu kucari di lapangan sekolah. Kamu yang sedingin kutub, yang bicaranya seirit tetesan air di musim kemarau, namun entah mengapa selalu membuat hatiku hangat hanya dengan satu balasan chat di malam hari.
"Ikut nonton Slank ke Jogja?" tanyamu waktu itu.
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kamu ucapkan padaku. Harusnya aku di sana. Harusnya aku duduk di sampingmu, mendengarkan lagu yang sama, dan mungkin... mendengar pernyataan cinta yang selama ini aku damba. Tapi takdir punya selera humor yang buruk. Aku harus ke Bandung, memenuhi kewajibanku yang lain.
Aku pergi membawa harapan, tapi pulang membawa kehampaan.
Sepulangnya aku, kamu bukan lagi laki-laki yang kukenal. Kamu menjadi asing. Lebih dingin dari es, lebih jauh dari bintang. Tidak ada sapaan di koridor, tidak ada kehangatan di layar ponsel. Hanya ada punggungmu yang menjauh, meninggalkanku dalam tanda tanya yang membunuh.
Demi membunuh rasa sakit itu, aku menjadi orang asing bagi diriku sendiri. Aku menerima cinta laki-laki lain yang tulus, hanya untuk menjadikannya obat penawar. Aku mendua, aku berselingkuh, aku menyakiti hati yang tak bersalah—berulang kali—hanya karena aku gagal melupakanmu.
Aku hancur, namun aku belum mati.
Hingga hari itu tiba. Hari di mana aku melihatmu menggandeng tangan seseorang yang sangat kukenal. Sahabatku sendiri.
Di detik itu, aku sadar; aku bukan hanya kehilangan cintaku, tapi aku juga kehilangan duniaku. Ternyata, selama ini aku hanyalah sebuah persinggahan singkat, sebelum kamu menemukan rumah yang sebenarnya di pelukan orang lain.
Kini, aku berdiri di sini. Terjebak dalam luka yang tak bertepi, meratapi dinginmu yang kini menjadi hangat bagi orang lain.
Kabar itu sampai ke telingaku jauh setelah segalanya hancur. Teman-temanku bilang, seandainya aku ikut ke Jogja malam itu, kamu sudah menyiapkan sebuah kalimat yang selama ini aku tunggu. Di tengah riuh lagu Slank dan redup lampu kota, kamu berencana menjadikanku milikmu.
Namun, takdir memilih skenario yang berbeda. Ketidakhadiranku bukan hanya sebuah ketidaksengajaan, melainkan awal dari dinding beton yang kamu bangun kembali. Kamu yang tertutup semakin mengunci rapat pintumu, meninggalkanku dalam kebingungan tanpa akhir.
Mengapa kamu tidak bicara? Mengapa kamu tidak bertanya? Mengapa kamu lebih memilih diam dan membiarkan asmara kita layu sebelum sempat mekar?
Rasa sakit itu mengubahku menjadi monster. Aku mencari pelarian di mana-mana. Aku mencoba menemukan sosokmu di pelukan laki-laki lain, namun yang kutemukan hanyalah kehampaan. Aku menyakiti hati yang tulus, berselingkuh berulang kali, hanya karena jiwaku sudah mati rasa sejak hari kepulanganku dari Bandung. Aku ingin kau tahu betapa hancurnya aku, tapi kau justru semakin jauh—dan yang paling fatal, kau melangkah menuju dia.
Dia, yang selama ini mendengarkan setiap curhatku tentangmu. Dia, yang tahu persis betapa berartinya kamu bagiku.
Melihatmu menggenggam tangannya bukan hanya sekadar patah hati. Itu adalah penghinaan bagi perjuanganku di tahun 2012. Ternyata benar, aku bukan tokoh utama dalam ceritamu. Aku hanyalah prolog pendek yang dengan cepat kau lewati untuk sampai pada bab bahagia bersama sahabatku.
Selamat datang di labirin penyesalanku. Sebuah kisah tentang cinta yang tak sempat terucap, pelarian yang salah arah, dan luka yang—mungkin—memang tak ditakdirkan untuk sembuh.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2